Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Pacar Nicorazón


__ADS_3

Di tempat lain Nicorazón telah tiba di rumahnya. Hari ini dia telah jadian dengan seorang gadis. Jadi begitu tiba di kamarnya, ia langsung mengirim pesan pada gadis itu.


Pesan masuk dan dilihat oleh gadis itu. Ia heran kenapa ada pesan dari nomor kontak yang tidak ia kenal. Dan lebih terkejut karena itu berasal dari Nicorazoón.


"Apa aku sedang bermimpi?" batinnya.


Ia tidak ingat sama sekali kalau ia baru saja jadian dengan Nicorazón karena ia sedang dirasuki saat itu. Cukup lama ia diam dan terkejut saat Nicorazón menghubunginya dengan panggilan video.


"Hahaha, ada apa dengan wajahmu? Kenapa lucu sekali?" tanya Nicorazón saat panggilan vidio diterima.


Gadis itu masih bingung.


"Riani, halo... kamu baik-baik saja, kan?"


"I-iya ak-aku baik-baik saja. Ta-tapi kamu tahu nomorku dari mana?" tanya Riana gugup.


"Ya ampun, kamu sendiri tadi yang memberikannya padaku, lupa?"


Riana mengernyitkan jidadnya. Ia tidak tahu harus berkata apa, sedangkan Nicorazón terus tertawa. Lalu ia pun berkata kalau ia akan menghubungi lagi nanti.


Baru saja memutuskan panggilan, panggilan masuk datang lagi. Ternyata dari Malika. Ia bertanya Brillo ada di mana.


"Apa Brillo belum pulang Tante?" tanya Nicorazón.


"Belum, apa kalian tidak pulang bersama?"


"Tidak," jawab Nicorazón.


Dan mereka berdua jadi cemas. Nicorazón merasa bersalah membiarkan Brillo sendirian di sekolah. Tapi kemudian ia ingat kalau Brillo berkumpul dengan yang lain. Lalu ia pun mengirim pesan ke beberapa temannya. Namun tidak ada yang bersama Brillo saat ini.


Beberapa jam kemudian di tempat lain tubuh Brillo diantar ke alamat Malika. Dan tentu saja tubuh Brillo yang dikendalikan oleh seekor anak anjing dengan mudah membuat Malika curiga. Ia menyadari ada yang aneh dengan putranya.


"Brillo sayang, kenapa pulangnya terlambat? Pesan mama juga tidak dibalas."


Brillo hanya diam dan berjalan menuju kamarnya. Berdasarkan penciuman roh anjing yang ada di tubuh Brillo, ia pun menemukan kamar pemilik tubuh itu. Lalu mengunci pintu.


"Brillo, kamu tidak makan?" tanya Malika di balik pintu. Tidak ada jawaban.

__ADS_1


Karena tidak ada jawaban, maka Malika meninggalkan kamar putranya. Ia memanggil supirnya lalu menghubungi putrinya. Malika mengajak putrinya ke suatu tempat.


"Ada hal apa sehingga Mama membawaku kemari?"


"Brillo, adikmu. Sepertinya ia sedang dalam bahaya. Ada yang aneh dengannya hari ini. Apa ini ada hubungannya dengan kasus yang ditangani oleh papamu?"


"Memangnya adikku kenapa?"


"Ada yang aneh dengannya. Kita harus berhati-hati sebelum tahu pelakunya."


"Baiklah aku mengerti."


Mereka pulang setelah memberitahukan kecurigaan tersebut pada Tomi. Dan sepakat untuk bersikap biasa saja. Sehingga meski Brillo bertingkah aneh, mereka tidak melakukan apa-apa. Malika dan putrinya hanya bisa menyembunyikan kemampuan mereka untuk sementara.


Dan di rumah Te Apoyo, suami dari Primavera mendapat pesan tentang Esperanza. Pesan itu masuk juga ke ponsel khusus Nicorazón. Yang membuat anak itu merasa yakin dengan keputusannya. Ia berpikir akan menolak perjodohannya dengan Esperanza menggunakan kekasih barunya.


Jadi ia menghubungi kekasihnya. Lalu mengatakan akan memperkenalkannya pada keluarganya. Dan hal itu membuat gadis yang baru saja dia kencani kebingungan.


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin kuperkenalkan pada orang tuaku?"


"Ini sungguhan?"


