Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Mencari Esperanza


__ADS_3

Lalu tiba-tiba sebuah alat peledak dilemparkan ke arahnya. Dengan cepat ia melindungi diri dengan kemampuannya.


"Dasar! Kalian pikir bisa membunuhku secepat itu?" ujar Verde berlari dan melompat.


Ia berhasil menangkap orang yang melemparkan alat peledak tersebut. Dan orang itu menendang perutnya hingga ia mundur kebelakang.


Saat itu Verde melihat orang itu memiliki kalung yang tidak terlihat dengan kasat mata di leher orang tersebut. Lalu dengan mengucapkan beberapa kata, sebuah rantai muncul dan menghubungkan mereka berdua.


"Hahaha, ternyata kamu juga keturunan yang terkena sumpah. Sebaiknya kamu kuapakan?"


Akhirnya dengan munculnya belenggu tersebut orang itu pun menjadi pelayan bagi Verde. Sama seperti orang-orang yang menyerang tempat itu.


"Semuanya kembali!" teriak Verde.


Orang-orang yang ikut dengannya bergerak sesuai dengan apa yang dikatakan dan yang dipikirkan oleh Verde. Orang yang pertama kali memiliki rantai di lehernya, mulanya mencoba melawan. Namun pada akhirnya dia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.


Para keturunan ketujuh lainnya pun menemukan orang-orang dari keturunan yang terkena sumpah. Mereka memiliki belenggu di leher mereka masing-masing. Dan bergerak sesuai keinginan orang yang memegang tali kekang mereka.


Dan kini Dorado berhasil menemukan tempat pengungsian Malika dan Tomi berada. Wajahnya menyeringai. Berjalan dengan santai menuju perbatasan.


"Lapor! Ada sekelompok orang menuju kemari."


"Siapa yang datang malam-malam begini? Apa mereka warga sipil?"


Lalu mereka yang bertugas menjaga perbatasan terkejut saat menyadari orang yang berjalan di depan para pendatang ternyata adalah Dorado.


Mereka meninggalkan kendaraan mereka agar kedatangan mereka tidak diketahui karena suara mesin. Dan memilih berjalan menuju pengungsian.


"Berhenti! Jangan mendekat!" ujar para penjaga.


Lalu Dorado mengangkat tangannya. Dan orang-orang yang ikut bersamanya membuka pakaian mereka. Dan ternyata di tubuh mereka telah dipasangi alat peledak.


Para keturunan ketujuh telah bersatu dengan para penjahat dari seluruh dunia. Meski tidak mendapatkan senjata dari negara tersebut. Mereka mendapat pasokan dari negara lain.


"Kamu! Maju dan meledaklah!" perintah Dorado pada orang yang berdiri paling dekat dengannya.


Orang itu berjalan mendekat meski telah diancam akan di tembak jika mendekat. Akhirnya orang itu pun ditembak sebelum meledakkan diri.


"Kini giliranmu!" ujar Dorado pada yang lain.


Satu persatu orang yang berjalan mendekat di tembak di tempat. Dan ternyata itu bukanlah serangan yang sesungguhnya. Saat orang-orang fokus menghadapi Dorado, ternyata penjahat lain telah menyelinap dari arah lain.


"Berhenti melawan, atau tempat ini akan kami ledakkan ujar penjahat tersebut," menyeringai puas.


"Lepaskan mereka!" ujar putra Gina marah.

__ADS_1


"Tentu, kami akan melepas mereka.Tapi dengan satu syarat. Serahkan gadis ini pada kami!" perintah orang tersebut.


Lalu Dorado dengan santai berjalan di tengah-tengah mereka. Malika dan Tomi menatapnya penuh dengan kebencian. Selembar foto Esperanza dilemparkan ke arah mereka.


"Dia tidak ada di sini!" ujar Tomi.


"Oh, benarkah?"


Dengan mengucapkan beberapa kata Dorado mengangkat tangannya dan mereka yang masih keturunan orang-orang yang terkena sumpah seketika rubuh dan merasakan panas di sekitar leher mereka.


"Oh, sayang sekali," gumam Dorado.


Karena Tomi, Malika dan Putra Gina serta dua puluhan orang tetap tegak berdiri tegak. Mereka kebingungan melihat mereka yang rubuh tiba-tiba. Tapi Malika yang melihat rantai pengikat roh itu mengerti kalau mereka yang rubuh kini berada di bawah kekuasaan Dorado.


"Anda terkejut?" ejek Dorado.


"Lakukan apa saja, agar gadis yang ada di foto itu muncul sekarang!" perintahnya.


"Atau, mereka yang rubuh saat ini akan tewas dengan cara yang tragis!" ancam Dorado.


Para penjahat yang datang bersama Dorado tertawa senang. Mereka merupakan penjahat kelas kakap yang berulang kali keluar masuk tahanan. Memanfaatkan penegak hukum yang silau dengan kekayaan agar mereka bisa bebas dengan cepat.


"Kenapa harus bersusah payah? Kamu sudah menemukan kami. Bukankah kamu bisa mencari gadis itu dengan memanfaatkan kami?" Tomi buka suara.


