Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Apakah Kamu Suka Aku?


__ADS_3

Malika menghembuskan napasnya dengan satu kali hembusan sehingga bahunya sedikit berguncang.


"Ok baiklah, siapa nama pacar pertamamu?" tanya Malika dengan malas.


Lalu adik kedua Nicholas menjawab dengan santai. Dan kini adalah gilirannya memutar botol. Dan ujung botol mengarah pada Te Espere. Te Espere sedikit terkejut, seolah tidak siap menjawab pertanyaan. Lalu adik Nicholas mengajukan pertanyaan padanya.


"Apa Te Espere pernah menyukaiku, hingga berhayal jadi kekasihku?" tanyanya secara langsung, membuat Te Espere mengerutkan keningnya.


Nicholas dan adik ketiganya secara serentak menoleh padanya. Dan dia hanya mengangkat bahu dan kedua alisnya.


"Tidak pernah," jawab Te Espere dengan tenang sambil matanya menatap lurus ke ujung botol yang mengarah padanya.


Nicholas dan adik ketiganya diam-diam merasa lega. Nicholas melirik Te Espere sekilas. Sementara Malika tertawa mendengar jawaban Te Espere, yang terdengar seperti tidak perduli dengan perasaan yang bertanya. Lalu ia pun mendapat giliran memutar botol. Dan arahnya tertuju pada Malika.


"Oh aku, ok apa yang ingin kamu tanya?" tanya Malika pada Te Espere.


"Apa hubungan kamu dengan Tomi?" tanya Te Espere.


"Pacar," jawab Malika bangga.


"Ok, sekarang giliranku," katanya penuh semangat.


Botol diputar dan arahnya menunjuk ke Nicholas. Malika menatap Nicholas dan Te Espere dengan mata berbinar-binar. Lalu mengajukan pertanyaan pada Nicholas.


"Apa kak Nicholas bertengkar dengan Te Espere?" tanyanya penasaran.


"Tidak," jawab Nicholas jujur. Lalu ia memutar botol dan mengarah ke Malika lagi.


"Berapa banyak pacar yang kamu punya sekarang?" tanya Nicholas.


"Cuma satu," jawab Malika lalu memutar botol dan mengarah ke Te Espere.


"Ok Te Espere, pertanyaannya adalah, apakah kamu menyukai kak Nicholas seperti sukanya seorang perempuan ke laki-laki?" tanyanya tersenyum lebar.

__ADS_1


Te Espere tertegun sedikit terkejut. Ia tampak berpikir dengan keras memikirkan jawaban yang tepat. Suasana tiba-tiba terasa jadi sangat sepi, semua penasaran dengan jawaban Te Espere, yang sebenarnya bisa mereka terka. Tapi kemudian, ternyata tidak menjawab dan memilih untuk mencomot satu empedu.


Tapi saat ia mencoba menelannya Nicholas menarik tangannya dan memakan empedu yang ada di tangan Te Espere. Semua orang yang ada di situ menatap Nicholas bengong.


"Ih, tinggal jawab iya saja, apa susahnya sih?" tanya Malika sedikit kecewa.


Sebab Malika ingin agar Te Espere dan Nicholas menjelaskan status mereka, atau mengumumkan hubungan mereka dengan pasti. Tapi Nicholas memandang Te Espere yang tidak menoleh padanya walau sesaat. Dan diluar dugaan justru Te Espere membuat hubungan mereka jadi semakin tidak jelas.


"Kalau begini siapa yang putar botol, yang menelan empedu justru Nicholas. Tapi ini gilaran Te Espere, karena dia yang ditanya,"


"Undi saja kalau begitu," ujar Te Apoyo.


"Kak Nicholas saja yang putar botolnya," jawab Te Espere.


Lalu Nicholas memutar botol tersebut dan mengaturnya agar tepat mengarah ke Te Espere. Dan perhitungannya berhasil membuat botol mengarah pada Te Espere. Lalu ia pun bertanya pada Te Espere.


"Maukah kamu jadi pacarku?" tanyanya yang disambut dengan siulan gembira oleh Malika.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya setelah Te Espere keluar dari kamar kecil.


Te Espere yang baru saja keluar kamar kecil akhirnya masuk lagi dan muntah. Nicholas pergi ke dapur untuk mencari madu. Saat ia ke kamar kecil, ia berselisih dengan Te Espere. Te Espere tidak berani menatap wajah Nicholas, lalu pergi ke dapur mencari madu. Namun tidak ketemu. Sebab madunya ada di tangan Nicholas.


