Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Hari Libur


__ADS_3

Ke esokan harinya Dion datang memeriksa secara langsung keadaan pabrik. Dan ia memperhatikan raut wajah yang bekerja dengan giat. Timbul rasa kasihan pada mereka, mengingat usia mereka tidak lama lagi. Ia meminta berkas para pekerja, dan hari itu ia memberikan bonus pada mereka, meski mereka baru bekerja dua minggu di bulan tersebut.


Dion melihat seorang kakek tua yang ikut bekerja di pabrik itu, gerakannya sangat lambat. Dion tanpa sadar menatapnya untuk waktu yang lama. Sehingga managernya merasa cemas karena di pabrik itu ada buruh yang sudah lansia.


"Pak, mohon maaf, apa kita boleh bicara sebentar?" kata maneger.


"Oh tentu, ada apa?" tanya Dion.


Mereka pun pergi ke kantor.


"Begini pak, sebenarnya saya minta maaf terlebih dahulu. Ini soal kakek tua yang bapak lihat tadi. Sebenarnya ia bekerja di sini atas permintaan mandor. Tapi bapak tidak perlu kuatir, karena gaji kakek tersebut tidak diambil dari uang perusahaan. Melainkan dari gaji mandor pabrik," tutur manager tersebut ragu-ragu.


"Apa, gaji kakek itu diambil dari gaji mandor? Astaga! Kembalikan semua gaji mandor untuk membayar gaji kakek tersebut. Dan berikan gaji yang sama pada kakek itu seperti karyawan yang lain!" perintah Dion.


Maneger terkesima dengan kebaikan hati Dion dan segera melakukan yang diperintahkan. Kakek itu menerima gaji tambahan sesuai gaji yang diterima oleh karyawan lain. Sebab selama ini ia hanya menerima gaji yang diambil sedikit dari gaji mandor.


Dengan rasa haru si kakek mengucapkan berulang kali kata terima kasih. Tidak disangka olehnya, di usianya yang sudah renta. Ada orang yang mau memperkerjakannya.


Sementara Dion penasaran dengan sosok mandor yang direkomendasikan oleh Te Apoyo. Dia ingin tahu, seperti apa penampilannya. Saat bertemu dia memandang sekilas pada penampilan sederhana mandor tersebut. Namun ia tetap terlihat rapi dan berwibawa dalam kesederhanaannya.


Dion mengajaknya bicara 4 mata lalu bertanya padanya, kenapa ia menerima kakek tua tersebut. Mandor itu panik, dan segera meminta maaf.


"Saya merasa kasihan pak," jawabnya.


"Jika ada ratusan lansia yang mau menjadi karyawan di pabrik ini, apa kamu juga akan melakukan hal yang sama?" tanya Dion.


"Maaf pak, saya hanya manusia biasa. Saya hanya bisa membantu sebisa saya. Meski gaji yang dia terima kecil. Kakek itu merasa senang. Bukan maksud saya menindasnya. Tapi saya ingin kakek tersebut merasa berguna. Sebab ia tinggal di rumah saya dan mempunyai dua cucu yang masih kecil," kata mandor itu bercerita.

__ADS_1


"Dan ia merasa tidak enak hati hanya menumpang makan dan tidur di rumah kami, dan meminta untuk dicarikan pekerjaan. Dia bilang ingin memberi sedikit uang sebagai uang makan selama tinggal di rumah kami," lanjut sang mandor.


"Meski mama bilang agar ia tidak perlu melakukannya. Tapi ia jadi murung karena merasa menjadi beban. Jadi saya ajak kemari. Dan ketika ia gajian uangnya ia berikan pada mama saya. Walau pada akhirnya uang itu diberikan pada cucunya sebagai uang jajan,"


"Tapi cucunya menyerahkan kembali uang tersebut pada kakeknya," ujar mandor tersebut seraya menggerakkan tangannya mencontohkan gerakan orang-orang yang ia ceritakan.


Dion sedikit merasa lucu melihatnya. Hampir saja ia tertawa. Tapi kemudian ia menjadi sedih. Mengingar kakek yang berhati mulia dan penuh rasa tanggung jawab dan tidak bermental pengemis tersebut akan segera menutup usia. Begitu juga dengan mandor yang baik hati ini. Memikirkan hal itu kepala Dion tiba-tiba jadi pusing. Ia pun undur diri.


