Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Kedai Kecil


__ADS_3

Oscuridad menapaki gang sempit untuk sampai ke kediamannya. Lokasinya tidak jauh dari lokasi kampusnya. Begitu tiba seorang pria lansia menyapanya.


"Sudah pulang? Hari ini banyak pelanggan jadi segeralah makan dan bantu mama melayani pelanggan," kata papanya.


Oscuridad mengangguk dan dengan tersenyum ia mengganti pakaiannya lalu makan dan setelah itu ia membantu tugas di kedai. Kebanyakan yang datang justru memesan makanan pada Oscuridad meski ia baru muncul dan meskipun ada pelayan yang lain.


"Mau pesan apa?" tanyanya ramah membuat para pelanggan wanita menghayalkannya sebagai pengantin prianya.


Oscuridad selalu tersenyum sangat ramah, bahkan saat ada beberapa pemuda datang membeli makanan. Dan memesan dengan nada kasar.


"Mana pesanan kami!" bentaknya.


"Tuan pesan apa, biar saya ambilkan?" tanya Oscuridad dengan sopan.


Tapi pemuda itu malah mengambil saus yang ada di meja dan menyemprotkannya ke wajah Oscuridad. Tetap saja ia tersenyum sambil membersihkan saos itu dengan tisu yang ada di meja.


"Aku tidak jadi pesan, pelayan di sini lambat," ujarnya.


Dan pemuda itu menjungkir balikkan meja dan kursi yang ada di sekitarnya. Mama Oscuridad marah dan memukul pemuda itu. Karena tidak senang, pemuda tersebut memukul sang mama. Papa Oscuridad datang menolong istrinya yang terjerembab di lantai.


Oscuridad menatap wajah pemuda itu seolah sedang menghafal tiap sisinya. Pemuda itu kesal ditatap demikian dan akhirnya menampar Oscuridad lalu meludahinya. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Mama tidak apa-apa?" tanya Oscuridad.


"Mama tidak apa-apa, bagaimana dengan pipimu? Pasti sakit?" ujar wanita tua tersebut.


"Tidak," jawab Oscuridad tersenyum.


Oscuridad pergi ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya, derta mengganti pakaian. Kemudian kembali ke kedai untuk melayani pelanggan. Para pelanggan merasa simpati padanya. Karena dia sangat penyabar.


Malam hari tiba, beberapa pemuda yang membuat kerusuhan di kedainya sedang berada di atas sebuah kendaraan. Yang melaju dengan kecepatan tinggi. Lalu melihat seseorang tepat di tengah jalan. Karena mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, maka orang yang mengemudikan mobil itu tidak bisa menghentikan mobil tersebut secara tiba-tiba.


Tampak jelas oleh mereka kalau mobil yang mereka tumpangi sudah menabrak seorang wanita. Mereka pun secara serempak menoleh ke belakang. Sebab setelah menabrak wanita itu, mobil yang mereka tumpangi masih melindasnya.

__ADS_1


Mereka ketakutan lalu memilih menjalankan mobil dan melaju lebih cepat. Sampai mereka mengalami kecelakaan karena tidak melihat ada parit di tekongan. Mobil mereka terbalik.


Saat sadar mereka berada di sebuah ruangan dengan keadaan terikat. Dan betapa terkejutnya mereka melihat kalau mereka kini berada di gudang. Dan tepat dihadapannya seseorang yang mereka kenal.


"Selamat pagi tuan-tuan," sapanya tersenyum.


Lalu ia mengambil sebuah botol saus. Dan bermain-main dengan botol saus tersebut. Isinya muncrat mengenai salah satu dari orang yang terikat di situ. Orang tersebut berteriak meringis merasakan sakit.


"Oh maaf matamu kena ya?" ujarnya lalu meletakkan botol saus dan mengambil air sabun.


"Sini biar aku bersihkan," katanya lalu menyiram air sabun ke mata pemuda tersebut.


Pemuda itu makin gemetaran menahan rasa perih di matanya.


"Hentikan, apa yang kau lakukan padanya, dasar anak tukang kedai!" umpat seorang dari mereka.


"Aku hanya membersihkan matanya. Tapi sepertinya caraku salah. Oh baiklah aku akan mengeluarkan matanya dulu. Lalu mencucinya kemudian mengembalikannya lagi," ujarnya sambil melakukan apa yang ia lakukan.


