Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Longlongan Anjing


__ADS_3

"Lizie aku keluar dulu ya, pakaian gantinya aku taruh di atas tempat tidur," ujar teman Lizie.


Aroma bangkai membuat perutnya mual dan ia pun berlari ke kamar mandi belakang. Dan mengeluarkan isi perutnya.


"Ih, baunya minta ampun. Bibi carikan bangkai tikus di kamarku nanti ya!" perintahnya pada pelayannya.


"Baik nona, ini bibi sudah membuatkan minuman, tapi nona Lizie kenapa tidak ada di ruang tamu ya?" tanya pelayan itu.


"Oh dia lagi mandi bi," jawab teman Lizie sekenanya.


Lalu ia melangkah ke ruang tamu, dan sempat mencium aroma bau bangkai dari arah kamarnya. Anjingnya tidak berhenti mengaum panjang sebanyak tiga kali tanpa jeda. Lalu diulang kembali setiap lima menit sekali.


"Oh ya ampun, kenapa bisa tiba-tiba bau ya?" gumamnya sambil menutup hidung dengan telapak tangan. Bulu kuduknya tetap merinding.


Kemudian ia sempat berpikir, kalau sejak Lizie bertemu dengannya di toko, Lizie seperti mengeluarkan aroma bau dari tubuhnya. Tapi prasangka buruk itu segera ia tepis jauh-jauh. Lizie yang selesai mandi kini menyeka tubuhnya dengan handuk dan perlahan aroma bangkai berkurang karena tubuhnya sudah kering.


Setelah berpakaian ia pun keluar. Sahabat Lizie mengajaknya keluar rumah. Untuk menghindari aroma bau yang tidak sedap. Mereka kini duduk di teras.


"Lizie, kamu tahan ya di kamar nyium bau bangkai, aku dari tadi sudah muntah, perutku mual," ujar sahabat Lizie.


Tapi Lizie diam saja. Sehingga membuat sahabatnya gemas dan mengguncang badannya. Lizie pun menoleh, kantung matanya terlihat lebih cekung. Sehingga sahabat Lizie tersentak kaget.


"Lizie, mata pandamu parah sekali, apa kamu tidak tidur tadi malam?" tanya gadis itu.


Lizia mengangguk.


"Eh, kenapa?"


Lizie buang muka, membuat sahabatnya berpikir kalau ia mengantuk. Itu sebabnya Lizie terlihat malas bicara.


"Tapi jika mengantuk, untuk apa dia keluar rumah, bukankah lebih baik tidur?" batin gadis itu.

__ADS_1


Lalu Klara mengherakkan tubuh Lizie seolah-olah menguap. Dan sahabatnya menawarkannya untuk tidur di kamarnya. Tapi Lizie menggeleng. Dan dengan suara yang berat ia menjawab sahabat Lizie.


"Sebaiknya aku pulang, pakaianmu aku pinjam dulu," kata Lizie.


"Apa kamu bisa mengantarku pulang?" tanya Lizie lebih lanjut.


Maka Lizie akhirnya diantar pulang dengan sepeda motor. Setelah berkata kalau ia masih bisa menahannya. Saat melewati tukang potong daging, Lizie meminta turun. Segera ia turun dan membeli daging tersebut. Lalu naik lagi ke atas sepeda motor sahabat Lizie.


"Eh tumben, kamu disuruh beli daging oleh tante, kamu sering masak ya?" tanya sahabat Lizie.


Lizie cuma mengangguk dan dilihat oleh gadis itu dari kaca spion. Setelah menempuh belasan menit di perjalanan, sampailah mereka di rumah Lizie.


"Ya sudah, pergi tidur sana, aku pulang dulu," ujar gadis itu, dan secepatnya pulang dengan sepeda motornya.


Di perjalanan gadis itu melaju dengan kecepatan sedang, dan saat seekor anjing meliharnya, anjing itu tidak berkutik sama sekali. Hal itu menjadi sebuah tanda tanya besar di kepala sahabat Lizie tersebut.


"Aneh, tadi saat bersama dengan Lizie, anjing itu menyalak tanpa henti. Tapi kini saat aku pulang sendiri mereka justru tidak perduli. Apa ada hubungannya ya dengan Lizie," gumamnya sambil melihat kaca spion sepeda motornya.


Tapi tetap saja kalau ia tidak bisa tidur. Meski ia merakan tubuh yang ia gunakan semakin lelah. Tetap saja ia tidak bisa tidur. Pelayan yang mengetahui ia pulang, segera mengetuk pintu kamarnya.


