
Nicholas tidak menyadari, kalau ia memikirkan Te Espere, pelahan suhu tubuhnya akan naik. Jantungnya berpacu lebih cepat dan membuat aliran darahnya terganggu. Sehingga hidungnya akan berdarah.
Tapi ia malah mengira kalau itu terjadi karena ia sedang berpikiran mesum. Jadi ia tersenyum lalu menghentikan pikirannya tentang Te Espere. Dan ia sangat terkejut, saat mamanya mengatakan kalau pagi ini Te Espere pergi ke luar negri.
Bagai disambar petir di siang hari. Nicholas tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Lalu menghubungi nomor Te Espere. Namun terdengar suara yang mengatakan, kalau nomor yang ia hubungi berada di luar jangkauan.
Nicholas akhirnya berpikir kalau Te Espere sengaja menjauhinya. Jika tidak, untuk apa ia sampai pergi ke luar negri. Nicholas mencoba mencari jawabannya dari Te Apoyo.
"Semua itu demi kebaikan kakak," ujar Te Apoyo.
"Apa maksudmu?" tanya Nicholas yang tidak mengerti perkataan Te Apoyo.
Lalu Te Apoyo menceritakan hal yang berkaitan tentang kutukan. Bahwa Te Espere tidak boleh menikah dengan siapa pun. Jika tidak suaminya akan meninggal karena kehabisan darah.
"Tapi kami belum menikah, bukankah kamu juga tahu? Kenapa ia menjauhiku," ujar Nicholas.
"Te Espere menyukai kakak, dan ia tidak mau kakak celaka" ujar Te Apoyo.
"Tapi aku lebih baik mati dari pada jauh dari Te Espere," ujar Nicholas.
"Kamu dengar Te Espere...! Aku menyukaimu!" teriak Nicholas pada Te Apoyo.
Ia mengetahui kalau Te Apoyo dan Te Espere bisa terhubung satu dengan yang lain. Ia berpikir kalau saat ini Te Espere bisa mendengar kata-katanya melalui Te Apoyo.
"Aku tidak takut pada kutukan itu sama sekali!" ujarnya.
Tapi baru saja ia mengatakan hal itu, ia pun terbatuk dan megeluarkan darah.
"Te Espere aku mencintaimu," ujarnya lagi di sela-sela batuknya.
Ponsel Te Apoyo berdering, ternyata Te Espere memanggil. Sebab Te Espere berbagi penglihatan pada Te Apoyo. Dan melihat Nicholas batuk dan mengeluarkan darah. Ia jadi ingin berbicara secara langsung. Te Apoyo menerima panggilan tersebut.
"Biarkan aku bicara pada kak Nicholas," ujar Te Espere dari ujung panggilan.
"Te Espere ingin berbicara dengan kakak," ujar Te Apoyo, sambil menyerahkan ponselnya pada Nicholas.
"Te Espere! Pulang atau aku yang akan menjemputmu!" perintah Nicholas.
__ADS_1
"Kak, maafkan aku. Aku tidak bisa menemui kakak lagi," ujar Te Espere.
"Omong kosong, jika kamu tidak datang, sekarang juga aku akan ke sana!" teriak Nicholas.
Terdengar isak tangis Te Espere dari seberang panggilan. Nicholas terdiam.
"Aku tidak bermaksud kasar padamu, maafkan aku," ujar Nicholas.
"Tapi kumohon jangan jauh dariku, aku akan lakukan apa saja, asal kamu bisa aku bisa melihatmu," ujarnya lagi dengan nada memelas.
"Maafkan aku," ujar Te Espere tanpa mampu menghentikan isak tangisnya.
Panggilan pun dihentikan. Malika mengusap punggung Te Espere. Mencoba membuatnya tegar. Kini Te Espere tinggal dengan keluarga Malika. Sebab papa Malika yang akan memegang cabang perusahaan Dion di luar negri. Dan ia pun kini sudah didaftarkan di universitas yang sama dengan Malika.
Sementara Te Apoyo yang melihat Nicholas terpuruk mencoba menghiburnya.
"Kak Nicholas bersabarlah. Tunggulah sampai aku bisa menghapuskan kutukan itu," ujar Te Apoyo.
Nicholas hanya diam dan pasrah. Ia pun pulang ke rumahnya dengan hati terluka. Dan sejak saat itu ia menjalani kehidupannya tanpa melihat Te Espere sama sekali.
"Hai, kamu suka membaca?" ujar seorang mahasiswa padanya.
Te Espere tidak memperdulikannya. Dan memilih meneruskan bacaannya. Dan saat mahasiswa itu terus bertanya, ia pun meninggalkan mejanya. Dan memilih meminjam buku tersebut agar bisa dibawa pulang.
Setelah Te Espere pergi meninggalkan perpustakaan, mahasiswa itu pun mengikutinya, kemana pun ia pergi.
