Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Berbagi Rahasia


__ADS_3

Te Apoyo terbangun dan melihat sekitar kamar, dan tidak ada siapapun di sana. Dan Klara bersembunyi di balik tempok mengutuk jarinya yang menyentuh bibir Te Apoyo. Ia merasa kesal melihat gadis-gadis yang mendekati Te Apoyo tanpa bisa berbuat apa-apa. Hampir saja ia ingin menciumnya.


Te Apoyo heran karena Klara tiba-tiba menghilang. Tapi kemudian ia kembali tidur setelah memastikan tidak ada orang di kamar.


Ke esokan paginya ia diantar pulang oleh Nicholas agar tidak terlambat sekolah. Te Apoyo memperhatikan sekitarnya. Klara masih belum kelihatan. Lalu ia menebak kalau Klara yang membuatnya terbangun tadi malam.


Di sekolahnya ada seorang guru baru, dan ia mengenalnya. Guru tersebut adalah Alicia. Ia terkejut melihat salah satu muridnya adalah Te Apoyo. Kini Te Apoyo sudah tidak berpenampilan culun lagi. Setelah teman-temannya melihat penampilannya di atas panggung.


Di jam istirahat Alicia menemuinya. Lalu menawarkan kue bekalnya pada Te Apoyo. Dan Te Apoyo menolaknya dengan halus. Alicia pun menghabiskan makanannya tanpa tersisa.


"Apa kamu punya pacar?"


Te Apoyo menggeleng.


"Kamu yakin?"


"Ya,"


Alicia menatapnya sekilas mencoba menyelidiki apakah Te Apoyo jujur atau tidak. Saat melihat kejujuran di mata Te Apoyo, ia pun mengalihkan pandangannya.


"Berhati-hatilah kalau punya kekasih," Alicia menyarankan lalu pergi meninggalkan Te Apoyo yang kebingungan.


Setelah guru baru Te Apoyo pergi, teman sekelas Te Apoyo menghampirinya.


"Mana Te Espere? Kenapa ia tidak ke sekolah juga hari ini? Apa yang kamu bicarakan pada guru itu?" ujar gadis itu mencari bahan pembicaraan.


Te Apoyo diam saja, dan hanya meminta ijin untuk pergi duluan dari tempat itu.


"Hah, dasar, kenapa sih diam terus? Sulit sekali mendekatinya," ujar gadis itu.


Ke esokan harinya ia menunggu Te Apoyo di gerbang sekolah. Setelah Te Apoyo terlihat ia lalu berpura-pura seperti baru saja tiba.


"Hei, kamu sudah datang," tegurnya pada Te Apoyo.


Te Apoyo hanya memandangnya sekilas lalu bergegas ke kelas yang disusul oleh gadis itu.


"Apa pekerjaan sekolahmu sudah selesai? Aku sudah, kalau mau lihat juga boleh?" ujar gadis itu menyeiramakan langkahnya dengan Te Apoyo.


Klara yang bersembunyi mengepalkan tangannya melihat Te Apoyo dekat gadis lain. Ia merasa cemburu.


"Sepertinya sainganku yang ini masih belum menyerah," ujar Klara.


Dia mencoba menyentuh benda yang ada disekitarnya untuk di lemparkan ke gadis tersebut. Tapi ia tidak bisa menyentuh batu apalagi melemparkannya.

__ADS_1


Di jam siang Alicia menemui Te Apoyo di tempat yang sama dan menawarkan makanannya.


"Kenapa bu guru memilih makan di sini? Kenapa tidak berkumpul dengan yang lainnya?" tanya Te Apoyo.


"Aku tidak suka mendengarkan orang-orang bergosip saat aku makan. Dan aku tidak suka makan sendirian," jawab Alicia dengan jelas.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Nicholas, apakah gosip tentang kamu anak selingkuhan mamanya benar?"


"Menurut bu guru sendiri?"


"Aku tidak tahu makanya aku bertanya,"


Selesai makan Alicia pergi, dan gadis yang sering mendekati Te Apoyo datang. Te Apoyo segera berdiri saat gadis itu duduk di sampingnya.


"Mau kemana? Apa kamu bisa mengajariku dulu sebentar? Ada soal yang sulit kupahami,"


"Bukankah ada guru bidang studi, kenapa bertanya padaku?"


"Aku ingin lebih dekat denganmu,"


"Tidak ada gunanya dekat denganku," balas Te Apoyo.


"Di sekitarku banyak roh halus, itu tidak baik untukmu," lanjutnya.


"Kamu pikir aku akan percaya?"


"Baiklah kalau begitu, ulurkan tanganmu," ujar Te Apoyo.


