
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Primavera pada putranya.
"Siapa yang anda panggil sayang nyonya?" tanya Esperanza cemburu.
"Maaf, anda siapa? Dan jangan memanggil sayang padaku. Aku sudah bertunangan dengannya," kata Nicorazón.
Pada saat itu Estrella memilih keluar dan mencari mamanya. Sementara seorang dokter menyuruh mereka untuk tenang. Lalu melakukan pemeriksaan.
Primavera pun memilih diam. Sebab semakin ia banyak bicara, suasana akan menjadi lebih buruk lagi. Malika pun datang ke tenda bersama putrinya. Esperanza melihat kedatangannya pun tersenyum.
"Tante Fika," ujarnya senang lalu berhambur ke pelukan Malika.
"Esperanza?"
"Siapa yang tante panggil Esperanza? Tante aku Te Espere. Aku pernah tinggal dengan kalian dulu," jawab Esperanza tersenyum dan masih memeluk Malika.
"Jadi kamu Te Espere?"
Esperanza mengangguk. Malika membelalakkan matanya. Tapi kemudian ia berkata dengan tegas.
"Ayo ikut denganku!"
Malika membawa Te Espere ke suatu tempat. Di sana ada Tomi dah Brillo. Te Espere memeluk Brillo dan memanggilnya sebagai Tomi.
"Tomi itu aku," ujar Tomi sambil menunjuk pada dirinya.
"Hahaha, Om pintar bercanda ya. Tapi kenapa Tomi sekarang lebih imut ya Om? Malika juga tampak lebih muda. Apa selama aku belum sadar, akibat lukaku, kalian mengeperasi wajah mereka agar terlihat seperti anak remaja?"
Tomi terpelongo tapi kemudian ia menarik napas dan menatap Malika. Wanita yang ia tatap hanya mengangkat bahu. Lalu mereka mengajak Esperanza untuk duduk dan menanyainya banyak hal. Dan semua jawaban gadis itu benar. Tentang hubungan Te Espere dan Nicholas.
"Di mana mamaku?" tanya Te Espere kemudian.
"Dia ada di tenda lain. Sedang beristirahat. Sebaiknya kamu kembali ke tenda dan beristirahatlah. Besok pagi kalian pasti akan bertemu," ujar Tomi kemudian.
"Baiklah kalau begitu," ujar Esperanza menurut.
Saat itu satu roh lain melihat keberadaan Esperanza dan dengan segera pergi untuk melapor. Tapi di tengah perjalanan ia berhenti.
__ADS_1
"Untuk apa aku terus patuh? Keluargaku juga sudah tiada dan kini telah menjadi budak mereka," ujar roh itu pada diri sendiri.
Mengingat selama ini ia tetap patuh karena berharap keluarganya akan baik-baik saja selama ia patuh. Tapi kenyataannya tidak. Setelah mati pun keluarganya masih tersiksa dan tetap menjadi budak.
"Ugh! Kenapa belenggu ini tidak bisa aku lepaskan?"
Roh itu terus saja berusaha melepaskan belenggunya. Tapi tiba-tiba ia ditarik kembali pada tuannya. Saat ia tiba di tempat orang yang memegang belenggunya, ia pun dan roh yang lain ditanyai tentang lokasi keberadaan Esperanza.
"Kami tidak tahu, tuan," jawab mereka.
Roh yang melihat Esperanza juga memilih tutup mulut. Ia tidak ingin memberikan apa yang diminta oleh tuannya. Dan menerima siksaan seperti yang lainnya.
"Maafkan aku semuanya. Aku bisa saja memberitahukan keberadaan Esperanza agar kita tidak di hukum. Tapi menyerahkan gadis itu, tidak akan membebaskan kita dari belenggu ini," batin roh tersebut.
Di tenda pengungsian Esperanza dan Nicorazón kembali tidur dan ketika terbangun ia dan Nicorazón kembali bertingkah aneh.
"Di mana aku?" tanya Esperanza.
Malika yang mendekatinya pun ia usir. Dan ia tampak ketakutan. Nicorazón juga tampak marah saat melihat Esperanza.
"Tante, kenapa pembunuh ini ada di sini?" tanya Nicorazón yang masih ingat kalau Esperanza palsu menikamnya dengan pisau.
Malika memijat jidadnya yang tiba-tiba sakit. Hingga akhirnya keduanya dibawa ke tenda khusus. Di sana kembali keduanya diinterogasi.
