
Akhirnya dengan kasar ia menarik tangan Nicorazón dari tubuh Esperanza. Lalu melerai pelukan mereka berdua. Te Apoyo hanya diam saja. Lalu memberi kode pada Estrella dan Brillo untuk tidak menyerang lagi.
Esperanza berhasil berpindah ke pelukan Gris. Tapi gadis itu tidak mau diam. Terus saja ia melakukan perlawanan. Memukuli kepala Gris sekuat yang ia bisa. Nicorazón yang ingin menyelamatkan Esperanza justru ditahan oleh Te Apoyo.
Dalam keadaan menangis Esperanza dibawa paksa oleh Gris ke dalam mobil. Dan meninggalkan Te Apoyo dan lainnya.
"Om, kenapa membiarkannya membawa Esperanza?"
"Biar saja. Untuk saat ini dia lebih aman bersama Gris. Anak itu tidak akan menyakiti Esperanza. Lebih baik kita juga bergerak. Karena tempat ini sudah mungkin sudah menjadi target berikutnya setelah terjadi keributan."
Estrella dan Brillo mengangguk. Lalu melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Nicorazón sesenggukkan selama perjalanan. Dan
"Hey, nak. Berhentilah menangis! Temanmu hanya pulang ke rumah. Ini sudah larut malam. Bukankah anak kecil memang harus pulang untuk tidur?"
Te Apoyo mencoba menghibur putranya. Menggunakan bahasa yang ia dengar saat Esperanza bicara. Yang menurut tebakannya saat ini adalah seorang anak kecil.
"Apa yang menggendong temanku itu tadi papanya?" tanya Nicorazón dengan polos.
Te Apoyo mengangguk. Lalu putranya berhenti menangis. Dan menghapus air matanya. Te Apoyo dan lainnya menghela napas lega.
Gris tiba di markasnya membawa Esperanza ke sebuah kamar. Meminta beberapa orang wanita untuk memandikan gadis itu. Selesai mandi. Gadis itu didandani. Tapi karena terus menangis riasannya justru membuatnya tampak menyeramkan.
Gaun barunya jadi penuh dengan cairan yang keluar dari hidungnya. Membuat wanita-wanita periasnya kebingungan. Akhirnya Gris menyuruh mereka pergi.
"Sayang... berhentilah menangis. Apa yang sebenarnya mereka lakukan padamu?" ujar Gris.
Seraya menyeka air mata kekasihnya dengan sapu tangan dan berlutut di depan kekasihnya. Esperanza yang merasa lelah melakukan perlawanan hanya menangis dan buang muka. Membuat Gris jadi murung.
"Pelayan! Ganti gaunnya! Setiap Esperanza dengan sengaja mengotori gaunnya, maka setiap itu pula, ia wajib berganti gaun. Hingga ia berhenti mengotori gaunnya."
Esperanza makin kesal kini ia merobek gaunnya. Tetap saja Gris membiarkannya melakukan apa yang ia suka. Sampai akhirnya gadis itu berhenti menangis dan merusak gaunya. Diam tanpa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Wanita yang melayaninya akhirnya keluar. Dan memberitahukan kalau gadis itu sudah tenang dan berbaring di atas tempat tidur. Gris masuk ke kamar dan mendekati Esperanza. Gadis itu membelakanginya.
"Sayang... aku minta maaf. Aku harap kamu mengerti," ujar Gris mencium rambut kekasihnya.
Aroma shampo tercium sangat jelas. Lalu ia membelai rambut gadis itu dengan lembut. Dan meminta pelayan untuk membawa makanan.
"Esperanza, ayo makan."
Gadis itu tidak bergeming. Ia meremas bantal dengan kesal. Ingin rasanya dia melempar orang yang terus berisik itu. Dan ia terkejut saat Gris memaksanya duduk.
"Ayo makan!" bentak Gris sambil menyodorkan sepiring makanan.
Esperanza gemetaran. Untuk pertama kalinya ia ketakutan. Karena dalam dalam ingatannya. Ia sering dipukul oleh tantenya jika ketahuan keluar rumah.
Suatu hari ia ketahuan bertemu dengan seorang anak sebayanya. Hingga akhirnya ia dipukul lebih parah dan dipaksa makan makanan sisa yang bercampur duri ikan.
