
Tanpa buang waktu Esperanza segera berlari ke arah Dorado dan mencekiknya. Kecepatan gerakan Esperanza sungguh di luar perkiraan Dorado dan keturunan ketujuh lainnya.
Mereka pun terpental. Gris yang tidak luput dari serangan ikut terpental. Matanya terbelalak tidak percaya. Baru saja di depan matanya tubuh Esperanza hancur. Tapi kini ia muncul dengan keadaan utuh dan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Esperanza mengangkat bahu Nicorazón dan saat itu Dorado hendak menyerangnya. Tapi Gris justru menghadang Dorado untuk melukai Esperanza.
"Gris kita berada di kubu yang sama!" teriak Dorado.
Gris yang kebingungan melihat Esperanza yang ada di depannya mengabaikan Dorado. Dan justru mendekat dan mencoba menyentuh Esperanza.
Tapi yang ia dapatkan tidak seperti yang ia harapkan. Esperanza menarik tangan kanan Gris dengan tangan kirinya. Lalu tangan kanan Esperanza mencekik Gris lalu melemparkan tubuh tersebut sekuat mungkin.
Dorado menangkap tubuh Gris yang hampir mangenai jendela kaca di ruangan tersebut. Sedangkan.Verde melemparkan bahan peledak pada Esperanza.
Duar!
Tapi ledakan itu justru kembali pada Verde. Jika bukan karena mengerahkan tenaganya maka ia sudah menjadi daging panggang.
"Semuanya! Bunuh gadis itu!" teriak Dorado.
Ia tidak ingin kelicikannya memalsukan Esperanza diketahui oleh Gris. Dan saat itu kelima keturunan ketujuh lainnya kembali menyerang Esperanza.
Namun bukan hanya tidak bisa menyentuh Esperanza, mendekat pun mereka tidak bisa. Dan akhirnya mereka memberi kode satu dengan yang lain. Mereka melompat keluar dan dan meledakkan gedung tersebut.
Dorado menarik Gris keluar gedung dengan memecahkan kaca jendela begitu juga dengan yang lainnya. Gedung tersebut runtuh dan ledakan beruntun terjadi.
Bahan peledak yang dipasang di dasar bangunan ikut meledak pada ledakan pertama membuat gedung itu tidak memiliki dasar yang kuat lagi untuk berdiri tegak. Dan akhirnya tumbang dan menimpa gedung lainnya.
Terjadi kebakaran besar. Para pemadam bergerak cepat. Dan helikopter terbang menuju gedung tersebut. Mereka adalah anak buah Dion yang mencari keberadaan Nicorazón.
"Kita terlambat," ujar Brillo yang juga tiba di lokasi dengan suara berat menahan rasa sedih.
__ADS_1
Malika segera turun dari mobilnya. Dan melihat puing-puing reruntuhan berputar berjalan meninggalkan kobaran api. Esperanza tampak berjalan di dalam kobaran api dan mengendong Nicorazón di kedua lengannya.
"Esperanza?" tanya Brillo seakan sedang berhalusinasi.
Orang-orang mencari perlindungan menjauh dari pusaran angin yang mengelilingi Esperanza. Lillo menggonggongi Esperanza. Namun gadis itu tidak bereaksi. Tatapannya kosong. Setelah keluar dari kobaran api Nicorazón di baringkan di atas tanah.
"Kak Nicholas...!" teriak Esperanza pilu.
Te Apoyo yang juga telah berada di tempat itu tidak bisa mendekat. Karena semakin lama pusaran angin yang mengelilingi Esperanza semakin luas.
"Dia bisa menghancurkan kota jika ia terus-terusan seperti itu," ujar Tomi.
Malika mencoba mendekat tapi baru saja ia mencoba menyentuh pusaran angin itu, ia malah terpental. Dan tidak ada yang berhasil mendekat untuk mengambil tubuh Nicorazón yang semakin lemah.
"Esperanza! Sadarlah! Kami akan membantumu! Hentikan pusaran angin ini dan kami akan menyelamatkan Nicorazón!" ujar Malika.
Kata-kata telah dirangkai dan kalimat telah diucapkan, namun Esperanza tidak mendengarkan mereka. Hingga Te Apoyo mengambil keputusan yang sangat beresiko. Ia berjalan mendekati pusaran angin dengan perlahan.
