
Sebuah suara mengejutkannya. Dan ia pun terbangun.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang, ternyata itu adalah Gina. "Ray..." ucapnya singkat. Ray bangun dan membuka pintu kamar tersebut. "Hari sudah gelap, kulihat kau belum keluar dari kamarmu sejak siang tadi."
Ray diam saja, tidak tau harus menjawab apa. "Pergilah mandi dan setelah itu, kita akan makan malam bersama." kata Gina. Ray mengangguk. Gina menunjukkan kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Lalu ia pun pergi meninggalkan Ray.
Selesai mandi Ray berpakaian dan merapikan diri. Dan setelah itu ia keluar, dan disambut oleh Gina yang sudah menunggunya dari tadi. Gina lalu menuntunnya ke ruang makan. Ada satu pelayan saja di situ yang menata piring.
"Ayo kita makan," kata Gina sambil mengisi lauk di piringnya setelah terlebih dahulu membuatkan untuk Ray. Ray melihat tidak ada anak-anak dari Gina di situ. Sejenak ia melihat-lihat mencari mereka. "Sudah, ayo makan, tunggu apa lagi?" ulang Gina. Akhirnya mereka makan berdua.
"Ray tante akan jadi walimu mulai hari ini, dan tante ingin memindahkan sekolahmu." ucap Gina di sela-sela makan. "Sekolah lamamu sangat jauh dari sini, jadi lebih baik besok kita mengurus surat pindahmu, biar bisa cepat pindah ke sekolah yang dekat saja dari sini." lanjut Gina.
"Kau mau kan Ray?" tanya Gina. Ray mengangguk saja. Gina tersenyum melihat anggukan Ray dan menyelesaikan makannya. Selesai makan Gina menanyakan apakah Ray butuh sesuatu, dan Ray hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, kalau begitu tante ke ruang tamu dulu, jika butuh sesuatu katakan saja ya." tuturnya lembut. Ray lagi-lagi hanya menjawab dengan gerakan kepalanya saja. Lalu ia kembali ke kamarnya.
Ia melihat barang-barangnya yang masih belum beranjak keluar dari dalam tasnya. Dilihatnya ada sebuah lemari di kamar tersebut. Saat di buka ternyata lemari itu penuh dengan pakaian. Jika dilihat itu seperti pakaian anak yang seusia dengannya. Ray kemudian menutup lemari tersebut.
__ADS_1
Ia tidak tau berbuat apa, setelah puas mengamati kamar barunya, ia mengeluarkan buku pelajarannya.Tapi ia hanya membolak-balikkannya saja. Dan tanpa sadar ia pun termenung saat-saat terakhir ia melihat mamanya Emile menghembuskan napasnya.
Teringat saat mahluk yang berjubah itu mengayunkan sabitnya. Dan juga saat arwah Emile memeluknya dan mengucapkan kata-kata terakhirnya. Ray meniupkan udara dari bibirnya. Mencoba menahan air matanya.
Meski selama ini Emile sudah sangat berbuat tidak adil padanya, ia tetap merasa Emile adalah mama kandungnya. Dan hanya ia anggota keluarganya, di saat semua orang membuangnya begitu saja, papa dan neneknya yang berubah 180 derajat. Dari yang sangat sayang, menjadi sangat benci. Apa lagi saat mengingat ia dan mamanya diusir keluarga dari mamanya. Kenangan buruk itu membuatnya seketika berkaca-kaca.
Setidaknya ia masih bersyukur masih memiliki tempat berteduh untuk saat ini. Meski hatinya was-was, mengingat anak-anak dari tante Gina membencinya. Dan membuatnya juga berpikir untuk siap kapan saja, jika akhirnya dia harus pergi dari rumah tante Gina.
Di tempat lain di malam yang sama, Teresia menangis dengan kencang, sebab ia terkejut saat sadar berada di rumah orang yang tidak ia kenal. Rumah tersebut adalah rumah orang yang dijodohkan dengannya. "Teresia, tenanglah... kenapa tiba-tiba menangis, bukannya tadi baik-baik saja?" ujar wanita paruh baya padanya.
