Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Penglihatan


__ADS_3

Semua itu sering kali ia dengar saat para pelayan bergosip ria tentang keluarganya. Setelah istrinya yang pertama meninggal kakek menikah lagi. Anak-anak kakek tidak setuju karena mereka sudah ada enam bersaudara. Ditambah lagi mereka tidak suka dengan istri muda kakek yang masih muda. Menurut mereka istri mudanya itu hanya ingin menguras harta orang tua mereka.


Dan oleh karena itu berkali-kali mereka merencanakan cara untuk melukainya. Mereka berusaha agar istri muda kakek tidak bisa memiliki keturunan. Namun usaha mereka gagal. Istri muda kakek tetap bisa melahirkan papa Dion dengan sehat.


Meski demikian mereka pada akhirnya merasa lega. Istri muda kakek tidak berumur panjang. Dia meninggal setelah melahirkan. Dan semua itu karena dia mengkonsumsi obat-obatan yang ditaruh dalam makanannya tanpa ia ketahui.


Tapi semua itu tidak membuat mereka puas, mereka juga merencanakan kecelakaan pada orang tua Dion. Sebuah keajaiban Dion yang masih kecil saat itu bisa selamat. Dan karena saat itu ia masih kecil, mereka tidak menanggap Dion sebagai ancaman buat mereka. Tapi siapa sangka justru Dion adalah ancaman terbesar bagi mereka sekarang.


Jadi untuk mendapatkan kembali harta kekayaan kakek yang diwariskan ke Dion, maka Dion harus dilenyapkan. Tapi sebelum itu harus dipastikan kalau dia tidak memiliki ahli waris. Sebab jika sampai Dion tiada maka sudah pasti istrinya adalah masalah berikutnya. Karena ahli waris akan jatuh pada istrinya. Dan juga Dion tidak boleh sempat memiliki keturunan. Agar ahli warisnya tidak sampai jatuh pada keturunannya, jika ia dan istrinya telah tiada.


Semua anak-anak tuan Sean akhirnya sepakat untuk bekerja sama. Bermacam-macam ide mereka kumpulkan dan idenya yang paling masuk akal akan mereka laksanakan. Mereka juga memilih salah satu dari mereka yang akan melakukan hal itu.


Salah satu dari mereka akan berpura-pura menyesal dan memulai hubungan yang baru dengan keluarga baru Dion. Tujuannya tentu saja agar Dion tidak merasa curiga. Jika mereka saat ini sedang merencanakan hal yang buruk padanya.


Sama halnya dengan yang telah putra dan putri tuan Sean lakukan di masa lalu. Pada kedua orang tuan Dion. Serta istri muda dari tuan Sean yang telah melahirkan papa Dion.


Saat itu mereka berpura-pura sudah menerima sang mama baru mereka. Tapi pada akhirnya mereka bekerja sama dengan seorang pelayan. Untuk menaruh obat di dalam makanan mama tiri mereka. Pelayan itu mulanya tidak setuju dan takut, tapi karena dia diacam dan diberi imbalan, maka akhirnya ia pun menuruti perintah anak-anak Kakek.


Seminggu kemudian. Lina merasakan hal baru pada tubuhnya, dan saat diperiksakan ke dokter ternyata dia sedang mengandung. Tentu saja itu hal yang mengembirakan bagi keluarga kecil Dion.


Di saat berita gembira datang Om dan Tantenya datang berkunjung ke rumah Kakek. Tentu saja itu bukan hal yang diharapkan Dion mengingat masalah mereka beberapa minggu lalu. Tapi Dion mencoba bersikap ramah.


"Om dan Tante, ada keperluan apa hingga datang kemari?" tanya Dion.

__ADS_1


Dengan sedikit basa-basi dan kemampuan *acting* ala pemeran yang baru dalam tahap seleksi sebuah drama. Kalau diberi nilai dari satu sampai sepuluh ia mendapat nilai enam. Cukuplah.


"Ohh ini Tante bawakan herbal untuk kesuburan biar kalian cepat dapat momongan," ucap Tante Merina. Dengan acting yang sama seperti Dion.


Tapi kemampuan Merina sudah berada di atas kemampuan acting Dion. Jika saja diberi nilai, maka angkanya sudah sepuluh. Sempurna. Tidak ada cacat sedikit pun. Semua orang yang tidak mengenalnya, pasti akan berpikir jika semua yang ia lakukan adalah sungguh-sungguh dari dalam hatinya.


