
Jam istirahat tiba, anak perempuan itu menikmati kemampuan yang ia miliki sekarang. Ia pergi ke atap gedung tempat anak bunuh diri. Di sana murid laki-laki itu seolah sedang menunggunya.
"H-hai," ujar anak perempuan itu gugup.
"Kau bisa melihatku?"
"Ya a aku bisa, da dan bukan hanya kau, ta tapi mereka juga." ujarnya lirih sedikit gugup. Anak laki-laki itu tersenyum.
"Apa kau mau jadi seperti kami? Tanpa ada rasa sakit dan bebas pergi ke mana pun."
"Aku rasa tidak, aku suka kehidupanku. Aku hanya penasaran, kenapa kau bunuh diri?"
"Kedua orang tuaku bercerai dan tidak satu pun dari mereka yang bersedia menampungku!" ujarnya geram.
"Aku turut bersedih," ucap anak perempuan tersebut.
"Tidak perlu, aku merasa jauh lebih baik sekarang."
Tidak terasa waktu istirahat habis. Anak perempuan itu melambaikan tangan pada para roh yang menemaninya selama jam istirahat. Ia merasa sangat senang. Ingin rasanya ia memamerkan kemampuannya pada orang lain. Sementara para roh yang tampak bersahabat menyeringai mengantar kepergian anak itu ke kelasnya.
Sementara Ray sedang berkonsentrasi untuk memusatkan pikirannya pada pelajaran berikutnya. Pikirannya terganggu. Sarung tangan yang basah sudah ia ganti dengan yang kering, begitu pula dengan maskernya. Tapi bajunya masih lembab meski tadi ia memerasnya.
"Ray bajumu kenapa?" tanya seorang guru di jam pertama.
"Tadi tidak rambutku terkena kotoran burung, jadi aku mencucinya di toilet, dan bajuku ikut basah, karena aku tidak bawa handuk untuk mengeringkan rambutku." jawab Ray berbohong.
Ray yang melamun tersentak kaget saat namanya dipanggil. Ia mendapat giliran mengerjakan soal. Untungnya ia berhasil menyelesaikannya dengan baik.
Sementara Teresia makin hari makin onar, kini bukan hanya cuma makan tidur. Ia juga membuat rumah tempat tinggalnya berantakan. Dan mama Joni tidak lagi ambil pusing. Setiap barang yang dirusak oleh Teresia ia catat, lalu membuat harganya. Kemudian meminta Teresia membayarnya.
Roh di tubuh Teresia menarik perhatian setiap arwah yang mendekati rumah itu. Dan akibatnya mereka terserap oleh tubuh Teresia. Dan hal itu membuat jiwa Teresia sulit untuk terbangun. Dan oleh sebab itu roh yang menguasai tubuh Teresia makin merajalela.
"Kita bawa saja Teresia pulang," ujar Dion tiba-tiba.
__ADS_1
Sebab kini tagihan barang rusak sudah melebihi batas. Teresia menjatuhkan tiap piring dan gelas yang ia pakai. Dan akhirnya harus dibayar oleh Lina dengan harga lima kali lipat dari harga aslinya. Dan juga biaya perawatan Teresia naik tiga kali lipat. Lina diam saja menanggapi perkataan Dion.
"Biar bagaimana pun Teresia hanya boleh dibawa pulang jika ia sudah sembuh." jawab Lina.
"Ya baiklah, tapi aku kurang yakin Teresia akan sembuh, mengingat perangainya yang semakin menjadi buruk." tutur Dion.
"Sekarang hanya barang yang ia rusak, bagaimana kalau kemudian ia mulai menyakiti orang-orang?" tanya Dion.
"Tapi semua terserah kamu sayang, aku akan mengikuti keputusanmu," kata Dion mengakhiri pidatonya, di saat makan siang bersama istrinya.
Lina akhirnya mulai berpikir, Teresia bukan semakin baik, tapi malah tidak terkendali. Bagaimana jika, ia kemudian menjadi seperti yang Dion katakan. Seteleh berpikir berulang-ulang. Ia memutuskan untuk menjemput Teresia. Tentu saja hal itu tidak disukai oleh roh wanita itu.
Ia pun membawa tubuh Teresia melarikan diri setelah mengetahui orang tua pemilik raga itu akan menjemput. Keluarga Joni mencoba menghalangi. Dan akhirnya terluka. Hingga Teresia akhirnya berhasil lari dari rumah. Dan terjadilah aksi kejar-kejaran.
