
Pria itu menyentuh rambut putrinya dengan lembut. Ia tersenyum tapi tampak jelas terlukis kesedihan di wajahnya.
"Sepertinya, sebentar lagi ia akan siuman. Pergilah siapkan makanan untuknya." ujar si papa.
"Baik pa."
Si gadis kecil pergi ke dapur membantu seorang wanita yang tampak seusia papanya. Wanita itu tersenyum lalu menyerahkan semangkuk adonan.
Dan si papa memanggil putranya, untuk menemani anak yang tidur pulas di ranjang. Anak laki-laki itu menangguk. Hampir satu jam ia menunggui di sisi tempat tidur tanpa melakukan apa-apa. Dan ia hampir ketiduran.
"ARRGGGHHH!"
Suara teriakan membuatnya terbangun. Ternyata anak yang terluka parah tersebut mengigau.
"Tolong...! Jangan bunuh, jangan bunuh aku!" isaknya.
Lalu ia terbangun dan terkejut melihat anak laki-laki yang tidak ia kenal berdiri di hadapannya.
"Kamu sudah bangun," sapanya lembut.
Melihat di kamar itu hanya ada anak laki-laki. Anak di atas ranjang mulai mengatur napasnya yang tadi seperti dikejar anjing karena ketahuan mencuri di rumah majikannya.
"Aku akan memanggil papaku," ujar anak yang berdiri di sisi ranjang.
"Papa... dia sudah bangun!"
Yang dipanggil menoleh. Dan mendatangi kamar tempat anak yang terluka. Anak itu ketakutan. Berbeda saat ia hanya melihat anak sebayanya.
"Jangan takut. Di sini kamu aman," ujar orang tua itu dengan lembut.
"Siapa kalian? Mengapa aku ada di sini?" tanya anak itu gusar.
"Namaku Natan dan ini putraku Cresen." ucap pria itu membungkuk sedikit tanda hormat. Lalu ia juga menekan kepala putranya agar ikut membukkuk.
Lalu mimpi itu berputar lebih cepat. Anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan hubungan mereka sangat baik.
"Cresen tiga bulan lagi ulang tahunku yang ke-17. Aku mengundang kalian sekeluarga."
"Pasti meriah sekali ya. Aku dan adikku akan minta ijin papa untuk datang." jawab Cresen.
Dan mimpi bergerak lagi ke tempat yang berbeda. Tampak dua orang pria berada di tepi sungai di tengah taman.
"Cresen, sepertinya aku benar-benar menyukai adikmu. Sebagai sahabatmu, aku ingin bertanya pendapatmu. Bagaimana jika aku melamarnya di hari pernikahanku?"
__ADS_1
Cresen memperlihatkan wajah terkejut. Ia tiba-tiba gugup dan pucat.
"Tidak, itu tidak boleh terjadi. Anda sebaiknya mencari gadis yang lebih baik." ujar Cresen tiba-tiba.
"Apa maksudmu? Bukankah kamu seharusnya senang. Sahabat baikmu akan jadi iparmu. Dan kita bisa jadi satu keluarga."
"Tapi itu tidak boleh, anda boleh menikahi siapa pun ke,"
"Cukup, aku tidak mau mendengar jawaban itu. Aku sudah memutuskan akan melamar Cresentia." ucapnya tersenyum.
Situasi di dalam mimpi berubah kembali.
"Ayo cepat, susun semuanya. Kita harus pergi sebelum keluarga kerajaan tiba," ujar Natan gugup.
Seluruh anggota keluarga pergi diam-diam pada malam hari. Dan di pagi hari, rumahnya sudah sepi.
"ARRGGHH Cresen apa yang kalian lakukan. Kenapa kalian pergi? Apa salahku!"
Barang-barang berharga di hancurkan. Pelayan ketakutan.
"Tenangkan dirimu pangeran. Untuk apa mencari gadis anak seorang tabib. Sementara gadis dari seluruh kota mengantri menjadi pendampingmu." ujar seorang wanita berpakaian mewah.
Suasa berubah lagi untuk ke sekian kalinya. Sekelompok pemuda berandalan menggoda Cresentia. Dan Cresen menghajar mereka. Lalu mereka terlibat perkelahian.
"Tuan hentikan. Tidakkah tuan sadar usia tuan tidak lama lagi. Seharusnya tuan tidak berbuat jahat di hari-hari terakhir tuan," ujar Cresentia.
"Usiamu bahkah tidak sampai matahari tenggelam!" ujar Cresentia kesal.
"Kalau memang demikian, aku akan membawa keluargaku untuk melamarmu, hahahaha.."
"Ayo kita pulang!" ujarnya pemuda itu pada kelompoknya.
