
Esperanza tampak menimang-nimang masalah itu. Dan malamnya membicarakan hal tersebut.
"Kamu yakin sayang?" tanya mama Esperanza.
"Bagaimana dengan beasiswamu?" tanya papa Esperanza.
"Aku rasa, aku lebih baik buka toko obat saja, aku tidak mau lagi berpisah dengan kalian," tutur Esperanza.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan bicarakan hal ini pada tuan Te Apoyo dulu," kata mama Esperanza kemudian.
Tapi malam itu Te Apoyo tidak pulang. Ia mendapat panggilan mendadak ke dari negaranya. Yang kebetulan memang sangat membutuhkan banyak tenaga medis.
"Dokter, apakah anda sudah bisa datang?" tanya seseorang di seberang panggilan.
"Putra saya belum sembuh total," ujar Te Apoyo mencoba menolak. Tapi kemudian entah kenapa ia jadi berpikir ulang.
"Nanti akan saya bicarakan dengan istri saya."
Saat menghubungi istrinya, Primavera menyetujui hal tersebut. Dan akhirnya Te Apoyo pergi atas izin istri tercinta. Ketika Esperanza menanyakan soal Te Apoyo, barulah seluruh penghuni di sana mengetahuinya.
"Maaf tidak memberitahu sebelumnya. Suamiku pergi dengan tergesa-gesa," kata Primavera pada Esperanza
"Tidak apa-apa nyonya," jawab gadis itu.
"Permisi," katanya lagi dan undur diri.
Gris menghela napas. Terbersit dibenaknya kalau Te Apoyo sengaja.
"Ada perlu apa kamu sampai mencari papaku?" tanya Nicorazón saat melihat Esperanza sendirian di ruang tamu.
"Bukan apa-apa," jawab Esperanza memalingkan muka.
"Kalau bukan apa-apa kenapa harus mencari papaku?"
"Kami cuma mau pamitan," jawab Gris yang tiba-tiba muncul.
"Pamitan? Apa maksudmu?"
"Ya. Kami ingin kembali ke negri kami sendiri," jawab Gris.
"Kenapa, kenapa harus kembali? Bukankan Esperanza mendapat beasiswa?" selidik Nicorazón.
"Aku ingin melepas beasiswaku," jawab Esperanza.
Nicorazón tersentak. Jika dulu ia mendengar hal ini dia pasti akan merasa senang. Tapi saat kini ia malah jadi cemas. Rasa takut kehilangan tiba-tiba mengganggunya.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa seenaknya membatalkan beasiswa. Bukankah kamu sudah tanda tangan. Apa kamu bisa ganti rugi?" tiba-tiba Nicorazón mengatakan hal yang akan ia sesali.
"Apa maksudmu? Kamu mau menekannya dengan hal seperti itu? Aku yang akan bayar ganti ruginya!" tegas Gris.
Nicorazón tercengang. Esperanza diam beberapa saat lalu menjawab.
"Aku akan membayar jika memang harus ganti rugi. Dan pasti akan kubayar meskipun harus menyicilnya seumur hidupku," jawab Esperanza.
"Apa kamu mau pergi karena membenciku? Aku tidak akan mengganggumu. Jadi jangan pergi."
"Itu tidak ada urusannya denganmu," jawab Esperanza.
Gina yang mendengar langsung datang. Dan mencoba ikut bicara.
"Esperanza, apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Apa kamu yakin pergi begitu saja? Bagaimana cara kalian pulang? Memangnya kalian punya ongkos?" tanya Gina bertubi-tubi untuk menggoyahkan pikiran Esperanza.
Lalu ia berdiri di hadapan Gris dan berkacak pinggang.
"Pasti kamu, kan? Kenapa kamu mau menghancurkan masa depan Esperanza?" tanya Gina pada Gris.
"Nyonya, anda jangan salah paham," kata Esperanza berdiri lalu memposisikan diri di antara Gina dan Gris.
"Tidak mungkin, Esperanza kamu tidak mungkin melakukan itu. Ini pasti karena dia," debat Gina mununjuk Gris. Ia tersulut emosi.
"Nenek jangan seperti itu," tutur Nicorazón.
Gina cemberut lalu ia pergi sambil menahan air matanya. Ia merasa tidak berdaya dan Nicorazón membuntutinya dari dari belakang. Setelah menoleh satu kali ke arah Esperanza.
Primavera menghampiri Esperanza dan Gris lalu menyuruh mereka berdua duduk.
