Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Dion dan Lina


__ADS_3

Tapi sebelum Emile ke luar ruangan Ray menangkap tubuh Emile dan memeluknya, maka keluarlah roh yang merasuki Emile. Dan Emile tersadar, dan melihat roh halus di sekitarnya. Tapi kemudian ia rubuh karena lukanya. Ray mengangkat tubuh Emile di bantu oleh Gina dan di letakkan di atas tempat tidur.


Ray pun memperingatkan para roh yang ada di situ dengan tatapannya. Jika mereka tetap di sana maka ia tidak akan segan-segan melenyapkan mereka. Dan secepat kilat roh halus yang ada di situ menghilang.


Keesokan harinya di rumah Lina, saat ia baru saja membuka pintu rumahnya, betapa terkejutnya dia. Dion sudah ada di depan rumahnya. Dengan cepat ia menutup pintunya, tapi sebelum di tutup Dion sudah lebih dulu menahan dengan tangannya.


KRAK!!


Aarrgggkkk!!!


Tangan Dion terjepit, dan ia menjerit kesakitan. Dan Lina segera melepaskan pintunya. Lina diam tidak tau berbuat apa. Dan dengan cepat Dion mengambil kesempatan. Dia menarik Lina ke dalam pelukannya. Istrinya meronta dan menamparnya.


Sejenak Dion diam tanpa kata, demikian juga dengan Lina. Sampai akhirnya Teresia datang.


"Ma siapa dia?" tanya Teresia. Dion terkejut mendengar Lina dipanggil mama oleh seseorang. Dengan cepat Lina mendorong tubuh Dion ke luar dari rumahnya. Tapi Dion menahannya.


"Katakan siapa dia?" tanya Dion. Lina tidak menjawab tapi terus berusahan mendorong Dion keluar. "Keluar dari rumahku!" bentaknya.


"Aku tidak mau, beri tau dulu siapa dia?" tanya Dion.


"Bukan urusanmu, cepat pergi dari sini atau aku akan lapor polisi." ancam Lina.


"Panggil saja, aku adalah suami kamu. Memangnya mereka bisa apa?" tantang Dion.


"Dasar tidak tau malu, kau masih berani mengaku sebagai suamiku, setelah semua yang kau perbuat padaku! Aku benci kau!" teriak Lina.


Dion terdiam, Lina terisak, Teresia mendekati mamanya. "Lepaskan mamaku." pinta Teresia pada Dion. Dion pun melepaskan tangannya dari tubuh Lina. Dion terpana melihat kondisi Teresia, semakin dekat dilihat, ia tampak menyeramkan seperti mayat hidup. Tapi entah kenapa ada rasa rindu di lubuk hati Dion yang paling dalam. Tanpa ia sadari tangannya bergerak hendak memeluk Teresia.

__ADS_1


"Jangan sentuh putriku!" hardik Lina dan membentengi Teresia.


"Apa dia putri kita? Dia sakit kenapa? Apa dia sakit?" bertubi-tubi Dion melontarkankan pertanyaan.


"Dia bukan putrimu! Pergi kau dari sini!" bentak Lina. Dion tau jika Lina sedang dalam keadaan tidak bisa diajak bicara. Dan para tetangga Lina mulai ramai melihat mereka seperti tontonan. Dion pun menyerah untuk hari itu dan ia pun pergi.


Setelah Dion pergi, Lina menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Secepatnya ia menutup pintu, dan memeluk putrinya. Teresia mengingat Dion yang pernah mampir saat ia masih kecil.


"Apakah dia papaku? Dulu dia pernah datang lewat langit-langit."


Lina terkejut mendengar ucapan Teresia, dia heran dengan ucapan putrinya. Tanpa sadar ia melihat langit-langit rumahnya. Tidak ada celah yang bisa dimasuki oleh siapa pun. Lina akhirnya mendiamkan saja ucapan Teresia.


Dion yang sudah meninggalkan rumah Lina kembali ke tempatnya temannya. "Aku sudah menemukan Lina, tempat tinggalnya tidak jauh dari sini." tuturnya pada temannya yang baru bangun.


"Lalu mau apa sekarang?"