"Kenapa? Bukankah kamu kuat? Apa kamu takut melawan gadis itu, satu lawan satu?"


*Bugh!


Satu pukulan kuat mendarat di wajah Tomi. Malika berlari ke arah suaminya. Menatap ke arah Dorado dengan penuh amarah. Lalu menyerangnya.


Tapi Dorado memanfaatkan orang-orang yang memiliki belenggu menjadi tamengnya. Hingga Malika terpaksa mundur.


"Berhenti buang waktu. Panggil gadis itu ke mari sekarang juga!"


"Itu tidak mungkin. Mereka tidak ada di negara ini!" ujar Tomi.


"Apa? Kamu bercanda? Mau membohongiku?"


"Suamiku tidak bohong!" teriak Malika.


Dorado tersenyum kesal. Lalu melemparkan beberapa orang ke arah Malika dan Tomi.


"Kalau begitu, katakan di mana dia! Sebelum kesabaranku habis!" teriak Dorado.


Tomi pun memberitahukan alamat tempat tinggal orang tua Malika berada. Di luar dugaannya. Dorado menghubungi anak buahnya yang ada di negara itu untuk memeriksa alamat yang diberikan oleh Tomi.

__ADS_1


"Baik kita tunggu hasilnya. Jika kalian bohong, jangan harap bisa selamat!" ancam Dorado.


Ia percaya kalau orang-orang yang ada di situ tidak akan berani macam-macam yang membahayakan nyawa mereka yang berada di bawah kekuasaannya.


"Pintu rumahnya tutup dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana tuan," lapor orang yang mendatangi rumah tersebut.


Lalu orang itu memanjat pagar dan tersengat aliran listrik. Kemudian memberi laporan lebih lanjut. Tapi ucapannya terhenti saat mendengar suara dari dalam rumah.


"Sebentar tuan, saya akan memeriksanya sekali lagi. Sepertinya ada orang di rumah itu," ujarnya kemudian.


Menghidupkan mobilnya dan menggunakan kecepatan tinggi, orang itu menabrakkan mobil yang ia kendarai. Lalu melompar sebelum mobil itu menyentuh pagar agar ia tidak tersetrum.


Mobil untuk menghancurkan gerbang tersebut pun lolos melewati gerbang. Setelah itu ia dan beberapa orang masuk ke rumah tersebut. Memeriksa isi rumah itu. Menghancurkan pintu lalu tercengang.


"Hanya ada rekaman suara di dalam," lapornya kemudian.


Dorado yang kesal mendekati Tomi hendak memukulnya. Tapi dihalangi oleh Malika dengan mengandalkan kekuatanya.


"Beraninya kalian menipuku!" ujar Dorado.


Lalu ia memberi perintah pada satu pria untuk memeluk seorang gadis kecil dan meledakkan diri bersama-sama. Membuat Malika dan yang lainnya bergidik ngeri melihat kepingan-kepingan tubuh tersebut.


Dorado mendekat lagi. Kali ini putra ketiga Gina menyerangnya dengan tembakan. Tapi hanya dengan mengangkat tangan peluru itu berhenti dan berhamburan di tanah.


Dengan kesal Dorado mengepal tangannya. Udara seolah memadat di tangannya lalu dilemparkan dengan kuat ke arah putra ketiga Gina. Ia pun terpental dan memuntahkan darah. Dorado tersenyum lalu menatap Tomi.


"Ayo bertarung denganku, setiap kali kamu menangkis pukulanku, maka setiap itu pula akan ada potongan-potongan baru!" tantang Dorado pada Tomi selanjutnya.


"Peraturan macam apa itu?!" Terdengar suara Malika dengan nyaring.


Tapi kemudian ia menyesal mengeluarkan suara. Sebab dua bayi dan seorang pria meledakkan diri bersama. Dorado tersenyum lalu mulai menendang Tomi.


Berkali-kali Tomi dihajar tanpa perlawanan membuat Malika tidak sanggup untuk diam saja. Dia mengorbankan dirinya terkena pukulan.


"Hahaha, berani sekali kalian. Sudah bosan hidup. Kalau begitu, matilah bersama-sama!" teriak Dorado melayangkan pedang ke arah kepala Malika.


Tomi pun mendorong istrinya dan berguling berlawanan arah. Sehingga pedang itu menebas angin. Membuat Dorado makin murka. Lalu mengambil seorang anak lagi dan mencoba memperlihatkan pertunjukan yang tidak manusiawi.


Melemparkan anak kecil itu ke atas dan melayangkan pedang itu membagi dua tubuh kecil tersebut. Malika dan Tomi akhirnya melawan Dorado bersamaan.


Tapi kekuatan mereka tidak seimbang. Pada akhirnya mereka kalah dan Dorado ingin mengakhiri hidup keduanya. Angin kencang tiba-tiba datang. Seseorang menolong Tomi dan Malika.


"Gris? Apa yang kamu lakukan?" tanya Dorado terkejut melihat orang yang seharusnya tidak berada di tempat itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2