
"Iya, aku juga sudah mendengar kabar itu. Tapi aku tidak yakin bisa menemanimu menyaksikan pertunjukan secara langsung," keluh putra ketiga Gina.
"Jangan memikirkan masalah itu. Aku dan mama mertua bisa pergi bersama. Aku hanya butuh ijinmu sayang," ujar istri putra ketiga Gina dengan manja.
"Ya tentu saja aku akan mengijinkan. Baiklah aku lanjut bekerja dulu," ujar putra ketiga Gina.
Panggilan pun berakhir. Wanita itu segera menghubungi mama mertuanya dan menyampaikan kabar gembira tersebut. Gina ikut senang mendengar kabar itu dan menghubungi Lina, untuk mengajaknya ikut serta.
Pesulap sengaja melakukan pertunjukan di negara Te Apoyo setelah mendapatkan perintah dari Putri penunggu danau. Roh itu berjanji tidak akan meminta persembahan lagi pada si pesulap asalkan dia berhasil mengurbankan salah satu dari Te Apoyo dan Nicorazón.
Sebenarnya selama di perjalanan pesulap terus saja merasa gelisah. Ia ingin mengakhiri kejahatan yang sudah ia lakukan. Apalagi sejak ia sering melihat seorang wanita yang tampak sedih di kursi penonton. Wanita itu adalah mama dari anak laki-laki yang menjadi korban dalam pertunjukannya.
Suatu hari setelah pertunjukan berakhir, wanita itu dengan sengaja menemui pesulap. Mulanya pesulap tidak ingin menemuinya, namun wanita itu terus memohon dan tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Membuat pesulap tidak tega dan memilih menemuinya.
"Putraku menghilang sejak kami menonton acara sulap anda. Saya tidak menuduh apapun tentang anda tuan. Tapi bolehkah saya meminta bantuan anda untuk mencari putra saya."
"Memangnya apa yang bisa saya lakukan untuk anda nyonya? Saya hanya pesulap biasa."
"Setidaknya ketenaran anda akan membuat orang-orang memperhatikan anda. Saya sudah sering memposting tentang putra saya yang hilang. Namun sampai saat ini tidak ada tanggapan serius dari siapa pun," ujar wanita itu.
"Saya berharap anda mau memposting tentang putra saya di akun media sosial anda."
"Tapi saya tidak mempunyai akun media sosial nyonya."
"Tuan, saya mohon bantulah saya. Setiap malam saya bermimpi kalau putra saya berteriak di dalam kotak yang anda gunakan saat melakukan pertunjukan sulap."
Pesulap menatap wanita itu dengan tajam, mencoba mengartikan ucapan wanita itu lebih dalam.
"Tuan, saya rasa mimpi saya itu mengatakan kalau suatu hari nanti putraku akan muncul di tengah pertunjukan anda. Itu sebabnya saya selalu datang untuk menyaksikan pertunjukan anda."
Pesulap tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menunduk dan lidahnya terasa kelu. Detik demi detik terasa sangat lambat berjalan.
__ADS_1
"Baiklah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Anda adalah harapan terakhir saya, sebab polisi sampai sekarang tidak berhasil menemukan putra saya."
Wanita itu akhirnya permisi pulang. Pesulap merenungi pertemuan itu. Membuatnya putus asa. Ia mencoba melakukan sulap bunuh diri untuk mengakhiri pertumpahan darah dari korban yang tidak bersalah.
Setelah malam pertemuan dengan wanita yang memohon bantuannya, ia tidak meminta penonton untuk masuk ke peti. Juga tidak meminta penonton meletakkan kepalanya di alat penggal. Melainkan ia sendiri yang jadi korban dan penonton yang mengeksekusinya.
"Malam ini saya akan mengurbankan diri sendiri. Tapi masalahnya saya butuh seorang algojo untuk lakukan eksekusi. Dan saya akan membuat undi."
Kartu-kartu dilempar ke udara. Dan satu kartu di tangkap dengan tongkat sulap. Lalu kartu itu diperlihatkan pada para penonton. Penonton yang sudah dibagikan kartu sejak awal masuk mulai memeriksa kartu mereka sendiri.
"Siapa yang memiliki kartu yang sama dengan saya boleh naik ke depan. Dia akan menjadi asisten saya pada malam hari ini."
Banyak orang hanya bisa tersenyum kecut, karena kartu mereka berbeda dengan kartu pesulap. Dan hanya ada tujuh orang yang memiliki kartu dengan gambar yang sama dengan pesulap. Mereka naik ke atas panggung setelah mereka dengan bangga memperlihatkan kartu mereka.
"Oh ternyata ada lebih dari satu. Tapi saya hanya butuh satu. Dan untuk itu harus diadakan undi. Aku akan memilih satu penonton. Untuk mengambil satu bola dari bola-bola yang memiliki angka dengan menutup mata. Kartu siapa yang memiliki angka yang sama dengan bola yang dia ambil, dialah algojonya malam ini!"
Secara acak penonton dipilih yang duduk di area paling depan. Dengan penuh semangat penonton yang dipilih maju ke depan. Penonton lain bertepuk tangan. Mata penonton yang terpilih ditutup dengan kain hitam setelah perkenalan terlebih dahulu. Sebagai bukti kalau ia bukan bagian anggota sulap.