Tadi siang Teresia dipertemukan dengan orang yang bertukar cincin dengannya. Tapi saat itu yang terbagun di tubuhnya adalah roh wanita yang sudah lama bersemayan di tubuhnya. Wanita itu mengangguk saat ditanya, apakah iya mau bertukar cincin dan tinggal di tempat itu. Tapi tidak ada yang tau kalau, yang mengangguk bukanlah Teresia.
"Lina, putrimu terus saja menangis," ujar wanita itu saat sambungan panggilannya diterima.
Wanita tersebut menyerahkan ponselnya pada Teresia. Dan saat mendengar suara mamanya dari seberang telepon ia berhenti meronta. "Ma... ma... Teresia mau pulang, tidak mau di sini," isaknya. Lina yang mendengar isak tangis Teresia jadi cemas. "Iya sayang, iya mama akan segera ke sana," ujar Lina kemuduan.
Tapi Lina bingung, karena ia tidak punya kendaraan dan akhirnya menghubungi Ros. Ros tiba beberapa lama kemudian dan mereka pergi bersama ke rumah Teresia berada.
Setibanya di sana Teresia masih menangis dan saat melihat mamanya tiba, ia memeluknya dengan erat. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Lina selembut mungkin. "Bukankah tadi baik-baik saja, kan kamu setuju untuk tinggal di sini." Mendengar ucapan Lina, putrinya kebingungan.
__ADS_1
"Iya, sebenarnya ada apa, kenapa tiba-tiba begini?" tanya Ros pada pemilik rumah.
"Kami tidak tau, saat bangun tidur dia tiba-tiba terkejut dan berteriak-teriak." ujar mereka.
"Jangan bohong, apa kalian menyakitinya?" tanya Ros sekali lagi. Teresia yang mendengar Ros marah jadi diam. Sebenarnya ia tidak diapa-apakan. Tapi semuanya adalah karena ia ketakutan. Takut terbangun di tempat yang asing.
"Teresia, ayo katakan sama tante, kamu diapakan oleh mereka?" tanya Teresia sambil menatap tajam pada keluarga tersebut. Tapi Teresia hanya menggeleng.
"Apa mereka memukulmu?" tanya Ros lebih jelas. Lagi-lagi Teresia menggeleng. "Apa mereka memarahimu?" Ros kembali bertanya. Tapi kali ini suaranya lebih rendah. Lagi-lagi Teresia menggeleng.
"Dia hanya menangis tanpa sebab," jawab anak laki-laki yang usianya sekitar tiga tahun lebih tua dari Teresia. Ia adalah orang yang bertukar cincin dengan Teresia.
Lina menempelkan kedua tanganya ke pipi Teresia dan bertanya dengan lembut,"Katakan pada mama, kenapa kamu menangis?"
Teresia memeluk erat tubuh mamanya,"Teresia mau sama mama," tangisnya pilu. Ros akhirnya mengerti masalahnya. Teresia belum siap berpisah dari mamanya. "Ya sudah kalau begitu kita bawa dia pulang saja," ujar Ros. Lina menarik napasnya panjang, lalu mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan pertukaran cincinnya?" tanya wanita paruh baya tersebut. Ros dan Lina bertatapan. "Kami akan membicarakannya lagi nanti. Putri kami belum siap, jadi kami akan berbicara dengannya lagi nanti. Kami minta maaf." ujar Ros.
Wanita itu cemas, jika pertukaran cincin gagal maka uang yang sudah diterima akan diambil kembali. Tapi kemudian dia merasa lega saat Ros berkata,"Pertukaran cincin tidak akan dibatalkan, hanya saja untuk saat ini kami tunda dulu."
__ADS_1
Lalu Ros dan Lina pamit dan membawa Teresia pulang. Di perjalanan mereka berdua hanya bisa diam dengan pikiran masing-masing. "Kalau begitu aku pulang dulu ya," ujar Ros setelah tiba di depan rumah Lina. Lina mengangguk dan melambaikan tangannya sampai mobil yang ditumpangi Ros menghilang di ujung gang.
"Dari mana saja kalian?" tanya Dion.