
Saat Primavera hendak melihat siapa yang datang, para tamu sudah lebih dulu masuk. Ternyata mereka adalah Malika dan kedua anaknya. Primavera langsung memeluk Malika layaknya seorang adik perempuan yang bertemu dengan kakak perempuannya setelah sekian lama berpisah.
"Wah sudah lama tidak bertemu, mereka sudah besar ya!" seru Primavera. Dan dijawab dengan anggukan oleh Malika.
Putri Malika sudah kuliah, sedangkan putranya masih SMA, dan sebaya dengan Nicorazón.
"Halo tante," ujar Nicorazón menyalami Malika.
"Kamu tidak sekolah?" tanya Malika pada putra Te Apoyo.
Primavera langsung menarik tangan Malika ke belakang. Dan meninggalkan anak-anak di tempat itu. Setelah sampai di tempat yang rasanya aman barulah Primavera berbicara.
"Maaf Kak, untuk sementara jangan banyak tanya ya, sama Nicorazón," ujar Primavera.
"Kenapa?"
"Masalah pesulap yang sedang viral, beberapa hari yang melakukan pertunjukan di sini. Kakak tidak tahukah? Lihat saja nanti di internet. Dan Nicorazón yang diminta untuk melakukan-" ucap Primavera terhenti.
Lalu Primavera memilih membisikkan hal yang ingin ia sampaikan.
"Sejak itu dia sering ketakutan," ujar Primavera kemudian dengan nada datar tanpa berbisik tapi masih melihat ke arah tertentu.
Malika hanya tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya ia menyaksikan sendiri acara sulap tersebut, karena sesungguhnya dia berada di gedung itu, untuk menyaksikan acara sulap bersama anak-anaknya. Hanya saja mereka tidak memberitahukan kepada siapapun, tentang kedatangan mereka ke negara itu.
Dan mereka datang ke negara itu karena satu hal penting. Tapi hal itu dirahasiakan pada Primavera dan keluarganya, meskipun rahasia itu berkaitan erat dengan putra mereka yaitu Nicorazón.
"Berapa lama kalian akan tinggal di sini?" tanya Primavera kemudian.
"Kami akan segera pindah dan buka usaha di sini. Jadi kami akan tinggal sangat lama," jawab Malika sambil tersenyum.
"Sungguh? Apa itu artinya kalian tidak balik lagi ke sana?" tanya Primavera lebih lanjut karena penasaran.
"Kalau untuk menetap di sana sepertinya tidak, tapi kalau sekedar berjalan-jalan atau hal lain mungkin ia."
"Oh, begitu."
__ADS_1
Malika mengangguk. Primavera tersenyum karena merasa sangat senang sekali. Sekilas ia membayangkan hal apa yang bisa mereka lakukan bersama nanti, jika Malika benar-benar menetap di negara itu. Saat ia kembali sadar dari lamunannya, dengan segera Primavera menyuruh para pelayan memasak menu tambahan, untuk menyambut sahabat yang sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Kalau boleh tahu, kak Tomi mana?" tanyanya sambil mencari bayangan orang yang ia maksud.
"Oh papanya anak-anak, dia masih ada urusan untuk mengurus dokumen di sana. Jadi dia akan menyusul belakangan," jawab Malika.
"Oh ya sudah, kalau begitu kalian menginap ya di sini!" pinta Primavera, dan Malika hanya mengangguk.
"Tapi mana barang-barang kalian?"
"Oh, kami meninggalkannya di rumah papa."
Primavera hanya mengangguk lalu mengajak Malika kembali ke ruang tamu, dan saat itu seorang pelayan sedang menyuguhkan minuman dan cemilan untuk tamu, pada anak-anak mereka. Sambil menikmati minuman dan cemilan anak-anak itu membicarakan tentang pindah sekolah.
"Itu bagus, jadi Nicorazón punya teman nanti," timpal Primavera yang mendengar pembicaraan putranya dengan anak-anak Malika.
"Ya rencananya sih begitu. Akan lebih mudah kalau mereka bisa sekelas," kata Malika.
"Aku dengar, Nicorazón sering bolos, adikku bisa diandalkan jadi penjaganya agar dia tidak bolos sekolah," ujar putri Malika.
"Ya itu bagus, kalau masih berani bolos, aku yang akan menjewer telingamu itu," ujar putri Malika.
