
Mereka berlindung di kolong meja menunggu sampai keadaan aman. Kondisi beberapa orang sudah tidak kuat menghirup asap dan sudah ke kurangan cairan akibat rasa panas dan mereka batuk-batuk.
Beberapa orang yang masih kuat berusaha menggeser tiang panjang yang terbakar api dari atas meja yang dekat dengan jendela. Agar mereka bisa keluar. Tapi orang yang tertimpa tiang tepat di kepala harus menghembuskan nafas terakhir saat itu juga. Dan ada yang mengalami patah tulang akibat terkena hantaman tiang tersebut.
Ada yang justru terluka saat tiba-tiba melompat. untuk menghindari balok kayu yang jatuh terbakar. Ada yang terpijak dan ada yang tertimpa. Sehingga bertambahlah korban yang terluka dan korban yang kehilangan nyawa.
Pemadam kebakaran datang menolong. Satu persatu korban dievakuasi. Pintu besi berhasil dibuka tapi api belum juga padam. Saat pemadam menyemprotkan air, api yang berada di pintu depan mulai padam.
Tapi asap semakin pekat. Banyak yang sudah kesulitan bernapas merasa pusing dan mulai tidak fokus dan akhirnya jatuh pingsan. Bahkan beberapa sudah meregang nyawa karena penyakit asmanya kambuh. Meski sudah mencoba bertahan hidup cukup lama di tengah kepulan asap tebal.
Bahkan ada yang meninggal di perjalanan saat menuju rumah sakit. Ketika seluruh korban dilarikan ke rumah sakit, secara bergiliran. Kakek tua juga meninggal di perjalanan.
Manager dan mandor menyesal tidak bisa menghentikan niat kerja para pekerja dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Dion pun merasa sangat marah saat mendengar kabar kebakaran pabrik. Bukan marah karena kerugian akibat kebakaran. Tapi karena jatuhnya korban jiwa.
Secepatnya ia menuju lokasi, tapi saat tiba di lokasi, para korban telah di evakuasi. Ia hampir saja memukul manager pabrik ketika tiba di rumah sakit. Tapi melihat managernya tersebut terbaring lemah, ia pun menahan diri.
Ia ingin mendengar alasan kenapa pabrik beroperasi dan alasan karyawan bekerja di saat mereka diberi hari libur. Tapi melihat kondisi karyawan yang memprihatinkan, ia berpikir untuk memastikan yang masih selamat dan terluka mendapatkan perawatan yang baik.
Polisi pun mencari pelaku pembakaran pabrik dan pelaku pembunuhan pada seorang satpam. Diduga kuat pelakunya adalah karyawan di pabrik sepatu tersebut. Karena banyak bukti yang mengarahkan kalau pelaku sangat mengenal situasi.
__ADS_1
Ternyata banyak yang selamat pada hari ini tapi kemudian meninggal di hari berikutnya karena gangguan pernapasan. Ada juga yang karena lukanya cukup parah akibat tertimpa tiang-tiang yang runtuh dan belum sempat menghindar.
Sehingga selama beberapa hari Dion rutin melakukan kunjungan ke rumah sakit. Dan ikut ke acara pemakaman karyawan di pabrik sepatu tersebut.
Lalu muncullah rumor yang mengatakan kebakaran itu disengaja oleh pemilik pabrik tersebut untuk mendapatkan keuntungan dari pihak asuransi. Dan tentunya penyebar berita bohong adalah para retenir. Ia ingin agar orang yang tidak tahu kebenarannya menjelek-jelekkan pemilik pabrik tersebut. Tapi bagi yang tahu kebenarannya tentu tidak percaya. Dan mereka membantah hal tersebut.
Beberapa hari kemudian setelah peristiwa kebakaran di pabrik, pelaku pembakaran dan pembunuhan ditangkap dan dihukum dengan pasal pembunuhan berencana. Dan hal itu menjerat beberapa nama rentenir yang bekerjasama untuk membayar para pelaku kejahatan tersebut.
