Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Pemakaman Vivina


__ADS_3

Saat keluar dari toilet seseorang memborgol tangan Vivina.


"Anda kami tangkap, anda berhak diam, silahkan ikut kami ke kantor."


Suasana semakin tegang saat dua polisi berpakaian preman menangkap Vivina. Tangan Vivina di pakaikan gelang besi. Gelang yang tidak seorang wanita pun ingin memakainya. Bermimpi saja pun tidak mau.


Vivina menangis dan berusaha meminta dilepaskan. Dia masih sempat memohon pada Dion kalau dia tidak akan mencuri lagi.


"Apa aku terlihat sebodoh itu?" tanya Dion dengan tatapan marah.


Arti dari tatapan Dion mengatakan, kalau dia sudah tau semuanya. Vivina yang tadinya memohon dan berlutut di kaki Dion, sambil memegangi kaki Dion secara perlahan melepas pegangannya. Kini ia hanya bisa pasrah dibawa ke kantor polisi.


Saat Vivina dibawa oleh polisi, sekilas Dion melihat bayangan hitam yang selama ini berada di balik punggung Bibi Kinan, mengikuti Vivina. Sejenak timbul rasa ragu pada Dion untuk memenjarakan Vivina. Tapi ketika memikirkan istrinya ia jadi memilih diam saja.


Setelah Vivina dibawa ke kantor polisi Dion membuat perubahan besar. Seluruh isi bahan makanan di kosongkan dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah penelusuran dan pembersihan selesai, Dion pun mengajak istrinya pulang ke rumah.


Dengan kepulangan Lina semua pendapat yang mengatakan mereka akan bercerai sirna seketika. Para pelayan yang tersisa menyambut nyonyanya dengan gembira. Mereka jadi bersimpati setelah mengetahui kejahatan yang dilakukan Vivina.


Di kantor polisi Vivina mengakui kalau ia menaruh obat khusus pada makanan kedua majikannya. Tapi ia tidak mengatakan siapa yang menyuruhnya.


Vivina hanya mengatakan kalau ia ingin melenyapkan kedua majikannya karena cemburu. Dia mengakui kalau sudah lama memendam rasa pada tuannya. Dan ia kesal karena tuannya menikahi orang lain.


Tidak semua yang ia katakan merupakan kebohongan. Dan akibat dari pengakuannya Vivina pun di jebloskan ke dalam sel tahanan.


Begitu mengetahui Vivina di dalam sel, tante Dion mengutus seorang pengacara palsu untuk mengunjunginya di dalam rumah pesakitan.


"Aku pengacara yang di utus oleh nyonya. Aku ingin membebaskanmu dengan segera. Ini adalah sebutir obat. Makan ini dan seketika jantungmu akan seolah berhenti berdetak. Dengan begitu kau pasti akan dilaporkan telah tiada." kata pengacara palsu itu.


"Kalian mau meracuniku?" tanya Vivina yang ragu.


"Kau tidak percaya pada nyonya? Nyonya masih membutuhkanmu jadi buat apa ia meleyapkanmu?"

__ADS_1


"Minum ini, setelah jantungmu dinyatakan berhenti berdetak kami akan menyuruh seseorang untuk mengaku sebagai keluargamu yang akan mengambil jasadmu."


"Lalu?"


"Lalu tentu saja, setelah dua belas jam meminum obat itu jantungmu akan normal kebali. Obat ini hanya melemahkan jantung. Sehingga kau akan terlihat seperti orang mati. Setelah keluar dari penjara, kami akan buat makam palsu untukmu."


Vivina berpikir sejenak. Jika benar yang pengacara itu katakan maka ia tidak perlu jadi budak di kamarnya sekarang. Baru sehari saja wajahnya sudah merah kebiru-biruan tanpa make up.


"Kami tidak mungkin meracunimu, percayalah. Jika kami meracunimu maka pasti Dion akan semakin curiga. Bisa-bisa ia akan terus melakukan penyelidikan. Dan bukan tidak mungkin nyonya akan terseret kasus ini." tutur pengacara gadungan tersebut.


Vivina pun menerima obat itu lalu kembali ke dalam kamar pengapnya. Kini ia menunggu saat yang tepat meminum pil itu. Mulanya ia ragu, tetapi mengingat keadaannya yang sangat buruk di dalam kamar pengap ini, ia pun memilih menelan pil itu.


Pagi harinya tubuh Vivina ditemukan oleh penjaga lapas tidak bernapas. Segera hal itu di kabarkan kepada kepala polisi. Melihat banyak luka di tubuh Vivina mereka mengira itu adalah penyebabnya. Pengacara di panggil. Kemudian pengacara membawa wali Vivina untuk menerima jasad Vivina untuk disemayamkan.


