Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Pencarian Barang Bukti


__ADS_3

Malam itu Dion tidak pulang ke rumah, ia segera menuju vila. Tidak lupa ia membawa rekaman CCTV ke vila tersebut. Kedatangannya disambut dengan wajah cemas oleh Lina. Karena jarak dari rumah ke Vila sangat jauh.


Dion yang baru datang tampak gembira melihat istrinya baik-baik saja. Lalu ia mengajak istrinya pergi ke toko pakaian terdekat. Mulanya Lina menolak karena suaminya pasti lelah pikirnya. Namun karena Dion memaksa, akhirnya Lina setuju. Mereka membeli beberapa stel pakaian dan tidak lupa membeli pakaian dalam.


Malam itu Dion dan Lina menginap di vila. Saat istrinya tertidur pulas, Dion diam-diam melihat rekaman CCTV. Dia memperhatikan rekaman sejak keanehan terjadi pada istrinya. Karena sudah sangat larut Dion pun akhirnya menyimpan rekaman itu lalu pergi berbaring di samping istrinya.


Sementara di rumah Dion tampak pelayan merasa was-was karena tuannya belum juga pulang. Tapi kemudian muncul gosip di antara mereka jika ada wanita lain yang dimiliki oleh tuannya. Mendengar hal itu Vivina jadi semakin kesal.


Hari berikutnya Dion hanya pulang ke rumah, untuk mengambil beberapa berkas sebelum pergi ke kantor. Ia sudah tidak lagi makan di rumah dan bahkan ia kerumah hanya sekedarnya saja. Vivina sudah tidak punya kesempatan lagi untuk memberi apa pun pada Dion.


Malam harinya Dion melanjutkan pencarian barang bukti. Malam ini ia bertekat menyelesaikan semua rekaman. Karena bosan ia pun beberapa kali mempercepat rekamannya. Dan sampai akhir ia tidak berhasil menemukan apa pun.


"Ini aneh sekali," pikir Dion.


Malan ini pun dia gagal menemukan pelakunya. Namun ia tidak mau menyerah. Rekaman itu iya duplikasi dan memberikan duplikatnya pada seseorang.


"Cari hal yang janggal di rekaman ini!" perintah Dion.


"Ok siap," jawab orang itu.


Keesokan harinya seseorang datang ke kantor Dion membawa sebuah berita.


"Aku menemukan beberapa hal yang janggal di rekaman tersebut. Tampak seorang pelayan selalu berada di sebuah tempat yang tidak terlihat di kamera pengintai sebelum akhirnya muncul di lokasi yang lain. Dan hal itu hanya terjadi saat pelayan itu sedang membawa makanan atau pun minuman," kata orang itu.


Rekaman diputar lagi dan dipercepat namun di menit-menit tertentu rekaman itu diperlambat. Orang itu menunjuk satu pelayan yang ia curigai dan menganggap tindakannya janggal. Dion memperhatikan siapa pelayan tersebut. Dan ternyata orang tersebut adalah Vivina.


"Lihat, ada jeda di tiap perpindahan ruang, padahal yang lain tidak perlu lama untuk pindah ruang." kata orang tersebut.


"Dan satu lagi, itu selalu saat dia membawa makanan."

__ADS_1


Orang itu menunjukkan juga rekaman saat malam Vivina mengendap-endap menaruh kopi di lemari penyimpanan. Ternyata ada juga rekaman ia dan Bibi Kinan minum kopi bersama. Dion berpikir sejenak. Mencoba menyatukan puzle-puzle dari tiap kejadian.


"Dan ini hal yang lebih mencurigakan. Ia datang dan membuka lemari dan menaruh dua bungkus kopi di dalam lemari. Tapi tidak tau dari mana kopi itu berasal."


Dion mendengarkan perkataan orang tersebut dengan serius.


"Ada kejadian apa? Kenapa kau sampai meminta bantuanku hanya untuk mengungkap pencuri kopi di rumahmu. Dan sejak kapan kau perduli dengan hal remeh seperti ini." tutur orang tersebut.