"Kakak ipar suruh bibi mendandani calon istriku secantik mungkin. Karena malam ini kami akan resmi sebagai suami istri!" ujar pemuda itu pada Cresen sambil membelakanginya, tapi kepalanya menghadap kebelakan.
"Ahk sakit sekali pukulannya, kalau adiknya sudah kumiliki, akan kupisahkan lehernya itu dari raganya." batin pemuda brandalan itu.
Mimpi berubah lagi. Rumah Cresen dan Cresentia dilempari batu. Anak kepala desa meninggal dunia. Teman-temannya mengatakan kalau ia dikutuk oleh Cresentia.
"Penyihir pergi dari desa kami!" teriak orang-orang.
Saat itu rombongan berkuda melewati tempat itu. Salah satu penunggang kuda turun. Setelah keributan tiba-tiba reda. Ia mengenali keluarga Cresen dengan baik. Lalu membawa keluarga itu ke kediamannya.
"Kalau aku tidak sengaja lewat. Mungkin kalian sudah tiada," ujarnya sedih.
__ADS_1
"Kenapa kalian pergi diam-diam?" lanjutnya.
Keluarga Natan membungkuk tidak berani menatapnya. Lalu ia menyuruh pelayan untuk melayani keluarga Natan.
Suasana berubah lagi. Di sebuah ruangan yang megah para ketua berkumpul membicarakan perjodohan. Beberapa putri tampil menunjukkan kebolehannya dalam seni dan sastra. Tapi seorang pemuda yang menjadi alasan mereka berkumpul tidak tertarik sama sekali. Tanpa segan ia menguap dengan lebar.
Suasana dan lokasi berubah lagi.
"Cresentia, aku benar-benar mencintaimu. Cintaku tulus dari sejak awal kita bertemu. Aku mohon terimalah lamaranku di hari ulang tahunku. Aku punya kesempatan meminta apa pun yang kuinginkan di hari ulang tahunku. Jika itu kau. Raja dan Ratu pasti tidak keberatan."
"Maafkan saya yang mulia, tapi saya tidak bisa. Keluargaku memiliki peraturan. Setiap gadis yang memiliki kelebihan sepertiku tidak boleh menikah,"
"Omong kosong! Apa kau menyukai pria lain?"
"Tidak, ini bukan karena hal itu tapi,"
"Cukup!" pemuda itu pergi.
Suasana berubah lagi. Terdengar isak tangis. Cresentia tidak henti-hentinya memohon agar keluarganya di lepaskan. Mereka kini diikat di sebuah tiang dengan rantai besi.
"Menikahlah denganku, agar aku menyelamatkan keluargamu dari fitnah," ujar pemuda itu dengan lembut.
"Apakah itu yang anda maksud dengan cinta?" ujar Cresentia.
Pemuda itu kesal lalu meninggalkan Cresentia. Keluarga Cresentia dihukum atas tuduhan sebagai keluarga penyihir dan pengguna ilmu hitam dan keberadaannya akan menyebabkan kehancuran atas kerajaan tersebut.
Pemuda itu mencari seorang gadis untuk menjadi pengganti Cresentia. Gadis itu menangis dan ketakutan. Ia di dandani seperti Cresentia dan pakaian yang ia pakai adalah pakaian Cresentia. Tujuannya untuk menyelamatkan Cresentia dan rakyat percaya kalau keluarga penyihir sudah dihukum semuanya.
Tapi sebelum gadis itu dibawa kelapangan untuk mendapat hukuman. Seorang putri membawa pengawal membuka kamar Cresentia. Lalu mereka menutup mulutnya. Dan membawa Cresentia kelapangan. Dan mengikatnya di tiang seperti anggota keluarganya yang lain. Gadis yang akan menggantikan posisi Cresentia dilepaskan.
Suasana berganti kembali. Pemuda itu mengurung diri dikamarnya. Dia tidak tertarik melihat orang-orang yang melempari keluarga Natan sambil sesekali mengumpat. Beberapa prajurit menghentikan tindakan pelemparan itu agar mereka yang diikat masih bernyawa saat api dinyalakan.
Malam pun tiba acara pesta ulang tahun dimulai. Ikatan mulut keluarga Natan dilepaskan. Mereka diijinkan untuk mengucapkan kata-kata terakhir sebelum api dinyalakan.
"Putraku hari ulang tahunmu telah tiba, katakan satu permintaan terbesarmu." ujar pria berkarisma duduk di singgasana yang megah.
"Aku hanya ingin keluarga penyihir yang membuat resah segera dimusnahkan!"
Para undangan bertepuk tangan. Para prajurit bersiap dengan obornya.
"Berikan perintah dan mereka akan segera melakukannya." ujar pria yang duduk di singgasana.
"Eksekusi para penyihir itu sekarang!" teriaknya dengan lantang memberi perintah.
__ADS_1
Api pun dinyalakan.
Bersambung...