
"Bagaimana keadaanmu? Bukankah lukamu belum sembuh, istirahatlah!" ujar Lina tanpa memperdulikan Dion.
Dion akhirnya diam saja, ia tidak mau terlihat terlalu memaksa. Dan berharap agar Lina tidak punya niat untuk menjauhkannya dengan Teresia.
Lina membuka tokonya, tidak lama kemudian pekerjanya datang. Menyapa Dion dengan lembut. Lina melirik Dion. Dion hanya berlalu pergi tanpa menjawab sapaan tersebut.
"Teresia di mana bu?"
"Barang-barang yang ini sepertinya masih banyak. Kalau pun tidak menambah pasokan, sepertinya cukup untuk beberapa hari." ujar Lina mengalihkan pertanyaan.
Ia tau tidak semua orang akan paham, akan hal apa yang terjadi pada Teresia. Sehingga Lina ingin menutup rapat masalah itu.
Pekerja Lina sudah tau kalau Teresia sudah kembali, meski jarang bertegur sapa, biasanya Teresia suka menyapanya kalau ia baru datang. Melihat Lina mengalihkan pembicaraan ia pun mulai melakukan tugasnya. Mengatur barang dagangan yang eceran dan yang dijual dalam jumlah besar.
Siang itu Lina memasak makanan lebih banyak. Setelah selesai memasak ia mendatangi rumah Dion yang tidak jauh dari tempatnya. Dengan membawa makan siang. Saat hendak mengetuk pintu, ia melihat Dion tergeletak di lantai.
"Hei kamu tidak apa-apa?"
"Kakiku terkilir," jawab Dion.
Di rumah hanya ada dia seorang.Toko ditutup sementara. Dan temannya bekerja di tempat lain. Lina membantu Dion duduk di sofa. Terlihat banyak pecahan gelas berserakan di lantai.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Dion.
Lalu ia melihat rantang yang dibawa Lina, dan membukanya. Sementara Lina mencari sapu untuk membersihkan pecahan gelas.
"Ini untukku?"
"Iya makanlah,"
Lalu Lina menyapu lantai tersebut, mengumpulkan pecahan gelas. Dan membuangnya ke tong sampah yang ada di luar. Melihat Lina baru saja keluar dari rumah Dion para tetangga berbisik-bisik. Lina mencoba berpura-pura tidak melihat. Dan mereka juga tidak menegur Lina.
Dion belum memulai acara makannya. Lina kembali masuk. Ia melihat Dion diam saja.
"Kenapa belum makan. Aku sudah bawa piring dan sendok dari rumah sekalian, juga air mineralnya. Ayo makanlah." bujuk Lina.
"Apakah kakimu sakit sekali? Kalau begitu cepatlah makan, aku akan mencari seseorang yang bisa mengobati kaki terkilir."
__ADS_1
"Apa kamu sudah makan?" kini Dion balik bertanya.
"Belum, begitu masakannya matang, aku langsung membawanya ke sini. Makanan yang baru matang akan lebih mengunggah selera makan. Menurutku tadi begitu." ujar Lina.
"Kalau begitu ayo kita makan bersama," ajak Dion.
"Tapi itu hanya cukup untuk dua orang."
"Bukankah kita hanya berdua?"
"Lalu bagaimana dengan temanmu, kemana dia?"
"Kerja, nanti malam baru pulang."
Lina terdiam sejenak. Dion menyodorkan piring yang dibawa oleh Lina setelah mengisinya. Lina pun menerimanya lalu duduk di sofa yang terpisah dengan Dion. Ada rasa kikuk sebenarnya. Tadinya ia hanya akan segera pulang setelah mengantar makanan tersebut dan mengambil tempatnya lagi nanti.
Tapi sekarang mereka malah makan bersama. Walau tidak seromantis dulu. Tapi rasanya seolah cukup untuk mengobati rasa rindu makan bersama. Meski makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Masakanmu enak, rasanya masih sama seperti dulu." puji Dion.
Selesai makan Lina pun mencoba menghubungi beberapa kontak yang ada di ponselnya. Untuk menanyakan seseorang yang bisa mengobati terkilir. Hingga seseorang mengirimkan satu nomor untuk dihubungi.