"Apa yang harus aku lakukan, siapa saja dari mereka yang akan pergi untuk selamanya? Apa aku liburkan saja mereka dari pekerjaannya?" pikir Dion sambil memijat keningnya.


Lalu ia memutuskan untuk memberi hari libur pada para pekerja selama dua hari. Lalu ia kembali ke kota besar. Saat hal itu diumumkan, karyawan yang baru saja menerima uang bonus, merasa gembira.


Tapi kemudian justru merasa tidak senang. Sebab mereka akhirnya mendengar desas-desus kalau mereka dipecat. Hal itu membuat karyawan protes. Mereka mengira kalau mereka benar-benar telah dipecat. Lalu mereka sepakat untuk tidak mendengarkan pengumuman. Sehingga mereka datang lagi ke pabrik untuk bekerja seperti biasa. Satpam pabrik heran, karena mereka datang padahal diberi libur dua hari.


"Loh? Ada apa ini datang ramai-ramai?" tanya satpam.


Satpam kebingungan lalu melapor pada mandor. Mandor datang dan mencoba menenangkan para pekerja.


"Ada apa ini? Tenang bapak ibu, kita bicara baik-baik," ujar mandor.


"Kamu mau bekerja! Hari ini juga! Titik! Kami tidak mau dipecat begitu saja!" ujar mereka kompak.


"Bapak ibu dan saudara sekalian, kalian sama sekali tidak dipecat!" jawab mandor.


"Kalau kami tidak dipecat! Kami mau kerja! Sekarang juga!" ujar mereka sambil medorong pagar agar terbuka.


"Tenang bapak ibu dan saudara sekalian, saya akan menghubungi manager, biar kalian percaya, kalau kalian tidak dipecat," ujarnya lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

__ADS_1


Dan dengan cepat menekan nomor kontak sang manager. Tidak menunggu terlalu lama, panggilannya pun diterima dan dijawab.


"Pak ada keributan di pabrik, pekerja protes diberikan libur secara tiba-tiba. Mereka mengira kalau mereka telah dipecat," kata mandor saat panggilan ke nomor manager terhubung.


Manager heran mendengar laporan tersebut. Dan segera ke pabrik untuk memastikan hal tersebut. Dan tepat seperti yang dilaporkan oleh mandor. Manager pun garuk-garuk kepala.


"Bapak ibu, kalian tidak di pecat, percayalah. Setelah dua hari datanglah kemari untuk bekerja," ujar manager.


Tapi jawabanya tidak memuaskan hati para karyawan.


"Jadi bapak ibu tidak percaya?!" ujar manager kehilangan akal. Akhirnya ia menghembuskan napasnya dan menyerah.


"Baiklah, semuanya, saya persilahkan untuk masuk dan bekerja seperti hari biasa," ujarnya pasrah. Sebab Dion dengan tegas memintanya untuk meliburkan karyawan.


Tapi Dion tidak mengatakan alasannya. Dion berharap para karyawan yang akan pergi untuk selamanya berada di tengah keluarga saat menghembuskan napas terakhir mereka.


Agar sebelum mereka tiada, keluarganya memiliki kenangan indah bersamanya meski hanya dua hari. Sebab selama ini pasti mereka tidak punya cukup waktu untuk anggota keluarga mereka. Karena mereka sudah kelelahan saat tiba di rumah masing-masing.


Tapi takdir tidak bisa ia ubah, sebab suratan tangan para pekerja sudah terukir di telapak tangan mereka. Meski ingin diubah dengan segala cara, tetap saja takdir akan menemukan jalannya.


Bekerjalah seluruh karyawan dengan riang gembira tanpa menyadari hari akhir mereka akan tiba. Sambil bekerja mereka bercengkrama. Membayangkan seandainya uang yang ditabung dari sisa gaji cukup untuk membiayai anak-anak mereka agar bisa bersekolah di sekolah yang terbaik.


Dan sebagian berpikir untuk membeli tanah agar bisa membuat rumah dan tidak perlu menumpang di rumah mertua. Atau pun tidak perlu menyewa rumah lagi.


Tapi kemudian mereka tertawa kecil dan merasa geli sendiri, karena sudah sudah berhayal terlalu tinggi. Dan akhirnya mempusatkan pikiran pada pekerjaan di tengah-tengah canda tawa mereka.


Tanpa mereka sadari beberapa orang mulai beraksi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2