
Maya ingin meminta bantuan teman prianya. Tapi ia ragu, bagaimana jika ia tidak mau bekerja sama. Masalah akan semakin besar, polisi akan mengusut hal itu dan bisa jadi, pemilik rumah akan menyadari tentang peti tersebut. Dan ia akan kehilangan perhiasan itu.
"Tapi, bukankah sudah di jual. Ah.. ayo Maya berpikirlah." gumam Maya dalam hati.
Lalu ia memberanikan diri meminta bantuan teman prianya. Dan tentu saja temannya sangat terkejut, tapi kemudian setuju. Karena Maya mengiming-imingi sejumlah uang. Dan akhirnya mereka menyusun rencana untuk membuang jasad Ben.
Dengan ide teman prianya, Maya akhirnya menyuruh para pelayan mencari kotak besar untuk buku-buku yang ada di ruang tersebut. Dengan alasan akan dibawa oleh temannya tersebut.
Para pelayan mencari kotak besar dan plastik hitam, tapi mereka tidak tau kalau itu untuk membungkus jasad Ben. Setelah yang dibutuhkan telah terkumpul. Maya menyuruh mereka memasukkan buku-buku ke dalam kotak tersebut. Dan setelah itu selesai barulah mereka pergi dari ruang buku. Tanpa menyadari ada jasad di ruang rahasia.
Setelah para pelayan pergi, Maya dan teman prianya, mengeluarkan sebagian buku-buku tersebut. Lalu jasad Ben dibungkus dengan plastik hitam yang besar, kemudian jasad itu dimasukkan ke dalam peti. Setelah itu bagian atasnya ditutupi dengan buku-buku yang sudah mereka keluarkan tadi. Kemudian menutup kotak tersebut.
Maya memanggil kembali para pelayan untuk membantu mengangkat kotak tersebut. Kotak itu di letakkan di garasi mobil milik teman prianya. Dan setelah itu, Maya dan teman prianya pergi ke tempat mobil Ben ditinggalkan.
Rencana selanjutnya Maya dan teman prianya memindahkan jasad Ben ke mobilnya. Terlebih dahulu mereka memakaikan pakaian ke jasad Ben yang sudah kaku. Cukup memakan waktu, dan mereka cukup kerepotan. Dan setelah berhasil, mereka membawa mobil serta jasad Ben ke suatu tempat.
Teman pria Maya menyetir mobil Ben, dan Maya menyetir mobil teman prianya. Dan mereka menuju kawasan pegunungan yang memiliki jurang yang dalam. Mereka mencari waktu yang tepat untuk langkah berikutnya.
Ben ditinggalkan di dalam mobilnya sendirian dengan posisi seolah sedang menyetir. Lalu mobil Ben didorong ke jurang. Setelah itu mereka pulang dengan mobil teman pria Maya. Mereka pulang ke tempat teman pria Maya dan membersihkan diri. Malam itu mereka menikmati kegiatan malam mereka.
Ke esokan paginya mereka bangun. Dan bersiap untuk rencana berikutnya. Setelah Maya mengirimkan sejumlah uang ke rekening teman prianya, mereka pun saling berjanji untuk tidak saling mengenal. Dan teman prianya itu pun pergi ke luar kota sesuai janjinya.
Maya segera pulang dan mempersiapkan pakaiaannya. Dia memecat seluruh pelayannya dan juga pergi dari rumah itu dengan membawa seluruh isi peti ke rumah orang tuanya.
"Maya... tumben kamu pulang sayang." ujar mama Maya.
"Biarlah... papa juga sudah rindu dengan anak semata wayang papa, kerjanya pergi terus." ujar papa Maya. Pemilik rumah sakit sekaligus seorang dokter tempat Dion mengalami mall praktik.
"Maya... kebetulan kamu datang, papa dan mama mau mengenalkanmu pada seseorang. Usiamu sudah layak mencari pendamping." tutur mamanya.
__ADS_1
"Mama... Maya baru sampai," sungut Maya.
"Iya... iya... beristirahatlah," ujar mama Maya.
Maya kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Dan ia pun tertidur setelah meletakkan tubuhnya di kasur. Saat tertidur ia merasakan sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Tapi karena mengingat telah mengunci pintu ia enggan membuka matanya.