Vivina yang tidak benar-benar mati di masukkan ke dalam peti mati. Lalu peti itu dipaku dan dan kemudian dimasukkan ke liang lahat. Prosesi penguburannya dihadiri beberapa saksi. Setelah itu semua orang meninggalkan makam baru itu.


Saat sadar Vivina terbangun di dalam ruang sempit, ia berusaha keluar dari tempat itu. Namun tubuhnya semakin lemah dan kekurangan oksigen. Saat itu tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat ia kenal.


"Hah, tidak-tidak aku tidak mungkin berhalusinasi. Jika pun iya ini pasti mimpi." kata Vivina bergumam sendiri.


Hihihihi...


Terdengar suara khas tawa yang sangat menyeramkan dan membuat seluruh bulu kuduk berdiri bagi siapa saja yang mendengarkannya.


"Vivina...ayo kita minum kopi..."


"Tidak, tidak aku tidak mau mati...tolong...!"


Teriakan Vivina hanya disambut oleh long-longan anjing, dan tidak lama Vivina menghembuskan napas terakhirnya di dalam peti. Karena meski sudah sadar jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal lagi. Dan ia kesulitan bernapas di dalam peti.


Mendengar kabar kepergian Vivina untuk selamanya, Dion sedikit merasa bersalah. "Seharusnya aku tidak perlu menjebloskannya ke dalam penjara. Mungkin cukup dengan menjauhkannya dari keluargaku dan rumahku itu sudah cukup," pikirnya.

__ADS_1


Lina juga ikut merasa ikut berduka karena ia mengira Vivina meracuninya hanya karena cemburu. Sebagai wanita ia bisa mengerti perasaan Vivina, meski pun ia tidak bisa menerima perbuatan Vivina. Tapi karena Vivina telah tiada Lina pun memaafkannya begitu saja.


Meski banyak dari para pelayan tidak menyukai Vivina namun mereka ikut bersedih atas kepergiannya. Berbeda dengan tante Dion. Dengan kematian Vivina ia bahkan bisa menambah pundi-pundinya. Uang asuransi Vivina jatuh ke tangan keluarga palsu Vivina yang merupakan anak buah tante Dion.


Hari-hari berikutnya Dion dan Lina menjalani hari-harinya seperti biasa. Dion kini sudah bisa kembali merasakan masakan istri kesayangannya. Dan mereka juga rutin melakukan cek up harian untuk membersihkan sisa-sisa senyawa beracun dari dalam tubuhnya.


Siang itu Lina sedang duduk di kursi taman di bagian kiri rumah ada, kolam renang di sana. Sambil membaca majalah memasak ia pun menikmati secangkir teh dan beberapa makanan ringan.


Sedang asik membaca Lina di kejutkan oleh sebuah suara.


"Huhu...uuu...uu.."


Lina melihat ke arah suara itu. Suara tangis seorang bocah di tepi kolam.


"Hei...jangan ke situ bahaya..." teriak Lina pada bocah yang menangis itu.


Jika diperkirajan usianya baru tujuh tahun. Meski sudah diperingatkan anak itu tetap saja menangis disitu, dan tidak mau beranjak pergi. Lina memandang sekelilingnya, namun tidak ada siapa pun di sekitarnya.


"Anak siapa sih ini?" batin Lina dan mendekati anak itu.


"Hei.." sapa Lina dengan lembut. Ia berusaha tidak mengejutkan anak itu, dengan muncul tiba-tiba di belakang anak itu.


"Sedang apa kau di sini nak?" tanya Lina. Tapi anak itu terus menangis.


"Nyonya..., anda sedang apa di sini..., bukankan nyonya tidak bisa berenang?" kata Ros menangkap tangan Lina yang menjulur ke arah kolam.


Lina terkejut karena Ros datang tiba-tiba, kalau saja Ros tidak memeganginya dengan kuat Lina pasti sudah tercebur. Karena kedua kakinya sudah setengah berada di bibir kolam. Tapi karena hilang keseimbangan keduanya jatuh ke lantai, dengan posisi Lina menduduki paha Ros.


"Ah maaf, maaf...Ros...kau tidak apa-apa?" tanya Lina dengan cepat. Kemudian Lina segera berdiri dan juga mengulurkan tangannya untuk menolong Ros bangkit berdiri.


"Ah iya...aku tidak apa-apa nyonya..tapi..apa yang ingin nyonya lakukan tadi sebenarnya? tanya Ros.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2