
Orang-orang melihat ke televisi layar lebar yang menampilkan kursi penonton. Dan melihat aksi teman-teman Nicorazón yang disorot kamera, Teman-teman Nicorazón melambai-lambaikan tangannya dan meneriakkan nama Nicorazón.
Saat Dion dan Lina melihat cucunya berada di kursi penonton mereka terkejut. Dan Te Apoyo menoleh pada istrinya setelah melihat putranya di layar kaca. Nicorazón tampak berusaha menutupi wajahnya.
"Sayang? Kenapa putra kita bisa ada di sana? Bukankah dia baru saja sembuh?" tanya Te Apoyo.
"Aku juga tidak tahu Pa, tadi kata hanya ingin belajar di rumah temannya," jawab Primavera kebingungan dan gelisah.
Ia masih berusaha menghubungi nomor ponsel putranya. Namun putranya tidak mendengar panggilan tersebut, karena ponselnya dalam mode diam. Dan teman-temannya terus saja menyuruh Nicorazón untuk maju ke depan. Sambil terus melambaikan tangan mereka ke kamera.
"Wah di sana seru sekali, apakah ada di antara kalian yang bernama Nicorazón?" tanya Pesulap.
Dan akhirnya Nicorazòn mengangkat tangannya. Setelah teman-temannya terus mendesaknya. Dia diajak oleh asisten pesulap yang ada di bagian kursi penonton untuk naik ke panggung dan membuktikan kalau namanya benar-benar Nicorazón.
"Baiklah Nicorazón kamu datang dengan siapa malam ini?" tanya pesulap basa-basi.
"Dengan teman-teman," jawab Nicorazón.
Teman-teman Nicorazón langsung bersorak lagi dan disorot oleh kamera. Mereka menyempatkan diri untuk menampilkan pesona mereka masing-masing yang membuat para penonton tertawa.
"Baiklah Nicorazón, namamu terdiri dari 9 huruf. Semoga kamu adalah keturunan kucing sakti yang memiliki 9 nyawa."
Nicorazón hanya tersenyum mendengarnya. Berbeda dengan Dion dan Lina, mereka cemas kalau cucu mereka akan melakukan atraksi berbahaya tersebut. Tapi mereka juga bingung bagaimana cara menghentikannya.
"Apa kamu bersedia menjadi korban malam ini?" tanya pesulap kemudian dengan wajah serius.
"Jika tidak, lambaikan tangan ke kamera," ujar pesulap memancing reaksi Nicorazón.
"Aku bersedia."
"Luar biasa," kata pesulap bertepuk tangan dan diikuti oleh penonton.
"Kalau boleh tahu, apa yang membuat kamu begitu yakin sehingga berani menerima tantangan ini?"
"Karena aku tahu kalau kakek dan nenek sedang menyaksikanku dari kursi penonton di dalam gedung teater ini," ujar Nicorazón sambil melambaikan tangan ke penonton.
__ADS_1
"Begitu juga dengan mama yang ada di rumah saat ini. Jika papa sudah pulang mungkin dia juga sedang melihatku," katanya lebih lanjut.
"Oh jadi kakek dan nenek anda ada di sini? Di mana mereka?"
"Iya mereka ada di sini, tapi saya tidak tahu mereka duduk di kursi bagian mana."
"Kenapa?"
"Karena kami tidak datang bersamaan."
Pesulap manggut-manggut lalu meminta juru kamera untuk menyorot kursi penonton dan meminta kakek dan nenek Nicorazón untuk melambaikan tangan. Orang-orang yang ada di kursi penonton saling pandang, mencari tahu siapa kira-kira kakek dan nenek Nicorazón.
Dion dan Lina hanya saling pandang tapi enggan untuk melambaikan tangan. Tapi menantu Gina mengangkat tangan dan menjadi sorotan kamera. Lalu Nicorazón melihat nenek dan kakeknya di deretan kursi penonton yang tidak jauh dari kursi menantu ketiga Gina.
"Paman, Bibi lihat kita disorot kamera," ujar menantu Gina dari putra ketiganya, pada Dion dan Lina.
"Iya ayo lambaikan tangan!" ujar menantu Gina yang lain.
"Paman Nicorazón jadi artis ya ma?" tanya cucu Gina pada mamanya.
