Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Teresia


__ADS_3

Saat melihat lebih dekat ternyata itu adalah Dion, suaminya sendiri. Melihat hal mengerikan tersebut Lina tidak tahan dan terbangun dari mimpinya. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat yang menguncur dari pori-porinya.


Tanpa sengaja ia memandang putrinya. Rasa pilu di dadanya membuatnya kesulitan bernapas dan akhirnya menangis sesenggukan. Mimpi itu terasa nyata jika dianggap sebagai bunga tidur. Dan Lina merasa ada kerinduan ingin melihat suaminya.


Ia pun termenung mencoba menebak kenapa ia bermimpi seperti itu. Tapi semakin ia mengingatnya semakin deras air matanya. Walau ia merasa marah karena mengira suaminya menyuruh seseorang untuk melenyapkannya, tapi ketika ia melihat kondisi suaminya yang seperti itu, ia jadi tidak tega.


Jika itu benar-benar terjadi, ia tidak akan sanggup untuk melihatnya. Tiba-tiba ia merasa mual. Stres memikirkan jika itu nyata. Sebelum mengeluarkan isi lambungnya, ia pun bergegas pergi ke kamar mandi, dan mengeluarkannya di sana.


Tidak cukup sekali, tapi berkali-kali ia muntah, bahkan sampai mengeluarkan cairan yang terasa pahit di pangkal lidahnya. Seperti sudah menghabiskan seluruh isi lambungnya.


Lina tidak henti-hentinya menangis. Dia membekap mulutnya sendiri setelah berkumur. Tidak ingin putrinya terbangun, karena mendengar tangisannya.


"Tidak...itu tidak mungkin, dia pasti baik-baik saja." gumamnya.


Ia berusaha menenangkan diri. Mengatur pernapasanya. Dan berharap kejadian tersebut tidak benar-benar terjadi. Setelah ia berhasil menguasai dirinya. Ia pun mencoba mengalihkan pikirannya. Tapi tetap saja bayangan dari ingatan yang ia lihat di mimpinya terus berputar di kepalanya seperti sebuah film.


Kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang. Ia mencoba bangkit. Dengan langkah gontai ia keluar kamar mandi sambil memegangi dinding kamar mandi. Setelah bersusah payah keluar dari kamar mandi, ia mencoba mengganti pakaiannya, dengan pakaian yang kering.


Ia kesulitan mengambil pakaian di lemarinya. Matanya berkunang-kunang menghalangi pandangannya. Tangannya gemetaran selaras dengan bagian tubuh lainnya. Tanpa sempat berganti pakaian ia pun pingsan.


Saat ia pingsan satu sosok roh halus masuk ke rumahnya melewati dinding yang bata yang sudah di plaster halus dan di chat putih. Wajahnya menyeramkan dengan rambut berantakan. Mata merah melotot dan gigi taring yang keluar dari bibirnya, seperti taring singa. Ia tertarik oleh aura tubuh putri Lina.


Seperti singa yang kelaparan melihat seonggok daging, seperti itulah roh tersebut melihat putri Lina. Ia mencoba menghampirinya. Kekuatannya yang berada di level atas membuatnya tidak menyadari kalau tubuh putri Lina menyerap rohnya.

__ADS_1


Karena tidak menyadari hal tersebut, ia pun mencoba lebih dekat dan akhirnya seluruh rohnya terjebak di tubuh putri Lina. Ia terkejut bukan main. Sangkin terkejutnya ia membuat mata putri Lina terbelalak. Dan ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh arwah yang sudah lebih dulu memasuki tubuh putri Lina.


"Caliente...caliente...!!!" teriaknya.


Ia tidak menyangka yang tadinya ia kira sebagai santapan ternyata adalah perapian yang membakar rohnya. Berulang kali ia berteriak kesakitan.


"Se siente tan caliente...!!" teriaknya lagi.


Teriakannya yang terus-menerus membangunkan warga sekitar. Tapi mereka tidak tau suara tangisan anak siapa itu. Tidak ada yang mengira kalau itu suara tangisan putri Lina. Sebab putri Lina jika menangis tidak pernah mengeluarkan suara sekuat itu.