Sementara Te Apoyo menjadi lebih pendiam dan mengurung diri. Niat baiknya untuk menolong orang-orang justru jadi petaka. Ia jadi tidak percaya diri. Dion memutuskan untuk membawa Te Apoyo pulang setelah urusannya di kota kecil itu selesai.
Dan untuk kesekian kalinya akhirnya Te Apoyo dan Te Espere belajar dari rumah. Te Apoyo tidak mau belajar tentang dunia bisnis lagi. Karena ia merasa sudah gagal. Meski papanya dan papa Malika selalu menghiburnya.
Te Apoyo sudah menyatakan kalau ia menutup pabrik sepatu tersebut. Tapi Dion justru merasa terdorong untuk membangun kembali pabrik sepatu tersebut. Mengingat banyak orang yang membutuhkan pekerjaan. Sekaligus melihat apa yang akan terjadi. Apakah mantan pekerja di pabrik tersebut masih mau bekerja di sana.
Ditambah lagi ia ingin membantu para anggota keluarga yang menjadi korban kebakaran di pabrik tersebut. Belajar dari peristiwa kebakaran, Dion membuat bahan baku dan bahan jadi serta tempat bekerja para karywan berada di bangunan yang berbeda. Dan diberi kamera CCTV untuk lebih mudah mengawasi kelakuan yang mencurigakan dari pekerja yang berniat jahat.
Baru saja dibuka penerimaan karyawan, orang-orang kembali berbondong-bondong memasukkan surat lamaran kerja. Dan untuk karyawan yang sudah pernah bekerja di pabrik tersebut, Dion meminta manager dan mandor untuk menghubungi mereka. Bagi yang ingin bekerja kembali, akan langsung diterima tanpa surat lamaran kerja.
Dan ternyata bagi mereka yang merasa mampu untuk bekerja, dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bekerja kembali. Bagi mereka nasib buruk yang mereka terima adalah akibat kesalahan mereka sendiri.
__ADS_1
Mereka bahkan merasa bersalah karena telah membuat perusahaan sepatu tersebut mengeluarkan banyak uang untuk biaya pengobatan mereka. Dan mereka bertekat untuk bekerja lebih giat lagi. Untuk menebus kesalahan mereka.
Meski pabrik sepatu telah dibuka, Te Apoyo sudah tidak pernah melihat pabrik itu lagi. Ia tetap tidak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri. Ia juga tidak mau mengunjungi kota kecil itu lagi.
Dua tahun kemudian akhirnya Te Apoyo dan Te Espere pun menyelesaikan sekolahnya. Lalu mereka melanjutkan kuliah di bidang yang berbeda. Te Apoyo mengambil jurusan kedokteran. Dan Te Espere mengambil jurusan yang berguna untuk perusahaan papanya.
Dan saat itu Nicholas sudah lulus kuliah dan menjadi pengusaha sekaligus seorang dosen, di tempat Te Espere kuliah. Jadi mereka pun sering bertemu dan hal itu membuat Te Espere harus berusaha keras untuk tidak memiliki perasaan pada Nicholas yang bersikap sangat perhatian padanya.
"Te Espere hari ini kita pulang bersama ya," ujar Nicholas suatu hari.
"Maaf kak Nicholas, memangnya ada keperluan apa?" tanya Te Espere yang berusaha menolak.
"Mama mau mengajakmu untuk makan malam," jawab Nicholas dengan tersenyum lebar.
Te Espere ingin sekali menolaknya, tapi karena merasa tidak enak pada mama Nicholas, akhirnya ia pun menerima ajakan tersebut. Saat jam pulang tiba ia pun di jemput oleh Nicholas. Lalu mereka bersama-sama berangkat ke rumah Nicholas.
Baru saja ia duduk di mobil, ponselnya berbunyi. Ternyata Gina menghubunginya, hanya untuk memastikan kalau Te Espere jadi datang untuk makan malam.
Tapi di kejauhan mereka tidak menyadari sepasang mata yang sudah mengawasi mereka sejak lama, memandang dengan geram pada mereka. Ia mengertakkan giginya dan mengepalkan tanganya sambil menahan emosinya.
__ADS_1
Bersambung...