Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Dalam Kurungan


__ADS_3

Wanita paruh baya yang merupakan pelayan anak perempuan itu bercerita tentang anjing yang terlihat seperti mati karena sakit. Berliur dan dari mulutnya keluar darah. Dan tidak bergerak sama sekali ketika ia sentuh dengan tongkat. Tapi begitu pintu kandang dibuka, anjing tersebut menerjang wanita yang membuka pintu.


"Bodoh! Apa Bibi tidak bisa membedakan? Mana yang benar-benar mati dan mana yang tidak? Bukankah bibi tahu kalau jiwanya manusia? Pasti dia punya akal licik untuk menipu Bibi!" ujar gadis itu kesal.


"Gawat! Ini gawat. Bagaimana kalau ia berhasil bertukar tubuh?" kata gadis itu pada diri sendiri.


Sambil mengigiti kuku jari jempol tangan kanannya, sebab itu merupakan kebiasaannya saat sedang gugup.


"Tidak, tidak mungkin. Tapi- ," katanya lagi sambil mondar-mandir dan masih mengigit kuku saat berhenti bicara.


"Aghh! Bagaimana sekarang!" gumamnya kesal.


Dia mulai berpikir tentang kemungkinan terburuk. Dan memikirkan hal yang tidak mungkin dan mungkin saja terjadi.


"Apakah ada orang yang bisa menukar jiwa? Aku rasa tidak. Tidak mungkin. Aku adalah keturunan ketujuh satu-satunya. Hanya aku yang mempunyai kemampuan ini," gumamnya lagi.


"Benar nona, hanya anda yang bisa melakukannya. Jadi anda tidak perlu takut. Semua ada dalam kendali nona."


Gadis itu mendelikkan matanya pada wanita di hadapannya. Ia masih kesal.


"Apa aku bunuh saja tubuhnya, agar ia tidak bisa kembali ke tubuhnya?" tanyanya kemudian untuk meminta pendapat.


"Itu juga adalah hal yang bagus nona."


"Baik, kalau begitu. Malam ini juga, kita akan menghabisi anak itu," ujar gadis tersebut.


"Tapi bagaimana dengan garis polisi yang dipasang di rumahku?"


"I-itu karena tombol yang dipasang di rumah tersebut. Anjing itu menekan tombolnya dan membuat bising. Saya tidak tahu kenapa, tiba-tiba pintu di ketuk. Dan beberapa pria menggedor pintu dan berteriak dengan kuat."


"Apa mereka berseragam?"

__ADS_1


"Iya! Mereka berseragam Nona, tapi saya tidak tahu bahasa mereka. Aku menyuruh satu roh memberitahu nona kalau di rumah ada masalah. Tapi mereka tidak mau menuruti perkataan saya."


Mendengar penjelasan pelayannya gadis itu menatap roh yang terikat padanya.


"Katakan! Kenapa tidak ada yang melapor padaku?!" tanya gadis itu pada para roh.


Dengan kesal ia mengalirkan energi melalui tangannya dan tampak seperti rantai yang merah membara. Rantai itu menyambung pada kalung yang melingkar di leher para roh yang terikat pada gadis itu.


"A-ampun nona, ka-kami hanya patuh pada Nona."


"Omong kosong! Jika kalian patuh, kalian akan mendengarkanku!" teriak wanita paruh baya itu kesal dengan maju selangkah.


"Bibi," ujar gadis itu dengan tenang.


"I-iya Nona, maafkan bibi sudah lancang," mohon wanita paruh baya itu langsung berlutut.


"Aku tahu kalian membangkang padaku. Tapi baiklah. Kali ini aku maafkan. Aku beri kesempatan untuk menebus kesalahan kalian. Dan buktikan kesetian kalian malan ini padaku. Bunuh tubuh yang telah dirasuki oleh anjing tersebut!"


Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak amarah di dadanya. Lalu meminta para roh menjawab beberapa pertanyaan. Mengenai barang-barang hasil curiannya.


"Jadi mereka menemukannya?!" Ia mendengus lagi.


"Aku sudah mengumpulkan sebanyak itu, dan butuh waktu lama. Tapi karena kebodohan bibi, dan sikap melawan kalian! Benda itu kini berpindah tangan!" teriaknya kesal.


Benda itu akan ia jual pada penadah barang antik curian. Tapi kini ia harus menyembunyikan identitasnya jika ingin tetap berada di negara itu.


