
Gris belum melakukan apapun di sana. Ia hanya memperhatikan situasi. Kekuatannya terkuras saat mengalahkan Putri Penunggu Danau. Jadi saat ini dia tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk memindahkan penyakit seseorang ke orang lain.
Ia tidak menyadari kalau keberadaannya menarik perhatian seorang wanita, yang merupakan putri dari Malika. Ia mencurigai Gris saat ia melihat ada banyak roh yang mengikutinya. Dan kondisi para toh tersebut sama dengan para roh yang terikat pada anak perempuan yang pernah ia lawan bersama orang tuanya.
Gadis itu pun melaporkan hal itu pada mamanya yang kini bersama papanya dalam satu ruang rapat. Di sana ada putra ketiga Gina. Mereka sedang membahas tentang kejadian-kejadian aneh dan janggal setelah menangkap para penjahat yang meresahkan banyak negara.
"Maaf saya harus menerima panggilan dulu," ujar Malika.
"Saat seperti ini, kamu masih menerima panggilan?" sindir putra ketiga Gina.
"Jika putramu ditabrak mobil, apa kamu akan diam saja saat rapat?" Malika balik menyindirnya.
"Perhatian semuanya. Kini sedang dalam masa genting. Dan saat ini kita tidak tahu siapa musuh kita. Bisakah kita tidak mempermasalahkan hal kecil?" ujar seorang pria berseragam polisi dengan berbagai penghargaan yang menempel di pakaiannya.
"Putriku tidak akan menghubungi kalau tidak penting," ujar Malika.
Semua yang ada memandang ke arah Malika. Dan Malika tidak perduli lalu permisi. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan info dari putrinya. Tentang Gris yang memiliki persamaan dengan gadis yang mereka cari.
"Apa mereka mempunyai kelompok?" tanya mereka.
"Saya tidak bisa memastikan hal itu," jawab Malika.
Ia menyerahkan gambar Gris yang dikirimkan oleh putrinya. Dengan segera Tomi yang ada di situ melacak data orang tersebut.
"Dia tidak punya catatan kejahatan," ujar Tomi kemudian.
"Dari mana kamu tahu?" tanya seorang pria paruh baya yang ikut dalam rapat tersebut.
Ia juga sedang mencari data pemuda yang gambarnya diperlihatkan pada sebuah layar yang ada di ruangan tersebut. Ingin memamerkan kemampuannya dalam melacak orang-orang.
__ADS_1
"Kalau tidak percaya, anda bisa cari tahu sendiri," jawab Tomi.
"Masing-masing orang yang ikut rapat ini, memiliki kemampuan, yang diutus dari negara mereka. Sebab di negara mereka juga mengalami banyak kejadian aneh. Para penjahat kelas kakap yang ditangkap, justru tampak seperti orang ling-lung," ujar seseorang yang paling berwibawa di tempat itu.
"Jadi kita tidak perlu bersaing. Kita justru perlu bekerja sama," lanjutnya berharap tidak ada persaingan di sana.
Lalu ia menceritakan keluhan-keluhan yang terjadi di beberapa negara. Dan keluhan-keluhan itu memiliki kesamaan. Banyak barang antik yang hilang dan banyak bank yang dibobol dengan cara yang sangat halus dan anehnya semua pelaku justru tidak ingat apa yang mereka lakukan. Namun demikian mereka terpaksa dihukum. Sebab bukti-bukti mengarah kepada mereka.
"Dan baru-baru ini ada acaman kalau akan ada peledakan besar-besaran jika para pemimpin negara tidak melepaskan para tahanan kelas kakap di negara mereka," ujarnya mengakhiri pidatonya.
"Menurut kalian, berapa usia pelaku ini?" tanyanya kemudian.
Semua orang tampak diam dan berpikir lalu masing-masing dari mereka menjawab kalau usianya menginjak kepala empat. Tapi Malika dan Tomi sepakat kalau pelakunya lebih muda.
"Ini bukan tentang kejeniusan semata, tapi ini berkaitan dengan hal-hal gaib," ujar Malika.
"Huh? Apa-apa ini, memangnya kamu anggap ini zaman kapan? Kamu masih percaya mitos."