"Baiklah mari kita lihat angkanya," ujar pesulap saat bola itu diserahkan padanya.
"Nomor 7. Baik yang memiliki angka tujuh di kartunya, silahkan maju ke depan!" ujar pesulap.
Pemilik kartu dengan bangga mengangkat tangannya dan melambai-lambaikan kartu miliknya. Penonton yang memilih bola akhirnya turun setelah kain penutup matanya dilepas dan bersalaman dengan pesulap dan ketujuh orang penonton lainnya.
"Tuan algojo! Di atas panggung ini ada tiga alat eksekusi. Yang mana pilihan anda untuk mengakhiri hidup saya malam ini. Tapi... kalau boleh tolong pilih alat yang akan membunuh saya dengan cepat!" ujar pesulap sambil berkedip pada algojo dadakan itu.
Semua penonton tertawa. Lalu algojo dadakan memilih alat penggal kepala sebagai alat eksekusi pada malam itu. Pesulap bertepuk tangan.
"Anda pengertian sekali! Oh, setidaknya saya tidak merasa sakit cukup lama sampai ajal menjeput," kata pesulap terkekeh.
"Sebagai kata-kata terakhir saya. Mohon maaf jika saya telah melakukan kesalahan pada anda. Jika sulap kali ini gagal, itu bukan kesalahan algojo kita pada malam ini," ujar pesulap lagi membuat algojo dadakan tersenyum.
__ADS_1
Penonton kembali tertawa. Dan pesulap bersiap-siap memberikan pengarahan pada algojo dadakan dan juga asistennya. Meminta salah satu penonton lain yang ada di panggung untuk membungkus kepalanya dengan kain hitam. Lalu pesulap meletakkan kepalanya di alat penggal.
Penonton berhenti tertawa dan mulai fokus pada setiap gerakan yang terjadi di atas panggung. Algojo melakukan seperti yang sudah di arahkan padanya. Pisau besar yang tajam dilepaskan dan seketika kepala si pesulap putus dan mengelinding.
Penonton histeris. Tapi tidak algojo itu. Pada detik-detik terakhir. Algojo dan pesulap berpindah posisi. Sehingga bukan kepala pesulap yang terpenggal melainkan kepala si algojo. Dan tetap saja yang meninggal adalah penonton tersebut.
Putri penunggu danau muncul di hadapan pesulap dengan tatapan tajam, penuh amarah.
"Jangan pernah mencoba melakukan tindakan bunuh diri lagi dengan menggantikan posisi korban pilihanku!" ujar roh Putri penunggu danau yang hanya bisa dilihat dan di dengar oleh si pesulap.
Pesulap hanya bisa pasrah melanjutkan pertunjukan.
Penonton yang tersisa melakukan apa yang sudah diperintahkan sebelumnya oleh pesulap untuk mengeluarkan kepala yang terpenggal dari kain hitam pembungkus. Mereka sangat terkejut melihat kalau kepala si pesulap benar-benar telah terlepas dari tubuhnya. Hampir saja kepala itu terlepas dari tangannya. Penonton bergidik ngeri.
"Astaga bagaimana ini?" komentar para penonton berbisik-bisik.
Asisten pesulap menangkat tubuh pesulap dan mengambil kepala itu dari tangan penonton yang gemetaran. Lalu asisten lain memberikan sebaskom air agar penonton itu mencuci tangannya yang berlumuran darah. Asisten lainnya meletakan tubuh pesulap di lantai dan menutupnya dengan kain hitam.
Dan saat kain hitam itu menjadi rata maka kain itu di tarik ke atas lalu di kibaskan. Tubuh yang terpenggal itu hilang. Penonton masih bertanya-tanya di mana si pesulap. Hingga alhirnya muncul suara.
"Selamat malam para hadirin. Mohon maaf. Jiwaku tidak bisa aku perlihatkan pada kalian. Pertunjukan hari ini sudah selesai!"
Asisten pesulap mengarahkan semua orang yang ada di atas panggung untuk bertepuk tangan. Dan hal itu diikuti oleh penonton yang lain. Lalu penonton diatas panggung disuruh turun. Algojo yang merupakan pesulap itu sendiri ikut turun. Dan kembali ke kursi. Pesulap disambut oleh teman-teman yang menjadi algojo pada malam itu.
Sebab teman-teman algojo melihat pesulap sebagai teman mereka. Dan menanyakan banyak hal tentang kejadian yang ada di atas panggung. Dan dijawab dengan senyuman saja oleh pesulap yang tampak seperti algojo dadakan.
"Ah, tidak seru. Kamu main rahasia-rahasian. Padahal kami sudah sangat penasaran, seperti apa trik pesulap itu," ujar salah satu sahabat si algojo dadakan.
"Sudahlah kita tidak akan dapat jawabannya. Ayo kita pulang saja."
Akhirnya mereka pulang tapi. Mereka tidak menyadari kalau pesulap yang tampak sebagai teman mereka tidak ikut pulang bersama. Dia kembali masuk ke dalam gedung teater dan menuju kamar khusus milik si pesulap. Lalu menangis.
__ADS_1
Bersambung...