"Jangan coba-coba melawan takdirmu, agar tidak ada yang terluka," gumam mahasiswa tersebut.
Sejak menegur Te Espere di perpustakaan ia jadi makin sering mengunjungi perpustakaan hanya untuk bertemu Te Espere. Meski pun ia selalu diacuhkan.
Dan kemudian ia menaruh setangkai mawar merah di dalam lemari Te Espere secara diam-diam lalu meninggalkan secarik kertas dengan tulisan angka yang berurutan tiap harinya.
Saat Te Espere menyentuh bunga tersebut ia tidak bisa melihat apa pun dari bunga itu. Yang membuatnya tidak bisa mengetahui siapa yang meletakkannya. Dan dia juga heran kenapa ada yang bisa membuka lokernya.
"Ada apa?" tanya Malika saat mereka sedang makan siang di kantin.
"Ada seseorang yang meletakkan bunga mawar di lokerku, tapi aku tidak tahu siapa pelakunya," ujar Te Espere sambil melirik ke kiri dan ke kanan untuk menangkap aksi yang mencurigakan.
__ADS_1
Tapi tidak ada seorang pun yang bersikap mencurigakan di sana. Te Espere pun menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menenangkan pikirannya. Tidak mungkin Nicholas yang melakukannya tebaknya.
Tapi untuk saat ini, orang yang tidak bisa ia lihat masa lalu adalah mamanya dan Nicholas. Terkadang ia penasaran tentang masa lalu Nicholas. Meskipun bersentuhan dengan Nicholas ia tetap tidak bisa melihat masa lalu Nicholas. Dan Te Espere pun gagal melihat masa lalu Nicholas saat menyentuh Gina. Tapi ia bisa melihat masalalu adik-adik Nicholas saat menyentuh Gina. Dan melihat mereka saat kecil dalam bayangan masa lalu Gina.
Hingga suatu hari ia pergi ke perpustakaan sendirian. Karena Malika akan pergi ke acara ulang tahun temannya. Saat di perpustakaan seorang mahasiswa mendekatinya. Seperti biasa ia akan langsung pergi begitu ada yang mendekat.
Kali ini mahasiswa yang sering mendekatinya itu terlihat sangat kesal lalu ia menarik tangan Te Espere. Te Espere tersentak dan mencoba menarik tangannya. Tapi mahasiswa itu menggenggamnya semakin kuat.
"Lepaskan!" perintah Te Espere sambil mengunakan kemampuannya untuk melihat masa lalu pemuda tersebut.
Namun ia gagal dan akhirnya dia tahu kalau mahasiswa tersebutlah yang meletakkan mawar itu di dalam lokernya.
"Jadi kamu orang yang membuka lokerku?" tanya Te Espere.
"Kamu memata-mataiku?" tanya mahasiswa tersebut tanpa menjawab Te Espere.
"Jawab saja pertanyaanku dan lepaskan tanganku!" bentak Te Espere.
Tangan Te Espere pun dilepaskan oleh pemuda itu. Tapi ketika Te Espere pergi keluar ia pun mengikutinya. Mulanya Te Espere tidak memperdulikannya. Tapi ia makin kesal karena pemuda itu terus mengikutinya dalam jarak 10 langkah.
Dan terlihat dengan jelas, kalau ia mengikuti Te Espere tanpa bersembunyi-sembunyi lagi. Lalu saat Te Espere pulang dijemput supir Malika, penguntit itu tersenyum dengan melambaikan tangannya. Seolah melambaikan tangan pada kekasihnya yang pergi.
"Belum saatnya, ya sekarang belum saatnya. Tapi jika sudah tiba masanya kamu tidak akan pernah bisa jauh dariku," gumamnya.
"Oscuridad kamu sedang apa?" tanya seseorang menepuk pundak mahasiswa yang menaruh bunga di loker Te Espere.
"Jangan menghayal terlalu banyak pada gadis itu, sepertinya dia sudah bertunangan. Dan aku rasa tunangannya bukan orang biasa, sehingga ia tidak tertarik pada mahasiswa mana pun di kampus ini. Bahkan ada yang mengatakannya kalau ia menyukai perempuan," ujar yang menepuk pundak Oscuridad.
"Kamu kenal gadis yang bernama Malika yang sering bersamanya? Kata anak-anak di kampus mereka itu adalah pasangan. Menjalin hubungan terlarang," katanya lagi.
"Aku tidak perduli apa pun itu, karena kelak ia hanya akan jadi milikku dan hanya akan ada aku di kehidupannya,"
"Jangan bercanda kawan, yang kaya raya dan super star saja tidak dilirik olehnya. Apa lagi kamu yang hanya seorang anak pemilik kedai kecil," ujar teman Oscuridad mengingatkan.
"Itu karena kamu tidak tahu siapa aku yang sebenarnya," batin Oscuridad tersenyum lalu meninggalkan tempat itu dan diikuti oleh temannya.
Bersambung...
__ADS_1