Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Buku Tua


__ADS_3

Lina pergi sendiri tanpa memberitahu siapa pun. Sesampainya di rumah kakek Dion, tanpa rasa takut ia masuk begitu saja.


"Sayang kamu di mana?" tanya Lina namun tidak ada jawaban.


Saat ia menanyakan pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya, ia mendengar langkah kaki. Mengikuti suara langkah kaki tersebut, dan menuntunnya ke ruang rahasia.


"Sayang aku datang, kamu di mana?"


Sekelebat bayangan hitam mengelilingi pandangannya dan ia pun tidak tahu ada di mana. Seolah berjalan di kegelapan.


Sementara Te Apoyo sudah tiba di rumah. Dan ia dihujani pertanyaan bertubi-tubi oleh Te espere.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Te Espere.


Mereka tidak melakukan berbagi penglihatan kapan saja setelah tahu cara mengendalikannya. Te Apoyo hanya geleng kepala. Lalu Te Espere memberitahukan kalau mamanya pergi dan belum kembali. Te Apoyo mengernyitkan keningnya.


"Kemana?"


"Aku tidak tahu, mama terburu-buru jadi aku tidak sempat bertanya. Mungkin ke rumah tante Ros, tapi aneh kenapa aku tidak diajak,"


Te Apoyo diam, lalu ia melangkah menuju kamarnya. Saat masih di pintu kamar, lagi-lagi firasatnya merasa kalau ia sedang di awasi. Dengan cepat ia berbalik badan. Namun tidak ada yang mencurigakan. Saat hendak menutup pintu kamar ia terkejut. Mendengar suara pecahan kaca dari arah ruang tamu.


Segera ia bergegas dan Te Espere juga melakukan hal yang sama. Tampak bingkai besar foto keluarga mereka jatuh. Kacanya berserakan di lantai. Te Apoyo melihat ke sekeliling. Semua orang yang ada di rumah berdatangan. Degup jantung Te Apoyo berdetak lebih kencang. Te Espere memandang wajah saudaranya yang pucat pasi.

__ADS_1


Te Apoyo mundur lalu ia berlari menemui supir dan memintanya diantar kembali ke rumah besar. Te Espere minta ikut. Mulanya Te Apoyo menolak. Tapi Te Espere bersikeras ingin ikut. Lalu keduanya pun pergi ke rumah kakek Dion.


Sesampainya di sana mereka memasuki rumah itu secepat mungkin dan menuju ruang rahasia. Hanya ada ponsel mamanya yang tergeletak beserta dompetnya. Dan mereka menyadari kalau mama mereka baru saja ke situ. Te Apoyo memeriksa panggilan terakhir dan pesan masuk. Tidak ada panggilan dan juga pesan masuk. Te Espere membeku dan tiba-tiba ia terlihat sangat aneh.


"Te Espere? Kamu kenapa?" tanya Te Apoyo.


Te Espere menatapnya dengan tajam. Lalu ia tersenyum mengejek. Te Apoyo sadar kalau itu bukan Te Espere. Ia pun mendekatinya dan berusaha mengeluarkan roh yang merasuki Te Espere. Baru saja tangannya menyentuh bahu kiri Te Espere, ia langsung di dorong dengan kuat, oleh Te Espere dan terpental ke dinding.


Te Espere tersenyum penuh kemenangan. Te Apoyo heran. Ini pertama kalinya ia dikalahkan oleh roh yang merasuki tubuh Te Espere. Klara yang melihat hal itu takjub. Ia heran, sebab ia tidak melihat roh yang masuk ke tubuh Te Espere sebelum merasukinya. Begitu juga dengan Te Apoyo.


Sejak ia memperlihatkan kekuatannya, tidak ada roh yang berani mendekat. Jadi ia tidak tahu kapan Te Espere dirasuki. Te Espere berjalan mendekat dan hendak menginjak perut Te Apoyo, dan Te Apoyo berhasil menghindar.


"Aku akan menuntut balas atas kesalahan leluhurmu di masa lalu, mata ganti mata, gigi ganti gigi! Kalian keturunan terkutuk, tidak pantas menikmati kenikmatan dalam dunia ini!"


