Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Perubahan Fisik


__ADS_3

Malam hari, lampu di kamar Teresia belum menyala. Tentu saja sangat mencolok. Saat ruangan yang lain sudah terang di sinari cahaya lampu. Gina menjadi merasa was-was dan saat itu Nicholas sedang ada tugas dan tidak memperhatikan kamar Teresia. Gina mengetuk pintu Teresia, namun tidak ada jawaban. Lalu ia pun masuk untuk menyalakan lampu. Dilihatnya Teresia yang berbaring di kasurnya.


"Teresia, Teresia... ayo bangun...!" serunya perlahan.


Lalu didekatinya. Disibaknya selimut yang menutupi Teresia. Terkejut bukan main. Kepala botak Teresia merah seperti darah. Ia lalu memanggil nama Teresia dengan kuat dan tidak berani menyentuhnya.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Apa kamu menguliti kulitmu sendiri?!" batin Gina.


Teresia yang tidur nyenyak membuat Gina salah paham. Mengira Teresia pingsan akibat lukanya. Dan suara Gina membuat seisi rumah terkejut dan mendadak melompat dari tempat duduk mereka lalu berlari menuju kamat Teresia.


"Ada apa ma?"


"Apa yang terjadi?"


"Teresia kenapa?" Pertanyaan putra-putranya saling bersahutan.


Gina perlahan menyibak bagian selimut yang masih menutupi tubuh Teresia. Kebetulan Teresia pun terbangun. Lalu berpaling. Gina terkejut bukan main. Wajah Teresia tampak menyeramkan baginya. Tapi Nicholas bersikap biasa. Ia tidak mau Teresia merasa tidak nyaman.


"Ih ya ampun Teresia, kamu menguliti dirimu sendiri?" tanya kedua putra Gina yang lain hampir bersamaan.


"Tidak," ujar Teresia jujur.


"Hei jangan bohong kamu. Ya ampun. Ini mengerikan sekali!" ujar si bungsu.


Ia bergidik sambil membayangkan Teresia menguliti kulitnya. Rasanya sangat ngilu dan menyakitkan. Lalu tiba-tiba ia merasa bersalah.


"Hei apa kamu tersinggung dengan ucapanku? Kalau ia, aku minta maaf. Dan jangan lakukan hal berbahaya ini lagi." ujar anak kedua Gina.


Mendengar hal tersebut Gina dan si bungsu terkejut. Lalu berpikir, kalau Teresia nekat menguliti tubuhnya karena sikap mereka selama ini yang menjauhinya.


"Ia pasti frustasi, sebab ia jauh dari orang tua dan dijauhi orang yang ada disekitarnya." batin Gina menyesal.


"Teresia maafkan tante," ujarnya sambil mencoba mendekat.


Ia ingin melihat, apakah lukanya berbahaya atau tidak. Dan ia meminta putranya untuk memanggil dokter, tapi ditahan oleh Teresia.

__ADS_1


"Tidak usah tante, ini tidak sakit sama sekali." ujar Teresia dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


Sebab ia tidak merasa nyeri lagi jika menyentuh kulitnya sendiri. Sebenarnya kulit arinya terlalu tipis. Sehingga memperlihatkan warna otot-ototnya yang membuatnya terlihat seperti terluka.


"Nicholas panggilkan dokter," kata Gina tanpa menghiraukan ucapan Teresia.


Dokter pun dipanggil dan memeriksa keadaan Teresia. Ia pun merasa heran, kulit ari Teresia setipis kulit bayi, atau bahkan lebih tipis lagi. Lalu memberi obat luka pada Gina.


"Kulit putri anda sangat tipis, dan bisa mudah terluka. Ini obat luka. Jauhkan dia dari benda tajam sampai kulitnya normal." ujar dokter tersebut.


Sejak malam itu Teresia jadi mudah kedinginan. Jadi mau tidak mau ia tetap harus memakai pakaian tertutup dan juga tebal. Dan tidur tanpa menggunakan pendingin ruangan atau AC


Dan keesokan paginya saat Lina datang mengunjunginya, Teresia mengajak mamanya ke kamar dan memperlihatkan tubuhnya. Lina terkejut bukan main. Saat Teresia membuka topi dan baju lengan panjangnya. Teresia terlihat seperti daging potong yang berjalan.


"Teresia, apa yang terjadi?"


Lina sepertinya memikirkan hal yang sama seperti yang dipikirkan Gina. Lalu Teresia menceritakan kalau kulitnya terkelupas sendiri. Dan jadi seperti sekarang ini, setelah semua kulit luarnya terkelupas.


