Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Sepatu Baru


__ADS_3

Mendengar kata-kata perintah Te Apoyo sedikit dongkol. Tapi kemudian dia mencoba memakluminya. Dan melakukan seperti yang nenek itu pinta. Ditambah lagi kelihatannya nenek tersebut tinggal sendirian. Jadi ia merasa iba dan prihatin.


Di hari saptu ia pulang ke rumah kakeknya. Dan untuk itu ia meminta orang tuanya untuk mengantarkan makanan ke rumah si nenek. Dan ia baru pulang kembali di hari minggu malam.


Karena sudah terbiasa dibawakan makanan oleh Te Apoyo, si nenek mau tidak mau jadi kepikiran saat melihat seorang wanita datang mengantar makanan ke rumahnya.


"Kamu siapa?" tanya nenek.


"Aku mama anak yang sering mengantarkan makanan untuk nenek. Putraku bilang kalau nenek suka. Jadi aku membawanya hari ini."


"Lalu kenapa bukan dia yang mengantarnya? Apakah dia sakit?" tanya nenek cemas.


"Oh tidak, dia baik-baik saja."


Selama dua hari tidak bertemu si nenek merasa ada sesuatu yang hilang. Ia melamun di atas tempat tidurnya. Teringat akan putranya di kota. Mereka sudah lama tidak mengirimkan kabar. Padahal selama ini mereka selalu memperlihatkan kalau mereka sangat sukses.


"Tapi kenapa mereka tidak pernah menjengukku sekali saja." batinnya pilu. Tanpa sadar air matanya mengalir.


Di hari senin ia melihat kalau Te Apoyo datang lagi. Seperti biasa membawa makanan untuknya. Entah kenapa ia jadi tidak enak hati. Membandingkan putranya yang bahkan tidak pernah memberi kabar lagi, dengan Te Apoyo yang mengantarkan makanan padanya setiap hari.


"Besok tidak usah usah mengantar makanan lagi. Kakiku sudah sembuh. Aku sudah bisa cari makan sendiri." ujar nenek itu dengan nada ketus.


"Kenapa? Apa nenek tidak suka masakannya?"


"Aku bilang tidak usah ya tidak usah." jawab si nenek.


Te Apoyo diam saja. Tapi ke esokan harinya ia tetap membawa makanan lagi ke tempat nenek. Saat itu pintu sedang ditutup. Ternyata nenek sedang di luar. Te Apoyo menunggu sampai si nenek pulang.


"Ini titipan dari mama, aku sudah bilang kalau nenek melarangku membawa makanan lagi. Tapi mamaku memaksa," tutur Te Apoyo berbohong.

__ADS_1


"Ya sudah, tinggalkan saja di situ." ujar si nenek.


Begitu Te Apoyo pergi dengan lahap ia menyantapnya. Ia sangat lapar sebab seharian ia memulung. Tapi hasilnya sangat sedikit.


Ke esokan harinya si nenek menunggu di rumah. Ia pulang lebih cepat. Saat Te Apoyo pergi setelah mengantarkan makanan untuknya. Diam-diam ia mengikuti Te Apoyo sampai ke rumahnya.


"Aku kira ia sangat kaya, tapi ternyata ia hanya hidup pas-pasan." gumam nenek lalu pulang dengan kecewa.


Ia jadi semakin tidak enak hati, menerima makanan gratisan tersebut. Maka ke esokan harinya di pagi hari. Saat Te Apoyo pergi ke sekolah, ia mendatangi rumahnya. Lalu meminta maaf pada mama Te Apoyo.


"Nenek tidak perlu sungkan, makanan kami tidak kurang kurang. Jadi tidak ada salahnya kalau kami berbagi pada nenekkan?"


"Dari pada membuang-buang uang untuk menambah masakan lalu membaginya untukku. Lebih baik uangnya kalian tabung di hari tua kalian. Jika suatu saat putra kalian tidak mengingat kalian yang kelaparan, kalian masih punya uang untuk memperkerjakan pelayan." ujar nenek tampak sedih.


Nenek menolak dengan cara halus makanan yang diberikan Te Apoyo. Tapi Te Apoyo tidak memperdulikannya. Sambil menunggu nenek makan ia mencoba merapikan barang-barang di rumah nenek.


