
"Coba apa?" tanya Ben. Untuk memastikan kalau dia tidak salah dengar.
"Ya kita coba teteskan darah, tapi kemana ya?"
"Hm, ada-ada saja."
"Kenapa? Kalau pun tidak berhasilkan tidak masalah. Lagian apa peti ini tau dia milik siapa sekarang. Di sini di rumah ini. Aku adalah tuan rumahnya. Apa yang kau ragukan." kata Maya terkekeh.
"Ya tapi pakai darah apa?" tanya Ben.
"Memangnya menurutmu itu darah apa?" Maya balik bertanya.
"Ya tentu saja darah manusia. Dan harus pewaris yang sah." ujar Ben.
"Kurang sah apa lagi, aku pembeli rumah ini secara sah." kata Maya.
Ben menimang-nimang sejenak. "Ya sudah terserah kau saja," ujarnya. Lalu menjelaskan kalau Maya harus meneteskan darahnya ke suatu tempat di peti itu.
"Kau bercanda? Aku tidak bilang pakai darahku. Aku tidak mau melukai diriku sendiri." ujar Maya.
"Heh, tapi kau adalah pewarisnya bukan." ejek Ben.
"Ya tapi aku mengijinkanmu mewakiliku," ucap Maya. Sambil mengedipkan mata genit pada Ben, Maya melingkarkan kedua tangannya ke leher Ben. "Ayolah... demi aku... setelah itu kau boleh meminta apa saja," bujuk Maya.
Ben menelan cairan yang meleleh di mulutnya akibat ulah Maya. Dan akhirnya dia setuju. Maya dengan senang hati mengambilkan jarum petul untuk Ben. Ben mulanya ragu, meskipun sebagai seorang laki-laki, ia takut akan benda lancip tersebut.
__ADS_1
Maya sudah tidak sabar menunggu, akhirnya menarik tangan kanan Ben dan mencucukkan jarum pentul itu ke salah satu jari Ben.
AARRRGGHHHR
Teriakan Ben menjadi hiburan tersendiri bagi Maya. Ben mendengus kesal. Darah dari luka tusukan sudah keluar. Ben memencet-mencet jarinya yang tertusuk sambil merengut. "Ah ayolah kau bukan anak kecil lagi." ledek Maya.
"Baik-baik, setelah ini aku akan minta bonusku," ujar Ben. Lalu ia meneteskan darahnya ke tempat yang menurutnya benar. Saat ia meneteskan darah tersebut, darah itu langsung menyebar, dan anehnya darah yang menyebar jauh lebih banyak dari darah yang ia teteskan.
"Wow, ini luar biasa," ujar Maya takjub.
Sementara Ben merasakan rasa perih pada luka di jarinya. Mulanya dia mengacuhkan hal tersebut, hingga akhirnya ia merasakan kesakitan.
AAARRGGGHHH!
Ben berteriak kesakitan, perlahan tubuhnya seolah mengering. Seolah seluruh darahnya dihisap oleh peti tersebut. Sebab semakin lama darah yang menempel di peti itu semakin meluas dan hampir mentupi seluruh permukaan peti.
Matanya membulat seakan tidak percaya. Ia bahkan lupa bernapas. Mulutnya menganga. Tapi kemudian ia tertawa. "Ben lihat, ini luar biasa. Ben... Ben...!"
Ben tidak menjawab, tubuhnya kejang-kejang seolah menghadapi saat-saat terakhirnya. Lalu ia pun menghembuskan napas terakhirnya. Maya ketakutan. Segera ia beranjak keluar dari ruangan itu.
Tapi sebelum kakinya melewati pintu ia pun berpaling. Ia mengambil seluruh perhiasan di peti itu. Tapi kemudian memasukkannya lagi. Lalu ia berpikir sejenak. Ia keluar dan menutup pintu. Ia juga menutup mulutnya. Segera pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah kotak kardus dari dalam kamarnya.
