Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Pendekatan


__ADS_3

"Sepertinya dia ada di kamarnya? Mau mama panggilkan?"


"Ti, tidak usah," jawab Ray dengan cepat.


Lina mengangguk lalu pergi, setelah mengingatkan Ray untuk memakan makanan yang ia bawa. Ray menghembuskan napasnya. Mencoba menenangkan diri. Bukan pertama kalinya Teresia memutuskan percakapan mereka secara tiba-tiba. Jadi mungkin ia terlalu kuatir. Sebab di rumah ini yang terasa dekat dengannya adalah Teresia.


Hari-hari dilalui oleh Ray dengan lebih banyak berdiam di kamarnya. Dan kedua orang tuanya kebingungan untuk mendekatkan diri padanya. Tapi anehnya, ia terlihat sangat santai jika ia sedang bersama Teresia, seolah mereka sudah lama saling mengenal. Melihat kedekatan mereka tentu membuat Dion dan Lina iri.


Tapi kemudian Dion berpikir, kenapa hanya Teresia, sedangkan Ray sangat normal. Dan kenapa Ray selalu menutupi seluruh tubuhnya. Padahal ia tampan. Pernah Dion menanyakan hal tersebut.


"Ray, apa kamu sakit? Papa panggil dokter ya?"


Tapi Ray menggeleng. Dan ia memang tidak terlihat sakit. Saat ia dengan lincahnya menghindari orang-orang yang di rumah. Kecuali Teresia. Jika mereka berdua saja, maka akan tampak seperti mengobrol biasa tanpa ada sekat di antara mereka. Tapi jika ada yang bergabung, perlahan-lahan Ray akan menjauh.


Anehnya perbincangan mereka sulit dimengerti oleh orang lain. Seolah dunia keduanya berbeda. Dan hanya mereka yang mengerti perbincangan mereka. Setiap kali ada yang mendekati mereka saat sedang mengobrol maka mereka akan diam. Lalu seolah saling berbicara melalui tatapan mata.


Seminggu kemudian Nicholas berkunjung ke rumah Lina. Ia ingin tahu kabar Ray. Dan juga ingin meminta maaf atas kejahatan mamanya. Lina menyambutnya dengan ramah. Tidak lupa mengajaknya untuk ikut makan malam bersama.


Dion dan Lina berjanji tidak akan menuntut Gina ke penjara. Bisa melihat Ray dengan selamat sudah cukup bagi mereka. Dan biarlah masa lalu itu dilupakan saja. Dan bagi Ray ia hanya merasa bersyukur, setidaknya ia kini tidak sendirian. Walau awalnya ia kesal mengingat hari-hari sulit yang ia lalui. Akibat perbuatan Gina.


Tapi setelah memikirkannya kembali, ia menyadari niat baik Gina meski dengan cara yang salah. Ia sadar akan nasib mama Emile jika ia tidak pernah diculik oleh Gina. Tapi mungkin juga Emile akan terap hidup sekarang jika saja ia sudah bercerai dengan suaminya sejak awal. Dan bertemu dengan pasangan yang baru.


Memikirkan segala kemungkinan membuat Ray menjadi pusing. Segera ia hentikan perdebatan di dalam batinnya. Dan saat Nicholas pulang Ray tidak mengatakan apa pun.


Dan Nicholas membujuk kedua adiknya untuk memaafkan mamanya. Perlahan mereka mencoba mendekatkan diri lagi, meski putra-putranya merasa sakit hati. Karena ternyata mamanya sangat perhatian pada temannya dibanding dengan keluarganya atau putranya sendiri.


Suatu hari Ros mengutarakan sebuah ide pada Lina. Tentang menjodohkan Teresia dengan putra-putra Gina. Lina tidak menyangka Ros mengingat persayaratan pertukaran cincin. Tapi ia ragu meminta hal tersebut pada keluarga Gina.


"Anggap saja sebagai pengganti atas tindakannya selama ini. Memisahkan seorang mama dengan putranya itu kejahatan. Aku tidak bisa bayangkan kalau itu terjadi pada anak-anakku." ujar Ros.


"Tapi aku akan terkesan mencari keuntungan dalam kesempitan." ucap Lina.


"Memangnya kenapa?" tanya Ros.

__ADS_1


Yang kemudian perbincangan mereka terhenti saat suami-suami mereka ikut bergabung. Mereka tadinya membahas tentang perusahaan. Dan sepertinya bahasan mereka selesai lebih cepat.