"Hei hentikan!" teriak pria berbaju hitam.


Tiba-tiba seseorang datang dan membuka pintu gudang bawah tanah tersebut. Ia turun karena mendengar suara teriakan dari bawah.


"Ada apa ini?" katanya.


"Pak tua tolong kami, putra anda sudah gila. Dia melukai teman kami. Kalau kami melapor pada polisi maka, kamu dan istrimu juga akan masuk penjara," ujar pemuda berbaju hitam.


"Oh begitu ya," ujarnya.


Lalu ia pergi ke atas dan kembali dengan istrinya.


"Katanya ia akan melaporkan perbuatan putra kita, dan kita juga akan masuk penjara," kata suaminya was-was.


"Tenang saja, tolong pegang kepalanya. Aku akan menjahit agar ia tidak perlu melapor," ujar wanita tua itu.

__ADS_1


Dengan perlahan ia memasukkan benang ke jarum besar dan mulai menjahit. Menyatukan bibir atas dan bibir bawah pemuda tersebut. Dan membuat pemuda itu gemetaran dan mengompol.


"Hei kamu sudah besar kenapa masih mengompol," ujar wanita itu.


"Kamu tahu kalau aku mengompol saat kecil mamaku akan menjewer telingaku," ujar putra mereka sambil menarik telinga orang tersebut menggunakan tang.


"Sakit ya? Lain kali jangan mengompol," ujar putra mereka.


"Sudah jam 07:00 waktunya membuka kedai. Oscuridad siapkan daging olahan untuk membuat bakso," ujar si mama.


Lalu Oscuridad mengeluarkan sesuatu dari dalam kulkas di gudang tersebut. Tampak seperti potongan tubuh wanita. Dan dengan lihai ia mengambil bagian paha kirinya dan memisahkan kulit, daging, dan tulang.


Setelah itu mencincang daging tersebut dan memasukkannya ke dalam penggilingan. Lalu menambahkan bahan pembuat bakso lainnya. Dan setelah itu mencetak bakso untuk di jual di kedai dengan sangat lihai.


Para pemuda itu merasa sangat pusing mengingat ia sering makan tanpa bayar di kedai Oscuridad. Beberapa yang lain bahkan tidak berani menatap. Pemuda yang selalu terlihat lemah di kampus, dan selalu sabar meski dihina, ternyata seorang psikopat. Mereka hanya berharap bisa segera keluar dari tempat itu dan melaporkan keluarga tersebut.


Tampaknya Oscuridad telah selesai dengan tugasnya dan ia membawa semua bakso yang sudah ia olah ke atas. Menutup pintu gudang dan membiarkan mereka yang di dalam.


Selesai membersihkan diri setelah menyelesaikan tugas paginya maka ia pun berangkat ke kampusnya. Membeli setangkai bunga mawar di toko bunga. Dan meletakkannya di dalam loker Te Espere beserta secarik kertas tanpa masalah.


"Untuk yang tercinta," ujarnya.


Lalu Te Epere yang baru datang mendapati bunga tersebut lalu membuangnya ke dalam tong sampah.


"Kejam sekali, padahal kamu tahu bunga ini pemberianku," ujar Oscuridad yang tiba-tiba muncul.


Ia mendekati Te Espere dan saat itu suasana di kampus masih sepi. Te Espere mulanya bermaksud memergoki Oscuridad. Tapi keadaan yang sepi membuat Oscuridad makin berani.


Menangkap Te Espere lalu mendorong tubuhnya ke dinding. Dan hendak menciumnya. Te Espere menendang tanda bukti jenis kelamin di KTP-nya. Membuatnya kesakitan dan mau tidak mau melepaskan Te Espere.


"Hey, kamu melukai masa depanku," ujarnya meringis.


Te Espere pergi secepatnya dengan wajah kesal serta jijik pada mahasiswa itu. Setelah ia pergi menjauh mahasiswa itu berdiri tegak lalu tertawa.

__ADS_1


"Segera kamu akan jadi milikku, semakin sulit untuk kudekati semakin aku bersemangat," gumam mahasiswa itu lalu pergi ke kelasnya dan bersikap seperti biasa.


Bersambung...


__ADS_2