
"Coba pikirkan lagi ucapanku? Ini demi kebaikan Teresia juga," ucap Gina.
Lina akhirnya setuju untuk meninggalkan Teresia di sana, dan pulang dengan tangan kosong. Dan sesampainya di rumah Lina dan Dion ditatap oleh putra mereka cukup lama. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi saat mereka hendak mendekatinya ia langsung masuk ke kamarnya.
Lina hanya bisa saling pandang dengan suaminya lalu menghela napas dan merasa kecewa. Karena mereka masih belum bisa mendekati Ray sampai saat itu. Dan mereka hanya bisa bersabar.
Tahun ajaran baru pun tiba, Ray masuk sekolah yang baru juga. Meski mulanya Dion ragu melepaskan Ray, sebab mungkin ada yang mengenali putranya nanti di sekolah baru. Kemudian menganggap Ray sebagai pelaku kejahatan terhadap kasus kematian Klara.
Tapi kemudian ia berpikir lagi. Harus sampai kapan ia menyembunyikan Ray, yang jelas-jelas tidak terbukti telah melalukan kesalahan. Sehingga ia pun mendaftarkan Ray ke sekolah barunya.
Di sekolah barunya Ray mencoba berpenampilan biasa saja. Agar penampilannya tidak terlihat mencolok. Namun ternyata wajahnya sudah terkenal, jadi orang-orang yang melihatnya menjauh secepat mungkin.
Mereka menganggap Ray penjahat yang harus dijauhi. Dan di dalam ruang kelas pun mereka menjauhinya. Saat awal masuk kelas, seluruh murid disuruh berdiri untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.
Tapi saat giliran Ray tiba, sang Guru tersebut, justru menyuruh muridnya untuk membuka buku mereka masing-masing. Dan bersikap seolah Ray tidak ada di dalam kelas. Ray yang sudah terlanjur berdiri, hanya bisa menghela napas dengan pelan. Lalu ia akhirnya memilih duduk perlahan-lahan.
Ia mencoba tidak ambil pusing akan hal tersebut. Mengeluarkan buku seperti yang lainnya. Dan hari itu ternyata ia mendapat perlakuan yang sama dari semua guru.
Di hari pertama sekolah ia akhirnya tidak mendapatkan satu orang teman pun. Hari berikutnya, setiap kelas sudah memiliki buku absen masing-masing. Dan di dalamnya sudah tertera nama murid yang ada di setiap kelas.
Setiap hari sebelum memulai pelajaran akan ada pemilihan perangkat kelas. Semua orang dipanggil ke depan untuk memberi voting, kecuali Ray.
Jam istirahat, Ray memilih lokasi yang jauh dari keramaian dan menikmati makan siang yang disiapkan oleh mamanya. Klara selalu mengajaknya berbicara, karena menurutnya hanya Ray yang bisa mendengarnya. Tapi Ray bertingkah seolah tidak mendengarnya.
Saat menikmati santapannya seorang anak perempuan datang ke tempat itu, ia seperti mencari seseorang. Saat melihat Ray, ia pun berhenti sejenak. Lalu mengangkat satu alisnya, kemudian berputar haluan.
"Tomi!" Anak itu berteriak dan memanggil seorang anak laki-laki yang ia lihat.
Lalu anak yang dipanggil menoleh dan menunggu si pemanggil. Kemudian mereka pergi bersama. Ray hanya memperhatikan tanpa berpikir apa-apa lalu Ray menikmati masa damainya.
Di rumah Gina, Teresia disibukkan oleh Gina untuk mencoba beberapa gaun bersamanya. Hal itu dilakukan oleh mama Nicholas dengan tujuan mendekati Teresia. Gaun yang mereka coba memiliki bentuk dan corak yang sama. Lalu mereka melakukan foto bersama.
__ADS_1
*Klik
Sebuah gambar ditangkap oleh kamera dan dengan segera Gina mempostingnya di akun sosial medianya.
GAUN SERAGAM CANTIK UNTUK MAMA DAN PUTRI KESAYANGAN
Ketiknya dalam cetak besar. Lalu dikirim. Baru saja status itu dikirim, dengan cepat langsung mendapat banyak tanggapan dari banyak pengguna sosial media.
Melihat hal itu tersebut, Gina menjadi semakin bersemangat. Dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Gina. Pengikutnya bertambah banyak. Komentar pujian bermunculan, yang membuatnya merasakan rasanya jadi artis papan atas.
Meski kebanyakan komentar pujian itu sebenarnya lebih ditujukan pada Teresia. Tapi dengan ada komentar lanjutan yang memujinya, ia jadi merasa tersanjung.
*Cantik ya putrinya, seperti mamanya.
Putrinya cantik seragam sama mamanya, yang juga cantik*.
Dan banyak komentar yang serupa dan akhirnya komentar itu dibalas dengan *copypaste.
Wah makasi, jangan lupa mampir ke butik kami ya*!
Orang-orang mengira foto tersebut diambil saat mereka sedang berada di butik. Tapi sebenarnya foto itu diambil saat mereka berada di rumah Gina. Ia sengaja membawa pakaian dari tokonya ke rumah. Sebab Teresia tidak mau keluar rumah.