"Tentu saja ini berhubungan dengan obat kimia yang menyerang sel syaraf seseorang. Sehingga mereka mau mematuhi perintah orang lain," ujar yang lain menimpali.
Malika hanya bisa geleng-geleng kepala. Orang-orang yang hadir di tempat itu, yang berasal dari negara maju, bersikukuh kalau semua itu tidak ada hubungannya dengan hal gaib. Tapi ada juga yang berasal dari negara berkembang yang percaya ucapan Malika.
"Apa kita minta bantuan paranormal?" tanya mereka yang percaya pada Malika.
Dan hal itu justru mengundang gelak tawa orang yang tidak percaya akan ucapan Malika. Membuat Tomi angkat bicara.
"Baiklah kalau kalian tidak percaya. Saya dan istri saya sepertinya tidak bisa bekerja sama," ujarnya.
"Tunggu, tolong jangan emosi. Semua kepala negara sudah menyerahkan hal ini pada kita. Dan aku rasa, bagi kita yang punya pendapat lain, untuk tidak menghina pendapat yang berbeda," ujar pria yang menjadi ketua rapat tersebut.
__ADS_1
"Rapat ini, sampai di sini dulu. Rahasiakan pertemuan ini pada orang lain. Jangan sampai orang-orang yang ada di pertemuan ini diketahui oleh penjahat tersebut."
Ketua yang memimpin rapat menutup pertemuan itu. Masing-masing pulang dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Malika masih jengkel akibat ulah beberapa orang. Tapi Tomi berusaha menghiburnya agar ia jangan terpengaruh.
Di tempat lain, Te Apoyo membawa Esperanza ke rumahnya untuk sementara, sebelum akhirnya tinggal di asrama setelah masuk sekolah nanti. Saat tiba di rumahnya, Nicorazón menatapnya dengan tajam. Dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
"Bersikaplah yang sopan pada tamu," ujar Te Apoyo.
"Huh? Tamu? Aku tidak merasa kalau ia itu seorang tamu."
Setelah mengatakan demikian Nicorazón memilih pergi meninggalkan Esperanza yang kebingungan. Tapi ia disambut dengan baik oleh Primavera. Lalu diantarkan ke dalam kamar tamu.
"Malam ini beristirahatlah di sini. Aku akan ambilkan pakaian ganti untukmu," ujar Primavera.
Esperanza hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Lalu menghela napas dalam-dalam setelah wanita yang mengantarkannya pergi. Melihat ke luar jendela.
"Ada apa denganku? Kenapa rumah ini serasa tidak asing denganku?" gumamnya menatap keluar jendela.
Ia terkejut saat melamun, karena suara ketukan pintu. Primavera membawakannya pakaian ganti. Lalu menyerahkannya pada gadis itu.
"Maaf ya. Kamar ini tidak mempunyai kamar mandi. Jadi kalau ingin mandi pakailah kamar mandi yang ada di belakang," ujar Primavera.
Sebenarnya Primavera berbicara dalam bahasanya. Dengan mencampurkan gerakan tubuh pada tiap kata yang ia ucapkan. Berharap gadis itu bisa mengerti. Tapi sebenarnya Esperanza sangat paham yang ia ucapkan. Meskipun tidak menjelaskan dengan bahasa tubuh. Sebab sejak kecil ia menguasai bahasa dari negara Te Apoyo, meski ia tidak pernah mempelajarinya. Dan menjawab dengan anggukan kecil.
"Papa, aku sudah mengantar dan memberikannya pakaian ganti. Tapi aku tidak tahu kalau ia mengerti kalau untuk mandi dia harus ke kamar mandi yang di belakang," ujar Primavera.
"Coba papa yang berbicara padanya," pinta wanita itu pada suaminya.
Te Apoyo pun pergi ke kamar Esperanza diikuti oleh istrinya. Lalu menjelaskan yang sudah dikatakan oleh istrinya dalam bahasa Esperanza. Perhatian Te Apoyo pada Esperanza membuat Nicorazón menjadi cemburu.
__ADS_1
"Baru satu hari di sini. Dia sudah mau merebut perhatian orang tuaku," gumam Nicorazón kesal.
Bersambung...