
"Bukan bi, seseorang mengirimnya dan menyatakan kalau ia hilang," jawab Te Apoyo.
"Oh, kasihan ya," kata pemilik kedai menyesal sudah mengumpat gadis itu tadi.
"Kalau saja tadi bibi tahu dia meninggal ...," ujar pemilik menghentikan ucapannya.
"Meninggal? Maksud bibi?" tanya Te Apoyo.
"Ah ... bukan apa-apa," kata bibi itu dengan cepat.
Lalu meninggalkan Te Apoyo, yang kemudian menikmati makanannya. Tapi ia juga merasakan kalau makanan di kedai itu hambar. Jadi ia hanya mengaduk-aduknya saja dan pura-pura sibuk melihat layar ponselnya hingga orang yang menjemputnya tiba.
Setelah orang yang menjemputnya tiba, ia pun meletakkan uangnya di atas meja lalu permisi pada pemilik kedai. Saat pemilik kedai mengangkut mangkuknya dan masih banyak sisa makanan di sana, ia pun merasa tidak nyaman.
Di lihatnya semua hidangan yang masih tersisa. Ia bingung makanan itu harus ia apakan. Karena meski dimasak ulang dan diberi bumbu, makanan itu pastinya akan tetap hambar. Jika dibuang rasanya sayang juga. Tapi jika dihidangkan pada pelanggan, bisa-bisa pelanggan akan pada lari.
Dia pun duduk termenung saat kedainya menjadi terasa sepi. Sambil ia memikirkan nasib gadis yang ada di layar ponsel milik Te Apoyo. Antara kasihan dan dongkol menjadi satu dalam pikirannya.
"Ah sudahlah, kalau memang rejeki tidak akan kemana, anggap saja hari ini aku sedang sial," gumam pemilik kedai, sambil memperhatikan pelayannya yang membersihkan sisa-sisa makanan di piring dan mangkuk untuk dicuci.
Sementara gadis itu kini sudah tiba di rumahnya tanpa ia sadari. Dan saat ia tiba di rumah, ia mendengar mamanya sedang berbicara dengan seseorang.
"Bagaimana? Apa, bertemu sekarang? Ya baiklah, aku akan segera datang," ujar mama gadis tersebut.
Sementara gadis itu melangkahkan kakinya ke dalam rumah saat mamanya hendak melangkahkan kakinya keluar. Mamanya tiba-tiba merasakan seperti ada angin yang lewat dari samping kanannya. Ia tanpa sadar menoleh sebentar.
Gadis itu mengira kalau mamanya sedang melihatnya. Lalu ia melihat mamanya menggelengkan kepalanya. Membuat gadis itu berpikir kalau mamanya sedang menilai dirinya dan kecewa. Padahal mamanya mencoba menyadarkan dirinya kalau itu hanya angin yang bertiup.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak usah perdulikan aku, teruslah sibuk dengan urusan kalian," ujar gadis tersebut, yang sama sekali tidak didengar mamanya.
Mamanya pun pergi begitu saja. Saat mamanya pergi, gadis itu menangis. Ia merasa kalau orang tuanya sudah tidak memperdulikannya lagi. Ia bahkan berharap mamanya akan mengomelinya seharian. Tapi kenyataannya mamanya justru memilih pergi dan menemui pria lain.
Mama gadis itu ternyata menemui Om Nicholas, ia sedang mencari tahu keberadaan putrinya. Beberapa informasi tentang teman-teman putrinya sudah dikantongi, dan juga sudah diselidiki. Apakah hilangnya si gadis ada hubungannya dengan mereka.
Namun mereka yang merupakan teman terdekat si gadis justru tidak mengetahui keberadaan si gadis tersebut. Jadi om Nicholas meminta mama si gadis untuk mencari tahu siapa lagi yang mengenal putrinya.
Saat sedang berbincang dengan om Nicholas, ternyata papa si gadis melintas dan melihat keduanya. Dan ia merasa cemburu, pasalnya Nicholas dulunya pernah dekat dengan istrinya.
Segera ia pulang ke rumah dan menunggu istrinya. Dan saat istrinya pulang ke rumah, tanpa banyak bicara ia langsung melayangkan ke lima jarinya ke pipi istrinya tersebut. Istrinya terisak, membuat si gadis keluar dari kamarnya.
