Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Alfredo


__ADS_3

Terjadi perdebatan sengit antara papa Malika dan Gina. Yang membuat Fika geleng-geleng kepala. Tapi ia terlalu sibuk untuk ikut campur urusan mereka berdua.


"Ya, baiklah. Te Espere tidak perlu tinggal di rumahku. Asal dia mau jadi model di butikku. Setuju!" tawar Gina untuk terakhir kalinya.


"Deal, tapi Te Espere hanya boleh keluar selama satu jam." ujar papa Malika.


"Jarak dari sini ke butikku saja memakan waktu 45 menit, perjalanan pergi dan pulang saja sudah lebih satu jam!" ujar Gina mengingatkan.


"Ok baiklah 2 jam, puas?"


"Apa kau pikir pemotretan itu sekali klik langsung jadi?"


"Lalu maumu apa?"


Gina mengatakan kalau Te Espere akan dijemput pagi hari dan pulang siang hari. Dengan berbagai alasan agar sahabat Dion setuju. Lalu mereka menanyakan pendapat Te Espere. Te Espere tidak keberatan hanya saja ia kuatir justru akan jadi beban di keluarga Gina.


Setelah Gina pulang Te Espere dibawa ke psikiater untuk melakukan terapi. Dan diketahui kalau Te Espere sudah tidak lagi berpikir untuk menyentuh api saat melihat api. Tapi ia justru ketakutan. Dan dengan demikian, Te Espere melanjutkan terapi agar ia tidak takut api secara berlebihan. Sebab ia sulit bernapas jika melihat api. Seakan ia berada di dalam api tersebut.


Ke esokan harinya Te Espere dijemput oleh Gina, Fika mengingatkan Gina tentang masalah psikologi Te Espere. Dan Gina berjanji akan memperhatikan masalah tersebut. Dan membawa Te Espere ke rumahnya.


Hari pertama Gina melakukan seperti yang ia janjikan. Tapi setelah seminggu ia mulai mengulur waktu untuk mengantar Te Espere pulang. Ia mengatakan kalau ia sedang sibuk sehingga ia belum bisa mengantar Te Espere pulang. Padahal itu hanya alasannya agar Te Espere tinggal lebih lama di rumahnya. Sementara putra Gina memanfaatkan hal itu untuk mendekati Te Espere. Tapi tetap saja, Te Espere hanya bersikap ramah pada Nicholas.


Hari berikutnya Te Espere dibawa berbelanja bahan pakaian oleh Gina. Setelah mendapat contoh yang diinginkan ia mengajak Te Espere untuk melihat-lihat toko perhiasan. Gina sangat suka mendandani Te Espere, seperti anak perempuan mendandani boneka mereka. Dan ia bangga memerkan Te Espere ke teman-teman sosial medianya.


Mereka kemudian memilih makan di sebuah restoran. Karena hari sudah siang, mereka memilih restoran terdekat. Saat memasuki sebuah restoran ia bertemu seorang langganan barunya. Ia membawa putranya bersamanya.

__ADS_1


Gina sebenarnya tidak mau memperkenalkan Te Espere pada pemuda lain tapi demi menghormati pelanggannya, ia pun memperkenalkan Te Espere pada putra langanannya. Tapi sebagai tunangan Nicholas, dan tidak lupa ia memamerkan cincin yang dipakai Te Espere.


"Oh jadi nyonya jalan-jalan sama calon menantu ya." ujar wanita itu lalu menyalami Te Espere sambil memperkenalkan diri.


"Hallo namaku Alfredo," ujar putra langganan Gina.


Te Espere menyambut tangan tersebut. Dan seketika ia menjadi pucat. Lalu tergagap, memperkenalkan diri. Ia pun tanpa sadar mundur dan seolah bersembunyi ke balik punggung Gina. Lalu ia berbisik untuk meminta pulang.


Gina heran melihat perubahan sikap Te Espere. Tapi meski begitu ia pun membawa Te Espere pulang. Dan berpamitan pada langganannya. Ia membatalkan niatnya untuk makan di restoran tersebut. Sepanjang perjalanan Te Espere sangat pucat dan ia terlihat normal setelah Gina mengantarkannya ke rumah Fika. Te Apoyo tersentak dengan apa yang dilihat Te Espere saat menyalami Alfredo. Lalu ia mencoba untuk menenangkan saudarinya.


