
"Apa mungkin ada setan siang hari?" batin perawat itu.
Ia ingat seseorang pernah mengatakan padanya "Kalau bulu kuduk kita berdiri, itu tandanya ada roh halus yang ada di dekat kita."
Perawat itu memilih untuk berpura-pura tidak mendengar. Beberapa detik kemudian suami Lina datang menjemputnya. Lalu membawa Lina pulang.
Sampai di rumah ia langsung menuju ruang kerjanya untuk memeriksa CCTV. Ia merasa harus tetap waspada terhadap seluruh pelayannya. Ia ingat sesuatu. Gunting.
"Apa mungkin gunting yang waktu itu," gumam Dion. Dia sangat mudah curiga setelah mengetahui Vivina memberi mereka obat yang membuat seseorang berhalusinasi. "Apa mungkin kali ini juga sama?" pikiran Dion bertanya-tanya.
Lalu Dion pergi ke kamar dan saat membuka pintu ia melihat kalau Lina sedang menyematkan gunting kecil ke dalam bajunya.
"Hei apa yang kau lakukan itu?" kata Dion seraya merebut gunting tersebut. Lina tidak memakai gunting itu saat pergi ke dokter. Peristiwa penyerangan yang dialaminya di ruang isolasi membuatnya ketakutan.
"Kembalikan padaku," pinta Lina.
"Sayang...kamu jadi semakin aneh sejak memakai gunting ini, sebaiknya gunting ini dibuang saja. Dan kalau perlu semua gunting yang ada di rumah ini harus dibuang. Juga tidak boleh ada yang menyimpan gunting." kata Dion dengan wajah serius.
"Aku tidak mau, kembalikan guntingku." kata Lina pada Dion.
"Untuk apa kamu bawa-bawa gunting, lalu diselipkan seperti itu. Selain makin aneh, kamu juga bisa melukai dirimu sendiri, tau tidak?"
"Tapi aku meresa lebih tenang kalau ada gunting itu bersamaku." kata Lina.
"Tenang apanya? Yang ada makin aneh, katakan padaku siapa yang memberikan gunting ini padamu? Dion mengintrogasi Lina, dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Selama gunting itu ada bersamaku,mereka tidak bisa mengganguku." jawab Lina.
Dion paham arti kata 'mereka' yang Lina maksud. Tapi dia tidak habis pikir, kenapa Lina sekarang justru percaya 'mereka' yang hanya ilusi itu benar adanya.
__ADS_1
"Mereka tidak ada sayang, kamu hanya berhalusinasi." kata Dion.
"Kalau mereka hanya ilusi, mereka tidak mungkin bisa melukaiku." kata Lina.
"Apa ini yang dimaksud dengan ilusi?" Lina menunjukkan luka yang ada ditangannya.
Dion hanya memandang Lina dengan tatapan sedih. Ia sudah tidak tau harus berbicara apa lagi pada istrinya. Ia mengusap wajahnya dengan tangan kanannya dan menghembuskan napas dengan kasar.
"Sayang percayalah padaku, aku tidak bohong, jadi tolong kembalikan guntingku." kata Lina.
Dion pun pergi ke dapur untuk mencari Ros, saat melihat CCTV, di sana terpampang ketika Ros memberikan Lina gunting kecil. Dion merasa marah pada Ros dan mencurigainya sebagai dalang atas apa yang terjadi pada Lina.
"Katakan padaku, gunting apa ini sebenarnya? Dan apa niat burukmu terhadap istriku?" kata Dion tiba-tiba pada Ros. Ros yang sedang sibuk memasak dengan pelayan yang lain, seketika menghentikan aktifitasnya.
"Apa maksud tuan?"
"Jangan pura-pura tidak tau,"
Dion meletakkan gunting yang ada ditangannya ke atas meja dengan kasar. "Bukankah kau yang memberikannya pada istriku, hah!" ucap Dion dengan nada marah.
"Sekarang kemasi barang-barangmu, kau dipecat." kata Dion.
"Tapi tuan, apa salah saya?" tanya Ros yang kebingungan.
"Kalau kau tidak tau apa salahmu, lebih baik kau pulang ke rumahmu agar pikiranmu menjadi jernih. Mungkin kau akan segera tau kenapa hari ini kau dipecat." kata Dion.