"Mengapa menghindar? Kau takut? Ini bahkan belum seberapa dengan penderitaanku! Alexander kecil!"


Te Espere mengejar Te Apoyo dan menyudutkannya. Hampir saja Te Apoyo terhunus oleh pedang itu, tapi tiba-tiba tubuh Te Espere membeku. Air matanya mengalir, kesadarannya kembali. Pedang itu dilepaskan. Ia pun rubuh.


Te Apoyo mendekati Te Espere mencoba menyadarkannya. Lalu Te Apoyo mengambil pedang tersebut dan berjalan menuju ruang rahasia. Ia melihat sebuah buku berada di tempat pedang itu diambil. Lalu ia mengambil buku tersebut. Dan berpikir, pedang yang ditangannya mau diapakan.


Akhirnya ia mengambil buku tersebut dan mengembalikan pedang tersebut. Dan saat pedang itu dikembalikan. Petinya bergeser ke tempat semula. Te Espere sadar, melihat tidak ada seorang pun di sisinya, ia kebingungan. Apalagi dia sudah berpindah tempat.


"Te Apoyo!" panggilnya berulang-ulang.

__ADS_1


Mendengar panggilan Te Espere, dengan segera Te Apoya keluar ruangan tersebut. Dan mendapati saudarinya. Lalu mereka berpelukan.


"Aku pikir kamu hilang juga," ujar Te Espere.


Te Apoyo memperlihatkan sebuah buku yang ia ambil. Lalu mereka membuka buku tersebut. Tampak seperti buku harian yang ditulis sudah sangat lama sekali. Dengan ejaan yang sulit dipahami. Banyak kiasan tertulis di dalamnya.


Tidak berpikir panjang lagi, keduanya pergi dari rumah besar itu. Jawaban kemana hilangnya kedua orang tua mereka, mungkin ada di buku tersebut, pikir keduanya. Te Espere meminta maaf pada Te Apoyo saat mereka beriringan berjalan meninggalkan rumah tersebut.


Mereka pulang hanya dengan membawa ponsel dan dompet mamanya serta sebuah buku besar. Di perjalanan keduanya diam dan larut dengan pikiran mereka masing-masing. Ada satu hal yang janggal. Tentang roh yang merasuki Te Espere, ia tidak terlihat sama sekali, saat masuk atau pun keluar dari raga Te Espere.


Mereka membahas hal itu dirumah di ruang kerja Dion setelah mengunci pintu. Lalu mereka juga memutar rekaman CCTV di rumah tersebut. Sambil melihat rekaman, mereka membahas satu persatu kejanggalan yang terjadi.


Kenapa mama mereka tiba-tiba pergi. Sayangnya di kamar tidak dipasang CCTV. Jadi mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Lina sebelum pergi dari kamarnya. Dan sekali pun ada rekaman CCTV, mereka akan semakin bingung. Sebab hanya akan terlihat Lina mengangkat ponselnya, lalu tergesa-gesa merapikan diri.


Mereka tidak akan tahu kalau mama mereka terkena ilusi. Ponsel papa mereka yang mati seolah-olah memanggil nomor mama mereka. Dan mama mereka tidak menyadari kalau ponsel papa mereka justru terletak begitu saja di samping ponselnya sendiri.


Dan kejadian yang menimpa Te Espere jauh lebih aneh lagi. Te Espere menceritakan kalau sebelum ia kehilangan kesadarannya, ia mendengar seseorang memanggilnya. Dan saat ia menoleh ia kehilangan kendali dirinya. Ia bisa melihat kalau ia mendorong Te Apoyo. Juga melihat tubuhnya mencoba menikam saudaranya sendiri. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Di saat terakhir, ia tidak tahu kenapa, tapi akhirnya ia kembali menguasai raganya. Sehingga Te Apoyo selamat dari hunusan pedang tajam tersebut.


"Cresentia, apa mungkin ia penyebabnya? Sebab ia mengatakan akan menuntut balas. Dan ia menyebutku Alexander kecil." ujar Te Apoyo.


"Mungkinkah kita bisa menolong papa dan mama, atau kita akan jadi korban berikutnya?" tanya Te Espere.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2