Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Belatung


__ADS_3

Acara makan malam berjalan dengan lancar. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah Maya merasa sangat lelah. Dan tidur tanpa mengganti pakaian.


"May... aku lapar...May..."


Kembali Maya bagun di pagi hari dengan mendapati tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun. Dan belatung berserakan di atas tubuhnya.


AAARRRRGGGHHHH!!!


Maya menjerit, jijik melihat belatung-belatung yang meliuk-liukkan tubuhnya di atas kulit Maya.


"Ada apa May?" tanya mama yang berlari ke kamar Maya. Tapi karena kamar Maya dikunci ia jadi tidak bisa masuk.


"Belatung...!" teriak Maya.


Lagi-lagi Maya menutupi tubuhnya dengan selimut dan pergi mandi. Di kamar mandi Maya hendak melepas perhiasan-perhiasan yang melekat di tubuhnya. Ia melihat warna hitam di setiap kulit yang terkena perhiasan tersebut.


Maya heran. Iya pun melepaskannya. Dan meletakkannya ke atas rak di kamar mandi. Lalu ia mandi. Setelai selesai mandi ia mencari obat untuk mengobati kulitnya yang menghitam. Ia mengira itu karena alergi. Kejadian yang sama juga di alami oleh mama Maya. Dan keduanya tidak menaruh curiga sama sekali.


Untuk menutupi bekas hitam, mama Maya memilik memakai baju yang berkerah. Dan merahasiakan hal tersebut. Begitu juga dengan Maya. Ia justru harus menutupi banyak tempat. Telinganya juga menghitam harus ia tutupi dengan rambutnya. Dan jari serta tangannya yang menghitam ia tutup dengan sarung tangan.


"Maya... ada apa tadi? Kenapa berteriak-teriak?" tanya mama setelah Maya turun dari kamarnya.


"Ma... ada belatung lagi di kamar Maya. Maya minta kamar itu di bersihkan. Dan Maya mau pindah kamar." kata Maya, setelah ia menemui mamanya yang duduk di ruang tamu.


"Iya baiklah, ini aneh... dari mana belatung itu ya?" kata mama Maya pelan.


Lalu ia menyuruh pelayan memeriksa lebih rinci setiap sudut ruangan. Siapa tau ada bangkai tikus yang sudah membusuk dan berbelatung.

__ADS_1


"Oh iya ma, May pergi dulu ya..." ujar Maya.


"Kemana?"


"Belanja," ujar Maya singkat.


Saat berbelanja, Maya merasakan rasa gatal pada kulitnya yang berusaha ia tutupi. Saat mengambil sesuatu ia tanpa sengaja menatap ujung sarung tangannya yang menghitam. Ada sesuatu yang melekat di sana. Maya mengira kalau itu daki. Segera ia pergi ke kamar kecil di toko tersebut. Lalu membuka sarung tangan itu dan membuangnya ke tong sampah.


Setelah melihat kalau warna hitam di jari manisnya melebar Maya pun sudah tidak tertarik untuk berbelanja lagi. Ia memutuskan pergi ke dokter kulit. Dan menjelaskan beberapa hal yang di tanyakan oleh dokter.


Dokter mengatakan kalau kulit yang menghitam itu adalah sel kulit yang mati. Dia menyarankan Maya untuk membersihkannya dengan alkohol. Maya pun menerima beberapa resep. Lalu segera pulang. Karena rasa gatal itu semakin tidak bisa ia tahan.


Maya pun tiba di rumah dan tidak mendapati papa dan mamanya. Jadi dia memutuskan pergi ke kamarnya. Ia belum tau kamar mana yang akan ia pakai untuk menggantikan kamar lamanya.


Ia mengeluarkan isi tasnya. Ia mengosok bagian yang gatal dengan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol. Setelah rasa gatal berkurang ia melihat kulitnya seperti terkelupas. Rasanya perih.