"May... aku... lapar... May,"
Maya tersentak bangun, setelah mendengar suara khas dari seseorang yang ia kenal. Saat bangun ia mendapati tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Maya heran. Di liriknya pintu dan terlihat kalau masih terkunci.
Maya bangun dari tempat tidurnya dan mendapati beberapa belatung di atas tempat tidurnya. "Ihh jorok..." ujuar Maya. Lalu ia pergi ke kamar mandi dengan menutupi tubuhnya dengan selimut. Selesai mandi ia pun mengenakan gaunnya. Lalu keluar kamar.
"Mama...!" teriaknya.
"Ada apa sayang," jawab mamanya yang melihatnya turun dari kamarnya.
"Ma... apa selama aku tidak tinggal di rumah kamarku tidak ada yang bersihkan?" selidik Maya.
"Mana mungkin, mama selalu menyuruh pelayan membersihkan kamarmu setiap hari." jawab mama.
"Jadi, kena ada belatung tadi di atas tempat tidurku." ketus Maya.
"Hah! Masa sih," ucap mamanya terkejut.
Lalu mama Maya memanggil pelayan yang mengurus kamar Maya. Mereka kena marah dan di suruh membersihkan ulang kamar Maya.
"Oh iya, bagaimana kalau hari ini kita ketemuan sama calon suami kamu May?" tanya mama.
"Mama..."
__ADS_1
"Ayolah May... sebentar saja... ya... mama akan menelepon teman mama, biar dia membawa putranya untuk makan malam." bujuk mama.
Maya akhirnya menurut saja. Ia segera mengenakan gaun yang indah yang memperlihatkan bagian dada dan memakai perhiasan yang berasal dari peti. Dengan begitu ia ingin mengintimidasi calon suami yang mamanya katakan.
Mama Maya terkagum-kagum melihat perhiasan Maya yang berkilau. Maya akhirnya menawarkan satu kalung untuk mamanya. Dan tentu saja dengan senang hati diterima oleh si mama.
Selama perjalanan, mama Maya menceritakan tentang pria yang akan mereka temui. "Ya... ya.. ya," jawab Maya sekenenanya. Ia memang tidak tertarik dengan pernikahan. Baginya hanya ada bersenang-senang tanpa harus ada ikatan.
Sampailah mereka di tempat pertemuan, lalu sedikit basa basi. Setelah itu mereka memesan makanan. Sambil makan Maya mulai merasa ada yang aneh di lehernya. Terasa panas dan tidak nyaman. Tapi ia mencoba mengalihkan perhatiannya.
Ia mencoba menikmati makanannya. Pria yang ada di depannya menatapnya terus-menerus. Maya yang suka diperhatikan menikmati hal tersebut. Apa lagi pria yang dijodohkan dengannya ternyata tidak jelek, ia termasuk dalam kriteria pria yang selama ini Maya kencani.
Selesai makan mereka membicarakan tentang kekayaan mereka masing-masing, yang terkadang justru terkesan saling pamer. Maya hanya tersenyum saja. Pria yang ada di dekatnya, berdehem. Dan kedua wanita paruh baya tersadar kalau ada dua insan yang tidak termasuk dalam obrolan mereka.
"Oh... iya... bagaimana pendapat Nico tentang putri tante, cantikkan?" tanya mama Maya. Mereka kembali ketujuan awal pertemuan tersebut.
"Iya, tante... cantik, sangat cantik malah." pujinya berterus terang.
"Iya... dari tadi mama lihat kamu memperhatikan Maya terus. Ayo... kalau Maya sendiri... menurut kamu, anak tante bagaimana?" tanya mama Niko pada Maya.
"Ah tante... Maya jadi malu..." jawab Maya pura-pura tersipu.
"Oh iya May... tante lihat... kalungmu dan kalung mamamu cantik sekali... kalian beli di mana?" tanya mama Nico.
"Ah iya, mama juga penasaran May." kata mama Maya.
Maya tidak langsung menjawab, dia hanya tersenyum saja. Tapi kemudian dia mengatakan kalau membelinya dari seseorang, tanpa menyebutkan siapa orang itu. Ia juga mulai merasakan rasa panas lagi. Ia tidak sadar setiap kulit yang menyentuh perhiasan dari peti terasa terbakar sedikit-sedikit. Tapi karena rasa panas itu kadang datang dan kadang menghilang, ia masih belum menyadarinya.
Bersambung...
__ADS_1