Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Pertunjukan Sulap


__ADS_3

Saat Te Apoyo memarkirkan kendaraannya lagi-lagi Primavera menikmati lukisan-lukisan di dinding luar teater tersebut. Tanpa menyadari satu roh sedang mengawasinya. Begitu juga pengunjung lainnya diamati oleh roh yang menjadi hamba si pesulap.


Mereka sedang memastikan kalau pengunjung yang ada, tidak memiliki kemampuan melihat mahluk halus. Dan setiap pengunjung yang tidak bereaksi apapun, akan dibiarkan masuk begitu saja.


Primavera mengamati para pengunjung. Ada banyak pengunjung yang datang berkelompok. Ada yang berpasangan. Ada juga yang sendirian. Beberapa pria yang datang sendiri, melihat Primavera yang berdiri sendirian, mencari kesempatan untuk berkenalan. Berharap memiliki teman kencan malam ini.


Tapi Primavera menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Membuat para pria itu putus asa. Namun ada juga yang masih keras kepala. Dan akhirnya pergi meninggalkan Primavera setelah Te Apoyo berdehem di belakangnya.


Lalu mengulurkan tangan yang mengenakan cincin perkawinan dengan Primavera. Dengan cepat Primavera menyambut tangan Te Apoyo. Lalu mereka melangkah masuk ke gedung dengan bergandengan tangan. Membuat pria terakhir yang menggoda Primavera mengucapkan kata umpatan.


"Maaf membuatmu menunggu lama sayang," ujar Te Apoyo.


Area parkir padat dan banyak yang mengantri. Sebab ini adalah pertunjukan terakhir malam ini. Dan seperti biasanya, pertunjukan di malam hari jumlah atraksi yang ditampilkan lebih banyak. Yang menjadi daya tarik sendiri bagi para penonton.


"Tidak apa-apa," jawab Primavera walau ia sempat cemas karena Te Apoyo belum juga datang.


Mereka pun masuk sesuai dengan lokasi yang ada tertulis di tiket masuk. Mereka duduk bersebelahan dengan pria yang tadi menggoda Primavera di luar. Pria itu datang mendekat dan duduk di samping Primavera. Tapi Te Apoyo segera berganti kursi dengan Primavera.


Kini Primavera duduk di sebelah seorang anak laki-laki yang datang menyaksikan pertunjukan dengan mamanya. Mama dari anak itu menoleh pada Primavera dan melempar senyum. Primavera pun membalasnya.


Saat kursi hampir penuh seratus persen, lampu tiba-tiba dimatikan. Dan lampu di atas panggung dihidupkan. Tujuannya agar pandangan pengunjung tertuju ke atas panggung. Tampak beberapa pemain sirkus muncul dari bagian samping panggung yang di tutup dengan tirai, lalu mereka segera melakukan beberapa atraksi pembukaan. Di tengah atraksi pemain siskus membuka sebuah kotak peti, mengisinya degan bola-bola yang yang dipakai untuk atraksi.

__ADS_1


Setelah itu peti tersebut ditutup dengan kain hitam. Pada saat itu para roh mengambil boneka tersebut lalu berpindah tempat dengan cepat ke arah kursi penonton. Dan meletakkan bola-bola itu di bawah kursi penonton.


Dan para pemain sirkus pergi begitu saja dan meninggalkan peti yang tertutup kain hitam itu. Perlahan kain hitam yang menutupi bagian belakang peti bergerak ke arah atas. Terus bergerak sampai kain hitam itu terlihat melayang di atas peti. Kemudian tiba-tiba jatuh dan muncullah si pesulap dari dalam peti.


Penonton bersorak gembira dan bertepuk tangan. Pesulap membungkukkan badan memberi hormat kepada para penonton. Lalu mengucapkan kata sambutan yang singkat dan jelas. Dan bertepuk tangan sambil mengangkat tangan ke udara. Lampu-lampu di atas kursi penonton menyala kembali.


Lalu ia menaruh tangannya ke belakang. Satu roh muncul tiba-tiba di balik punggungnya dan meletakkan papan tulis kecil serta spidol di tangan sang pesulap. Dan saat pesulap mengerakkan tangannya ke depan, lagi-lagi penonton bersorak dengan di sertai tepuk tangan.