"Aku bahkan tidak menggosoknya dengan keras, tapi kulitku terkelupas sendiri. Tadinya yang terkelupas hanya beberapa bagian. Dan lama-kelamaan semuanya terkelupas." ucap Teresia.


"Apa ini sakit?" tanya Lina mencoba meraba Teresia.


"Tidak, tapi aku jadi mudah merasakan rasa dingin dan panas. Juga kasar dan lembutnya suatu benda." tutur Teresia.


"Kulitmu tipis sekali ya, mama jadi takut menyentuhmu. Seolah kulit mama akan merobek kulitmu jika bersentuhan."


Tapi di hari berikutnya, kulit Teresia sudah lebih tebal. Ia sudah tidak seperti daging mentah yang berjalan lagi. Tapi lebih mirip bayi yang baru lahir. Rabut halus dan tipis mulai tumbuh di kepalanya. Melihat perubahan itu tentu semua orang menjadi senang.


Tiga hari kemudian Teresia semakin terlihat seperti gadis yang normal. Meski kulitnya masih setipis kulit bayi. Namun ia juga semakin terlihat cantik dengan warna kulit yang merah pucat. Sebab kulit tipisnya mulai memudarkan warna otot tubuhnya.


Dan makin lama, perubahannya semakin cepat. Warna matanyanya menjadi biru kehijauan dan rambutnya pirang. Saat melihatnya Dion teringat akan anak kecil di dalam mimpinya. Wajah mereka mirip. Jika Teresia masih kecil pasti ia akan tampak seperti anak kecil itu.


Dua minggu kemudian Lina memutuskan untuk membawa Teresia pulang. Lebih cepat dari waktu perjanjian.


"Bukankah di surat perjanjian kalau Teresia akan tinggal bersama kami selama tiga bulan?" tanya Gina.

__ADS_1


"Iya, tapi Teresia sudah sembuh dan aku rasa mereka sudah bisa saling melepaskan cincinnya." jawab Lina.


Sebab paranormal mengatakan demikian. Bahwa pertukaran cincin tidak boleh dilepas sampai sembuh. Tapi kalau sudah sembuh boleh dilepas boleh tidak.


"Bagaimana kalau saat dilepas ternyata Teresia sakit lagi?" tanya Gina lagi.


Lina mengernyitkan keningnya, sesaat ia pun jadi terganggu. Ia kuatir jika nanti dilepas Teresia sakit lagi.


"Tidak apa tante kalau mau dicoba. Kalau pun Teresia sakit lagi. Kami tinggal melakukan tukar cincin lagi kan?" timpal Nicholas.


"Tidak bisa begitu, bagaimana kalau pertukaran cincinnya hanya berlaku satu kali dengan orang yang sama?" gumam Gina.


Ros yang dari tadi diam pun angkat bicara. Menurutnya yang dikatakan Gina ada benarnya. Kebetulan Ros ingin melihat Teresia setelah Lina menceritakan kondisi putrinya.


"Iya juga, masuk akal. Apa kita tunggu lagi saja, sampai Teresia jauh lebih baik?" timpal Ros.


"Kalau tidak dicoba bagaimana akan tahu?" ujar si bungsu tiba-tiba ikut berpendapat.


"Ya dan kalau pun Teresia sakit lagi. Dan hanya boleh bertukar cincin satu kali dengan orang yang sama. Kami ada tiga." ujar anak tengah.


Ia lupa kalau ia sudah punya kekasih.


"Memangnya kalian mau bertukar cincin dengan Teresia?" sindir Nicholas.


Dan ia tidak menyangka jawaban dari adik-adiknya tidak seperti yang ia bayangkan.


"Memangnya kenapa kalau tukar cincin. Kan kalau sembuh bisa dilepas?"


"Lalu bagaimana dengan pacarmu? Kamu tidak takut dia cemburu dan minta putus?" ejek Nicholas.


"Kan masih ada aku?" ujar si bungsu.


Tanpa mereka sadari kalau secara tidak langsung mereka seperti memperebutkan posisi sebagai pasangan bertukar cincin dengan Teresia. Dan Nicholas hanya senyum-senyum saja melihat tingkah kedua adiknya.


Ia merasa kalau kedua adiknya setuju agar Teresia melepas cincinnya agar mereka punya kesempatan yang sama dengan Nicholas. Dan terlihat kalau mereka tidak bisa menyimpan perasaan tertarik kepada Teresia yang sekarang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2