Saat mereka asik berbincang, di negara lain sahabat Esperanza sedang menggunakan kekuatannya. Ia membuat keluarga pemilik toko sakit. Tujuannya agar mereka tidak jadi pergi, sebab tadi siang pemilik toko mengajak Esperanza bertamasya pada hari minggu.
Ia mendatangi sebuah rumah sakit. Lalu mencari pasien yang memiliki penyakit dalam. Dan memindahkan penyakit mereka pada keluarga pemilik toko. Sehingga malam itu juga, keluarga itu menjadi sakit. Sedangkan pasien-pasien yang memiliki penyakit dalam di rumah sakit tiba-tiba sembuh.
Dan pemilik toko yang sakit, tiba-tiba tidak bisa bergerak dengan leluasa di rumah. Mereka memutuskan meminta bantuan dan memanggil nomor kontak Esperanza. Dan meminta agar gadis itu memanggilkan mobil ambulans untuk mereka.
Esperanza langsung mengunjungi rumah pemilik toko, yang sakit secara mendadak di rumah mereka. Dan dari sana ia menghubungi pihak rumah sakit. Segera pihak rumah sakit membawa mereka sekeluarga. Dari keterangan dokter, mereka mengatahui kalau, keluarga itu mengalami penyakit yang parah, dan harus menjalani rawat inap.
"Maaf ya, kita batal pergi lagi besok, bibi tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba sakit," ujar istri pemilik toko pada Primavera.
"Tidak usah dipikirkan bibi, yang penting kalian bisa segera sembuh," kata Esperanza.
Lalu setelah satu jam menemani keluarga itu, Esperanza dan sahabatnya pun pamit pulang. Sahabat Esperanza pura-pura ikut bersedih.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita berdua saja yang pergi besok?" ajaknya kemudian.
"Ah, tidak usah. Lebih baik aku beristirahat, atau membantu papa dan mama berkebun," jawab Esperanza.
"Apa aku boleh ikut?" tanya sahabat Esperanza
"Ya tentu saja," jawab gadis itu.
Ke esokan harinya setelah sarapan papa dan mama Esperanza pergi ke kebun terlebih dahulu. Sedangkan Esperanza yang tidak jadi pergi bertamasya dengan keluarga pemilik toko, akan pergi ke kebun setelah memasak untuk makan siang. Dan makanan itu akan dibawa ke kebun.
"Berikan padaku, biar aku yang bawa," pinta sahabat Esperanza.
"Oh baiklah," jawab Esperanza dan memberikan bekal itu pada sahabatnya.
Di perjalanan seorang pemuda sedang bermain permainan di ponselnya. Perhatiannya terbagi saat melihat Esperanza dan temannya sedang berjalan menuju kebun. Ia menatap dahan pohon yang akan mereka lalui. Tepat saat keduanya di bawah dahan, secara tiba-tiba dahan itu patah.
"Aakkh!" teriak Esperanza.
Lalu Esperanza melihat ke arah sahabatnya, ia bernapas lega setelah melihat kalau sahabatnya itu baik-baik saja. Pemuda yang berada di atas mobil mengernyitkan keningnya. Lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada permainan di ponselnya yang sudah kalah.
Sahabat Esperanza menatap ke arah mobil yang melintasi mereka. Tampak olehnya mobil itu penuh dengan roh yang memiliki rantai di leher mereka. Ia mencondongkan kepalanya sedikit ke depan. Memperhatikan dengan seksama, dan terkejut saat Esperanza menepuk pundaknya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Esperanza.
"Ah, bukan apa-apa," jawabnya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan, dan sepanjang jalan Esperanza melihat ke atas dahan pohon, sambil melindungi kepalanya. Dan tibalah mereka di kebun, membantu orang tua Esperanza yang sedang memanen hasil kebunnya. Dan mereka pulang setelah sore hari.
Saat matahari tenggelam di negara Esperanza, matahari di negara Nicorazón mulai bersinar. Putra Te Apoyo dibangunkan oleh suara berisik putra Malika yang masih menginap di kamarnya. Pasalnya mereka akan berangkat ke sekolah bersama-sama.
"Ayo bangun pemalas!" ujar putra Malika yang sudah rapi sambil memperhatikan wajahnya di kaca.
"Halo gadis-gadis, bersiaplah mengagumi ketampananku!" ujarnya memuji dirinya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1