
Pemuda itu tidak menyadari kalau ada gadis yang ia cintai di dalam kobaran api. Isak dan tangis keluarga Natan tenggelam di tengah teriakan rakyat yang menyaksikan mereka yang mempertahankan sisa umurnya.
Pemuda itu langsung pergi ke kamarnya. Ada rasa bersalah karena yang ada di tengah kobaran api adalah keluarga dari gadis yang ia cintai. Saat ia telah berada di kamar. Ia mencoba membenarkan perbuatannya. Meski ia sadar kalau semua itu salah.
Ia pernah ditolong keluarga Natan saat ia hampir mati. Tapi bukannya balas budi, ia justru menghabisi mereka. Saat melamun, seseorang mengetuk pintunya.
"Pangeran, boleh saya masuk," ucap putri yang membawa Cresentia ke pembakaran.
"Ada perlu apa?" tanya pemuda itu tidak senang.
"Aku bawakan anggur, untuk dinikmati saat gadis penyihir itu jadi daging panggang," ujar gadis itu senang.
Tanpa disuruh masuk ia menerobos masuk lalu menuju jendela yang mengarah ke lapangan.
"Wow pemandangan yang sangat indah. Lihat pangeran. Gadis itu mulai terbakar." ujarnya sambil menarik tangan pemuda tersebut.
Dengan malas ia menatap ke bawah jendela yang terbuka lebar. Tampak jelas gadis yang ia cintai berada di dalam kobaran api. Matanya membelalak dan ia pun berlari menuruni tangga.
"Padamkan apinya!" teriaknya berkali-kali.
Prajurit salah paham. Mereka justru menyiram minyak tanah lebih banyak. Hingar-bingar menelan suaranya. Bahkan ada yang terlihat senang saat ia datang. Mereka mengira pemuda itu mau menyaksikan secara langsung.
"Aku bilang padamkan apinya!" teriaknya menangis.
Karena tidak ada yang mendengarkannya ia pun mencoba menolong gadis pujaannya dengan melompat ke dalam api dan melepaskannya. Tapi prajurit menahannya. Pria berjubah paling mewah dari segalanya tiba-tiba berdiri dan mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya marah.
"Papa, aku mohon lepaskan dia...!" tangisnya mengiba.
Mendengar ucapannya pria bemahkota paling indah itu marah. Lalu menyuruh prajurit membawanya ke kamarnya. Ia tidak ingin teriakan putranya didengar rakyat dan membuat keluarganya kehilangan muka.
Dan gadis yang tinggal di kamar pemuda itu menikmati pemandangan satu keluarga berubah jadi abu dengan segelas anggur ditangan kirinya.
Tiba-tiba dimimpi itu semua jadi gelap gulita. Tubuh si kembar terusik. Ada orang yang seolah-olah memanggil mereka. Namun nama yang disebutkan bukanlah Ray dan Teresia. Melainkan Te Apoyo dan Te Espere.
__ADS_1
"Mulai hari ini namamu bukan lagi Ray tapi Te Apoyo." ujar Dion di samping Ray.
"Dan mulai hari ini namamu adalah Te Espere," ujar Lina pada Teresia.
Ray perlahan-lahan bangun dari mimpi panjangnya. Begitu juga dengan Teresia. Dion dan Lina menyambut dengan gembira hal tersebut.
"Terima kasih sudah menolong anak-anak kami," ucap Dion pada seorang paranormal.
Paranormal itu menatap Ray dan Teresia dengan tajam.
"Aku hanya melakukan tugasku," ujarnya kemudian. Lalu ia permisi pulang.
Dion melaksanakan yang diperintahkan oleh paranormal tersebut. Ia tidak boleh memanggil putra dan putrinya dengan nama yang lama.
"Putra dan putrimu terkena sumpah. Ada sebuah nama yang dijanjikan untuk mereka. Cobalah mengingat sesuatu." kenang Dion saat pertama kali paranormal itu meramal dan membaca kartunya.