Ya tapi, itu tidak berlaku pada Dion. Ia memasang alarm tanda bahaya di dalam benaknya. Meski ia tidak dendam pada tante Merina. Tapi ia belum bisa percaya kalau Tantenya sudah menerima masalah pembagian harta.


Dion sebenarnya tidak tertarik dengan harta yang diwariskan oleh Kakek ke padanya. Ia sudah bisa mencari uang untuk dirinya sendiri. Bahkan usaha kecil yang ia mulai dari nol kini sudah sangat sukses. Meski pun tidak bisa dipungkiri, kalau semua itu berkat adanya bantuan modal dari si Kakek.


"Terimakasih atas perhatian Tante," ucap Dion lagi.


"Ahh tidak usah berterimakasih, kita sebagai keluarga harus saling memperhatikan. Iya kan pa?" kata Merina pada Dion, lalu bertanya pada suaminya.


Dengan lancar ia berbicara panjang lebar, tanpa ada satu intonasi pun yang terdengar salah. Percakapan mereka tampak benar-benar seperti sebuah reunj keluarga. Wajah cerah dan senyum yang selalu tersaji di wajah mereka. Setelah Merina dan suaminya sedikit berbasa-basi, mereka pun kemudian berbicara dengan nada serius. Mereka mengaku menyesal dan meminta maaf.


Sebuah kata yang sangat mahal untuk keluar dari seorang nyonya. Yang bahkan tidak akan pernah menundukkan kepalanya di hadapan siapa pun. Tapi hari ini dia dengan rendah hati menundukkan kepala. Namun sayangnya itu semua hanyalah kebohongan belaka.


"Seharusnya kita sebagai keluarga tidak saling mencurigai dan tidak saling menyalahkan. Dion maafkan kami yang keliru dalam mengambil sikap," ucap Om Dion.


Dengan cepat mereka berlutut di hadapan Dion. Lina yang melihat hal itu terkejut. Hati Lina pun tersentuh. Senang rasanya bisa melihat suaminya berbaikan kembali dengan Om dan Tantenya. Dengan cepat Lina dan Dion mengangkat tubuh Om dan Tantenya. Tidak nyaman rasanya seorang yang lebih tua berlutut di hadapan mereka.


"Sudahlah, Om semua itu sudah berlalu, Dion sudah memaafkan kalian," kata Dion singkat.

__ADS_1


"Bangunlah... tidak perlu seperti ini, Aku sudah memaafkan Om dan Tante sejak lama. Ayo kita lupakan saja semua ini," kata Dion lagi.


Tante dan Om Dion pun dengan senang hati menerima ucapan Dion. Dan dengan cepat mereka merangkul Dion. Suami Lina pun mencoba menyeimbangkan tindakannnya dengan mereka. Ia ikut membalas pelukan mereka. Sekilas ia menatap Lina yang meneteskan air mata karena terharu. Sebuah senyum tergaris di wajahnya. Dan dengan perlahan menyeka air matanya.


"Betapa lugunya dia," batin Dion.


Setelah meminta maaf dan mendapat maaf, maka Om dan Tante Dion pun berpamitan. Sambil mengingatkan mereka agar rajin mengkonsumsi obat herbal untuk kesuburan.


Dion hanya menganggukkan kepala dan mengiyakan saran dari Om dan Tantenya. Begitu juga dengan Lina. Ia dengan senang hati menerima pemberian Merina dan Om Dion tanpa rasa curiga sedikit pun.


Dan kemudian Dion dan istrinya mengantar Merina dan sang suami keluar. Mereka mengantarkan kepergian om dan tante dengan pandangan yang berbeda. Sampai mereka yakin, kalau sepasang suami istri itu, sudah melewati gerbang, barulah mereka masuk.


Lina mengamati obat herbal yang ada di meja. Sambil membaca tulisan yang tertera di sana. Namun saat sedang asik membaca aturan minumnya, tiba-tiba obat itu di ambil oleh Dion. Dion pun lalu memanggil salah satu pelayannya dan menyuruhnya untuk membuang semua obat-obatan itu.


"Heii kenapa di buang...? Itu kan pemberian Om dan Tante, tidak sopan dong kalau dibuang begitu saja," kata Lina merasa keberatan.


Lina memandang Dion lekat-lekat. Dan dalam pandangannya tersirat beberapa pertanyaan.


"Bukankah mereka sudah berbaikan tadi? Lalu kenapa niat baik om dan tante tidak dihargai sama sekali?" batin Lina bertanya.


"Kita tidak tau apa rencana mereka, tidak mungkin secepat itu mereka berubah pikiran.Pasti ada apa-apanya," kata Dion seolah menjawab pertanyaan dalam batin Lina.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2