Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Penculikan


__ADS_3

Lina memperhatikan setiap sudut ruangan, tempat ia di sekap. Tidak ada apa pun di situ yang bisa ia jadikan senjata. Ruangan itu sempit. Saat sedang mengamati ruanga itu, terdengar suara pintu yang hendak dibuka.


Lina pura-pura tidur, dan tidak bergerak. Penjaga itu memperhatikan Lina dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Degup jantung Lina berdetak dengan kencang. Takut akan hal yang terjadi padanya.


Beruntung orang itu tidak berbuat apa-apa, ia hanya pergi begitu saja. Lalu menuju tempat yang lainnya berkumpul setelah mengunci ruangan itu lagi. Perlahan Lina membuka matanya memastikan kalau keadaan sudah aman.


Tapi entah kenapa ia merasa ada orang lain selain dia di ruangan itu. Perlahan ia memalingkan wajahnya. Dan betapa terkejutnya dia, ada sosok perempuan duduk membelakanginya. Tidak tau siapa dia. Dari belakang terlihat kalau penampilannya sangat kacau.


Saat Lina memperhatikan dengan seksama, betapa terkejutnya dia, wanita itu menghilang secara misterius. Lina terkejut bukan main. Perlahan dia mundur dari tempat duduknya sekarang dan menyenderkan diri. Dengan kaki dan tangan terikat ia mencoba menjauh dari tempat wanita misterius itu tadi duduk.


Perlahan ia berjalan menuju pintu, lalu menguping. Kalau-kalau ada orang di luar. Saat tidak mendengar siapa pun dia menggoyang-goyangkan gagang pintu tersebut. Ia berharap pintu itu bisa terbuka. Namun usahanya sia-sia.


Sementara itu ternyata ada dua orang pria yang mengawasinya dari luar. Melihat gagang pintu bergerak mereka tersenyum satu sama lain. Lalu mereka pergi ke tempat yang lain untuk mengobrol.


"Menurutmu, apakah dia mendengar ucapanmu tadi?" tanya penculik pertama yang berkepala botak.


"Tentu saja, dan aku rasa dia sedang berpikir tentang suaminya yang tega membuangnya. Bisa dibayangkan tentunya. Ia yang sedang hamil melihat foto suaminya dengan wanita lain. Dan sekarang malah disekap. Aku yakin mentalnya pasti terguncang." kata penculik ke dua yang berambut gimbal.


"Hahaha bisa-bisa dia akan jadi gila." kata penculik yang botak.


"Kalau dia jadi gila, itu kabar yang bagus. Aku akan bawa dia ke rumahku dan akan kupakai tiap malam. Hahaha," kata-kata mesum keluar dari mulut yang berambut gimbal.


"Enak saja, aku juga mau tau," kata si botak.


"Ya sudah, kita pakai gantian. Hahaha," kata si gimbal.


Sesaat mereka membayangkan wajah Lina yang menangis dan berteriak-teriak dalam dekapan mereka.


"Eh bagaimana kalau kita pakai dia sekarang. Kan sayang kalau di buang ke laut begitu saja." kata si gimbal.

__ADS_1


"Eh ide bagus itu. Tapi bagaimana kalau nyonya datang?"


"Memangnya nyonya bakal bilang apa? Bukankah dia lebih sadis. Menyuruh kita untuk menenggelamkannya di laut malam-malam."


"Bukan itu maksudku, tapi bagaimana kalau nyonya datang saat kita sedang bersenang-senang dengan wanita itu. Masa kita harus berhenti tiba-tiba. Kan tidak asik."


"Ah iya...ya, si nyonya datangnya lama."


Berdua mereka larut dalam khayalan mereka masing-masing, setelah berhenti mengobrol. Dan tidak lama setela itu. Seorang wanita cantik datang. Wanita yang ada di foto bersama Dion.


"Di mana dia?" tanyanya begitu masuk tanpa berbasa-basi dahulu.


"Itu lagi di dalam." kata mereka serentak menunjukkan ruangan yang terletak di ujung. Tanpa berpikir panjang wanita itu langsung menuju ruangan tempat Lina disekap.


Mendengar suara gagang pintu digerakkan Lina pun bergeser ketempat ia duduk tadi tanpa mengeluarkan suara dan berpura-pura tidur.