Lalu Te Apoyo menyambut tangan itu. Gadis itu tersenyum senang tapi kemudian ia terkejut saat melihat banyak roh halus di sekitar Te Apoyo. Dan segera ia melepaskan tangannya dan lari ketakutan.


"Hei tunggu!" panggil Te Apoyo. Tapi gadis itu terus berlari dan tidak menghiraukan Te Apoyo.


"Gawat aku belum menarik kembali kemampuanku darinya," gumam Te Apoyo mengejar gadis itu.


Lalu ia segera menangkap tangan gadis itu dan menarik kembali kekuatannya.


"Kamu sudah percaya padaku sekarang?" tanya Te Apoyo setelah gadis itu tenang karena sudah tidak melihat mahluk halus di mana pun.


Dan sejak itu ia tidak lagi mendekati Te Apoyo. Tapi diam-diam dia masih suka memperhatikan Te Apoyo. Klara geram karena gadis itu hanya sebentar saja dapat melihat roh halus. Ingin rasanya ia memberi pelajaran karena berani mendekati Te Apoyo.


Saat pulang sekolah Te Apoyo pulang dengan berjalan kaki, lalu Alicia memberikannya tumpangan. Lagi-lagi Te Apoyo menolak. Dan kejadian itu membuat Klara berharap, agar Alicia bisa melihatnya, sehingga ia bisa memberi pelajaran pada Alicia.


Ke esokan harinya, gadis yang sempat mampu melihat melihat mahluk halus kembali mendatangi Te Apoyo. Ia kemudian bertanya pada Te Apoyo tentang kenapa ia tiba-tiba bisa melihat roh halus dan tiba-tiba pula tidak bisa melihat mereka.

__ADS_1


"Jika aku katakan kamu tidak akan percaya," jawab Te Apoyo.


"Percayalah padaku, aku akan percaya pada tiap kata-katamu," jawab gadis itu.


Te Apoyo memandang wajah gadis tersebut. Gadis itu jadi merasa malu dan memalingkan wajahnya. Lalu Te Apoyo meninggalkannya. Tangan gadis itu dengan cepat menarik tangan Te Apoyo untuk mencegahnya pergi.


"Tunggu kamu belum menjawab pertanyaanku," ujar gadis itu.


"Tapi kamu sudah mendapatkan jawabannya," ujar Te Apoyo sambil melirik tanganya yang digenggam oleh gadis itu.


Gadis itu melihat sekitarnya, kali ini ia tidak lari melainkan berlindung di balik pungung Te Apoyo.


"Tolong! Tolong usir mereka," ujarnya gemetaran di balik punggung Te Apoyo.


Te Apoyo berbalik lalu menyentuh tangan gadis itu lalu menyerap kemampuan melihat mahluk halus. Gadis itu terbengong tidak percaya, roh-roh itu lenyap. Lalu ia pun menyadari apa yang baru saja terjadi.


"Apakah dengan menyentuhmu saja, aku jadi bisa melihat mahluk halus dan jika bersentuhan dua kali denganmu, roh halus akan hilang, iya kan?" tanya gadis itu.


Te Apoyo mengangguk.


"Itu luar biasa, tapi pastinya berat untukmu. Kamu jadi sulit bergaul," ujar gadis itu.


"Pantas saja kamu selalu menolak bersalaman. Tapi jangan kuatir, rahasiamu aman padaku," lanjutnya dengan tatapan meyakinkan.


"Tapi bolehkan kalau kita berteman?" tanyanya lagi pada Te Apoyo.


"Setelah mengetahui kenyataannya dan kamu tetap tidak mau menjauhiku, aku rasa hanya bisa menerima permintaan pertemananmu," jawab Te Apoyo.


Hari berikutnya Te Espere kembali ke sekolah. Gadis itu menyambutnya dengan riang. Ia segera bertanya pada Te Espere.


"Halo Te Espere, apa kabar?"


"Baik, terima kasih perhatiannya," jawab Te Espere.


"Oh ya, apakah kamu dan Te Apoyo pernah bersentuhan? Dan apakah kamu juga mengetahui kalau Te Apoyo memiliki kemampuan khusus?"


Gadis itu melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Te Espere. Sebab ia hanya tahu kalau Te Espere menumpang tinggal di rumah Te Apoyo.


"Maaf sebenarnya aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," jawab Te Espere pada gadis itu. Sebab Ia masih menutupi kemampuannya dari orang lain.


"Dan dari mana kamu mendengar gosip itu?" tanya Espere pada gadis itu lebih lanjut.


"Te Apoyo sendiri yang bercerita padaku," jawab gadis itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2