
"Te Apoyo bercerita tentang apa?"
"Ah, sepertinya kamu tidak tahu apa-apa ya, padahal kalian sudah tinggal dalam satu rumah," ujar gadis itu bangga.
Te Espere hanya mengernyitkan keningnya lalu mengeluarkan bukunya dan menyibukkan diri. Gadis itu mengeluarkan tasnya dari dalam laci.
"Maaf ya, aku mau duduk dengan Te Apoyo hari ini, mungkin untuk seterusnya," ujar gadis itu.
Te Espere hanya mengangkat bahu, dan baru saja kursi di sebelahnya ditinggal oleh penghuninya, yang lain sudah menempatinya. Seorang anak laki-laki yang sudah menyukai Te Espere dari awal ia masuk kelas.
Selama pelajaran anak laki-laki itu terus saja mengajak Te Espere mengobrol, tapi tidak dihiraukan oleh Te Espere. Bahkan guru sampai kesal pada anak laki-laki tersebut yang terus saja asik berbicara saat ia menerangkan.
"Hei yang di sana? Itu bukan kursimu kan? Kembali ke kursimu sana!" ujar guru tersebut yaitu Alicia.
"Semuanya duduk di kursi yang ditentukan sesuai denah kelas!" hardik Alicia.
"Ugh menyebalkan!" gumam gadis itu kembali ke kursinya di sebelah Te Espere.
Dengan kasar ia meletakkan bukunya di meja, dan sepanjang pelajaran ia terus mengeluh pada Te Espere. Tapi Te Espere juga tidak menanggapinya seperti anak laki-laki tadi. Kesal dicuekin gadis itu menyentuh tangan Te Espere.
"Kamu dengar tidak sih?" tanyanya.
Te Espere terkejut melihat bayangan masa lalu gadis itu. Lalu ia berbagi penglihatan dengan Te Apoyo.
"Sudah biarkan saja dia," jawab Te Apoyo melalui kontak batin.
Setelah mata pelajaran usai gadis itu menemui Te Apoyo di tempat yang sering dikunjunginya. Dan menunggu Alicia selesai makan.
"Kenapa sih Te Apoyo tidak pergi saja dari situ?" gumamnya kesal.
Dan setelah Alicia pergi, barulah ia mendekat.
"Te Apoyo, aku mau bicara, boleh tidak?" tanyanya perlahan-lahan.
"Tanya apa?"
"Boleh tidak kalau aku jadi pacar kamu?" gadis itu balik bertanya.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa," jawab Te Apoyo tanpa berpikir panjang.
"Kenapa tidak bisa?" tanya gadis itu.
"Karena aku tidak menyukaimu,"
"Bukankah kita sudah berteman, bagian mana dari diriku yang tidak kamu suka?" tanyanya.
"Semuanya," batin Te Apoyo. Ia tidak suka sikap anak itu yang mengingatkannya pada Klara saat masih hidup dulu.
"Aku tidak suka, karena kamu masih sekolah, dan aku juga masih sekolah," jawab Te Apoyo berbohong.
Ada satu hal yang ia ketahui tentang gadis itu. Sehingga ia tidak tega bersikap kasar padanya. Jadi ia mencoba untuk tidak menyakiti perasaan gadis tersebut. Tapi siapa sangka kelembutan Te Apoyo disalah artikan oleh gadis itu. Dan ia mulai memaksa, saat jawaban Te Apoyo terasa seperti hanya sebuah alasan.
"Baik, jika kamu tidak mau pacaran denganku, akan kusebarkan tentang rahasiamu. Menurutmu, apa yang akan dipikirkan teman-teman nantinya kalau mereka tahu siapa kamu sebenarnya," ancam gadis itu.
Te Apoyo yang tadinya melangkah meninggalkan gadis itu kini berpaling.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau," jawab Te Apoyo kemudian lalu bergegas meningalkan gadis itu.
Tapi ternyata gadis itu menyusulnya dan menggenggam tangannya. Te Apoyo terkejut.
"Menggenggam tangan pacarku," jawab gadis itu sambi tersenyum.
Klara yang bersembunyi di balik tembok melihat dengan geram tindakan gadis itu. Sementara Te Apoyo berusaha melepaskan tangannya dari genggaman gadis itu.
"Kita masih berada di lingkungan sekolah, jadi sebaiknya jangan pegangan tangan," ucap Te Apoyo.
