
Te Espere dan Nicholas tidak langsung pulang ke kota besar, setelah melakukan kunjungan ke pabrik. Tapi Nicholas mengajaknya menginap di rumah Omnya, yang merupakan kakak laki-laki mama Nicholas. Mereka disambut dengan baik oleh tante Nicholas.
Ke esokan paginya barulah mereka pulang. Tapi sebelum pulang Nicholas mengajaknya ke sebuah toko perhiasan. Ia meminta pendapat Te Espere tentang sebuah kalung.
"Untuk siapa?" tanya Te Espere agar ia bisa memilih dengan tepat.
"Untuk seseorang, kira-kira seusia denganmu," ujar Nicholas.
Te Espere terkejut. Sempat terpikir olehnya kalau Nicholas membelikannya kalung. Tapi kemudian ditepisnya pikiran tersebut. Dan mencoba bersikap biasa saja. Lalu memilihkan sebuah kalung.
Setelah membeli kalung, Nicholas mengajak Te Espere untuk menonton film romantis. Te Espere tidak menikmatinya sama sekali. Apalagi saat melihat kisah di film itu berakhir bahagia. Entah kenapa ia merasakan rasa sesak di dadanya.
Selesai nonton Nicholas mengajaknya untuk makan. Dan selesai makan ia mengajaknya ke taman hiburan. Tapi Te Espere tidak menikmati semua itu. Apalagi jika ia ingat kata-kata dari teman-temannya tentang apa yang dilakukan orang yang sedang kencan.
"Yang pasti, kencan itu adalah nonton film romantis, makan siang atau makan malam romantis, jalan-jalan romantis. Pokoknya semua hal yang romantis," ujar teman-temannya kala itu.
Sehingga membuatnya merasa tidak nyaman. Takut kalau Nicholas mengatakan suka padanya. Dan tepat seperti tebakannya. Saat mereka di tengah taman Nicholas menyatakan perasaannya.
"Aku sudah lama menyukaimu, maukah kamu jadi kekasihku?" tanyanya sambil berlutut.
Beberapa orang yang melihat adegan itu berhenti sejenak. Te Espere tidak menjawab. Membuat Nicholas mengulang pernyataannya.
"Jika kamu bersedia jadi kekasihku, ambil kalung ini dan pakai. Tapi kalau tidak besedia, ambilah dan campakkan kemana pun kau suka," ujar Nicholas.
Te Espere merasa gugup, tapi kemudian ia mencoba menenangkan dirinya. Mengambil kalung itu. Lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dan melemparkannya ke dalam kolam air mancur taman tersebut yang ada di dekat mereka.
"Aku sudah menjawabnya, aku mau pulang sekarang," ujar Te Espere dengan nada datar.
Dia mencoba menyembunyikan perasaannya, dan berjalan pergi menjauh. Semua yang menyaksikan tindakannya, mencibirnya sambil berbisik-bisik. Te Espere menghubungi supirnya untuk menjemputnya. Tapi beberapa menit kemudian, bukan supirnya yang datang. Melainkan Nicholas yang menghentikan mobilnya di depan Te Espere.
__ADS_1
"Ayo naik," ujarnya dengan tenang.
"Aku sudah menghubungi supirku," jawab Te Espere dengan membuang muka.
Nicholas turun dari mobilnya lalu mengendong Te Espere untuk masuk ke dalam mobilnya. Te Espere hampir teriak kalau Nicholas tidak mengancamnya.
"Diam atau aku cium!"
Te Espere diam dan membetulkan duduknya, membuang muka dan memandang ke luar jendela. Nicholas mengunci pintu lalu mengendarai mobilnya. Selama di perjalanan Nicholas dan Te Espere tidak berbicara apa pun. Hingga Nicholas meneteskan darah dari hidungnya.
Mulanya Nicholas merasa heran, karena hidungnya terasa mengeluarkan cairan. Saat ia mengelap hidungnya dengan tisu, warna putih tisu tersebut berubah menjadi merah. Ia tidak terlalu ambil pusing, hingga akhirnya ia terpaksa menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di jalan.
Te Espere diam saja. Tapi kemudian ia menoleh dan terkejut. Melihat Nicholas terus saja mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Kak Nicholas!" teriaknya kuatir.
Nicholas mengambil tangan Te Espere lalu meletakkannya di dadanya. Terasa detak jantungnya tidak beraturan. Lama kelamaan ia merasa kesulitan bernapas dan akhirnya pingsan.
