
Tanpa ia sadari OB masuk dari pintu belakang dengan merusak pintu. Dia mencari Shasa dan saat melihat Shasa tertidur di sofa dia menikmati sekilas pemandangan tersebut. Dengan tersenyum lebar ia lalu meraih rambut Shasa dan menciumnya. Meresa ada yang menyentuhnya Shasa terbagun.
Matanya membelalak dan tanpa sadar kakinya menendan perut si OB.
"Tolong...!" teriak Shasa dan mencoba melarikan diri.
Tapi si OB berhasil menangkap tangannya. Shasa menjerit lagi. Tapi mulutnya di bekap oleh si OB dengan tangan kanan. Shasa ketakutan dan meronta.
"Jangan takut sayang, aku cuma kangen." kata si OB membuat bulu kuduk Shasa merinding.
Perlahan si OB melepas rangkulannya dan juga tangannya yang menutup mulut Shasa. Tapi ketika melihat gerak-gerik Shasa hendak berteriak ia pun membekap mulut Shasa semakin kuat.
"Jangan, jangan teriak, tenang...nanti orang lain bisa bangun." ucap OB.
Shasa mencoba mengikuti permintaan si OB. Berpura-pura menurutinya dengan mengangguk. Lalu ia pun di lepaskan.
"Aku menaruh seikat bunga mawar di depan pintumu. Tapi karena kau tidak tau pengirimnya, kau jadi membuangnya. Jadi aku datang untuk memberitahumu kalau bunga itu pemberianku." katanya.
Shasa dengan napas yang dalam masih mencoba tenang sambil sesekali mencuri pandang mencari senjata. Namun sayangnya tidak ada benda yang dapat ia jadikan senjata.
"Shasa yang cantik, aku ingin mengutarakan isi hatiku secara langsung malam ini juga. Maukah kau jadi istriku?"
Shasa bergidik lagi, ia bingung menjawab pertanyaan tersebut. Ia akan menjawab tanpa berpikir, jika itu dilontarkan oleh Dion. Tapi ini lain. Shasa bahkan mengutuk perbuatannya sendiri.
Ia berpikir sejenak, dan teringat kata-kata paranormal yang memberinya mantra untuk membuat 'air' khusus tersebut.
"Setiap pria yang meminumnya akan jadi budakmu, mereka semua akan bertekuk lutut di kakimu."
Shasa mencoba membuktikan perkataan paranormal itu. Ia mengatur napasnya terlebih dahulu. Lalu memberi perintah pada si OB.
__ADS_1
"Ini sudah malam, pulanglah," katanya perlahan.
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku sayang," kata OB.
"Aku akan menjawabnya nanti, tapi tidak sekarang. Kau harus membuktikan ketulusanmu dulu." elak Shasa.
"Jadi apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan cintaku padamu?"
"Kau harus mematuhi semua ucapanku. Jadi sekarang...cepat pulang, atau aku tidak akan mau melihatmu lagi." kata Shasa.
Dengan wajah menunduk akhirnya si OB pun mengangguk. Dia akhirnya menuruti perkataan Shasa. Setelah ia pergi dari pintu belakang, dengan cepat Shasa mengganjal pintu itu dengan kursi-kursi dan barang-barang lainnya.
Setelah itu ia merasakan kakinya lemas seketika, dan ia pun duduk di lantai. Cukup lama ia menenangkan diri dan akhirnya bisa berdiri dan mengambil segelas air putih. Lalu mencari ponselnya dan menelepon paranormal.
"Beritahu aku cara membatalkan 'air' tersebut," kata Shasa.
Tanpa basa-basi langsung saja Shasa berbicara ke pokok permasalahannya. Tapi paranormal itu bilang kau jampi-jampi itu tidak bisa dibatalkan.
Paranormal itu hanya menyuruh Shasa untuk menikmati hasilnya. Tapi Shasa masih belum paham. Akhirnya setelah perbincangan yang cukup lama, barulah Shasa tersenyum lega.
"Kau sudah faham sekarang?"
"Ya, aku sangat faham," jawab Shasa dengan senyum liciknya.
Setelah sambungan telephon terputus Shasa menggunakan waktu yang tersisa untuk tidur. Saat alaram berbunyi ia pun bangun dan bergegas mempersiapkan diri pergi ke kantor.