"Kenapa? Kaget?" tanyanya.


Lina hanya memandang wanita cantik itu dengan amarah. Tapi wanita itu justru menikmatinya.


"Oh iya...sebelum tubuhmu dimakan oleh ikan-ikan di laut. Aku ingin memperkenalkan diri dulu. Perkenalkan namaku Sasha, calon istri suamimu. Jadi kau tidak perlu kuatir dengan suamimu setelah kepergianmu. Karena aku yang akan merawatnya." kata wanita itu.


Lalu ia meningggalkan Lina di kamar bersama dua orang penculik. Setelah Sasha pergi ke dua penculik itu tersenyum nakal ke arah Lina.


"Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu. Sayang kan kalau wajah cantik ini tidak di manfaatkan. Setidaknya sebelum lautan jadi kuburanmu ayo bermain dengan kita berdua dulu." kata mereka. Lalu mereka mengunci pintu.


"Jangan mendekat!" teriak Lina dan terisak.


Tapi ke dua penculik itu malah menikmati wajah Lina yang ketakutan. Tanpa rasa iba sedikit pun mereka berdua melepas pakaiannya mereka, untuk memamerkan tanda bukti ktp mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Lina memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Berusaha kabur dengan keadaan terikat tentu ia kesulitan dan itu merupakan tontonan menarik bagi ke duanya. Sambil tertawa-tawa mereka mendekati Lina yang menjauhi mereka. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Ruangan itu sempit dan pintu di kunci.


Akhirnya ke dua orang tersebut menangkap Lina dan hendak mempermainkannya. Namun betapa terkejutnya mereka. Sosok wanita yang sangat menyeramkan muncul di balik punggung Lina. Tertawa cekikikan yang khas dan membuat siapa pun mendengarnya merinding.


Kedua orang itu spontan terkejut. Tanpa berpikir panjang mereka melarikan diri. Dengan tergesa-gesa mereka bahkan lupa berpakaian. Lina yang tinggal sendirian bersama arwah itu hanya bisa diam mematung.


"Kenapa nyonya diam saja," kata arwah wanita itu dengan suara parau.


Lina dengan spontan menoleh kebelakang. Wajah yang terlihat menyeramkan itu tidak lagi tertawa. Degup jantung Lina berpacu dengan keringat yang mengucur dari pori-porinya.


"Pergilah sebelum orang itu muncul lagi, saya hanya bisa membantu nyonya sampai di sini. Saya benar-benar minta maaf nyonya." katanya lagi. Wajah seramnya terlihat sendu dan pilu.


"Sssiiapa ka, kamuu?" tanya Lina gugup. Sangkin gugupnya dia bahkan tidak bisa mengerakkan tubuhnya.


"Saya Vivina." ucapnya.


"Maafkan saya nyonya." katanya lalu menghilang.


Setelah wanita yang mengaku sebagai Vivina menghilang, Lina mulai merasakan kalau ia mulai bisa bergerak. Rasa takutnya berubah menjadi heran. Jika itu benar arwah Vivina, kenapa ia membantunya dan bahkan ia juga meminta maaf. Benarkah kata orang, kalau orang jahat akan bertobat jika rohnya sudah tidak bisa bersemayam di raganya.


Begitu ia bisa menggerakkan tubuhnya ia pun berusaha melepas ikatannya. Ikatan yang ketat itu sangat sulit ia lepas. Sambil berusaha keluar Lina mencari alat untuk memotong tali yang mengikat tubuhnya.


Ia kemudian teringat akan pakaian yang di tinggalkan oleh penculik-penculik itu. Lalu ia merogoh saku celananya. Beruntung ia menemukan pisau lipat di dalam saku celana. Tanpa berpikir panjang Lina pun memotong tali tersebut. Sulit baginya dan terkadang ia tanpa sengaja menyayat tanganya karena terburu-buru.


Setelah berusaha akhirnya ia berhasil melepas tangannya. Beruntung luka di tangannya akibat sayatan pisau tidak terlalu dalam. Dan dengan cepat ia membuka ikatan tali di kakinya dengan pisau itu lagi. Memotong tali yang mengikat kakinya tidak sesulit memotong tali yang mengikat tangannya.


Setelah berhasil lolos dari ikatan tali itu dengan cepat ia beranjak keluar. Namun...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2