Teresia berhasil mengelabui keluarga Joni. Ia pun menaiki sebuah mobil angkutan. Dan angkutan tersebut membawanya jauh. Tapi ia tidak punya uang untuk bayar ongkos dan akhirnya diturunkan di suatu tempat.
Lina dan Dion kebingungan saat mendapat kabar Teresia kabur. Lalu mereka memulai pencarian dengan cara berpencar. Tapi sampai malam tiba Teresia tidak berhasil ditemukan.
Tubuh Teresia semakin berat, kemana pun ia berjalan roh-roh di sekitarnya akan terserap oleh tubuh itu. Dan akhirnya raga itu kelelahan menampung roh yang ia serap, lalu muntah darah. Teresia ambruk di tengah jalan.
"Di mana ini?" batin Teresia bigung. Ia mencoba mengingat-ingat lalu ia menapaki jalan yang terlintas dalam benaknya.
Di hari yang sama di sekolah Ray, anak perempuan yang mendapat kemampuan baru semakin sering sendirian. Dan Ray mengawasinya secara diam-diam.
Ray tidak bisa menebak hal buruk apa yang akan menimpa murit tersebut. Tapi ia memperhatikan gerak-gerik arwah yang mendekati anak itu.
"Jika kau mau bertemu lebih banyak, kau bisa pergi ke sebuah rumah tua yang kosong di dekat sekolah ini."
"Tapi rumah itu angker."
"Apa yang kau takutkan, penghuninya sama seperti kami, apakah kami menakutkan?"
"Sejujurnya, awal pertama melihat kalian aku takut tapi juga senang."
__ADS_1
"Oh ya?"
"Tapi baiklah, akan seru jika aku masuk ke rumah itu. Lalu aku akan membuat video dan mengunggahnya ke akun sosial mediaku."
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk menambah follower, pasti keren. Rumah yang angker disambangi seorang gadis cantik. Sayangnya kalian tidak bisa terekam oleh kameraku."
"Kami memang tidak terekam, tapi tindakan kami pasti bisa terekam. Seperti mengangkat cangkir atau membuka dan menutup jendela secara tiba-tiba."
"Ah itu dia, aku punya ide sekarang. Hari ini aku akan mempersiapkan alat-alat untuk persiapan pertunjukkanku, di rumah tua yang besar itu. Pasti seru."
Saat pulang sekolah Ray sempat melihat murid perempuan itu menyelinap masuk ke rumah tua yang besar itu. Rumah yang sudah dibeli oleh Dion. Rumah almarhum kakeknya. Tapi Ray hanya bisa memandang dari balik jendela mobil tantenya.
"Ada apa Ray? Kenapa setiap melewati jalan ini kamu selalu menatap rumah itu lekat-lekat. Jangan bilang kamu melihat hantu yang sedang bergelantungan di pohon ya?" ujar Gina.
Ray membetulkan posisi duduknya dan melihat lurus ke depan. Ia tidak mau mengatakan kalau yang dikatakan oleh tantenya benar. Tantenya tentu hanya bercanda. Tapi ia mungkin akan ketakutan jika Ray menceritakan tentang kemampuannya. Dan jika tantenya tidak percaya, ia cukup menjabat tangan tantenya. Lalu membiarkan tantenya melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Ray pun tiba di rumah, dan bergegas berganti pakaian. Sebuah pesan masuk di ponselnya lalu diperiksa. Seseorang dari grup chat sekolah mengirim sebuah video. Video murid perempuan satu sekolahnya.
Ternyata ia adalah murid perempuan yang menjabat tangan Ray. Memvideokan suasana yang menyeramkan di rumah kakek Dion yang tidak terawat.
"Hallo semuanya, apa kalian tahu ini di mana?" ujar anak perempuan itu mengawali videonya.
"Lihat, aku sedang berada di depan rumah tua. Tepatnya di dekat sekolahku. Kata orang rumah ini angker, ih seram." ujarnya sambil pura-pura bergidik.
"Ayo kita lihat ke dalam. Ada apa di dalam sana, benarkan banyak han...tu... tapi ini masih siang, mungkin hantunya sedang tidur. Kita jangan berisik," ujarnya berbisik.
"Kalian dengar itu, aku mendengar suara. Ada suara langkah kaki di belakangku." ucapnya lalu menempelkan tangan yang bebas ke daun telinganya. Bertingkah seperti mendengarkan suara yang samar-samar sambil mengernyitkan keningnya.
"Oh tidak ini sangat menyeramkan bulu kudukku berdiri." ucapnya sambil memutar kameranya ke segala arah.
"Aku takut...!"
__ADS_1
Lalu ia mematikan videonya.
Bersambung...