"Kamu mencari ini?" tanya Nicholas yang ternyata membuntutinya ke dapur.


Nicholas menyadari kalau Te Espere merasa tidak nyaman sehingga ia meletakkan botol madu di atas meja makan. Lalu secepatnya berbalik.


"Kak Nicholas, terima kasih," ucap Te Espere.


Nicholas pun berpaling dan menghadap ke Te Espere. Dan saudari Te Apoyo itu menundukkan wajahnya.


"Itu bukan punyaku, aku mengambilnya dari laci itu tadi, cepatlah minum agar kamu tidak muntah lagi," pesannya.


"Masalah pertanyaan tadi tidak usah dipikirkan, dan tidak usah merasa tertekan," ujarnya.

__ADS_1


"Te Espere sudah punya pacar ya di sekolah yang baru? Kalau ia, lain kali perkenalkan padaku ya. Kalau soal mama, tidak usah dipikirkan. Semoga kamu dan pacarmu berjodoh ya," ujar Nicholas dengan nada datar, tapi menekan suaranya saat kata 'berjodoh' seperti menunjukkan kalau ia tidak suka mengatakan kata tersebut.


"Bukan, aku tidak punya pacar, dan aku tidak pernah menyukai pria lain," balas Te aespere.


Mendengar jawaban Te Espere, Nicholas pun mendekatinya.


"Kalau begitu apa kamu pernah menyukaiku, dan apakah kamu masih menyukaiku?" tanya Nicholas dan menatap bola mata Te Espere lekat-lekat.


"Aku tentu saja menyukai kakak, bagiku kak Nicholas sudah seperti kakak kandungku sendiri," jawannya dengan wajah tertunduk.


*Cup


Bibir Nicholas mendarat di kening Te Espere, putri Dion itu menoleh pada Nicholas, seakan tidak percaya. Degup jantungnya berdetak lebih cepat dan pipinya menjadi kemerahan karena malu. Tapi ia merasa senang yang akhirnya ia coba lupakan. Saat ia mengingat hal buruk yang mungkin akan terjadi, jika ia sampai jatuh cinta ataupun dicintai.


"Bukankah aku sudah seperti kakak bagimu, jadi boleh dong kalau aku mengecup keningmu, seperti 'saudara laki-laki ke saudarinya yang masih kecil?" tanya Nicholas untuk mencairkan kecanggungan, lalu mengusap rambut Te Espere sebelum pergi dari dapur.


Ternyata perbuatannya dilihat oleh Malika. Saat ketahuan memata-matai Nicholas dan Te Espere, Malika pun berdehem berkali-kali.


"Ugh, ehem ehem, haus nih tenggorokan kering," ucap Malika lalu mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya.


"Ehem, tuan dan nona, silahkan dilanjut, hamba pergi dulu," kata Malika dan secepatnya meninggalkan dapur.


Sementara di kediaman lain, tampak seorang gadis mengacak-ngacak isi kulkas. Hal itu ia lakukan tepat setelah seseorang keluar dari dapur. Ia segera mencari makanan yang sesuai dengan seleranya. Lalu ia menemukan daging mentah. Dan memakannya tanpa dimasak terlebih dahulu. Sambil melirik ke segala arah. Memastikan kalau tidak ada yang melihat tindakannya.


Setelah menghabiskan daging mentah tersebut, ia pun membuang plastik pembungkus daging ke tong sampah. Kemudian melirik keluar dapur, setelah merasa situasinya aman, maka ia pun berlari ke kamarnya. Bersembunyi di dalam selimut setelah mengunci pintu kamarnya.


Tidak lama kemudian seorang pelayan datang. Ia adalah pelayan yang biasa memasak. Kemudian ia memeriksa bahan makanan di kulkas. Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat persediaan daging di kulkas sudah hilang. Padahal ia baru saja memasukkannya.


Dan matanya terbelalak saat melihat plastik pembungkus daging sudah berada di keranjang sampah. Ia melirik ke segala arah mencoba mencari tahu siapa yang membawa lari daging mentah tersebut. Dan anehnya adalah karena daging itu dibawa tidak bersama plastik pembungkusnya.


"Siapa yang mengambil daging di kulkas?" tanyanya kebingungan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2