Tapi kemudian Dion menanggapi dengan serius hal tersebut. Anak-anaknya memang misterius. Banyak hal di luar nalar yang terjadi di sekitar mereka berdua. Dion yang tidak percaya hal mistis, kini mulai mencoba membuka pikirannya.


"Aku setuju," ujarnya tegas.


Lina geleng-geleng kepala. Tapi ternyata ide itu dijalankan juga. Mereka mendatangi rumah Gina dan mengatakan usul tersebut. Tentu saja Gina marah.


"Jika kalian menghukumku, hukum aku saja. Aku tidak akan memaksa putraku menikah, bertunangan, atau pun berhubungan dengan orang yang tidak mereka sukai." ujar Gina.


"Hei, ini hanya hal kecil, dibandingkan kau harus mendekam di penjara!" ancam Dion.


"Kau mengancamku?!"


Gina dan Dion akhirnya menjadi sama-sama emosi. Tapi kemudian Nicholas menengahi mereka.


"Sudahlah. Ini hanya bertukar cincin, lalu siapa diantara kami yang akan kalian pilih?" ujar Nicholas.


"Maaf Nicholas. Kami sudah keterlaluan. Papa ayo minta maaf," ujar Lina pada suaminya.


"Nicholas apa kamu yakin?" tanya Gina pada putranya.


"Ya, bukankah kalau sudah sembuh maka masing-masing boleh memilih pasangannya sendiri nanti."


"Iya kalau sembuh, kalau tidak?!" sela Gina.


"Jika putri kami tidak sembuh dalam tiga bulan, kami akan membawa putri kami pulang. Setidaknya kira sudah mencobanya." ucap Lina.


"Memangnya selama ini kalian tidak mencobanya?" selidik Gina.


"Sudah, tapi kami gagal." jawab Lina.


"Lalu apa kalian yakin kalau ini akan berhasil?" tanya Gina lagi.

__ADS_1


"Tidak tapi, setidaknya Teresia sudah mencobanya lagi. Karena keadaan Teresia sudah lebih baik sekarang. Setidaknya ada harapan kalau ia akan sembuh." tutur Lina.


"Begini saja, tante tidak akan memaksa kalian. Siapa pun yang bersedia bertukar cincin dengan Teresia, tante akan sangat berterima kasih."


"Kalau begitu, siapa diantara kalian yang bersedia?" tanya Gina pada putranya.


"Jangan pikirkan mama, jika kalian tidak bersedia, katakan saja. Mama lebih bersedia dipenjara dari pada melihat kalian dipaksa melakukan hal yang kalian tidak suka." katanya lagi.


Ketiganya saling pandang. Yang ketiga dengan cepat menggeleng. Yang kedua membisikan kalau ia baru saja jadian. Jika pacarnya melihatnya pakai cincin dari gadis lain mereka bisa-bisa putus.


Melihat gelagat mereka bertiga, Lina sudah bisa memutuskan kalau mereka tidak akan bersedia. Lalu ia membujuk suaminya untuk pulang.


"Maaf kami sudah merepotkan, kami undur diri" katanya dengan sopan.


Dion masih enggan beranjak. Tapi melihat Lina melotot padanya, ia pun menyerah. Saat mereka hendak pergi, putra kedua dan ketiga Gina menjadi gugup. Berpikir kalau akhirnya mama mereka akan dilaporkan ke polisi.


"Om, tante, sa saya bersedia. Asal jangan melaporkan mama kami ke penjara." kata putra yang ketiga. Dan diikuti oleh putra yang kedua.


Nicholas cuma diam saja dan Gina malah menarik mereka.


"Hentikan, kalau mama yang salah. Biar mama yang dihukum." ucap Gina sedih melihat kedua putranya berlutut di hadapan Lina dan Dion.


"Apa kalian tidak dengar perkataan mama kalian?" tanya Dion.


Berbeda dengan Dion yang bersikap angkuh. Lina malah bersikap lembut.


"Sudahlah, kami tidak akan meminta kalian menjadi pasangan sementara putri kami. Juga tidak akan melaporkan mama kalian." ujar Lina.


"Iya kan pa?" tanya Lina sambil menyikut pinggang suaminya.


Dion hanya membuang muka lalu berjalan dengan cepat. Dan disusul oleh Lina dari belakang. Kedua anak itu kebingungan.


"Bagaimana sekarang? Bisa saja mereka bilang tidak. Tapi bisa jadi mereka akan segera melapor polisi." kata putra ketiga Gina.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2