
Saat Dion dan Lina sedang memadu kasih ternyata ada orang lain yang sedang bertaruh nyawa. Mengumpulkan bukti-bukti yang akan sangat berguna bagi Dion nantinya.
Wartawati teman dari teman Dion mencoba melarikan diri dari rumah besar. Yang awalnya masuk dengan melamar sebagai asisten rumah tangga. Dan dari hal itu ia mendapat banyak kenyataan yang selama ini luput dari dunia luar.
Sambil menunggu jemputan, ia berjalan tertatih-tatih sambil bersembunyi di balik tumbuhan. Meski telah berhasil keluar dari rumah besar itu. Ia mengalami cidera yang membuatnya kehilangan cukup banyak darah.
Mengandalkan bajunya ia menahan aliran darah dari lukanya. Agar tidak tercecer dan menjadi jejak. Ini pertama kalinya ia mengalami hal semengerikan itu untuk mengungkap sebuah fakta.
Rasanya bantuan lama sekali datang. Ia sudah menghubungi pihak atasannya dan aparat keamanan. Tapi sepertinya tidak ada yang akan datang. Mengandalkan sebuah ponsel ia mencoba mengetahui lokasinya kini. Dan berharap yang menjemputnya tidak kesasar.
Ada dua orang bersenjata api sedang mencarinya. Bertingkah seperti orang biasa. Dan saat itu ponsel wanita tersebut bergetar. Ada pesan masuk, yang menanyakan posisinya. Dengan membalas pesan singkat itu terlihat sebuah kendaraan bermotor lewat dari dua orang yang bersenjata api.
"Permisi apa kalian tau alamat ini?" tanya pemuda itu melepas helmnya.
Tampaknya kedua orang itu tidak menaruh curiga pada orang yang baru saja datang tersebut. Saat memperhatikan alamat yang dimaksut, mereka tidak menyadari kalau orang itu memukul tengkuk keduanya dengan besi secara kuat dan cepat. Dengan beberapa pukulan yang tiba-tiba keduanya berhasil dilumpuhkan.
Keluarlah cepat sebelum yang lain datang.
Kiriman sebuah pesan masuk pada ponsel wanita yang bersembunyi di balik tumbuhan. Wanita itu segera menghampiri pengendara bermotor dan secepatnya mereka meninggalkan tempat tersebut.
Tujuan pertama mereka adalah rumah sakit. Sebab wanita itu mengatakan kalau ia terkena tusukan. Meski tidak terlalu dalam, tapi ia sudah banyak kehilangan darah. Setibanya di rumah sakit ia segera mendapatkan penanganan.
Teman Dion memeriksa barang-barang wanita tersebut. Matanya membelalak dan secepatnya menyimpannya kembali. Memastikan kondisi aman. Dan mulai memikirkan hal apa yang harus terlebih dahulu ia lakukan.
Di tempat lain atasan watawan wanita itu ternyata sedang bernegosiasi. Ia menawarkan sebuah flashdisk yang berisikan rekaman kejahatan. Dan jika ia mendapatkan bayaran yang sesuai maka file di f**lashdisk itu akan dihapus.
__ADS_1
"Apa kau memegang yang aslinya?"
"Ya tentu saja!"
"Baik, datang ke alamat yang aku kirim, anak buahku akan datang dengan uangnya."
Panggilan pun dimatikan. Dengan perasaan senang seperti mendapat durian runtuh. Ia tengah bersiap menemui pembeli file tersebut. Pertemuan secara rahasia. Dan tidak boleh ada jejak transaksi sehingga tidak ada istilah transfer meski jaman sudah modern.
Tapi siapa sangka belum sempat bertemu ia sudah dibunuh dalam perjalanan. Dua orang mengenakan jacket hitam menghadangnya lalu mengambil flashdisk tersebut darinya. Dan menyerahkannya pada boss mereka.
"Dasar tua bangka. Beraninya kau menyuruh anak buahmu memata-mataiku. Tidak ingatkah kau akan jasaku selama ini." geramnya.
Lalu ia memutar video rekaman itu di laptopnya. Setelah itu ia menghancurkan benda tersebut dengan membakarnya. Ia tidak percaya jika itu bukti satu-satunya. Maka ia menyuruh anak buahnya menyelidiki satu persatu pekerja di tempat wartawati itu bekerja.
Segera mereka mencari di setiap rumah sakit. Sebab dari keterangan terakhir wanita itu terluka saat melarikan diri. Mereka menduga jika wanita itu pasti mencari tempat untuk mengobati lukanya terlebih dahulu.
Tibalah beberapa dari mereka ke rumah sakit tempat wanita itu dirawat. Beruntung teman Dion sedang ada di luar saat melihat dua orang mencurigakan celingak-celinguk di setiap pintu kamar. Dengan santai dan tanpa gerakan mencurigakan ia kembali masuk ke ruangan wanita itu. Dibukanya kancing kemejanya. Di saat ia merasa kalau orang itu mulai mendekat, ia melingkarkan tangan wanita itu ke lehernya.