Pesulap pun mengajak mereka berbincang dan menanyakan apakah benar mereka kakek dan nenek Nicorazón. Setelah memastikan kebenaran itu pesulap melanjutkan pertanyaan berikutnya. Menanyakan kenapa orang tua Nicorazón tidak dapat hadir, dan lainnya.
"Apakah kalian setuju kalau Nicorazón menjadi korban malam ini?" tanya pesulap kemudian pada Dion dan Lina.
Dion dan Lina serentak menjawab tidak. Dan penonton tertawa saat Dion dan Lina mengatakan alasannya kalau mereka tidak ingin melihat cucunya melakukan adegan berbahaya.
"Wah kakek dan nenek anda tidak setuju, apa anda masih yakin untuk meneruskan hal ini?" tanya pesulap.
"Ya, aku yakin."
"Oh wow, bersediakah anda menandatangani surat perjanjian ini? Bahwa tidak akan ada yang menuntut saya nantinya. Dan anda melakukannya dengan suka rela?"
Nicorazón mengangguk dan disambut dengan tepuk sorak oleh penonton dan teman-teman Nicorazón. Sementara Te Apoyo dan Primavera sangat cemas di rumah.
Dan pertunjukan pun di lanjutkan. Tangan dan kaki Nicorazón di ikat oleh penonton pria yang tadi memilih kartu berlambang huruf.
__ADS_1
"Ikat dengan benar, jangan sampai dia kabur dari peti di tengah pertunjukan," gurau pesulap pada pemuda yang mengikat tangan dan kaki Nicorazón.
Penonton tertawa, teman-teman Nicorazón juga tertawa. Tanpa terkecuali. Baik yang menonton di teater maupun di luar teater. Kecuali anggota keluarga dan orang terdekat Nicorazón yang merasa cemas.
"Ok ikatannya sangat kuat. Ayo masukkan dia ke dalam peti," ujar Pesulap pada asistennya.
Nicorazón yang sudah terikat diangkat dan dibaringkan di dalam peti. Dan Pesulap tidak langsung memulai aksinya.
"Bagaimana perasaan anda saat ini?" tanya Pesulap pada Nicorazón.
"Saya akan berbaik hati dengan merobek surat perjanjian dan anda boleh turun," kata Pesulap menguji Nicorazón.
"Jika anda menyerah, lambaikan tangan anda. Tapi jika tetap ingin lanjut maka angkat jempol anda."
Nicorazón pun mengangkat jempolnya. Dan seluruh kamera menyorotnya dari segala posisi. Mulut Nicorazón akhirnya ditutup dan diikat dengan kain. Primavera menggigit bibir bawahnya dan meremas jemarinya. Dia sangat cemas.
Peti Nicorazón di tutup dengan penutup yang bening agar orang-orang tetap bisa melihat kalau ia masih di dalam saat aksi sulap sedang berlangsung. Peti itu diikat dengan rantai besar lalu diangkat perlahan-lahan.
Saat peti itu sudah terangkat setinggi satu meter. Asisten pesulap membawa sebuah papan lebar. Yang di bagian atasnya merupakan tumpukan pedang. Dengan mata pedang menghadap ke atas. Orang-orang menatap tanpa berkedip seolah takut ada adegan yang terlewatkan.
"Ok baiklah. Saatnya peti di turunkan," ujar si pesulap.
Orang-orang mengernyitkan keningnya. Mereka mengira kalau peti itu akan diangkat lebih tinggi. Tapi tetap saja mereka memperhatikan dengan seksama. Dengan perlahan-lahan peti diturunkan.
Pesulap melihat jam tangannya lalu menggaruk kepalanya. Seolah ia tidak sabar. Dan penonton masih menyaksikan dengan menerka-nerka apa yang akan terjadi.
"Apa tidak bisa lebih cepat, karena sepertinya penonton sudah tidak sabar?" tanya pesulap pada orang mengerakkan alat untuk menurunkan peti.
Pada saat jarak antara peti dan ujung mata pedang tinggal beberapa centi, orang itu akhirnya memperlihatkan jempolnya.
"Ok jatuhkan sekarang!" ujar pesulap dengan lantang.
Peti pun dijatuhkan!
Bersambung...
__ADS_1