
Dion merasa terpukul. Saat ia sedang bersenang-senang, orang lain justru bertaruh nyawa untuknya. Bahkan orang yang pertama kali mendapatkan barang bukti justru tidak diketahui rimbanya.
Dion teringat saat sedang bersama Lina, tiba-tiba ia teringat pada Teresia. Ia mengira Teresia sedang di rumah Lina sendirian. Ia mengambil ponselnya untuk melihat waktu. Memastikan kalau Lina belum terlalu lama meninggalkan putrinya. Saat itulah ia mengetahui kalau ada banyak pesan masuk.
Dan setelah melihat pesan itu ia pun dengan cepat mencari kontak teman lamanya di akun sosial media yang terhubung dengan teman lamanya. Dan ada sedikit perbincangan, sebab orang tersebut ragu kalau itu benar-benar Dion. Setelah yakin barulah ia setuju menolong. Meski belum sempat melihat rekaman yang Dion kirim secara utuh, untuk membuktikan keasliannya.
Dan segera bertindak. Tapi mereka gagal menemukan wartawan wanita yang menjadi saksi dan juga orang yang berhasil merekam kejahatan papa Kelly.Tapi wartawan wanita itu berada di tempat yang aman, walau saat ini yang lain mengkuatirkannya.
Dokter yang menanganinya adalah orang yang baik. Meski awalnya dokter itu curiga tapi karena yang mengantarkannya adalah seorang perawat yang ia kenal. Ia pun tidak banyak tanya pada wanita tersebut. Padahal perawat tersebut juga tidak mengenal wanita yang ia antarkan. Dan perawat itu bahkan tidak ingat apa-apa.
Hari sudah siang. Anak-anak remaja yang diculik papa Kelly dipulangkan pada keluarga mereka masing-masing. Dan yang sudah kehilangan salah satu organ dalam, dan masih hidup, dibawa ke rumah sakit terdekat.
Polisi juga melacak jasad anak-anak atau pelayan yang bekerja di rumah papa Kelly. Mereka yang tiba-tiba menghilang. Dengan bantuan anjing pelacak serta informasi dari anak buah papa Kelly. Sebuah galian yang baru mau pun sudah lama. Terdapat tulang-belulang, dan sebagian jasad yang mulai membusuk di sebuah kuburan baru. Dan penguburan tersebut sangat tidak layak.
Kini Dion berdua dengan Lina, dan hari ini toko tidak dibuka. Baik toko Lina mau pun Dion. Dion terlihat sangat lelah. Meski kakinya sendiri belum pulih, ia tidak mau meninggalkan sahabatnya yang sudah seperti saudara baginya.
Lina tidak tau berbuat apa-apa memilih keluar sejenak. Menelepon keluarga yang merawat putrinya. Untuk memastikan kalau hari ini Teresia baik-baik saja. Setelah melakukan video panggilan, Lina kembali menemui Dion.
Tapi saat melihat seorang perawat, ia meminta perawat tersebut mencarikan tempat tidur kosong untuk suaminya, agar bisa berbaring. Tidak lama kemudian perawat tersebut membawakan satu tempat tidur kosong dan mengantarkannya masuk ke kamar teman Dion.
"Dion, berbaringlah. Kakiku harus diluruskan," ujar Lina. Dion pun menurutinya.
Dengan bantuan Lina ia naik ke tempat tidur. Lalu Lina pamit untuk membeli makanan. Polisi masih berjaga untuk ke amanan saksi, yaitu teman Dion.
Sementara itu di sekolah Ray, suasana tampak sepi semua murid pulang lebih awal seperti kemarin. Meski tidak ada tersangka namun masih dicari apa motif dari peristiwa bunuh diri tersebut. Seorang murid wanita, berjalan sendirian. Mencoba mencari sesuatu dengan kamera ponsel yang menyala.
__ADS_1
Dan di tempat Teresia berada, ia masih diperlakukan seperti seorang putri. Tapi saat keluarga itu mulai bosan. Mereka berencana untuk memutar balikkan keadaan.
"Teresia, kamu sudah selesai makan?"
"Sudah tante," jawab Teresia tanpa curiga.
"Bawa piringnya kemari ya!"
Teresia pun membereskan sisa makannya dan mengantarkan piringnya. Tapi ternyata, wanita itu menyuruhnya untuk mengambilkan sabun lalu pura-pura mencari sesuatu.
"Oh iya, tuangkan sabun cairnya ya ke wajan itu, lalu kucek-kucek sampai berbusa. Bibi mau cari garam dulu di kedai. Oh iya tolong cucikan dulu ya sebagian. Nanti setelah kembali dari warung tante akan cuci sisanya," kata wanita itu. Teresia mengangguk.