"Hadirin sekalian, saya ingin mencoba kemampuan saya menebak tanggal lahir salah satu pengunjung di tempat ini. Saya akan memilih salah dari kalian secara acak. Caranya adalah dengan memindahkan papan tulis ini ke bawah kursi salah satu dari kalian," ujarnya sambil menyerahkan papan kecil serta spidol tersebut pada satu roh yang ada di sampingnya.


Dengan cepat roh itu berpindah tempat di saat ia menyentuh benda yang ada di tangan si pesulap. Meletakkannya di bawah kursi pria yang menggoda Primavera terakhir kali.


Kembali terdengar tepuk tangan. Dan pesulap segera memberi aba-aba agar pria itu menulis tanggal lahirnya. Pria itu pun menulis tanggal lahirnya. Satu roh di belakangnya memperhatikan dengan seksama lalu memberikan kode pada si pesulap.


Pesulap menanyakan, apakah penonton pria yang diminta, untuk menuliskan tanggal lahirnya sudah selesai menulis. Dan pria itu menjawab sudah, sambil mengacungkan jempol. Lalu pesulap berpura-pura membaca pikiran si pria. Dan menyebutkan tanggal yang ditulis pria itu. Tepuk tangan terdengar lagi.


Pertunjukan berikutnya. Pesulap mengambil sebuah kotal dari balik gorden lalu mengeluarkan bola dan boneka dari kotak tersebut. Dan mengambil sebuah radio. Kemudian memasang musik.


Seperti keajaiban di mata penonton. Boneka-boneka tersebut menari-nari mengikuti alunan musik. Ketika musik berhenti, boneka-boneka melemparinya dengan bola. Boneka itu digerakkan oleh para roh, sesuai dengan skenario. Pesulap bertingkah seolah kesakitan. Membuat raut muka meringis yang lucu dan berpura-pura mengadu pada penonton.


Tingkah konyolnya disambut gelak tawa oleh para penonton. Tepukan-tepukan kecil terus mengisi suara di gedung itu. Saat pesulap memasak musik kembali dan boneka-boneka itu berhenti melemparinya. Dan saat boneka itu menari, si pesulap memasukkan mereka satu persatu. Dan akhirnya ia mematikan musik setelah semua boneka itu masuk ke kotak.

__ADS_1


Pesulap memasukkan juga bola-bolanya dan akhirnya ia mematikan musiknya. Meniupkan napas lega. Dan memperlihatkan deretan gigi pada penonton. Penonton tertawa lagi. Peti ditutup dengan kain hitam. Saat kain ditarik peti hilang.


"Terima kasih atas tepukannya yang meriah," kata pesulap sambil memberi hormat.


"Kini kita akan menyaksikan pertunjukan terakhir," ujar pesulap lagi.


Ia menceritakan sebuah kisah, tetang masa lampau. Di mana masih banyak orang yang melakukan kurban manusia untuk memperkuat dirinya. Atau untuk mempertahankan kecantikannya.


"Namun tidak tahukah kalian, kalau saat ini pun hal itu masih dilakukan. Tapi kali ini berbeda. Jika dahulu mereka yang menjadi persembahan harus meregang nyawa, kali ini tidak. Karena aku akan menyelamatkan mereka yang rela berkorban malam ini," ujarnya panjang lebar seperti seorang kakek mendongeng pada cucu-cucunya.


"Oleh karena itu, siapa di antara kalian yang bersedia menjadi kurban pada malam ini?"


Lalu para pemain sirkus menarik benda yang biasa digunakan sebagai alat untuk hukuman pancung. Meletakkan satu boneka dan memotong kepala boneka tersebut dengan alat itu. Untuk membuktikan kalau pisaunya tajam.


"Tidak-tidak, itu terlalu sadis," ujar pesulap pada pemain sirkus.


Alat itu dibawa masuk lalu menggantinya dengan kotak berbentuk persegi panjang, yang di antara celah-celah kotak diselipkan empat pisau lebar, yang mampu membelah siapa saja, yang ada di dalam kotak.


"Menarik, aku pilih alat ini saja," kata pesulap setelah memperlihatkan pisau-pisau tajam yang terselip di antara celah kotak tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2