Kata-kata Te Apoyo membuat Dion terbelalak. Ia tidak menyangka kalau Te Apoyo akan menyebut nama saudari kembarnya di saat seperti itu. Dan ia tidak tahu apa hubungannya.
Te Apoyo terus berjalan sambil menunduk dan melindungi tubuhnya dari serpihan-serpihan yang berterbangan. Semakin ia ke tengah semakin kuat pusarannya. Dia kini hanya bisa berjongkok.
"Te Espere...! Biarkan aku membantumu! Aku akan menyelamatkan Nicholas!" teriak Te Apoyo lagi sambil terus berjalan.
Tubuhnya kini semakin susah bergerak dan ia mulai terluka akibat hantaman benda yang semakin sulit ia hindari. Orang-orang yang ada di sana mencoba ikut mendekat untuk menolong Te Apoyo yang kini berada di jarak pertengan. Tapi begitu mereka menyentuh pusaran angin segera mereka terpental.
Putra ketiga Gina menatap Te Apoyo tanpa berkedip dan berharap ia bisa selamat. Dan melihat Te Apoyo yang kini merangkak mendekati Esperanza. Ia sudah mengalami banyak luka.
Akhirnya Te Apoyo menutup matanya saat melihat serpihan besar bergerak memutar ke arahnya. Di dalam batinnya ia hanya berbicara satu kalimat.
Te Espere, tolonglah aku.
__ADS_1
Esperanza tiba-tiba tersentak. Angin kencang tiba-tiba berhenti berputar. Puing-puing berjatuhan ke tanah. Namun di sekitar Esperanza dan Te Apoyo tampak bersih dari puing-puing yang berhamburan membentuk lingkaran.
Gadis itu tergeletak di samping tubuh Nicorazón. Dengan cepat tim medis membawa mereka bertiga. Dan memberikan pertolongan pada Nicorazón dan Te Apoyo.
"Siapa sebenarnya gadis itu?" tanya putra Gina pada Dion.
Pada saat ini mereka telah berada di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Memberikan transfusi darah pada Nicorazón. Primavera menjadi pendonor sebelum ditemukan kantung darah yang cocok untuk putranya.
"Aku tidak tahu," jawab Dion dengan jujur.
Malika tampak merenung mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Ingatannya pada saat masih remaja muncul. Ia merupakan satu-satunya yang tidak kehilangan ingatannya sejak lahir.
"Mungkinkah ia reinkarnasi Te Espere?" gumamnya pelan.
"Pantas saja Te Apoyo mampu menenangkannya. Sejak aku mengenal si kembar, mereka berdua punya ikatan yang sangat kuat."
Beberapa menit kemudian peralatan medis tiba di rumah sakit tersebut. Beberapa dokter melakukan operasi. Dengan perasaan berdebar-debar semua orang menanti di luar.
Setelah dokter yang melakukan operasi keluar, semua orang bertanya-tanya keadaan pasien. Te Apoyo yang hanya luka pada bagian luar tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi Nicorazón terluka cukup serius dan kehilangan banyak darah, membuat dokter hanya bisa pasrah.
Dua jam kemudian Te Apoyo sadar dan sudah bisa dijenguk. Sementara Esperanza yang tidak terluka sedikit pun justru belum sadar. Dan belum menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan segera sadar.
"Para keturunan ketujuh bisa saja segera datang setelah mengetahui kalau kondisi Esperanza kini pingsan," gumam Tomi.
"Sebaiknya kita pindahkan mereka bertiga ke tempat yang lebih aman," ujar putra ketiga Gina.
Baru saja ia berkata demikian sebuah panggilan masuk. Dan ledakan terjadi di mana-mana. Para keturunan ketujuh meledakkan tempat-tempat penting seperti rumah sakit dan pusat perbelanjaan.
"Aku rasa sudah tidak ada tempat yang aman di kota ini. Sebaiknya kita membawa mereka ke kota yang jauh!" ujar Tomi.
"Tapi Nicorazón masih belum melewati masa kritis, tidak baik melakukan perjalanan jauh," ujar putra ke tiga Gina.
__ADS_1
Bersambung...