Tapi sampai Teresia selesai mencuci piring, si tante baru muncul dengan sebungkus garam kecil. Lalu ia pura-pura minta maaf karena pemilik warung banyak bertanya, sehingga ia menjadi lama kembali.
Hingga suatu hari, kebetulan yang menguasai raga Teresia adalah roh wanita yang sudah lama bersemayan di tubuhnya. Teresia yang kelelahan membuat jiwa aslinya tertidur lelap dalam raganya. Dan roh itu terbangun.
"Teresia, bantu Tante bawa cucian kotor ini ke kamar mandi ya. Jangan lupa taruh di ember. Isi airnya dan rendam. Kalau sudah 30 menit direndam dengan air sabun, lalu disikat sampai bersih. Lalu diperas. Oh ya, jangan lupa dibilas ya. Pakai air bersih kalau sudah diperas," perintahnya ini dan itu.
Dan seperti sedang menerangkan cara mencuci pakaian kotor, dia menyuruh Teresia mempraktekkan setiap kalimatnya. Meski tidak paham betul apa yang diucapkan wanita itu, roh wanita tersebut bisa menebaknya. Dan faham beberapa kalimat.
Dengan kasar ia menjatuhkan pakaian kotor itu di lantai. Lalu pergi ke dapur dan mencari makanan. Saat ia hendak makan, si tante menghalangi.
"Cuci dulu pakaiannya baru makan!" bentak si tante berang.
Teresia menurutinya. Tapi ia hanya cuci tangan lalu makan. Si tante makin emosi. Dirampasnya piring tersebut. Dan Teresia tidak mau kalah. Ia mencoba merebut makanannya kembali. Tapi kemudian ia melihat makanan lain yang di meja. Jadi dia memilih mengambil piring yang baru.
__ADS_1
Saat hendak mengisi piringnya, si tante dengan cepat menghalangi. Dan begitu juga saat Teresia hendak mengambil makanan yang lain. Teresia tersenyum. Dilemparkannya salah satu jenis makanan yang berhasil ia dapat ke lantai. Makanan itu berserakan. Sesaat si tante terbengong. Dan Teresia berhasil mengambil makanan yang lain.
Dengan santai ia membawa makanan tersebut ke ruang depan menyalakan televisi dan makan. Sementara si tante sedang mengepalkan tangannya dengan kuat. Dan matanya melotot karena emosi.
"Awas kamu ya, lihat saja nanti. Beraninya sekarang melawanku. Akan aku beri kamu pelajaran nanti!" batinnya geram.
Lalu ia menyimpan makanan di kamarnya. Seluruh isi makanan di kulkas dikosongkan dan hanya tersisa bahan makanan. Diperhatikannya Teresia yang sudah selesai makan, langsung pergi ke kamar dan kembali tidur. Dan hal itu dimanfaatkan si tante untuk mengunci kamar Teresia.
Saat Teresia merasa lapar kembali ia pun menggedor-gedor pintu dari dalam. Ketika pintu itu tidak bisa dibuka dengan cara biasa. Penghuni rumah yang lain heran. Mereka satu-persatu mencoba membuka pintu Teresia.
"Hei jangan dibuka, biarkan saja dia di dalam. Aku memang sengaja menguncinya agar dia jangan terus-terusan makan."
"Kenapa?" tanya Joni.
"Kenapa apanya? Dia cuma mau makan dan tidur. Kalau dibiarkan makan terus piring kotornya bisa segunung. Dan bisa-bisa kita yang rugi juga."
"Bukankah mamanya sudah mengatakannya dari awal, kalau dia itu tukang makan," ujar Joni. Sambil menuangkan air putih ke dalam gelas lalu minum.
Air yang diminumnya muncrat saat mendengan suara dentuman yang sangat keras dari kamar Teresia. Teresia mencoba mendobrak pintu itu. Dan malah seperti hendak menghancurkannya.
"Hei kamu, berhenti buat keributan. Jangan macam-macam, atau kamu tidak akan dapat makan malam!" teriak si tante marah-marah.
Jika tidak ditarik oleh Joni, si tante hampir tertimpa pintu kamar Teresia yang copot. Teresia menatap tajam dengan mata melotot, ke setiap orang yang ada di luar kamarnya dan menyeringai. Lalu tertawa terbahak-bahak yang membuat tiap orang yang mendengarnya akan merinding.
Bersambung...
__ADS_1