"Tante, aku Nicorazón. Masa tante tidak percaya? Apa tante hilang ingatan?" tanya anak Te Apoyo kebingungan.
Malika pun keluar dari tenda itu. Kepalanya pusing. Sulit baginya untuk mencerna hal tersebut. Lalu ia mengajak Tomi, Te Apoyo dan Primavera untuk berdiskusi. Membahas tentang Esperanza dan Nicorazón.
"Apa mungkin mereka dirasuki, Esperanza dirasuki oleh saudari kembar suamiku. Dan putraku dirasuki oleh roh putra tante Gina?" tanya Primavera.
"Mereka tidak dirasuki!" ujar Te Apoyo dan Malika bersamaan dengan penuh keyakinan.
"Lalu? Kenapa tadi malam tingkah mereka sangat aneh?"
"Sayang, bukankah aku pernah bilang kalau Esperanza adalah reinkarnasi saudariku? Dan Nicorazón adalah reinkarnasi kak Nicholas?"
Primavera mengerutkan keningnya. Ia mengingat kalau suaminya pernah mengatakan hal tersebut. Tapi ia masih belum bisa percaya sepenuhnya.
__ADS_1
"Jadi? Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Primavera tanpa menutupi wajah bingungnya.
"Kita akan memindahkan mereka ke negara lain. Pindah ke negara yang lebih aman."
"Kemana? Sebaiknya ke tempat di mana ada seseorang yang dikenal di sana!" tegas Tomi.
"Tentu saja ke negara kalian membesarkan Brillo dan Estrella. Sahabatku dan Fika masih tinggal di sana bukan?"
"Baiklah Te Apoyo. Secepatnya urus keberangkatan mereka. Dan Brillo serta Estrella akan ikut bersama mereka," ujar Tomi.
Ia mengedarkan pandangannya dan semua orang menganggukkan kepala tanda setuju. Maka keberangkatan mereka pun ditentukan. Esperanza mulanya menolak. Mengingat hal buruk yang dia alami.
"Sayang. Tuan Te Apoyo sudah menyiapkan tiket untuk kami. Kita akan bertemu di negara tersebut," ujar papa Esperanza membuat gadis itu setuju.
Te Apoyo lebih dahulu menghubungi orang tua Esperanza untuk membahas kepergian mereka ke negara tempat Brillo dibesarkan. Untungnya mereka masih mempercayai Te Apoyo.
Maka demi keamanan. Orang tua Tomi dan Gina serta Dion dan Lina, ikut pergi ke negara tersebut. Dengan mengantongi izin keluar negara itu. Karena saat ini penjagaan sangat ketat bagi mereka yang hendak keluar negri. Mereka akan dicurigai sebagai pelaku peledakan.
Dengan mengandalkan putra ketiga Gina, izin keluar pun didapatkan. Te Apoyo yang masih ingin tinggal untuk menolong orang sakit, juga dipaksa ikut.
"Kamu harus sembuh dulu baru bisa merawar pasien dengan baik. Semua yang ada di sini serahkan pada kami!" ujar suami Alicia.
"Tapi aku titip istri dan anakku," ujar suami Alicia saat mengantar kepergian keluarga kecilnya.
Singkat cerita, mereka pun tiba dengan selamat dan disambut dengan baik oleh Fika dan suaminya. Orang tua Esperanza sudah tiba terlebih dahulu. Memeluk putri mereka dengan rasa haru.
"Esperanza boleh kita bicara sebentar?" ujar Estrella.
Kemudian keduanya pergi ke sebuah kamar. Di sana Estrella dan Brillo menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Itu tidak mungkin," ujar Esperanza ragu-ragu.
"Kenapa tidak mungkin? Kami punya rekamannya saat dirimu yang palsu berada di rumah om Te Apoyo saat kamu di sekap. Itu artinya yang menculikmu adalah para keturunan ketujuh," ujar Brillo.
"Aku berada dalam tubuh Lillo saat aku mendengarkan kamu dan gadis lain membicarakan tentang beasiswa. Dan kemampuan berbagi penglihatan dengan Lillo membuatku bisa melihat layar monitor yang dilihat oleh Lillo."
"Sekarang kamu percayakan, kalau om Te Apoyo tidak bersalah?" tanya Estrella.
__ADS_1
Bersambung...