"Nona, makan siang sudah siap!" ujarnya setengah berteriak dari balik pintu.


"Aku tidak lapar," jawab Lizie datar.


Pelayan itu pun meninggalkan pintu kamar Lizie, sekilas sempat ia mencium aroma tidak sedap samar-samar dari dalam kamar Lizie.


"Apa ada bangkai tikus ya?" gumamnya.


Sementara di kediaman sahabat Lizie, saat sahabat Lizie tiba di gerbang rumahnya, anjingnya menggonggong menyambut kedatangannya. Anjing tersebut mengenali suara sepeda motornya majikannya dan tidak sabar ingin keluar.


Berbeda saat sang majikan membawa Lizie ke rumahnya. Aroma Lizie membuat anjing tersebut tidak mengenali aroma tuan. Beruntung anjing tersebut tidak menyerang tuannya karena ia mengenali wajahnya.

__ADS_1


Mendengar anjingnya menggogong seperti menyambutnya, sahabat Lizia pun membuka kandang tersebut dan melompatlah anjing tersebut ke padanya. Ia mengibas-ngibaskan ekornya tanda senang dan menggonggong dengan manja. Sahabat Lizie mengusap kepala anjing tersebut berkali-kali sampai anjing tersebut berhenti melompat-lompat karena kegirangan. Ia pun masuk ke rumah, dan disambut pelayannya dengan membawa sebuah handuk basah.


"Nona sepertinya bau yang berasal dari kamar nona bukan bau bangkai tikus. Tapi sepertinya bau bangkai itu, berasal dari handuk yang basah ini," katanya menunjukkan handuk yang bekas dipakai Lizie mengeringkan badan.


"Ih bau sekali, buang bi, atau bakar saja sekalian!" perintah sahabat Lizie.


"Kok bisa bau begitu ya? Eh itu kan handuk yang aku beri ke Lizie," gumamnya.


Ia mijit keningnya mencoba menghubungkan kaitan antara bau bangkai, handuk basah dan Lizie. Lalu ia juga jadi kepikiran tentang longlongan panjang anjing yang mengarah kepada mereka. Serta anjingnya yang selalu menyukai Lizie tampak seperti memusuhi Lizie hari ini.


Malam hari di kediaman Lizie, Klara yang nenempati tubuh Lizie tidak bisa tidur, matanya semakin cekung. Ia keluar kamar dan mencari daging di dapur. Saat ia hendak memakannya dalam keadaan mentah, pelayannya datang.


"Nona? Ada perlu apa malam-malam ke dapur dan membuka kulkas?" tanya pelayan tersebut.


Lizie menoleh dan menatapnya tajam hingga pelayan itu begidik ngeri dan memilih membatalkan niatnya mengambil air minum. Sambil berjalan ia menoleh ke belakang melihat putri majikannya. Dan ternyata putri majikannya masih menatapnya. Jadi ia pun cepat-cepat kembali ke kamarnya.


Setelah pelayan tersebut pergi Lizie menyantap daging mentah tersebut. Tapi meski sudah tidak bersisa, ia masih merasa lapar. Ia pun memilih kembali keluar rumah, untuk mencari daging mentah di toko daging. Tapi ternyata semua toko daging dan penjualan daging telah menutup dagangan mereka.


Malam makin larut anjing melonglong membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri. Saat berada di perjalanan Lizie ditegur oleh beberapa pemuda.


"Halo cantik, mau ke mana malam-malam sendirian? Lebih baik bersama kami dan bersenang-senang," kata mereka mendekat.


Lalu mereka melihat wajah Lizie yang semakin menyeramkan, senyuman Lizie justru membuatnya tampak seperti pemeran film horror. Pemuda-pemuda itu pun akhirnya memilih mundur dan menjauh.


"Kalian lihat itu? Ia seperti mayat hidup, hiiii," gumam pemuda yang satu pada pemuda yang lain.


Lalu mereka menoleh untuk memastikan kalau mereka tidak salah lihat. Tapi saat pandangan mata mereka bertemu dengan Lizie, tanpa komando mereka pun berlari sekencang mungkin. Klara yang melihat tingkah konyol mereka tertawa terkikih dan menyeringai.


"Sepertinya raga ini sudah tidak bisa diharapkan lagi. Tapi setidaknya aku masih bisa menggunakannya beberapa hari lagi. Paling tidak sampai aku berkencan dengan Te Apoyo besok di sekolah," ujarnya.


Perlahan-lahan dari telinganya keluarlah belatung. Ia mengambil belatung tersebut lalu melahapnya seperti cemilan yang lezat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2