"Aku sibuk bekerja dan kamu malah asik-asik bersama pria lain, apa kamu tidak punya malu? Apa kamu tahu kalau kamu itu wanita yang tidak becus mengurus keluarga!" teriaknya.
"Apa maksudmu? Memangnya semua salahku? Apa kamu pikir mendidik itu cuma tugasku?" teriak sang istri dengan suara parau.
"Jangan menutupi kesalahanmu dengan mencari-cari kesalahannku!" ujar istrinya lagi dan pergi ke kamar.
Kali ini si gadis sudah tidak tahan lagi. Ia mengambil tas besar lalu mengisi pakaiannya ke dalam tas, dan pergi dari rumah. Ia dengan sengaja lewat dari depan mata papanya. Berharap papanya akan menahannya. Namun ternyata papanya hanya membiarkannya begitu saja.
Maka tekadnya pun sudah bulat untuk pergi dari rumah. Ia berniat pergi ke rumah temannya. Namun di tengah perjalanan seekor anjing menyalak padanya. Dan ia lari pun ketakutan.
Saat ia lari karena takut ia pun tertabrak oleh mobil yang dikendarai oleh Te Apoyo. Dia terjatuh dan saat itu juga mobil yang dikendarai oleh Te Apoyo pun berhenti. Ternyata seseorang sedang menghubunginya.
Gadis itu mengira Te Apoyo berhenti karena sudah menabraknya. Lalu ia berdiri dan memukul kaca mobil Te Apoyo. Te Apoyo pun keluar, untuk menerima panggilan.
"Hei, apa matamu buta!" teriak gadis itu saat Te Apoyo keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Te Apoyo tidak mendengar ucapan gadis tersebut.
"Maaf ma, hari ini aku tidak bisa pulang, ada korban tabrakan, aku harus secepatnya ke rumah sakit," ujar Te Apoyo.
Gadis itu terbengong, saat Te Apoyo mengucapkan kata rumah sakit. Ia mengira kalau Te Apoyo ingin membawanya ke rumah saki.
"Hei, aku baik-baik saja, kamu tidak perlu membawaku ke rumah sakit. Oh, bukan begitu, maksudku aku tidak mengalami luka serius, jadi tidak perlu dibawa ke rumah sakit," ujar gadis tersebut.
Tapi baru saja ia berkata demikian, tiba-tiba ia bergidik ngeri, melihat hal yang mengerikan berjalan ke arahnya.
"Oh tidak, aku sepertinya luka parah, jadi ayo kita ke rumah sakit," ujarnya lagi pada Te Apoyo yang sedang mengetik pesan.
Lalu gadis itu masuk ke dalam mobil. Te Apoyo terkejut mendengar suara pintu. Lalu ia mengamati pintu mobilnya. Sepertinya tidak ada yang bermasalah.
Gadis tersebut merunduk saat melihat hal menyeramkan melintasi mereka, seolah bersembunyi di dalam mobil adalah pilihan yang tepat. Gadis itu berpikir kenapa Te Apoyo cuek saja saat hal mengerikan itu lewat.
Sosok yang terlihat hitam kebiruan dan perutnya buncit seperti balon. Seolah-olah ia adalah jenazah yang hanyut di sungai. Pandangan matanyanya hanya sejurus, tidak melihat kiri dan kanan.
"Apa hanya aku yang bisa melihatnya?" gumam gadis itu, bertanya pada dirinya sendiri.
Te Apoyo belum juga masuk, dia masih celingak-celinguk hendak menyeberang jalan. Lalu mampir ke toko kue dan membeli sekotak kue bolu. Setelah beberapa menit ia pun keluar dari toko tersebut.
"Katanya buru-buru, tapi malah beli kue. Mau menyogokku dengan itu?" gumam gadis itu lagi.
Te Apoyo pun masuk kembali ke mobil dan meletakkan kotak kue tersebut di kursi gadis tersebut. Gadis itu mengira kalau Te Apoyo memberikannya untuknya.
"Hei, apa-apaan ini?" tanya gadis itu.
__ADS_1
Te Apoyo tidak mendengarnya dan hanya fokus untuk mengendarai mobilnya tanpa menyadari ada penumpang gelap di sebelahnya. Yang akhirnya memakan kue tersebut. Meski jumlah dan bentuk kue itu tidak berubah, namun kue tersebut sudah menjadi hambar.
Bersambung...