Lalu tanpa berpikir panjang ia pun bertingkah seolah sedang berciuman dengan wanita tersebut. Ketika menyadari pintu sedang dibuka. Jantungnya berdetak kencang.
Untungnya acting yang tidak sempurna itu berhasil mengecoh mereka. Dan kamar itu pun ditinggalkan. Sadar kalau mereka dalam bahaya. Ia pun mencari cara agar bisa pergi dari tempat itu secepatnya. Sebab ia berpikir, mungkin mereka akan kembali memeriksa kabar itu lagi.
Jadi ia mendorong tempat tidur tersebut saat melihat lorong rumah sakit itu sepi. Dan dugaannya benar. Kedua orang itu balik lagi. Dengan cepat ia mendorong masuk tempat tidur tersebut ke salah satu ruangan.
Penghuni ruangan itu mengira ada pasien tambahan. Dan mereka tidak menaruh curiga saat melihat teman Dion tanpa seragam perawat atau pun dokter mendorong sebuah tempat tidur ke kamar itu.
__ADS_1
Dua orang yang tadi mengawasi masuk kembali ke ruangan itu. Saat hendak memeriksa ulang pasien satu persatu, mereka ditegur. Salah satu dari keluarga pasien keberatan sebab mereka mondar-mandir keluar masuk ruangan tersebut.
Tampaknya mereka tidak ingin cari ribut dan mengalah pergi keluar. Tapi tetap saja mereka sepertinya masih menunggu di luar. Dan itu semua karena mereka mendapat info keberadaan wanita yang mereka cari berada di tempat itu.
Seorang aparat yang dibutakan oleh lembaran persegi panjang memberikan data keberadaan wanita yang meminta bantuannya. Wartawati itu juga sempat mengirim video kejahatan seorang boss besar padanya. Dengan modal GPS ia melacak posisi wanita itu dan melaporkan pada si boss. Boss yang tidak lain adalah papa Kelly.
Kini setelah mengetahui dengan jelas posisi wanita itu. Mereka mencoba mengulur waktu. Tidak mau bersikap gegabah dan menunggu kesempatan yang tepat untuk menghabisi wanita itu.
Malam itu mereka menambah pasukan untuk berjaga di rumah sakit tersebut dengan berpura-pura sebagai pasien, dokter, perawat, pengunjung dan juga petugas kebersihan.
Boss besar berpesan agar wanita itu dibawa hidup-hidup tanpa membuat kerusuhan. Dan biarkan media terlebih dahulu meliput berita tentang pembunuhan berantai pada semua karyawan sebuah kantor media massa.
"Aku akan membuatmu menderita dan merasakan rasanya ketakutan yang belum pernah kau alami. Beraninya kau membangunkan seekor singa." geram papa Kelly sambil meremukkan sebuah foto wanita yang mengenakan kemeja putih dan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
Lalu ia pergi ke kamar putrinya yang baru saja melakukan cangkok jantung. Tampak Kelly terhubung dengan selang infus. Dengan wajah yang sudah tidak bisa dikenali lagi. Operasi plastik yang ia lakukan dengan menggunakan uang hasil penjualan kekayaan Dion gagal total.
Terlihat para dokter yang melakukan operasi plastik pada wajahnya telah menjadi patung lilin yang menghiasi ruangan tersebut. Mereka di celupkan hidup-hidup di dalam lelehan lilin karena gagal membuat Kelly secantik yang telah dijanjikan. Tapi setelah itu Kelly perlahan-lahan kehilangan fungsi dari organ dalam tubuhnya.
Mulanya ia mengalami gagal ginjal. Lalu jantung bocor dan infeksi paru-paru. Dengan itu papanya memperkerjakan pelayan baru dan mencari yang cocok sebagai pendonor gratis pada putrinya. Lalu menerimanya sebagai asisten pribadi putrinya. Dengan iming-iming gaji yang sangat besar.
Tidak hanya dengan itu. Ia juga mencari anak-anak yang memiliki kecocokan dengan putrinya sebagai pendonor. Yang lepas dari pengawasan orang tua untuk menjadi seorang pemakai obat terlarang. Yang berakhir jadi ternak di sebuah kamar di ruang bawah tanah.
Sebagai calon donatur baru untuk putrinya yang akan menjalani pencangkokan ginjal, jantung atau hati tiap bulannya. Mereka diperlakukan dengan baik. Diberi pakaian yang bersih, makan yang bergizi dan tes kesehatan sampai efek obat terlarang bersih dari darah mereka. Tapi mereka tidak pernah diijinkan keluar kamar.
Bersambung...
__ADS_1