
Jam istirahat selesai Ray kembali ke kelas. Baru saja ia duduk di kursinya, terdengar suara ribut-ribut di luar. Ternyata ada murid yang melompat dari atap gedung sekolah.
Murid-murid berhamburan. Ray tidak ikutan. Tapi firasatnya mengatakan, kalau yang melompat pasti yang ia temui di perpustakaan. Dan saat itu hanya ia seorang diri yang tertinggal di kelas.
Beberapa menit kemudian teman-temannya masuk satu persatu dan disusul oleh guru bidang studi.
"Anak-anak hari ini kelas selesai lebih awal. Buka buku kalian. Kerjakan halaman ini di rumah. Besok di kumpul." ujar guru tersebut sambil menulis di papan tulis.
Tidak ada raut gembira sama sekali. Semua terlihat tegang, sambil berbisik-bisik. Setelah itu guru mengintruksikan agar ketua kelas menyuruh seluruh murid berdiri dan memberi hormat sebelum pulang.
Karena kali ini Ray pulang lebih awal, tentu saja belum ada jemputan yang datang. Baik dari Gina mau pun dari supir Gina. Ray merasa enggan untuk menelepon.
Sambil berjalan menuju gerbang, Ray melihat beberapa polisi sedang memasang garis polisi. Murid-murid yang berada dilokasi di suruh pulang. Ray memilih melewati tempat tersebut tanpa menoleh, dan berjalan dengan cepat. Dan sepasang mata mengawasinya, dari kejauhan.
Ray duduk di sebuah kursi semen di parkiran. Menunggu orang yang akan menjempunya.
"Ray, kenapa belum pulang?" tanya seorang guru kenalan tante Gina.
"Belum ada yang menjemput bu," jawab Ray singkat.
"Kenapa tidak ditelepon saja," ujarnya sambil menekan tombol di ponselnya.
"Oh iya, kami pulang cepat hari ini." jawabnya lalu mematikan ponselnya.
"Tunggu di sini ya Ray, ibu sudah menelepon walimu!" ujarnya.
Lalu ia pergi ke kantor, sebab saat memeriksa isi tasnya, wajahnya merengut. Kini Ray duduk sendirian, sebelum satu murid perempuan menghampirinya. Gadis itu duduk begitu saja tanpa melakukan apa pun. Ray merasa ada yang aneh dengan murid itu.
Ia memalingkan wajahnya ke arah Ray. Ray mencoba pura-pura tidak melihatnya. Sadar kalau anak tersebut kerasukan. Jadi ia memilih menjauhinya. Menurut Ray sepertinya anak itulah yang memperhatikannya dari tadi.
Tapi anak itu terus mengikuti Ray, kemana pun Ray bergeser. Dan akhirnya meninggalkan tempat parkir. Tapi tetap saja anak itu mengikutinya. Ray jadi merasa terganggu.
"Kamu mau apa?" tegurnya.
Anak itu hanya menyerengai. Sepertinya ia ingin menanamkan rasa takut pada Ray terlebih dahulu. Tapi karena sikapnya Ray justru makin berani.
"Pergi dan jangan ganggu aku!" bentak Ray saat anak itu terus mengikutinya sampai di luar gerbang. Satpam yang berada di pos jaga melirik ke luar dari pos. Melihat Ray dan anak itu yang seolah-olah sedang bertengkar.
__ADS_1
Anak perempuan itu tetap saja menyeringai. Dan saat ia masih mengikuti langkah Ray, dengan cepat Ray mendorong tubuh anak tersebut. Ia terjatuh karena roh yang merasukinya terpental keluar.
"Hei ada apa ini?" tanya satpam yang tiba-tiba keluar dari posnya.
"Aduh...sakit," ringis anak perempuan itu. Tangannya sempat bergesekan dengan jalan yang sudah disemen.
"Kamu tidak apa-apa nak?" tanya satpam pada murid tersebut.
"Iya pak, aku tidak apa-apa," ujarnya sambil menepuk-nepuk tangannya.
Roh yang merasukinya tertegun melihat Ray, ia tidak menyangka kekuatan Ray sebesar itu. Lalu perlahan-lahan ia mundur. Tapi masalah Ray tidak cukup sampai disitu. Ia disuruh minta maaf pada gadis yang ia dorong.
"Maaf aku tidak sengaja,"
"Ayo salaman, jangan minta maaf saja,"
Ray enggan berjabat tangan. Murid itu memandangi penampilan Ray. Aneh, pikirnya.
"Sudah pak, tidak usah." jawab anak perempuan itu lalu berlalu.
Baru beberapa langkah ia melihat arlojinya, lalu menoleh ke belakang. Ia tampak linglung, lalu ia berbalik ke tempat Ray dan satpam. Dan memandangi mereka bergantian.