Sementara Alfredo menyadari ada yang aneh pada Te Espere. Saat ia memandang wajahnya di cermin yang terpantul hanyalah wajah yang sangat tampan. Meski itu bukan wajah aslinya. Ia baru saja melakukan operasi plastik. Bukan karena wajah lamanya sangat jelek tapi karena hal lain.


"Menurut mama, apa gadis itu mengenaliku?" tanya Alfredo pada mamanya dengan senyum yang sulit diartikan.


Mama Alfredo hanya diam saja, ia dan suaminya menyembunyikan fakta tentang putra satu-satunya. Dan putranya masih mengikuti kelas terapi. Agar kebiasaan buruknya bisa berubah.


Saat Alfredo dan mamanya pergi, Gina bertanya pada Te Espere akan sikapnya yang aneh. Tapi Te Espere tidak menceritakannya. Ia ragu, dan takut. Sebab menurutnya Gina tidak akan percaya begitu saja padanya kalau ia cerita.


"Apa kamu mengenal Alfredo?" tanya Gina. Dan Te Espere hanya menggeleng saja.


Hari berikutnya Alfredo datang sendiri ke butik Gina. Dan ia menyapa Te Espere seperti biasa.


"Apa wajahku sangat menyeramkan?" tanyanya saat ia begitu dekat dengan Te Espere.


Te Espere hanya menggeleng dan berusaha menjauh. Dan saat Te Espere menjauhinya, Alfredo menangkap tangannya. Te Espere mencoba melepaskan tangannya. Tapi semakin kuat Alfredo memegang tangannya.

__ADS_1


"Semakin kamu menghindar, aku jadi semakin tertarik padamu. Apa aku rebut saja kamu dari tunanganmu itu?" ujar Alfredo.


Plak!


Sebuah buku mendarat di kepalanya. Dan ia berpaling melihat siapa yang memukulnya. Tampak Gina berdiri di belakang dengan tampang galaknya.


"Siapa kau berani merebut calon menantuku?!" katanya galak.


Alfredo hanya tersenyum menjawab pertanyaan tersebut, lalu mengatakan kalau ia hanya bercanda. Dan kemudian dia memilih beberapa pasang pakaian untuk dibeli sebelum pulang.


"Jangan takut, tante tidak akan biarkan play boy tersebut menganggumu, kalau perlu, akan tante cincang tangannya kalau dia berani macam-macam lagi." ujar Gina sambil tersenyum.


"Tante, bolehkah aku tidak ke butik beberapa hari?" tanya Te Espere menanggapi ujaran Gina.


Gina terkejut dengan permintaan Te Espere tapi saat melihat Te Espere yang ketakutan, ia pun mengangguk. Dan sesuai janjinya, ia pun tidak menjemput Te Espere untuk beberapa hari.


Dan saat Alfredo datang lagi ke butik Gina, ia pun tidak melihat Te Espere di mana-mana. Dia berpura-pura melihat-lihat pakaian sambil melirik ke arah lain. Untuk melihat keberadaan Te Espere. Namun setelah beberapa hari tidak melihatnya di butik, ia pun berhenti mengunjungi butik Gina.


Te Espere yang ketakutan akhirnya memilih tinggal bersama Te Apoyo. Dan membatalkan perjanjian kontrak dengan Gina. Gina sangat kecewa, dan menarik sahamnya.


"Kalau terjadi sesuatu pada perusahaan kalian dan bangkrut jangan harap aku akan membantu. Kamu harus berlutut di kakiku dan memohon jadi menantuku, jika ingin mendapatkan perlindunganku!" geram Gina. Seperti anak kecil kehilangan mainan kesayangannya.


Sebenarnya ia sangat sayang pada Te Espere seperti putrinya sendiri. Tapi ia sangat kesal saat Te Espere justru memilih menjauhinya. Dan Te Espere bersekolah di sekolah Te Apoyo.


Tapi siapa sangka, kalau di sekolah barunya ia tidak bisa tenang sebab setelah satu minggu bersekolah di sana, seorang murid baru datang.

__ADS_1


"Perkenalkan namaku Alfredo,"


Bersambung...


__ADS_2