"Memangnya kenapa?" tanya gadis itu.
"Aku tidak ingin kamu melihat mahluk halus di sekolah, dan mereka akan mengganggumu nanti," ujar Te Apoyo menanggapi pertanyaan gadis itu.
"Tidak ada yang aku takutkan selama kamu ada di sisiku. Kamu jauh lebih hebat dari mereka, ya kan sayang," ujarnya manja.
"Dan kamu sudah jadi pacarku, jadi kamu harus melindungiku," katanya lagi.
Dan ia terus mengandeng Te Apoyo sehinga membuat Te Apoyo kembali duduk di tempat duduknya yang biasa, pada jam istirahat. Gadis itu juga ikut duduk di sampingnya lalu memeluk lengan Te Apoyo dan menyandarkan kepalanya di bahu Te Apoyo. Dan Klara semakin geram.
__ADS_1
"Sayang ayo kita ke kantin," ajaknya kemudian dan berpura-pura merasa sangat lapar.
Te Apoyo menuruti lagi perkataan gadis itu. Dan dengan bangga gadis itu menarik tangan Te Apoyo menuju kantin. Lalu mereka makan makanan yang mereka suka. Gadis itu meminta Te Apoyo menyuapinya. Membuat anak perempuan yang memandang mereka menjadi iri.
Selama sisa jam pelajaran gadis itu terus saja menarik perhatian teman sekelasnya. Memamerkan kemesraannya. Dan yang paling membuat anak perempuan di kelas itu makin kesal adalah karena Te Apoyo menuruti permintaan gadis itu.
Jam pelajaran usai, dan mau tidak mau mereka harus pulang ke rumah masing-masing. Tapi lagi-lagi gadis itu membuat permintaan.
"Sayang, ajak aku ke rumah kamu dong!"
"Sayang, aku makan siang di rumah kamu ya!"
"Sayang kenalin aku dong sama calon mertua!"
Berbagai tuntutan dipinta gadis itu di hari pertama mereka menjadi pasangan. Dan setelah ia makan siang di rumah Te Apoyo dan berkenalan dengan 'orang tua' Te Apoyo, ia malah berpikir untuk menginap.
"Apa orang tuamu nanti tidak kuatir?" tanya 'papa' Te Apoyo.
"Tidak apa, papaku pasti tidak keberatan kalau putrinya di rumah calon mertua, ia kan sayang?" ucapnya sambil melirik Te Espere.
Lalu ia berpura-pura menghubungi orang tuanya, yang sebenarnya adalah pelayannya. Ia berbicara dengan intonasi yang berbeda dari biasanya, sehingga pelayannya paham kalau putri majikannya sedang berpura-pura. Jadi ia mengiyakan saja ucapan putri majikannya tersebut.
"Lihat, mamaku tidak keberatan. Lagi pula aku sering bercerita tentang Te Apoyo. Dan mamaku sangat percaya padaku," ujarnya bersemangat.
Ia ingin membuat Te Espere merasa cemburu atau pun merasa terusik dengan keberadaannya. Dan ia berpikir, jika ia berhasil mungkin Te Espere akan minggat, malam itu juga. Tapi Te Espere justru bersikap biasa saja. Meski ia cukup kesal. Belum lagi saat ia meminjam pakaian Te Apoyo dan bukan pakaian Te Espere untuk pakaian ganti. Dan dengan percaya diri meminta tidur di kamar Te Apoyo.
"Dasar tidak tahu malu," batin Te Espere geram.
"Maaf nak, itu sudah kelewatan. Kalian ini masih kecil. Jika terjadi sesuatu pada kalian, maka kami orang tua inilah yang nantinya akan disalahkan. Jika pun orang tua kamu tidak keberatan kalau kamu menginap, tapi kamu hanya boleh tidur di kamar Te Espere!" ujar 'mama' Te Apoyo dengan tegas.
Mendengar ucapan 'mama' Te Apoyo, gadis itu menjadi ciut.
"Gawat, aku sudah membuat calon mertuaku marah," gumamnya dalam hati.
"Ah aku hanya bercanda kok, iya kan sayang," katanya pada Te Apoyo, dan mencoba melempar senyum kecil untuk 'mama' Te Apoyo.
"Lagi pula, aku lebih suka tidur di kamar bersama Te Espere, jadi kita bisa bercerita sepanjang malam, ya kan Te Espere?" ujarnya penuh kemenangan.
__ADS_1
Bersambung...