Kotak tersebut ia bawa ke ruang rahasia. Lalu memindahkan isi peti ke dalam kotak kardus. Dengan mata berbinar ia memandangi benda-benda berkilauan di depannya. Seketika ia lupa kalau ada yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya di rumah itu.
Setelah memasukkan seluruh isinya, ia pun menutup pintu ruang rahasia. Lalu mengunci ruangan buku tersebut. Ia melirik kiri dan kanan. Memastikan tidak ada siapa pun yang melihat. Dan segera pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar ia langsung mengunci kamarnya, dan mengatur napasnya.
__ADS_1
Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan pada jasad Ben. Lalu melirik kardus yang ia bawa dan menumpahkan isinya ke atas tempat tidur. Lalu satu persatu benda berkilauan itu ia teliti. Tampak seperti asli. Dan ia senyum senyum sendiri.
Ia lalu mengambil sebuah kalung yang menarik perhatiannya, dan kemudian melingkarkannya di lehernya. Segera ia bercermin dan melihat penampilanya. Cantik!
Ia seakan tidak rela melepaskan kalung itu dari lehernya. Ia menggigit bibir bawahnya. Lalu muncul sebuah ide di benaknya. Tentang hal apa yang akan ia lakukan pada jasad Ben. Ia akan membawa jasadnya keluar, tapi ia harus melakukan sesuatu, agar tidak seorang pun yang curiga.
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk dari luar. Seorang pelayan mengatakan kalau makan malam telah selesai. Maya terkejut. Tanpa sadar matahari sudah terbenam dan ia lupa waktu. Tergesa-gesa ia menyimpan perhiasan itu, memasukkannya ke balik bantalnya.
"Iya... baiklah...!" jawabnya singkat.
Ia pergi mandi dan setelah berpakaian rapi ia pun pergi ke meja makan. Para pelayan saling lirik, mereka penasaran di mana Ben berada. Dan kenapa tidak ikut makan malam bersama.
Tapi Maya bersikap seolah tidak terjadi sesuatu apa pun. Selesai makan ia meminta pelayan membantunya membawakan makanan ke kamarnya. Dan pelayan membantunya membawa makanan ke kamarnya, sampai di ambang pintu saja.
Dan selanjutnya Maya yang membawa makanan tersebut masuk. "Sayang... ayo makan...," kata Maya pada benda-benda yang ada di kamarnya.
Dan benda-benda di kamarnya mendiamkan Maya begitu saja. Maya melakukan hal itu untuk mengelabui para pelayannya. Ia berpura-pura kalau Ben berada di kamarnya. Dan akan menginap malam ini.
Para pelayan tanpa rasa curiga melakukan kegiatan mereka seperti biasa, dan mobil Ben yang berdiam di teras rumah Maya tidak menjadi hal yang janggal bagi mereka. Setelah mereka menyelesaikan pekerjaan mereka, dengan segera mereka pergi ke kamar mereka masing-masing.
Maya yang menunggu keadaan menjadi sepi, sedang bersiap-siap. Ia pergi ke ruangan tersembunyi. Dan ia membuka pakaian Ben, ia kesulitan membukanya dengan paksa, lalu memakainya. Setelah menyembunyikan rambut di balik topi yang ia bawa, maka ia keluar. Dan kemudian ia keluar rumah dan mengendarai mobil Ben.
Mobil itu ia parkirkan di suatu tempat. Maya mengganti pakaiannya lagi. Dan setelah itu ia pergi menemui seorang pria kenalannya dan menginap di sana. Sampai pagi hari. Setelah matahari terbit, ia pun segera pulang dan meminta orang tersebut untuk mengantarkannya pulang.
__ADS_1
Pelayannya bersikap biasa saja, saat melihat majikannya tiba-tiba datang dari arah luar. Dan datang bersama pria yang berbeda. karena nyonyanya sudah biasa berganti-ganti pasangan. Pagi itu Maya makan di meja makan dengan pria yang tidur dengannya tadi malam.
Maya sudah berhasil membuat alibi tentang hilangnya Ben. Kini tinggal cara membuang jasad Ben dan membuatnya seolah-olah merupakan sebuah kecelakaan.