Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Roh di Dinding


__ADS_3

"Memangnya kenapa kalau iya?"


"Jadi kamu setuju?!" tanya sahabat Esperanza terperanjat.


"Hahahaha kamu ini, sudahlah lagian siapa yang mau menikahiku? Itu tidak mungkin. Tenang saja," ujar Esperanza.


Sahabat Esperanza kesal karena tidak ditanggapi dengan serius. Akhirnya memilih pulang.


"Eh, kenapa?"


"Sudah malam. Aku sudah kenyang. Terima kasih atas jamuannya."


Secepatnya sahabat Esperanza pulang ke rumah dan masuk ke gudang. Mempersiapkan diri dan mengeluarkan rohnya. Setengah rohnya melesat dengan cepat menuju satu arah. Arah rumah Kepala Sekolah mereka.


"Dasar tua bangka! Kamu tidak akan bisa mendapatkan Esperanza," gumam roh sahabat Esperanza.


Lalu merasuki tubuh Kepala Sekolah yang sedang asik bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya. Setelah roh sahabat Esperanza masuk, Kepala Sekolah kehilangan kendali pada tubuhnya. Dan dengan segera ia dikuasai roh tersebut.


"Papa pergi ke kamar dulu," ujarnya.


Roh sahabat Esperanza mempergunakan tubuh Kepala Sekolah untuk melancarkan aksinya. Ia ingin agar beasiswa Esperanza dibatalkan. Dengan mencari berkas-berkas di meja yang terletak di kamar Kepala Sekolah.


"Cari apa pa?" tanya istri Kepala Sekolah.


"Mama tahu di mana berkas-berkas yang papa bawa dari sekolah?"


"Tapi hari ini, kan papa tidak bawa berkas. Coba saja lihat di tas papa! Memangnya ada yang hilang ya pa?" tanya istrinya mendekat.


"Tidak, tidak ada. Papa cuma mau memeriksa. Sepertinya ada data yang harus diperiksa ulang. Sebaiknya mama temani anak-anak saja. Biar papa cari sendiri," ujar Kepala Sekolah.

__ADS_1


Istrinya kembali ke ruang tamu dan membiarkan suaminya sibuk sendiri. Suaminya meniupkan napas lega. Roh yang sedang menguasai tubuhnya sempat gugup karena bersikap aneh dan membuat istri Kepala Sekolah memandang suaminya dengan tatapan curiga.


"Hmm, di mana sebenarnya berkas itu?" gumamnya.


Lalu ia memeriksa ponsel Kepala Sekolah, dan ia tidak tahu cara membuka kuncinya. Tapi secara kebetulan sebuah panggilan masuk muncul. Panggilan itu diterima. Muncul wajah seseorang dalam vidio panggilan.


"Kirim saja berapa biaya yang dibutuhkan nona Esperanza untuk bisa ikut acara darmawisata dari sekolah. Saya akan segera mengirimkan uangnya ke rekening bapak!" ujar seorang pria berusia sekitar 35 tahun.


"Oh, baiklah!" jawabnya Kepala Sekolah dengan datar.


Panggilan berakhir.


"Kenapa dia menyebut Esperanza dengan nona?"


Segera roh sahabat Esperanza keluar dari tubuh Kepala Sekolah dan mencoba pergi ke kediaman orang yang baru saja melakukan panggilan. Namun ia tidak berhasil melakukannya. Karena ia tidak tahu tempat tinggal orang itu.


"Ahk! Dasar! Ternyata kemampuan ini payah!" teriaknya kesal lalu pergi melesat kembali ke tubuhnya.


Berputar-putar di lingkungan sekitar rumah Kepala Sekolah dan mencari ke tiap rumah. Menembus dinding dan melihat setiap penghuni rumah. Hingga berhasil menemukan Kepala Sekolah. Dan mengikutinya kemanapun ia pergi.


"Kenapa aku harus melakukan ini? Setelah mati pun aku harus terus menjadi budak orang lain." gumam roh itu kesal.


Ia tidak bisa pergi ke alam yang seharuanya ia tuju. Terikat pada sahabat Esperanza. Dan hanya bisa pasrah melaksanakan semua perintahnya. Roh itu mendengus kesal.