"May... aku lapar... "


May menoleh kebelakang, tidak ada siapa pun di belakangnya. Rasa gatal kini menjalar seluas kulit yang putih berubah menjadi warna hitam. Maya semakin tidak bisa menahan rasa gatalnya, mencoba untuk mandi. Dia menghidupkan keran air panas dan air dingin.


Mengatur suhu air itu agar sesuai dengan yang ia inginkan. Lalu ia melepas pakaiannya dan berendam di air hangat tersebut. Dan menambahkan sabun cair ke dalam bak mandi. Ternyata rasa gatalnya berkurang, Maya pun mengosok tubuhnya dengan perlahan. Setelah rasa gatal hilang ia pun membilas tubuhnya.


Rasanya segar tapi bagian kulit yang menghitam semakin lebar. Maya jadi setres. Untuk menghilangkan rasa setresnya ia pun meminum pil tidur. Dan beristirahat hanya dengan mengenakan gaun mandi, setelah mengunci kamarnya.


Tanpa ia sadari baju mandinya tersingkap. Dan tubuhnya pun dihinggapi belatung di daerah-daerah tertentu. "May... May..." sayup-sayup suara lirih berbisik di telinga Maya. Tubuh Maya bergoyang sendiri di atas tempat tidur. Seolah ada yang menggerakkannya.


Maya yang dibawah pengaruh obat tidur tidak menyadari itu. Dan ketika ia bangun ia terkejut. Terasa sakit di daerah khususnya. Dan tampak belatung keluar dari sana. Mata Maya melotot tidak percaya. Segera berlari ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun. Ia membilas diri.

__ADS_1


Belatung-belatung berlomba keluar dari area khususnya. Maya ketakutan dan kesakitan. Ia menggingit bibir bawahnya. Setelah belatung tidak keluar lagi dari daerah khususnya. Ia pun segera mengganti pakaian dan hendak pergi ke dokter. Saat hendak pergi ia melihat mamanya.


"Maya kau mau pergi ke mana?" tanya mamanya yang baru saja pulang.


Mama Maya tampak tidak sehat. Dan ia juga terlihat pucat. Tiba-tiba Maya menyadari sesuatu. Ia ingat daerah yang menghitam adalah daerah yang menggenakan perhiasan dari dalam peti.


"Ma... apa mama merasa gatal? Maksudku, apakah leher mama gatal?" tanya Maya.


"Dari mana kau tahu?" tanya mama Maya.


"Jadi benar?" tanya Maya lagi.


"Ia, gatal sekali. Sepertinya mama alergi. Tidak biasanya mama seperti ini. Apa perhiasan yang kamu beri ke mama itu palsu May?"


Maya tercekat. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan mamanya. Tapi kemudian dengan cepat ia menggeleng. Seketika ia bergidik ngeri mengingat tentang cara ia menemukan perhiasan tersebut. Ia mulai berpikir tentang hal-hal yang di luar logikanya.


"Ah sudahlah, besok mama cek ke toko perhiasan. Bisa jadi kau sudah ditipu penjualnya May. Bila hal itu benar, kita laporkan dia ke kantor polisi. Ughh aduh gatal sekali."


Mama Maya pergi ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Di saat itu ia melihat cairan seperti nanah di lehernya. Ia melotot tidak percaya dan melihat lehernya di kaca. Benar dugaanya. Kulit yang ia sangka menghitam karena alergi kini telah bernanah.


Ia mundur selangkah dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Segera ia membuka setiap laci lemari, mencari cairan pembersih dan kapas. Ia mengelap cairan yang berbau di lehernya tersebut. Saat itu ia mengunakan cermin rias sebagai pedomannya.


Dari cermin ia melihat daerah mana yang bernanah dan mengeringkannya. Lalu mencari obat untuk luka, kemudian ia mengoleskan obat pada bagian itu. Ia juga meminum obat alergi, dan obat anti biotik.


Saat sedang pusing memikirkan keadaan lehernya yang gatal dan perih, ia melihat...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2