"Dengan apa kau akan membayarnya, dengan ginjalmu? Aku sudah habis-habisan saat kau dirawat di rumah sakit. Sekarang kau minta uang untuk beli rumah? Apa kau pikir aku ini mesin cetak uang. Aku sudah kehilangan pekerjaan. Tabunganku sudah semakin tipis."


Dion cuma bisa diam mendengar ucapan temannya. "Dasar tidak berguna!" ucap Dion kesal.


"Hei! Siapa yang kau sebut tidak berguna, kau yang tidak berguna, pembawa sial. Kalau aku tidak mengenalmu, sudah kutinggalkan kau di rumah sakit itu!" umpat teman Dion.


"Kembalikan uangku, aku juga mau menikah tau! Tapi gara-gara kau, uang untuk melamar saja aku tidak punya!" ketus teman Dion.


Dion menutup telinganya lalu pergi ke kamarnya. Membuka ponsel pemberian temannya. Lalu memeriksa sesuatu. Saat sedang serius, temannya masuk ke kamarnya.


"Berapa jumlah yang kau butuhkan?" tanya temannya.

__ADS_1


"Tidak banyak, seharga satu ginjal, kau punya dua ginjal jadi kurasa cukup modal untuk beli satu rumah dan satu toko." ujar Dion.


Dengan kesal temannya melayangkan kakinya ke badan Dion. Tapi Dion mengelak dan akhirnya temannya terjungkal. "Dasar pembawa sial!" umpatnya kesal.


"Sudahlah aku sudah banyak berhutang padamu, aku akan cari caraku sendiri." ujar Dion. Dia masih asik melihat media sosial restoran milik Ros. Akun tersebut sering menandai beberapa akun, yang salah satunya adalah akun Lina. Akun media sosial yang baru dengan minim postingan. Tapi dari postingan beberapa foto yang ada di sana, Dion berhasil melacak keberadaan Lina.


Akun itu masih baru, jika dilihat baru dibuat. Dan sepertinya pemiliknya sengaja menutupi identitasnya, membuat Dion semakin penasaran. Tapi Lina lupa ada sebuah foto toko yang menampilkan lokasi toko tersebut. Dulunya Lina iseng memposting tokonya tersebut. Tapi ternyata justru membuat Dion mendapatkan alamatnya.


Setelah tau alamat toko Lina, diam-diam ia mengamati Lina yang tengah melayani pembeli. Dan akhirnya datang pada esok harinya. Tapi siapa sangka reaksi Lina sangat diluar dugaan Dion. Dia tidak menyangka Lina akan semarah itu.


Dion hanya menduga kalau Lina marah padanya karena ia menikah lagi. Dion tidak ingat tentang fitnah yang sudah di buat oleh Shasa dan tantenya, serta menjebak Lina. Setelah lama berpikir maka barulah ia mengingat hal tersebut.


Ia menepuk jidatnya. Sadar kalau semua tidak semudah yang ia bayangkan. Lina saat ini tidak akan mau mendengarkan penjelasannya. Jadi ia hanya bisa mendekatinya perlahan-lahan. Baru setelah itu ia akan menceritakan yang sebenarnya terjadi.


"Dan siapa anak perempuan itu? Masa dia anak Lina? Apa dia menikah lagi? Dengan siapa? Sejelek apa suaminya sampai-sampai putrinya sejelek itu. Tapi kenapa aku seperti merindukan anak itu saat pertama kali melihatnya?" gumam Dion.


"Huh aku ingat sekarang, ia sering muncul di dalam mimpiku, tapi dalam wujud anak kecil. Mungkinkah yang di mimpiku adalah dia?" batin Dion bertanya-tanya.


Dia mondar-mandir di dalam kamarnya. Membuat temannya yang melihat geleng-geleng kepala. Lalu ia memilih keluar dari kamar Dion. Saat keluar dari kamar Dion, ia melihat seorang wanita yang baru masuk ke rumah mereka tanpa permisi. Kondisi teman Dion tampak acak-acakan.


"Jadi kau tinggal di sini sekarang?" tanyanya.


Mendengar suara wanita dari luar kamar, Dion pun ikut keluar. Betapa terkejutnya wanita itu. "Oh jadi kau mau memperlihatkan ini, makanya kau menyuruhku datang kemari?" tanya wanita tersebut.


Dion hanya diam karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2