"Tante sudah dengar, tapi apa benar kalian mau kembali ke negara kalian?" Esperanza dan Gris mengangguk bersamaan.
Primavera menghela napasnya dalam-dalam.
"Baiklah kalau memang begitu. Tapi tante harus menghubungi suami tante dulu ya. Sebentar."
Primavera mencoba menghubungi nomor Te Apoyo. Tapi tidak ada sambungan. Ia mencoba berkali-kali tapi gagal.
"Nyonya, tidak bisakah kami meminta izin lewat anda saja. Jika ada hal yang harus digan__" ucapan Esperanza langsung dipotong oleh Primavera.
"Tidak, tidak akan ada masalah ganti rugi. Hanya saja, bisakah kalian pergi setelah suamiku kembali. Bersabarlah. Kalian tidak perlu ganti rugi. Aku janji, biaya pulang kalian akan kami tanggung," kata Primavera dengan lembut.
Malamnya orang tua Esperanza menemui Gris dan mengajaknya untuk bicara.
"Gris, Om dan Tante tahu jika kamu mencintai Esperanza. Begitu juga sebaliknya. Tapi kita juga tahu mereka adalah keluarga Esperanza. Kita tidak bisa memisahkan mereka," kata papa Esperanza.
__ADS_1
"Om, itu dulu. Sudah lewat. Saat ini, kitalah keluarga Esperanza. Dia tidak akan bahagia jika tinggal di sini terus. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Dan akan menjaganya seumur hidupku," ucap Gris menanggapi papa Esperanza.
Setelah pembicaraan malam itu mereka sepakat untuk pergi ke esokan harinya.
"Baiklah kalau kalian memang mau pergi. Aku akan pesankan tiket untuk kalian," ujar Primavera.
Tapi ternyata penerbangan belum dibuka. Karena sarana penerbangan rusak total.
"Sepertinya kalian harus menundanya dulu," ujar Primavera setelah menceritakan masalah tersebut.
Beberapa hari kemudian Te Apoyo pulang. Kembali Esperanza dan keluarga meminta izin untuk pulang saat mengetahui kalau penerbangan sudah mulai dibuka. Dengan berat hati Te Apoyo mengizinkan hal tersebut. Tapi mereka kehabisan tiket.
"Bukankah anda punya pesawat pribadi?" tanya Gris pada Te Apoyo.
Mencoba memecahkan masalah alat transportasi.
"Ya, tapi aku menyumbangkannya untuk mengantar pasokan makanan dan obat-obatan. Di daerah rawan jika dilewati lewat jalur darat. Apa aku harus meminta mereka mengembalikan pesawat itu untuk mengantar kalian pulang?"
Esperanza tampak bingung. Ia tidak mungkin meminta hal itu. Nyawa seseorang lebih penting dari pada sekedar pulang ke tempat kelahiran.
"Kalau begitu kami naik kapal laut saja," ujar Gris lagi bernegosiasi.
"Baik akan kita pikirkan lewat jalur itu nanti. Kalau sudah selesai, boleh saya bekerja dulu?" tanya Te Apoyo.
"Baiklah kami permisi dulu," ujar Esperanza.
Baru saja Esperanza berbalik Te Apoyo memanggilnya lagi.
"Esperanza, apa sudah pernah menonton film seorang anak laki-laki membuat orang-orang yang mendekati pacarnya terluka parah. Jika belum, maka saat menonton film ini, kamu harus berhati-hati dan jangan sampai mimpi buruk," saran Te Apoyo.
Esperanza tidak mengerti arti ucapan Te Apoyo. Tapi Gris merasa kalau itu adalah sebuah ancaman. Dengan tersenyum Te Apoyo mempersilahkan mereka keluar dari ruang kerjanya.
"Brillo apa rekaman vidio itu sudah kamu kumpulkan?" tanya Te Apoyo.
"Iya, tentu saja sudah Om," jawab Brillo dari seberang panggillan.
Malam harinya dengan alasan mengajak Gris untuk diskusi. Te Apoyo memperlihatkan seluruh rekaman aksi kejahatan Gris.
"Jika Esperanza melihatnya? Apa dia masih mau bersamamu?" tanya Te Apoyo.
"Jadi, jangan coba-coba membawa Esperanza keluar dari rumah ini!" tegasnya.
"Apa anda yakin Esperanza percaya pada vidio rekaman tersebut?" tantang Gris.
Bersambung...
__ADS_1