Gadis itu berteriak kegirangan saat menyadari kalau ia tidak sedang bermimpi. Ia membalikkan tubuhnya lalu memandangi wajahnya yang bersemu merah.


"Aku tidak percaya kalau ini benar-benar terjadi," ujarnya di depan cermin.


Tapi kemudian ia merasa kalau sedang bermimpi. Berkali-kali ia melihat riwayat pangilan dan pesan-pesan yang masuk. Dengan gugup ia mencoba menghubungi nomor itu. Takut jika ia hanya berhalusinasi.


Panggilan segera ia putus setelah tidak ada jawaban beberapa menit. Lalu meninggalkan ponselnya di kamar. Seharian ia mencoba menyibukkan diri agar tidak ada waktu menyentuh ponselnya. Tapi setelah malam tiba ia pun mencoba menghubungi nomor itu kembali.


"Ya sayang, ada apa?" jawab Nicorazón yang yakin kalau itu dari kekasihnya.


"Ah tidak, tidak apa-apa."


Hening beberapa saat kemudian tapi panggilan belum diputuskan.


"Aku sayang kamu," ujar Nicorazón.

__ADS_1


Mata gadis itu terbelalak, ia tersenyum sambil menutup mulutnya. Ingin berteriak sekencang mungkin karena kegirangan. Lalu menjawab dengan kalimat yang sama. Setelah itu panggilan pun diputuskan.


"Aku tidak menyangka pangeranku jadi kekasihku!" teriak pada foto Nicorazón yang terpasang di dinding kamarnya.


"Riani...! Ini sudah malam! Kenapa teriak-teriak ujar mama gadis itu.


"Maaf Ma," kata Riani pada mamanya yang telah berdiri di depan pintu.


Saat gadis itu sedang berbunga-bunga seseorang memperhatikannya dengan tersenyum puas. Rencananya berhasil. Dan ia tinggal menunggu waktu untuk melakukan rencana selanjutnya.


Brillo yang sedang berada di dalam tubuh seekor anjing hanya bisa diam untuk sementara. Sambil memperhatikan situasi tempat ia berada sekarang. Dengan leher terikat dan dikurung dalam kerangkeng, maka ia tidak akan bisa kabur begitu saja.


"Hei anak bodoh. Sebaiknya jadilah anjing yang penurut, maka aku akan memeliharamu dengan baik," ujar seorang wanita paruh baya pada Brillo.


Brillo hanya menatap wanita itu dengan tajam. Dia tidak berbicara dalam bahasa dari negara Nicorazón atau dari negara Brillo. Tapi putra Malika yang menguasai banyak bahasa mengerti akan ucapannya.


"Berhenti menatapku seperti itu! Aku bilang, jangan menatapku seperti itu!" ujar wanita tersebut sambil memukuli kandang anjing itu dengan tongkat.


Kandang tempat anjing itu bergetar dan Brillo yang kesal cuma bisa memaki wanita tersebut dengan suara gong-gongan.


"Diam! Kamu tidak mengerti apa yang aku bilang?! Aku bilang diam!" teriak wanita itu.


Saat wanita itu mengatakan kalimat terakhirnya, muncul ide di dalam benak Brillo. Ia berpura-pura tidak mengerti arti dari perkataan wanita itu. Jadi dia terus saja menyalak.


"Diam atau aku akan memotong dan memanggangmu!" ancam wanita itu.


Tapi Brillo makin menyalah dan hanya diam saat melihat wanita itu kembali dari satu arah dengan sebuah pisau besar di tangan kanan dan obor di tangan kiri. Ia mengulung tubuhnya.


"Bagus, begitu lebih bagus. Walau tidak paham kata-kataku. Setidaknya kamu paham kegunaan benda-benda ini," ujar wanita itu puas.


"Ini makananmu, makanlah! Hahahaha!"


Wanita itu pergi meninggalkan sepiring sisa-sisa makanan di luar kandang anjing tersebut. Melihat makanan itu Nicorazón jadi teringat belum makan sejak siang. Dan ia merasa lapar juga haus. Tapi ia enggan memakan makanan tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Kalian yang ada di rumah, tidakkah kalian mencariku?" batin Brillo.


Malam itu bulan bersinar dengan terang. Saat orang-orang melepaskan penat akibat kesibukan tadi siang. Tanpa menyadari beberapa orang masih terjaga, melancarkan aksi kejahatan mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2