"Maafkan bibi nona, bibi tidak mengerti apa yang mereka bicarakan maka,"


"Cukup Bibi! Jangan berkelit lagi. Aku sedang kesal. Jika bukan karena Bibi orang yang merawatku sejak kecil. Bibi akan kujadikan seperti dia!" ujar gadis itu menunjuk roh Riani.


Roh kekasih Nicorazón terlihat sedih dan bingung. Ia memiliki kalung yang melingkar di lehernya. Dan ada rantai yang bersambung ke pergelangan gadis itu. Dan hanya orang tertentu yang bisa melihatnya. Riani tidak mengerti bahasa yang digunakan gadis itu dan wanita paruh baya tersebut. Dan juga para roh yang memiliki benda yang sama di leher mereka dengan milik Riani.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu hanya menggeleng menjawab pertanyaan majikannya. Ia tidak bisa lepas dari takdirnya. Karena terikat sumpah yang diucapkan oleh tujuh genarasi sebelumnya.


Pada akhirnya mereka menunggu jarum jam menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Gadis itu empersiapkan para roh untuk membantunya menghabisi tubuh Brillo di dalam tahanan sel. Membaca petunjuk di dalam buku dan melaksanakannya.


Tepat jam 12 tengah malam, para roh disuruh pergi ke tempat tubuh Brillo berada. Hanya satu yang tidak pergi ke sana, yaitu roh Riani. Dan mereka mencoba untuk melukai tubuh tersebut. Tubuh Brillo yang berisikan jiwa anjing itu bisa melihat para roh yang datang.


Mulanya ia merasa senang, sebab mengenal para roh itu, roh yang selama ini berada di rumah majikannya. Para roh merasuki tubuh para penghuni sel. Dan mereka yang berseragam polisi menjadi orang lain.


Brillo berteriak kesakitan saat satu roh yang merasuki penghuni sel menjambak rambutnya dan membenturkan tubuhnya ke lantai. Dengan sekuat tenaga Brillo melawan. Para penghuni sel yang melihatnya melawan menjadi semakin buas.


"AAuuu!!!"


Anjing yang berada di rumah Brillo mengaum, tidak tahu kenapa, tiba-tiba anjing itu bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tubuhnya. Ia yang tadinya tertidur jadi tiba-tiba terbangun karena merasa sakit. Dan suara aumannya membuat semua orang yang mendengar menjadi terbangun.


"Ada apa?" gumam Malika saat terbangun dari tidurnya.


Tanpa banyak bicara Tomi langsung berlari ke kamar Brillo sebelum menanggapi ucapan Malika. Istri dan putrinya ternyata menyusul saat ia tiba di kamar Brillo. Dan anjing itu melompat ke komputernya dan mengetik sesuatu.


"Apa katamu? Tubuhmu dalam bahaya? Tapi aku meminta beberapa roh untuk menjaga tubuhmu di sana!" ujar Malika setelah membaca gabungan huruf yang menjadi kalimat di layar.


Di dalam tahanan, ternyata tubuh Brillo ditolong oleh roh yang dikenal oleh Malika. Namun pertolongan mereka sama sekali tidak berarti. Melawan roh yang merasuki para tahanan, yang berada di dalam satu sel dengan Brillo. Sebab kalah jumlah dan kalah dalam kekuatan.


Nicorazón yang berada di dalam sel lain hanya bisa berteriak memanggil polisi. Saat melihat Brillo dipukuli oleh semua orang yang ada di dalam selnya. Sedangkan orang yang berada di sel lain malah berteriak memberi semangat pada para tahanan untuk menghajar Brillo.


"Brillo! Lawan!" teriak Nicorazón yang berada di sel berseberangan dengan sel Brillo.


Tapi tubuh Brillo yang memiliki jiwa anjing tidak tahu bela diri, ia hanya menggunakan naluri alaminya untuk menyelamatkan diri. Dan lebih menggunakan giginya saat ada kesempatan, dibandingkan tangan dan kakinya.


"Brillo! Apa yang kamu lakukan?! Lawan!" teriak Nicorazón yang semakin panik melihat tubuh Brillo yang sudah bercucuran darah.


Di saat kritis, satu roh yang melindungi Brillo memilih cara lain. Ia merasuki tubuh seorang penjaga dan dengan cepat membuka sel tahanan. Tapi sialnya, tubuh penjaga itu malah jadi sasaran berikutnya karena membuka sel tersebut.

__ADS_1


Tempat tersebut menjadi rusuh, para roh yang melindungi tubuh Brillo dan para roh yang diutus oleh anak perempuan itu sedang beradu dengan menggunakan tubuh yang mereka rasuki.


Bersambung...


__ADS_2