Lina menghubunginya dan kemudian yang dipanggil datang. Kaki Dion diobati. Lalu berpesan agar jangan terlalu banyak bergerak. Setelah membayar ongkos perawatan, pulanglah orang tersebut. Setelah itu Lina juga undur diri. Dan sekalian membawa peralatannya.
Pekerja Lina memandangnya seolah bertanya, dari mana, dan mengapa baru pulang. Dengan sedikit canggung berpura-pura sibuk.
"Kamu sudah makan?" tanya Lina.
"Sudah bu," jawabnya.
Ia biasa makan siang di rumah Lina. Biasanya mereka bergantian jaga di saat makan. Tapi tadi pekerjanya mencuri waktu untuk makan saat melihat toko sedang sepi. Piring bekas makannya masih tertinggal di toko. Sebab ia memilih makan di toko dari pada di rumah Lina. Sekalian bisa mengawasi toko seraya ia sedang makan.
"Biar saya saja bu yang balikkan ke rumah," ujarnya saat Lina memungut piring bekasnya.
Lina cuma tersenyum. Lalu membawa piring tersebut untuk dicuci sekalian dengan yang ia bawa. Setelah mencuci piring ia terpikir untuk menghubungi putrinya.
"Ya hallo ibu Lina," jawaban dari mama Joni.
__ADS_1
"Apakah putriku baik-baik saja, maksudku ia tidak menangiskan?" tanya Lina.
"Iya dia baik-baik saja dan ini yang ketiga kalinya ia makan siang." jawab mama Joni dengan memutar matanya 360 derajat.
Ia tidak menyangka Teresia bertubuh kurus bisa makan sangat banyak. Dan untuk membuat Teresia ia harus melakukan ini dan itu. Berpura-pura bersikap manis dan biasa saja. Padahal ia merasa jijik melihat tampang Teresia. Dan kesal karena Teresia makan terus.
"Oh baiklah kalau begitu, mohon maaf ya bu, kalau putri saya merepotkan."
"Oh iya... tidak apa-apa...hehehe," ujar mama Joni menahan rasa dongkol.
Belum genap satu hari saja ia sudah muak. Tidak sabar rasanya Teresia segera pergi dari rumah mereka. Tapi saat ingat kalau anak itu adalah aliran uang masuk, ia menepuk jidadnya.
"Kalau bisa biarkan saja dia seumur hidup tinggal di sini," batinnya.
"Teresia sayang...sudah selesai makannya?" tanyanya lembut.
Teresia hanya tersenyum penuh arti.
Sementara Ray yang sedang bersekolah masih menutup diri. Sewaktu jam istirahat, ia lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan. Di sana ada seorang murid yang menatapnya dalam-dalam. Namun tidak berusaha mendekatinya.
Banyak juga yang berbisik-bisik melihat Ray yang berpenampilan mencolok. Tapi untungnya tidak ada yang berniat mengganggunya. Seolah mereka takut terkena penyakit menular. Tanpa disadari Ray pun dikucilkan. Tapi justru Ray merasa sangat nyaman.
Suasana di rumah tante Gina juga tampak berbeda sejak ia pulang sekolah. Tante Gina terlihat lebih akrab dengan putra-putranya. Dalam hati Ray merindukan mamanya. Tapi ia juga sudah berlapang dada menjadi anak tanpa orang tua.
Papanya sampai sekarang, belum menunjukkan tanda-tanda akan mengambilnya dari rumah Gina. Dan Gina tampaknya juga tidak pernah sekali pun menghubungi papanya.
Saat melamun seorang murid laki-laki duduk di kursi panjang yang ia duduki. Dan ia diikuti oleh sesuatu yang pernah mengikuti Emile. Ia tampak makan dengan santai di perpustakaan.
Menyadari diperhatikan oleh Ray, ia pun menghentikan makannya. Lalu memandang Ray dengan tajam.
"Apa lihat-lihat, tidak pernah lihat orang lain makan?!" tanyanya tidak senang.
Ray mengalihkan pandangannya dan memilih menjauh. Dan dalam hati ia berpikir jika murid tersebut juga akan mengalami hal yang sama dengan mamanya. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
Saat ia meninggalkan perpustakaan seorang gadis mengikutinya dari belakang. Ray menyadari kalau ada yang mengikutinya, secepat kilat membalikkan badan. Tapi tidak terlihat seseorang yang sedang mengikutinya. Semua justru terlihat cuek padanya.
Bersambung...
__ADS_1