Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Mau Kemana?


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Te Apoyo menghentikan mobilnya di parkiran. Ia mengambil kotak kue yang ada di kursi tempat gadis itu duduk. Dalam penglihatan gadis tersebut kalau Te Apoyo mau membuang kotak kue itu.


Jadi ia tidak ikutan turun. Tapi setelah hampir setengah jam Te Apoyo belum muncul ia memilih ke luar dari mobil Te Apoyo. Lalu melihat sekitarnya. Dan ia terkejut saat sesuatu menyentuh kakinya.


"AAARRRGGGHHH!" teriaknya ketakutan melihat sosok mengerikan berada di bawah mobil Te Apoyo.


Gadis itu pun melarikan diri, menerka-nerka kemana arah Te Apoyo pergi. Dan ia semakin ketakutan saat melihat berbagai macam rupa mahluk menyeramkan di rumah sakit tersebut.


Dengan gemetaran ia melangkah mundur dan tanpa ia sadari kalau ia masuk ke sebuah kamar. Yang ditempati seorang anak kecil yang tidak memiliki sehelai rambut pun, dan anak itu memakai topi ulang tahun yang terbuat dari kertas berwarna merah. Dan ada kotak kue yang dibeli oleh Te Apoyo di pangkuan anak tersebut.


"Kakak sedang mencari siapa?" tanya anak tersebut pada gadis itu.


"Oh maaf, kakak salah masuk kamar," ujarnya lalu ia mengintip ke luar kamar tersebut.


Ia terkejut, dan lebih terkejut lagi, dan ketakutan. Melihat sosok pemuda yang melekat erat dalam ingatannya. Orang yang diperkenalkan padanya di malam ia kabur dari rumah.


Mulanya ia senang berkenalan dengan pemuda itu, tapi semua berubah saat pemuda itu mengajaknya ke kamar untuk bersenang-senang. Mulanya tentu saja gadis itu menolak dengan sopan. Tapi pemuda itu tidak menyerah begitu saja.


Ia menyangka kalau gadis itu hanya sedang mengulur waktu saja. Dan ia yang sudah sedikit mabuk sudah tidak sabar. Nalurinya mengatakan kalau ia harus mendapatkan gadis itu malam ini juga. Tidak perduli bagaimana caranya. Dan pemuda itu semakin lama semakin bersikap buruk padanya.


Gadis itu merasakan sakit karena disiksa oleh pemuda tersebut. Lalu sebuah benda tipis dan tajam menembus kulitnya. Membuat penglihatannya menjadi kabur, dan tenaganya pun hilang.


Saat terbangun ia hanya melihat gelap lalu saat melihat cahaya, perlahan-lahan yang ia lihat hanyalah jalan menuju rumahnya. Ia benar-benar lupa. Dan tidak mengetahui kalau, kenyataannya sekarang raganya disembunyikan pemuda itu. Dan saat ini hanya setengah jiwanya yang keluar dari raganya. Tapi ia merasa kalau saat ini dia bergerak dengan raga yang utuh.

__ADS_1


Dia juga tidak tahu kalau anak yang menyapanya adalah anak yang memiliki indra ke enam. Anak itu terbiasa melihat roh, dan tidak takut pada mereka. Dan roh-roh tersebut tidak tertarik padanya yang penyakitan.


Gadis itu mencoba mengulur waktu untuk keluar dan mencoba mengajak anak itu berbicara mengenai kotak kuenya. Anak itu pun mengatakan kalau kotak kue itu berasal dari seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ini.


Saat mereka sedang berbicara, wanita paruh baya masuk. Yang akhirnya disadari oleh gadis itu kalau wanita itu adalah mama dari anak tersebut. Ia membawa piring dan sendok di tangannya.


"Ma, potong kuenya nanti saja ya, kalau om dokter sudah datang!" pinta anak tersebut.


"Ia tentu saja," ujar wanita itu dengan lembut. Lalu meletakkan barang yang ia bawa ke atas meja.


Gadis tersebut menyapanya, tapi wanita itu mendiamkannya. Membuat gadis tersebut merasa diabaikan.


"Ma, kakak ini boleh ikut merayakan ulang tahunku kan?" tanya anak tersebut.