Ia takut bertemu roh-roh di luar sana yang akan terhisap oleh raganya. Dan hal buruk terjadi jika sampai ada roh kuat yang ikut masuk. Ia tidak mau membuang tenaga hanya untuk mempertahankan kesadarannya. Agar tidak dikuasai oleh roh-roh tersebut.
Setelah selesai pengambilan gambar, mereka melakukan kegiatan selanjutnya, yaitu menyiapkan makan siang untuk mereka. Dan kini Teresia ikut membantunya. Rasanya sangat menyenangkan bagi Gina. Ia jadi merasakan rasanya punya seorang putri.
Dan ia mencoba mencari ide agar Teresia bisa jatuh cinta pada salah satu dari ketiga putranya. Jadi ia pun mencoba mendekatkan mereka. Gina berniat menjodohkan Teresia pada si bungsu, karena menurutnya usia mereka tidak terlalu jauh. Dibandingkan dengan Nicholas yang usianya terpaut jauh dengan Teresia.
"Tidak mungkinkan ia akan memilih yang tertua nantinya, kalau berbicara soal jodoh?" Gina bertanya dalam hati.
Tapi Teresia seolah tidak tertarik pada putra ketiganya. Jika di hadapan yang lain Teresia tidak pernah bersikap hangat. Akan tetapi jika saat bersama dengan Nicholas ia akan banyak tersenyum dan bahkan tertawa. Meski mereka hanya membahas jawaban dari sebuah buku Teka-Teki Silang.
__ADS_1
Tidak terasa tiga bulan sudah berlalu. Teresia kini sudah memiliki rambut yang panjang sampai sebatas bahu. Dan ia semakin cantik. Membuat Gina merasa sayang, dan tidak rela melepas gadis cantik itu, kepada orang tua kandungnya.
Namun karena sudah waktunya tiba, Gina harus melepas gadis itu saat dijemput oleh kedua orang tuanya. Teresia pun kembali ke rumah orang tuanya. Ia masih memakai cincinya saat tiba di rumahnya sendiri.
Ray ikut senang melihat perubahan Teresia. Lalu mereka saling bertukar cerita. Teresia bercerita bagaimana pengalamannya, saat pertama kali berada di rumah Nicholas. Sampai ia kembali pulang ke rumah. Sementara Ray bercerita sedikit tentang sekolahnya.
"Baiklah aku mau istirahat dulu," ucap Teresia mengakhiri perbincangan mereka.
Setelah berpamitan pada Ray ia pun pergi ke kamarnya. Dan saat menutup pintu ia melihat cincin yang melingkar dijari manisnya. Ia berpikir sesaat, menimang-nimang antara memakai cincin itu seterusnya atau dilepas sekarang.
Saat itu ia tidak keberatan untuk memakai cincin itu. Jadi ia tidak melepaskannya dan memilih tetap mengunakannya. Setelah berganti pakaian yang lebih nyaman. Ia pun berlayar ke pulau mimpi. Dia memimpikan saat masih berada di rumah Gina.
Tidak terasa malam pun tiba. Teresia terbangun saat pintu kamarnya diketuk. Dan Lina mengingatkannya untuk bersiap makan malam bersama. Di tengah acara makan bersama. Dion membahas tentang sekolah. Ia mengusulkan agar Teresia bersekolah dengan Ray.
Teresia merasa ragu untuk menjawab pertanyaan tentang pendapatnya untuk masuk sekolah kembali. Dion menjelaskan kalau Teresia akan dimasukkan melalui jalur khusus. Yaitu ujian tertulis dari sekolah yang dituju dan jika lulus ia bisa bersekolah di situ. Tapi sekolah itu sangat ketat, anak-anak dilarang memakai perhiasan ke sekolah. Jadi Dion meminta Teresia melepaskan cincinnya jika ingin bersekolah.
Selesai makan ia kembali ke kamarnya, memperhatikan cincinnya. Lalu perlahan-lahan ia melepaskan cincin tersebut. Lalu pergi tidur.
"Te Espere,"
"Te Espere keturunanku sudah besar ya sekarang,"
"Te Espere kami menunggumu."
Beberapa orang menggumamkan hal yang sama kepadanya di dalam mimpinya. Dan tanpa ia sadari roh-roh halus merasukinya saat tertidur. Teresia merasakan panas dan sesak napas. Membuatnya tiba-tiba terbangun.
Terdengar suara teriakan dari kamarnya ke seluruh ruangan yang dekat dengar kamarnya. Roh-roh yang terserap oleh tubuhnya berusaha untuk keluar dari raga Teresia. Dan membuat kulit Teresia seperti terbakar api.
"Tolong... lepaskan kami...!" teriakan Teresia memancing orang tuanya serta Ray terbangun.
Ray merasakan gelombang aneh dari arah kamar Teresia. Lalu ia pergi ke arah kamar Teresia yang ternyata Dion dan Lina sudah tiba lebih dahulu.
__ADS_1
"Lepakan... lepaskan... kami... ampun... panas... panas sekali!" teriak Teresia berguling-guling di lantai dengan mata melotot dan wajahnya yang biru kehitaman. Seperti sebelum bertukar cincin dengan Nicholas.
Bersambung...