Dion tidak menjawab, tapi sepertinya ia sudah mendapatkan jawaban dari teka-teki yang selama ini dia cari. Orang yang telah diam-diam menaruh obat di minuman dan makanan mereka adalah Vivina.


Dion pun akhirnya pulang ke rumah, dan tiba-tiba ia menyuruh semua pelayan berkumpul. Lalu pergi ke kamar dan membuka lemari mereka masing-masing. Lalu ia dan orang-orang yang datang bersamanya menggeledah isi lemari. Dan beberapa yang lain menjaga para pelayan di luar agar tidak seorang pun kabur.


"Periksa isi lemari setiap pelayan yang ada di sini, tanpa melewatkan satu laci sekali pun." perintah Dion pada beberapa orang yang ia bawa untuk menggeledah.


Dan di lemari Vivina didapatkan sebungkus kopi, dan juga bungkus obat herbal pemberian tante Dion. Vivina yang melihat hal itu menjadi takut. Ia sepertinya sadar kalau ia ketahuan. Tapi entah kenapa ia mencoba menyangkal.


Ia masih berharap kalau itu hanya kebetulan. Mungkin tuan kehilangan sesuatu jadi mencurigai pelayan yang nengambilnya.


Vivina mencoba menyembunyikan fakta tentang kandungan kopi dan obat herbal tersebut. Namun Dion tidak menanggapi ucapan Vivina.


Dion lalu meminta salah satu yang ikut melakukan pengeledahan untuk memeriksakan kandungan kopi tersebut. Vivina sangat ketakutan. Ia sudah tidak tau berbuat apa-apa. Penggeledahan yang tiba-tiba itu, tidak pernah terpikir olehnya.


"Semua orang, tidak ada yang boleh keluar sebelum hasil pemeriksaan keluar."


"Mati aku." batin Vivina.


Tapi kemudian Vivina mencoba memutar otaknya. Ia mencari jawaban apa yang akan ia jawab, jika sampai ia ketahuan. Sementara semua pelayan yang lain merasa bingung. Kenapa tiba-tiba seluruh kamar dan lemari pelayan dibongkar.


"Hei, mau kemana kau?"

__ADS_1


"Aku ingin ke kamar kecil, apa tidak boleh?"


"Pergi, tapi jangan lama-lama."


"Kenapa, kamu takut kangen sama aku?" Vivina pura-pura menggoda penjaga yang dibawa Dion untuk mengawasi para pelayan.


Dengan dalih ke kamar kecil Vivina mencoba kabur dari belakang. Namun ia ketahuan.


"Bukannya kau bilang tadi mau ke kamar kecil?"


"Ah iya, benar sekali. Tapi aku lupa kalau ada sesuatu yang tertinggal." elak Vivina.


"Saat ini tidak seorang pun boleh keluar, mengerti!"


"Ok ok ok jangan marah." jawab Vivina.


Hari itu sangat menegangkan beberapa orang masih di ijinkan leluasa bergerak asal masih di dalam rumah kecuali Vivina. Vivina lebih diawasi dibandingkan dengan yang lainnya. Kini Vivina hanya punya satu pilihan, yaitu menelepon majikan ke duanya.


Ia pun pergi ke toilet dan mengirim sebuah pesan.


'Nyonya, sepertinya saya ketahuan. Tolong saya nyonya.' Pesan yang dikirim oleh Vivina.


Vivina menunggu jawaban dari majikannya.


Lalu sebuah panggilan masuk. Vivina yang memang mengatur ponselnya dengan pengaturan 'mute' menerima panggilan.


"Ingat jangan pernah membuka mulutmu. Asal kau tidak membuka mulutmu, aku akan membayar seorang pengacara untukmu. Jadi kau tidak perlu takut." jawab tante Dion dari seberang ponsel.


Panggilan dimatikan. Vivina sedikit merasa lega. Dan cepat-cepat ia keluar agar tidak ada yang curiga. Namun sebelum itu ia berpura-pura habis buang air kecil dengan menghidupkan keran, dan menyiram toilet. Lalu keluar dengan tangan basah, dan sedang dielap dengan tisu.

__ADS_1


Saat keluar dari toilet...


Bersambung...


__ADS_2