Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Hilang


__ADS_3

Ke esokan paginya, Dion dan Lina menanyakan tentang apa yang terjadi, pada kedua anak mereka. Dan keduanya menceritakan mimpi mereka.


"Aku rasa semua ada kaitannya dengan rumah yang papa beli," ujar Te Apoyo.


Dion mengernyitkan dahinya lalu menimang-nimang ucapan dari anak-anaknya.


"Jika dipikir-pikir terlalu banyak misteri di rumah kakek." gumam Dion dalam hati.


Tapi ia tidak berkata apa-apa pada kedua anaknya. Dan saat ia telah selesai sarapan pagi, ia pun berpamitan pada istrinya. Tujuannya seperti biasa berangkat ke kantor. Tapi di perjalanan ia memutar arah menuju rumah kakeknya.


Ia membuka pagar rumah yang telah lama tidak terkunci. Memperhatikan kondisinya yang memprihatinkan. Banyak pristiwa tragis terjadi di tempat itu. Ia melihat penghuni baru yang memperhatikannya seolah bertanya siapa dia. Dion berjalan seolah-olah tidak melihat mereka.


Ia menuju kamar kakeknya. Sebagian barang-barang usang masih tersimpan di sana. Tapi sebagian sudah dibuang oleh pembeli sebelumnya. Ada satu foto kakek bersamanya saat masih kecil yang tergeletak di lantai. Lalu ia memungutnya.


Membersihkan debu yang menempel. Dan sambil berjalan ke ruang baca. Ada satu buku yang menjadi tuas masih tertinggal di sana. Buku itu ditarik dan terbukalah ruang rahasia. Peti ukiran naga di dalamnya utuh seolah tidak tersentuh. Ia mendekati peti itu dan perlahan-lahan udara diruangan tersebut terasa sangat panas. Ia hendak keluar, namun sekelebat bayangan hitam menutupi pandanganya. Dan akhirnya ia terjebak di dalam kegelapan.


Sampai pada waktu makan malam Dion belum kembali ke rumahnya. Nomornya terhubungi namun tidak dijawab. Lina pun menjadi was-was. Dion tidak pulang sama sekali. Lina pun menghubungi sahabat Dion.


"Tapi Dion bahkan tidak ada ke kantor hari ini," ucap sahabat Dion yang sekarang sudah menjadi papa Malika.


"Apa yang terjadi?" tanya Fika pada suaminya.


"Dion belum pulang ke rumah," jawab suaminya.


Lalu suaminya minta ijin keluar mencari Dion. Menerka tempat-tempat yang mungkin ia kunjungi. Yang pasti berhubungan dengan bisnis. Lina menghubungi Ros dan orang-orang yang mengenal suaminya. Namun tidak satu pun dari mereka yang tahu.

__ADS_1


Sampai esok pagi Dion belum pulang. Ponselnya sudah tidak bisa dihubungi. Lina menceritakan hal itu pada teman Dion yang seorang detektif. Detektif itu menanyakan kemana saja mereka sudah mencari Dion.


"Jadi kalian belum mencarinya ke rumah kakeknya?" tanya detektif.


Lina menggeleng. Tidak terpikir olehnya kalau suaminya ke sana.


"Jika pun ke rumah kakek, seharusnya ia menerima panggilanku." batin Lina.


"Jika memang belum, tidak ada salahnya kita mencari di sana." ujar detektif.


Tidak menunggu lama mereka pun berangkat. Benar dugaan detektif. Dion datang ke tempat tersebut. Mobilnya di parkir di dalam. Tampak bekas jejak sepatu menuju rumah. Mereka pun masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam Lina bergidik. Bulu kuduknya berdiri. Mengingat kengerian yang ia lihat di rumah itu. Kali ini Te Apoyo dan Te Espere ikut dengan mereka. Penghuni baru di rumah itu memperhatikan ke empat mahluk hidup tersebut.


Dan roh Klara yang mengikuti Te Apoyo kemanapun menatap para mahluk halus itu dengan pandangan yang tajam. Teringat akan masa hidupnya yang berakhir dengan tragis.