Dan karena hari masih sangat larut mereka enggan mencari tau pemilik suara tersebut. Mereka memilih menutup telinga dengan bantal dan menarik selimut, lalu tidur seperti putri tidur. Dan kembali pada mimpi indahnya.


Putri Lina yang dirasuki roh itu mulai bergerak. Roh tersebut mulai menguasai tubuh putrinya. Rasa sakit yang ia rasakan membuatnya ingin melampiaskannya pada apa pun yang ada di dekatnya. Ia mengacak-acak bantal dan mencakar-cakarnya dengan kuku kecilnya. Sebab Lina rajin memotong kuku putrinya, maka kuku tersebut tumpul.


Tiba-tiba ia merasa kaku dan tubuh itu tidak dapat ia gerakkan lagi. Ternyata pemilik asli dari raga tersebut terbangun dan mengambil alih tubuh tersebut. Seperti alarm yang berbunyi saat ada bahaya, seperti itulah pemilik raga yang sesungguhnya, ketika merasakan ada roh jahat yang hendak menyakiti mamanya.


Ikatan batin yang kuat membuat si kecil mampu merasakan hal tersebut. Dengan terbangunnya pemilik yang sah maka pengguni ilegal tidak mampu berkutik. Dan karena tidak bisa keluar dari raga yang ia tumpangi, secara ilegal, maka mau tidak mau, ia jadi warga ilegal di tubuh itu. Dan pada akhirnya menambah jumlah parasit di tubuh itu.


Pemilik tubuh asli melihat tubuh mamanya terbaring di lantai. Ia menggoyang-goyang tubuh wanita yang melahirkannya dengan tangan kurusnya. Rasa kuatir muncul dalam benaknya. Ia yang selama ini tidak bisa bicara, pada akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Ma..ma..," ucapnya lirih.


Sulit rasanya mengeluarkan suara karena pita suaranya seolah kehilangan fungsinya untuk berbicara. Jangankan berbicara, saat menangis pun suara tangisnya lebih terdengar seperti suara orang yang sedang berbisik-bisik.

__ADS_1


Tapi meski demikian ia terus berusaha membangunkan mamanya dengan tubuh lemahnya. Cukup berbeda saat roh halus menguasainya. Kekuatan dari tubuh itu jauh lebih kuat berkali lipat saat dikuasai penghuni ilegal dibanding penghuni asli.


"Ma-ma...Mmma...ma..Ma...mm!" teriaknya sekuat tenaga.


Berulang-ulang ia mencoba sambil menguncang tubuh mamanya. Dan tetesan air matanya membasahi wajah mamanya. Akibat tetesan air mata yang menetes di wajahnya Lina pun terbangun.


Terkejut mendapati putrinya berada di sampingnya dan menangis. Biasanya putrinya tidak bisa bergerak berpindah tempat. Putrinya juga tidak bisa menggerakkan kaki dan tangan. Tapi kini putrinya sudah berada jauh dari tempat tidurnya.


Lina segera memeluk putrinya, ia juga ikut menangis. Kali ini bukan karena rasa sedih, tapi karena rasa terharu.


"Ma...ma," kata putrinya.


"Sayang...kau sudah bisa bicara..." kata Lina memeluk putrinya dengan lembut.


Ia takut tubuh yang hanya terdiri dari tulang dan selebar kulit tersebut akan remuk di dalam dekapannya. Lalu perlahan ia menggendong putrinya kembali ke tempat tidur. Ia menyeka air mata putrinya dan juga air matanya.


"Teresia sayang mama ganti baju dulu ya," kata Lina pada putrinya.


Dan ucapan tersebut dibalas dengan anggukan oleh putrinya. Melihat hal kecil tersebut Lina sungguh bahagia. Sesaat ia lupa kenapa ia bisa sampai pingsan. Rasanya ini seperti pertama kalinya ia merasa bahagia.


Lalu ia mengganti pakaiannya. Setelah itu ia kembali ke tempat tidur, dan memandangi putrinya. Membelainya dengan lembut. Putrinya menangkap jari-jari Lina yang menyentuh kepalanya yang tidak berambut. Dan menggenggamnya sekuat yang ia bisa, seolah menguatkan hati sang mama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2