Te Espere panik dan menghunginya agar supirnya datang, meski tadi ia sempat mengirim pesan agar tidak usah menjemputnya.
"Kak Nicholas,"
"Kak... Bangun kak,"
Ujar Te Espere berulang ulang sambil terus mengelap darah yang mengalir dari hidung Nicholas. Rasanya supirnya jadi terlalu lama untuk sampai. Jadi ia mengambil ponsel Nicholas dan menghubungi sepupu Nicholas. Yang menurutnya lebih dekat ke mereka.
Ia menempelkan telinganya di dada Nicholas sambil terus berusaha menyadarkannya. Akhirnya ia mencoba hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Yaitu memberikan napas buatan. Dari mulut ke mulut, sambil menekan bagian dada Nicholas yang ia baringkan di kursinya.
Tapi Nicholas tidak sadarkan diri bahkan sampai sepupunya menjemput mereka. Setelah itu ia dibawa ke rumah sakit. Selang oksigen dipasang dihidungnya. Alat kejut jantung dinyalakan dan ditempelkan di dadanya setiap hitungan ketiga.
__ADS_1
Ia menghubungi semua orang, dan dengan suara yang gemetaran ia berbicara pada mereka, dalam keadaan terisak. Membuat setiap orang yang menerima panggilannya, terkejut dan merasa cemas. Te Apoyo tiba lebih cepat dari yang lainnya. Sebab ia lebih dahulu mengetahui kabar tentang Nicholas dibandingkan dengan yang lain.
Nicholas sudah berhari-hari berbaring di tempat tidur, namun ia belum juga sadar. Walau kini hidungnya tidak lagi mengeluarkankan darah. Dan ia juga sudah mendapatkan donor darah. Tapi wajahnya masih sangat pucat.
"Te Espere, pulanglah. Dari kemarin kamu belum beristirahat dan makan dengan benar," ujar Gina pada Te Espere yang terlihat sangat lelah berjaga siang malam di sisi Nicholas.
Mulanya ia tidak mau beranjak. Tapi setelah dipaksa ia pun akhirnya menurut. Ia pun pulang bersama supirnya. Nicholas yang masih belum sadarkan diri meneteskan air matanya.
Setelah Te Espere tiba di rumah, pelahan Nicholas menggerakkan jari-jarinya. Lalu membuka matanya. Suhu tubuhnya berangsur-angsur normal.
"Te Espere, kamu di mana?" ujarnya lemah begitu ia membuka matanya.
Gina menyambutnya dengan gembira. Lalu menghubungi Te Espere. Dan mengatakan kalau Nicholas sudah sadar. Ia ingin Te Espere segera mengetahui kabar baik tersebut. Agar ia bisa beristirahat dengan tenang.
Tapi hal itu membuat Te Espere merasa kalau ia harus menjauh dari Nicholas sejauh mungkin. Ia pun pergi naik ke tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya. Lalu tertidur dengan bekas air mata di pipinya.
Di luar pagar rumahnya, seseorang menatap ke arah kamarnya. Dengan senyuman penuh kemenangan.
"Hanya aku yang boleh memilikimu," gumamnya lalu meninggalkan kediaman Dion setelah puas memandang kaca jendela kamar Te Espere.
Di rumah sakit Gina menceritakan kalau Te Espere baru saja pulang. Dan selama ini dia selalu setia menemani Nicholas. Nicholas hanya diam saja mendengar cerita mamanya. Lalu ia menyingkirkan selimutnya dan mencoba turun dari tempat tidurnya. Tapi ia merasa sangat pusing. Dia hampir terjungkak jika Gina tidak menopang tubuhnya.
Meski masih pusing, Nicholas mengatakan kalau ia ingin pulang dan beristirahat di rumah. Maka Gina pun menanyakan kondisi putranya pada dokter, serta menanyakan apakah putranya bisa dibawa pulang. Dan dengan ijin dokter ia pun membawa putranya pulang ke rumahnya.
Ke esokan harinya Nicholas merasa lebih baik seolah ia tidak pernah sakit. Saat ia melirik ke arah foto Te Espere yang ia letakkan di atas meja ia pun tersenyum. Seolah ia tidak ingat kalau ia sudah di tolak. Lalu ia membayangkan kalau ia bertemu dengan Te Espere.
Tiba-tiba jantungnya kembali berdetak lebih kencang membuyarkan khayalannya. Begitu ia berhenti memikirkan Te Espere, detak jantungnya kembali normal.
Bersambung...
__ADS_1