Detektif tidak melihat apapun selain rumah kosong yang tidak terawat. Begitu juga dengan Lina. Te Apoyo dan Te Espere menuju ruangan kakek Dion. Dan menemukan ruang rahasia. Di dalamnya tampak ponsel milik Dion serta kunci mobil terletak di lantai, berdekatan dengan bingkai foto yang kacanya telah retak. Tampaknya seperti terlepas dari tangan pemegangnya.


Detektif dan Lina menemukan mereka berdua di dalam ruang rahasia. Te Apoyo dan Te Espere menyerahkan ponsel papa mereka serta bingkai foto. Dan mereka menatap ke sekeliling ruangan itu. Lalu mereka keluar dan mencari jejak sepatu Dion. Untuk mengetahui kemana dia pergi selanjutnya. Tapi jejak sepatu yang tertinggal sudah tidak ada lagi. Hanya ada bekas jejak sepatu mereka.


Seolah-olah Dion hilang ditelan bumi. Pencarian dihentikan. Detektif memanggil seseorang untuk membawa anjing pelacak untuk mencari keberadaan Dion. Mereka pun tiba secepat mungkin. Dengan mencium aroma dari benda milik Dion, hewan itu pun mengendus jejak Dion. Dan dua ekor yang dibawa melacak Dion berakhir di ruangan rahasia.


Dua ekor anjing pelacak itu menyalak dan melonglong. Tapi mereka tidak beranjak dari ruangan itu. Detektif kebingungan, tidak ada lagi tempat yang di tuju oleh hewan tersebut.


"Ini tidak masuk akal." gumam detektif.

__ADS_1


"Kita tidak bisa menemukannya, petunjuknya sudah tidak ada lagi." lanjutnya.


Lalu ia berjalan cepat menuju mobil Dion. Yang lain juga mengikutinya. Membuka semua pintu. Tapi Dion tidak ada di dalam. Mobil itu tidak tampak seperti bekas dirampok. Tidak ada noda darah. Juga tidak ada bekas pengerusakan di mobil tersebut.


"Sebaiknya kalian pulang," ujar detektif.


Ia tampak lesu. Memijat keningnya yang berkerut, membuat ia tampak lebih tua dari usianya. Kemudian menatap Lina dan kedua anaknya bergantian. Tampak jelas raut kecemasan tersirat di sana. Tanpa harus mereka ucapkan.


"Aku akan mengusut tuntas masalah ini, dan melaporkan berita orang hilang. Dion akan segera ditemukan.'' ucapnya menenangkan keluarga Dion yang terus menatap ke arahnya.


Lina dan kedua anaknya diantar pulang oleh rekan detektif menggunakan mobil Dion. Sementara kedua anjing masih tinggal di rumah itu. Mereka masih menyalak. Detektif memperhatikan peti dan tulisan yang ada di luar peti itu. Ia tidak menyentuhnya. Setelah puas melihat-lihat ia pun keluar membawa anjing-anjing bersamanya. Lalu sebuah pintu ruang rahasia tertutup sendiri saat detektif dan dua ekor anjing itu keluar.


"Aneh," ucapnya.


Ia mendorong pintu itu namun tidak terbuka. Lalu ia mencari-cari kunci atau apa saja yang ia bisa gunakan untuk membuka pintu itu tapi tetap saja tidak terbuka. Dan kemudian memutuskan akan kembali besok.


Lina dan kedua anaknya tiba dengan selamat sampai di rumah. Lina langsung menuju kamarnya. Ia berharap suaminya sudah pulang. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


"Tuan Dion belum pulang," ujar seorang pelayan menghampiri Lina yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.


Lina pun masuk dan terduduk lemah di lantai. Lalu menangis, Te Espere mendatangi kamar orang tuanya. Lalu melihat Lina yang sedang menangis, ia pun memeluk mamanya. Sementara Te Apoyo kembal ke kamarnya. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada papanya.


"Apa mungkin papa dimutilasi dan tubuhnya dimasukkan ke dalam peti yang ada di sana?" gumam Te Apoyo cemas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2