Satpam kebingungan menjawabnya. Pertanyaannya sangat aneh.
"Hei kalian berdua, pulang sana!" perintah satpam kemudian.
"Awas kalau kalian bertengkar lagi!" ancamnya.
Tapi anak perempuan itu justru berjalan ke arah sebaliknya. Bukan ke arah menuju jalan pulang. Dan ia semakin heran, saat mobil ambulan memasuki sekolah, membawa seseorang dengan tandu.
"Ada apa sebenarnya ini?" tanyanya kemudian pada Ray yang mengamati tingkahnya.
"Pulang saja, sekolah pulang lebih awal dari sebelumnya." jawab Ray.
Lalu ia melihat tante Gina dari gerbang melambai padanya. Ray pun berjalan menuju mobil tantenya. Dan pulang bersama tantenya. Sekilas ia sempat menatap murid perempuan itu, saat mobil yang ditumpanginya melaju.
"Ada apa Ray, kok kalian cepat pulang? Kok tadi tante lihat ada mobil polisi ya?"
__ADS_1
"Ada yang bunuh diri,"
"Apa?!" mata Gina membelalak.
Kemudian ia memperlambat laju mobilnya, dan menoleh ke arah kaca spion.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya cemas. Ray mengangguk.
Tibalah mereka di depan rumah besar. Ray memperhatikan rumah tersebut sekilas lalu memalingkan muka. Saat memalingkan muka ada sesosok mahluk yang duduk di samping tantenya. Ia mencoba menutupi pandangan tantenya.
"Aneh ya, padahal ini baru jam 11:00 tapi kenapa terlihat mendung ya?" tanya tantenya yang tidak menyadari perbuatan mahluk di kursi sebelahnya.
"Boleh aku duduk di depan tante? Aku sedikit takut duduk dibelakang."
Gina menoleh ke belakang lalu menghentikan laju kendaraannya. Ray pun pindah ke depan. Roh itu menghilang.
"Eh sudah cerah lagi, oh iya kita ke swalayan dulu ya, tante mau beli persedian untuk di rumah."
Ray mengangguk. Tibalah mereka di supermarket dan mereka masuk di sambut oleh penjaga kasir dengan ramah. Ada mahluk berjubah di belakang wanita tersebut. Dan ternyata mata mahluk itu berwarna merah.
Tak lama kemudian tiga perampok datang. Menembak tepat di jantung si kasir. Semua yang ada di tempat itu ketakutan. Gina dengan cepat menarik Ray menjauh. Perampok tersebut masih menodongkan pistol ke arah pengunjung dan perampok yang lain menggasak laci uang.
Setelah itu mereka pergi dengan cepat. Pekerja lain di swalayan itu menangisi kepergian temannya, sambil menelepon ambulan. Dan yang lain menelepon polisi.
Gina menarik tangan Ray, keluar dari tempat itu. Dan segera pulang tanpa sempat berbelanja. Tante terlihat pucat. Dan hal itu menarik roh yang ada di swalayan. Beberapa dari mereka hendak ikut menumpang, jika saja Ray tidak menghadang mereka.
Mereka tampak kesal tapi kemudian menyeringai, merasakan ada sesuatu yang menarik di Ray. Dan mereka seolah mengatur rencana agar bisa menguasai Ray. Mereka tidak sadar jika mereka hanya menggali kuburan jika mengganggu Ray.
Sebab Ray yang tidak mengeluarkan emosi, tampak seperti manusia pada umumnya. Mereka mengira Ray hanya sekedar memiliki indra ke enam dan sedikit kekuatan menghalau roh halus.
Dan saat malam tiba, beramai-ramailah mereka memasuki kamar Ray saat ia sedang tidur nyenyak. Dan saat itu Ray sedang bermimpi tentang anak yang bunuh diri. Di mimpinya anak itu sekolah seperti biasa. Dan ia menghampiri Ray di perpustakaan sambil memakan semangkuk bakso.
Tapi kemudian dari kepalanya menetes darah ke dalam mangkuk, dan membuat kuahnya menjadi berwarna merah. Tapi anak itu terus menikmati bakso tersebut tanpa merasa aneh. Dan kemudian bakso yang ada di mangkuk terlihat seperti bola mata.
Anak itu memakannya dan darah keluar dari sela bibirnya. Lalu ia menoleh pada Ray dengan rongga mata yang sudah kosong. Bola matanya sudah tidak ada dan mengeluarkan darah.
"Kau sudah tau aku akan mati, kenapa kau tidak menolongku?" katanya sambil memperlihatkan taringnya yang memanjang tiap detiknya.
__ADS_1
Bersambung...