Dengan cepat ia mengulurkan tangannya, untuk memperkenalkan diri, tapi lagi-lagi ia kecewa. Wanita itu tidak menyambut tangannya dan hanya pergi menuju pintu begitu saja.


Tapi ia tidak jadi keluar karena Te Apoyo masuk ke ruangan tersebut. Ia baru saja melakukan operasi. Dan setelah membersihkan diri dia langsung datang ke ruangan anak itu, untuk merayakan ulang tahun anak tersebut. Dan ternyata bukan hanya dia saja. Ada beberapa perawat juga datang ke ruangan itu.


Gadis itu bersembunyi saat melihat pemuda yang ingin ia hindari masuk. Ia bersembunyi di bawah kolong tempat tidur anak itu.


"Kakak? Apa yang kakak lakukan? Kenapa kakak bersembunyi di bawah kolong?" tanya anak kecil itu.


Membuat semua yang ada di situ melirik satu dengan yang lainnya. Tapi kemudian mereka memakluminya dan bertingkah seolah tidak mendengarkan perkataan anak tersebut. Mereka mengetahui kalau anak tersebut memiliki indra ke enam.

__ADS_1


Meski semua tampak tidak perduli, tapi ada satu orang yang perduli. Ia adalah teman kulian Te Apoyo, orang yang menyimpan raga gadis tersebut. Saat gadis itu melihat kalau pemuda ia melihat ke bawah kolong, dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya.


Rasanya memalukan melakukan hal itu. Ia juga takut pemuda itu mengenalinya. Dan akhirnya ia memilih kabur dari sana.


"Hey kakak? Mau pergi kemana?" tanya anak laki-laki itu lagi.


Tapi kemudian anak laki-laki itu hanya mendengus lemah. Karena tamunya berkurang satu. Teman Te Apoyo melihat ke arah pandangan mata anak tersebut. Lalu pura-pura berdehem dan permisi keluar.


Gadis itu ternyata masih bersembunyi di situ. Ia menunggu Te Apoyo keluar. Tapi ternyata, dari tempat persembunyiannya yang ia lihat justru teman Te Apoyo. Berjalan dengan tatapan yang tajam mencari seseorang. Gadis itu ketakutan dan gemetaran.


Beruntung pemuda itu masuk kembali ke ruangan tempat Te Apoyo berada. Dan hal itu digunakan oleh gadis itu untuk melarikan diri. Saat berlari dari tempat persembunyiannya ia melihat hal-hal yang menyeramkan. Dan ia berjalan menjauhi mereka.


Meski penampilan mereka sangat menyeramkan, gadis itu justru merasa kalau teman semasa kuliah Te Apoyo lebih menyeramkan. Meski saat ini pemuda itu sedang membuat lelucon di kamar anak kecil yang mendapar kue dari Te Apoyo.


Di saat semua orang tertawa oleh lelucon teman Te Apoyo tersebut. Gadis itu kini berjuang mati-matian agar tidak bertemu lagi dengannya. Dan ia memberanikan diri pergi ke parkiran.


Sebenarnya ia tidak tahu persis lokasi parkiran, tempat mobil Te Apoyo menunggu tuannya untuk mengemudikannya. Dan lagi gadis itu mengingat kalau ada hal yang ia takuti sejak kecil di bawah kolong mobil Te Apoyo. Tapi nalurinya membawa langkah kakinya tanpa tersesat. Dan arwah yang sempat memegang kakinya, sudah tidak ada lagi di sana.


Ia bernapas dengan lega dan lebih merasa lega lagi karena pintu mobil tidak dikunci. Dan ia akhirnya mengingat kalau Te Apoyo lupa mengunci pintunya. Lalu ia memilih masuk ke dalam mobil tersebut dan menunggu Te Apoyo kembali.


Tapi kenyataannya tidak demikian. Te Apoyo sebenarnya tidak meninggalkan mobilnya begitu saja, ia sudah menguncinya. Kenyataan yang terjadi berbeda dengan apa yang gadis itu lihat. Ia hanya melihat hal-hal yang tanpa ia sadari merupakan pikiran di bawah alam sadarnya.


Dan tanpa sadar ia kehilangan kesadarannya dan menghilang. Rohnya kembali lagi ke raganya. Semuanya menjadi gelap.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2