Sambil berdandan ia tersenyum membayangkan jika rencananya berhasil. Lalu ia menyusun peralatan yang ia butuhkan kedalam tas. Tidak lupa ia memasukkan botol kecil yang sudah ia isi ulang dengan 'air' saat di kamar mandi tadi.
Dengan pelan-pelan dan hati-hati ia menyelipkan botol kecil tersebut agar tidak pecah dan tidak tumpah isinya. Maka berangkatlah dia.
__ADS_1
Di kantor Dion sudah mulai memeriksa lembaran kertas-kertas yang menumpuk di hadapannya. Shasa datang dengan penuh senyuman. Di tangannya ada segelas kopi yang tidak di pesan oleh Dion.
Gelas itu di letakkan di atas meja dan saat Dion bermaksud memindahkannya gelas itu pecah. Dion menatap gelas itu dan merasa aneh. Shasa yang ada di situ terdiam. Pandangan Dion padanya membuatnya merasa tidak tenang.
"Maaf pak, sepertinya saya kurang memperhatikan gelasnya." ucap Shasa gugup.
Bukankah agak mencurigakan kalau akhir-akhir ini banyak gelas pecah hanya karena disentuh oleh Dion. Dion hanya diam sejenak dengan keanehan yang akhir-akhir ini terjadi.
"Biasanya jika gelas pecah akan ada seseorang yang kita sayang mendapat musibah." ujar Shada kemudian.
"Benarkah?" tanya Dion. Sekilas ia terbayang wajah istrinya yang belum tau di mana rimbanya.
"Itu kata nenek saya, tapi itu cuma mitos kok." kata Shasa.
Dion memandang Shasa, dia berharap yang dikatakan Shasa benar tapi juga berharap itu salah. Jika benar orang yang ia sayang mendapat musibah, itu artinya masih ada kemungkinan istrinya selamat. Karena satu-satunya yang ia sayang sampai saat ini hanyalah istrinya seorang.
Tapi Dion juga berharap mitos itu salah, karena biar bagaimana pun Dion tidak mau istrinya terkena musibah.
Shasa yang melihat Dion melamun memanfaatkan saat itu untuk kabur. Tapi dicegah oleh Dion. Dion berpesan padanya agar menyuruh kepala bagian OB mengganti semua gelas-gelas lama dengan gelas yang baru. Shasa mengangguk lalu pergi.
Di ruangannya Shasa bernapas lega, karena ia tidak jadi dicurigai. Tanpa ia sadari si OB memperhatikannya dengan rasa cemburu. Si OB cemburu saat Shasa berbicara dengan pria lain meski itu adalah atasannya.
Saat Shasa pergi ke ruang dapur dan menyuruh agar gelas-gelas lama diganti dengan gelas baru, tentu saja mereka keheranan. Tidak pernah ada hal seperti itu sebelumnya. Tapi karena sudah diperintahkan, mereka pun melakukannya.
Tampak para OB membuang gelas-gelas yang masih bagus dan mengangkat kotak-kotak gelas yang baru ke dapur. Para pegawai yang lain tidak mengambil pusing akan hal itu. Meski mereka merasa agak janggal. Mereka hanya bertanya sekilas namun tidak memperpanjang masalah tersebut.
Sementara di kantornya Dion sudah mendapat segelas kopi baru. Dion mencoba menggeser gelas tersebut sepelan mungkin. Takut gelas itu pecah dan membasahi meja lalu membasahi berkas yang ada. Tapi ternyata yang ia takuti tidak terjadi. Dan sampai uap kopi itu menghilang gelas itu tetap utuh disentuh oleh Dion.
Dion merasa ada yang janggal, namun ia tidak tau apa itu. Tapi karena gelas itu tidak pecah maka ia pun meminumnya. Shasa yang memperhatikan mulai mengerti perbedaan yang terjadi. Setiap gelas yang ia isi dengan 'air' dan jika disentuh oleh Dion pasti akan pecah. Sementara yang tidak di isi dengan 'air' tidak akan pecah.
__ADS_1
"Lalu apa keistimewaan Dion, kenapa OB itu bisa meminum kopi yang aku buat tanpa memecahkan gelasnya?" pikir Shasa dalam hati.
Bersambung...