Wanita itu membuka mulut si gadis kecil dengan paksa lalu memaksa sendok penuh nasi sisa bercampur duri ikan masuk ke mulutnya. Dan mendorong sendok dan makanan itu melewati kerongkonganya hingga berdarah.
Gris mengambil sesuap nasi lalu memaksa Esperanza membuka mulutnya. Tanpa memperhatikan kalau gadis itu memiliki trauma. Baru sesuap nasi yang masuk kemulutnya. Gadis itu merasa sesak di dadanya. Dan batuk. Lalu muntah.
"Esperanza," Gris meletakkan piringnya.
Mengangkat wajah Esperanza yang pucat pasi. Tubuhnya gemetaran. Dan Gris menyesali perbuatannya. Memeluk gadis itu dan membiarkannya menangis dan muntah terus menerus dalam pelukannya.
"Maafkan aku... maaf... maafkan aku," ujarnya.
Gris mengelus lembut punggung gadis itu hingga ia berhenti muntah. Dan tangisan gadis itu berangsur berhenti. Gris menepuk-nepuk pundak gadis itu dengan lembut. Tanpa perduli seberapa kotornya pakaian mereka sekarang.
"Jangan menangis lagi," ujar Gris mengangkat wajah Esperanza yang masih cegukan.
Lalu mencium pipi gadis itu sebelum mengganti pakaian mereka untuk terakhir kalinya. Esperanza demam. Gris menggendongnya pindah ke kamar lain yang lebih bersih.
__ADS_1
Dibaringkannya gadis itu dan menyentuh keningnya. Memindahkan rasa sakit yang ada pada gadis itu ke tubuhnya. Saat rasa sakit itu pindah kepadanya. Ia melihat yang ada dalam benak gadis itu saat ini. Dan bukan itu saja.
"Rasa sakit ini? Kenapa bisa sebanyak ini?" ujar menangis.
Ia merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Esperanza sebanyak tujuh kehidupannya. Melihat kelahiran dan kematian tragis setiap akhir kehidupan gadis itu. Membuatnya merasakan sesak di dadanya.
Ia juga melihat orang yang selalu ada dalam kehidupan Esperanza. Meski dalam wujud yang berbeda, namun tetap saja mereka adalah jiwa yang sama. Dan itu Nicorazón.
"Ternyata seperti itu," gumam Gris.
Ia memeluk Esperanza yang perlahan-lahan mulai tertidur karena rasa lelah dan rasa sakit yang telah hilang. Lalu melepaskan pelukan tersebut dan memerintah seseorang untuk menyiapkan penerbangan.
"Selama kamu bertemu dengannya, penderitaanmu tidak akan pernah berakhir. Aku akan membawamu jauh darinya. Kupastikan kamu akan bahagia di sisiku seumur hidupmu," ujar Gris sambil membelai rambut Esperanza dan menciumnya dengan penuh cinta.
Baru saja berkata demikian ia merasakan sesuatu datang menghampiri mereka. Segera ia mengambil sebuah selimut dan membalutkannya pada Esperanza. Lalu melompat dari jendela.
"Kalian pikir bisa kabur?" gumam Dorado yang merupakan tamu tidak diundang malam itu.
"Semuanya! Kejar mereka berdua dan bawa ke hadapanku!" perintahnya pada para roh dan orang yang terikat pada rantai sumpah dengannya.
Dan pemburuan besar-besaran pun terjadi. Gris menghemat tenaganya, dengan memfokuskan diri membawa kabur Esperanza dibandingkan bertarung dengan Dorado mau pun yang lainnya.
Meski sudah berlari begitu cepat, pada akhirnya mereka terkepung. Para roh dan para hewan yang diperintah oleh Dorado menyerang mereka di perjalanan. Sehingga Gris terpaksa melakukan perlawanan.
Saat serangan pertama berhasil ia menangkan, Esperanza dibaringkan di suatu tempat yang tersembunyi. Dan ia pun muncul untuk bertarung secara terang-terangan. Mengalihkan perhatian para pemburu mereka.
Dengan kemampuan yang ia dapatkan setelah menyerap kekuatan Verde, Dorado kini mampu memerintah para hewan untuk melacak keberadaan Esperanza melalui aroma tubuhnya yang tertinggal di kamar.
"Seluruh kemampuan keturunan ketujuh yang ada padaku telah aku sempurnakan. Mulai sekarang kalian para musuhku tidak akan bisa lari lagi dariku!" ujar Dorado dengan angkuhnya.
Bersambung...
__ADS_1