Teringat saat pertama kali rohnya lepas dari raganya untuk pertama dan terakhir kalinya setelah menghembuskan napas terakhir. Tiba-tiba sebuah rantai muncul di leher, tangan dan kakinya. Menarik rohnya ke suatu tempat. Gelap dan sepi. Saat sebuah cahaya muncul yang ternyata berasal dari sebuah lilin ia melihat roh lain yang mengalami hal sama dengannya.


Roh itu menempel di dinding ruangan gelap itu. Seorang anak remaja muncul dengan lilin menyala di tangan kirinya dan sebuah buku besar dan terlihat kuno di tangannya. Tampak anak itu melihat sekelilingnya.


Kemudian meletakkan buku di atas meja dan mulai membaca setelah menarik napas dan membuangnya dengan perlahan. Setelah membaca buku itu roh yang tadinya terlihat seperti sedang tertidur di dinding bangun. Sepertinya mereka terusik oleh bacaan yang ada di buku tersebut.

__ADS_1


Sama seperti roh itu, merasakan getaran yang kuat seolah roh mereka diguncang oleh gelombang. Anak itu melotot. Pandangannya yang tadinya biasa saja kini tampak seperti ketakutan. Namun ia tidak pergi.


Lama ia memandangi sekelilingnya memperhatikan para roh yang telah terjebak di dinding ruangan itu sejak tujuh generasi. Jumlah mereka sudah sangat banyak. Tidak satu roh pun bisa melepaskan diri dari dinding tersebut. Meski tampak mereka mencoba melepaskan diri.


Anak remaja itu mencoba mendekati para roh itu dan seperti sedang memastikan sesuatu. Menjulurkan tangannya lalu menarik satu roh yang menempel di dinding. Roh itu telepas dari dinding. Namun sebuah rantai muncul di leher roh itu. Dan rantai itu terhubung ke pergelangan tangan anal itu.


"Lepaskan aku! Kumohon biarkan aku pergi dari tempat ini!" ujar roh itu tampak memelas.


Anak itu tersenyum. Seolah mendapatkan hal yang ia cari. Dan kemudian ia tertawa dan melemparkan roh itu ke dinding. Roh itu kembali terjebak di dinding.


Roh itu tampak marah dan mencoba melepaskan diri dan aksinya diikuti yang lain. Tapi percuma saja. Mereka tidak bisa. Meraung dan berteriak sekuat mungkin pun tidak menghasilkan apa-apa.


Anak itu tertawa puas. Dan akhirnya berteriak.


"Diam!"


Sontak semua roh terdiam. Seolah ucapan anak itu adalah mantra. Anak itu memandang satu persatu rupa roh yang membuat orang-orang ketakutan. Memandang dengan tatapan jijik dan meremehkan.


"Mulai sekarang! Akulah Tuan kalian! Akulah keturunan ke tujuh pewaris buku ini. Tiap ucapanku akan jadi kewajiban kalian! Hahahaha!"


Roh itu merasa kesal dan akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia baru sadar orang yang sedang ia awasi sudah keluar dari toilet. Melihat ke kiri dan ke kanan dan berpindah ke ruangan lain. Menemukan Kepala Sekolah sedang berolah raga malam dengan istrinya di ranjang. Roh itu menepuk jidadnya dan memilih mengawasi di balik pintu kamar.


Di saat yang sama di tempat yang berbeda. Nicorazon mencoba mencuri ponsel papanya. Saat itu papanya sedang melakukan pembedahan pada seorang pasien di ruang operasi. Dan meninggalkan ponselnya di kantor.


Nicorazón yang mendapatkan kunci kantor papanya memanfaatkan kesempatan itu. Ia menghubungi sahabatnya. Yang tinggal beda negara dengannya. Untuk mencuri membobol ponsel papanya.


"Kenapa kamu menghungiku? Di sini masih dini hari?" ujar orang yang berada di ujung panggilan.


Di kamarnya ada foto kedua orang tuanya dan juga saudarinya. Ia merupakan putra dari Malika dan Tomi.

__ADS_1


"Tolong hubungkan ponsel papaku dengan ponselku. Aku ingin semua aktifitas yang ada di ponsel papaku bisa tersambung ke ponselku. Ayo lakukan sekarang juga. Aku tidak punya banyak waktu!"


Bersambung...


__ADS_2