"Sayang...apa-apaan ini? Ros tidak salah apa-apa." kata Lina membela Ros. Ros dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis cuma bisa diam saja. Ia tidak tau letak kesalahannya di mana. Ia juga berharap tidak benar-benar dipecat. Apalagi sekarang dia adalah tulang punggung keluarganya.
Namun ternyata Dion tidak bisa dibantah. Ucapannya tidak ia tarik kembali, meski pun Lina telah mencoba untuk membujuknya. Ros tetap dipecat.
__ADS_1
Ros menyusun barang-barangnya sambil berlinang air mata. Lina datang menghentikannya. "Jangan pergi, suamiku hanya sedang marah padaku, karena tidak mendengarkannya. Nanti kalau sudah reda, dia pasti menyesal. Jadi kumohon...tetaplah di sini." kata Lina.
Mendengar ucapan Lina, Ros berhenti mengemasi barang-barangnya. Ia merasa kalau masih ada harapan untuknya bertahan, tapi tidak lama. Karena kemudian Dion menyerahkan gaji dan pesangon pada Ros di dalam sebuah amplop. Lalu menyuruh supir untuk mengantarkan Ros ke terminal.
"Aku ingin saat aku kembali, dia sudah tidak ada lagi di rumah ini." ucap Dion. Lalu Dion pun pergi tanpa berpamitan pada istrinya.
Ros menangis sejadi-jadinya, tapi kemudian ia menyeka air matanya. Dengan perlahan ia meneruskan kegiatannya. Lina yang menatap Ros merasa pilu. Dan akhirnya merasa kesal pada sikap suaminya.
Saat Ros melangkahkan kakinya ke luar rumah, Lina memeluknya dan meminta maaf. Kemudian menyerahkan sebuah amplop. Mulanya Ros menolak. Sedih rasanya saat tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah dia bukan siapa-siapa di rumah itu. Status nyonya yang ia sandang, rasanya hanya sebuah pajangan belaka.
Setidaknya masih ada yang ia bisa lakukan untuk terakhir kalinya pada Ros. Walau hanya sekedar saja sebagai pengobat luka atau pun rasa sedih akibat kelakuan suaminya. Lina jadi merasa bersalah. Perdebatannya pada suaminya justru merugikan orang lain.
"Buat jaga-jaga di jalan." kata Lina. Akhirnya ia melepas kepergian Ros. Ros pun berterima kasih pada mantan majikannya.
"Permisi nyonya." pamitnya penuh duka. Meski ia sudah menyeka air matanya, namun sisa bekas tangis masih melekat di wajah Ros. Bukan pemecatan itu yang paling ia tangiskan. Tapi, apa yang akan ia katakan nanti di kampung? Keluarganya pasti sedih jika tau ia telah kehilangan pekerjaanya.
Gajinya yang besar dan cukup untuk mengirim biaya hidup ibu dan adik-adiknya kini akan berhenti mengalir. Ia hanya berharap bisa mendapat pekerjaan secepatnya. Sungguh hari ini terasa seperti mimpi bagi Ros. Gunting kecil yang ia berikan pada nyonyanya, tidak pernah terpikir olehnya akan menjadi penyebab dirinya dipecat.
Gunting kecil yang ada di tangannya dipandanginya dengan pikiran kosong. Setelah sampai terminal, supir yang mengantarnya membukakan pintu, dan membantu Ros mengeluarkan barang-barangnya.
"Makasi pak," ucap Ros setelah seluruh barang-barangnya dikeluarkan.
"Jaga dirimu baik-baik ya nak, semoga bisa dapat pekerjaan secepatnya." kata si supir dengan rasa iba.
"Iya pak, makasi." jawab Ros sambil melemparkan senyum semanis mungkin di kala hatinya terasa pahit.
Kemudian mobil yang di kendarai si sopir melaju meninggalkan Ros sendirian, setelah si sopir pamit pulang.
Ros menghempaskan bokongnya ke kursi di tempat penantian. Ia belum membeli tiket pulang. Masih seperti bermimpi, ia yang seharusnya masih sibuk di jam itu kini hanya duduk sendirian di kursi terminal.
__ADS_1
Ia mengeluarkan gunting kecil dari kantungnya. Lalu berpikir hal apa yang akan ia lakukan. Saat melihat ada tong sampah di dekatnya ia pun menghampiri tong sampah itu. Dia ingin membuang gunting itu. Tapi saat ia hendak membuangnya...
Bersambung...