"Hey anak muda, aku sudah lelah memilahnya. Tapi kau malah menyatukannya lagi. Kau mau membunuhku?!" ujar si nenek saat rumahnya jadi lebih rapi.


Lalu ia mengeluarkan lagi barang-barang tersebut dan memilahnya. Te Apoyo bengong.


"Apa yang kau lihat?" tanya nenek.


"Apa yang nenek lakukan?"


"Tentu saja memilahnya, lalu apa lagi?" ucap nenek. Te Apoyo memperhatikan sekilas tingkah nenek lalu ia pulang tanpa protes.


Beberapa hari kemudian Te Apoyo bahkan mulai ikut membantu nenek mengumpulkan barang bekas. Hal itu membuat nenek makin tidak enak hati. Tapi melihat Te Apoyo membantunya dengan senang hati. Jadi ia biarkan saja.


Dan di hari berikutnya Te Apoyo melihat bayangan hitam di balik punggung nenek. Dan wajah nenek menjadi suram. Ia tidak lagi bersemangat saat melihat tumpukan barang bekas. Seolah ia sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Te Apoyo menyadari kalau usia nenek tidak lama lagi. Ia berusaha menolong nenek untuk memperpanjang usianya. Dia mengajak nenek tinggal di rumahnya. Namun nenek menolak.


Karena kuatir pada nenek. Te Apoyo memutuskan menginap di rumah nenek. Tentu saja nenek keberatan. Rumahnya yang sempit dan berantakan, membuatnya merasa tidak layak menerima seorang tamu.


"Kau sudah besar. Apa kata orang-orang nanti jika melihatmu malam-malam di rumahku. Jangan-jangan kau ini anak yang punya kelainan. Apa kau menyukaiku? Hah? Astaga."


Te Apoyo hanya menarik napas dalam-dalam. Karena ia ditolak untuk menginap di rumah nenek tersebut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada nenek jika sendirian. Tapi ia juga tidak mau memaksa nenek.


Ke esokan harinya nenek tidak ada di rumah. Pintunya terkunci rapat. Tapi ia senang saat melihat Te Apoyo berada di depan rumahnya. Ia baru saja menjual barang yang ia kumpulkan bersama Te Apoyo dan uangnya cukup lumayan menurutnya.


"Kebetulan kau datang. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat." ujarnya senang. Ia mengajak Te Apoyo ke sebuah toko sepatu.


"Pilihlah sepatu yang kau suka." ucapnya.


Te Apoyo cuma diam. Lalu si nenek mengambil sebuah sepatu yang menurutnya bagus. Lalu menyuruh Te Apoyo untuk mencobanya.


"Ayo pakailah!"


Te Apoyo memandang penjual sepatu tersebut. Ia tampak memperhatikan mereka dengan wajah meremehkan. Tapi si nenek tidak memperhatikan pandangan sekitarnya. Ia merasa kalau sudah berpakaian bersih dan rapi. Jadi ia merasa tidak ada yang perlu di kuatirkan.


"Cocok sekali," ujar nenek setelah Te Apoyo mencoba memakainya dengan hati-hati.


Dan ternyata si nenek membelikan sepatu itu untuknya. Sayangnya uangnya ternyata tidak cukup. Harga sepatu itu 3 kali lipat dari uang yang ia pegang. Dan dengan sedikit angkuh penjual itu mengambil sepatu tersebut dari tangan Te Apoyo.


Ingin sekali Te Apoyo membeli toko tersebut jika ia tidak sedang menutupi identitasnya. Nenek terlihat sangat malu saat penjual itu menghinanya.


"Kalau tidak ada uang, tidak usah datang ke toko ini. Cari saja di tong sampah perumahan elit. Siapa tau mereka sedang bongkar lemari dan ganti sepatu. Jadi kau bisa memberikan sepatu untuk cucumu itu!" ucapnya dengan suara yang keras agar terdengar para pengunjung toko.


Wajah nenek pucat pasi ia merasa sangat malu. Malu pada pemilik toko dan pengunjung lainnya. Tapi ia lebih malu lagi pada Te Apoyo. Karena uangnya tidak cukup untuk membelikannya sepatu yang bagus.

__ADS_1


"Tidak apa nek, sepatuku masih bagus kok. Aku tidak perlu sepatu baru." ujar Te Apoyo. Lalu Te Apoyo menarik tangan si nenek keluar dari toko tersebut.


Bersambung...


__ADS_2