"Ray mulai sekarang, namamu bukan lagi Ray. Tapi Te Apoyo." ucap Dion mengingatkan.
"Dan Teresia sudah bukan Teresia lagi. Tapi Te Espere.
Semua bertepuk tangan sambil mengernyitkan keningnya. Nama yang tidak lazim untuk seseorang dan terkesan aneh. Tapi mereka bertepuk tangan saat orang disampingnya bertepuk tangan. Dan begitu seterusnya sampai seluruh undangan bertepuk tangan.
Tibalah acara bersalaman. Ray menolak bersalaman dengan cara bersentuhan. Jadi ia hanya meletakkan telapak tangan kanannya di dada kirinya dan sedikit membungkuk setiap ada yang mengajaknya bersalaman.
Berbeda dengan Teresia. Ia menyambut uluran tangan mereka. Tapi setiap ia menyentuh mereka raut wajahnya tiba-tiba berubah aneh. Kadang terkejut, kadang takut. Kadang seperti kehilangan kesadarannya.
Saat acara usai ia menceritakan yang ia alami. Lalu ia mengambil tangan Ray seolah mereka sedang bersalaman.
"Kenapa berbeda ya?" gumamnya pelan seperti berbicara sendiri.
"Ada apa?"
"Aku tidak tahu, tapi ketika aku bersalaman dengan seseorang, aku merasa seolah bisa melihat masa lalu mereka." jawab Teresia.
Mereka merasa ada banyak misteri yang tersimpan di keluarga mereka. Misteri tentang mereka yang bisa melihat hari akhir seseorang. Misteri tentang arwah yang terhisap jika menyentuh Teresia. Dan misteri tentang Ray yang bisa membuat orang lain melihat roh halus hanya dengan sentuhan kulit.
__ADS_1
Juga tentang berbagi penglihatan dan telepati yang menguras energi. Serta mimpi yang sama. Dan aneh. Semua seperti berasal dari rumah tua yang besar dalam mimpi mereka.
"Apa mungkin ini ada kaitannya dengan rumah yang papa beli?" gumam Teresia.
"Apa kamu tahu kenapa papa membeli rumah itu?"
"Kata mama itu rumah warisan kakek dari papa," jawab Teresia mengingat ucapan Lina kala itu.
"Apakah ada dari keluarga papa yang merupakan seorang paranormal?" tanya Ray menyelidiki.
"Aku tidak tahu," jawab Teresia.
Lalu ia menceritakan awal pertemuannya dengan Dion. Dan Ray mengangguk tanda mengerti. Kemudian mereka sepakat untuk menanyakan hal itu besok pada papa mereka.
Malam itu si kembar tidur dengan gelisah. Mimpi yang mereka alami beberapa hari yang lalu seolah berulang kembali. Seorang gadis cantik di dalam kobaran api. Menangis menyaksikan keluarganya mengalami nasip yang sama dengan mereka.
Sementara ia menatap pria yang melamarnya justru menikmati penderitaan mereka dari jendela kamarnya. Dengan seorang wanita dan anggur manis ditangan mereka.
"Aku mengutukmu... Keturunanmu akan mengalami hal yang lebih menyakitkan dari yang kami alami. Seluruh kemampuanku akan berpindah kepada keturunan ketujuhmu. Selamanya keturuna ketujuhmu tidak akan hidup dengan tentram." ucapnya sambil menangis terisak.
"Sampai kau bisa merasakan apa yang kurasakan." ucapnya.
"Aku mengutukmu pangeran Alexander!" teriaknya saat pemuda yang ia tolak tepat dihadapannya.
Ray dan Teresia tersentak dari mimpinya. Detak jantung berpacu lebih cepat. Dan mereka kesulitan bernapas dan keduanya menangis seperti leluhurnya dahulu. Yang menangis karena menyaksikan gadis yang sangat ia cintai habis dimakan oleh panasnya kobaran api.
Tangis mereka sangat memilukan membuat kedua orang tua mereka terbangun. Dion dan Lina berpencar menemui anak-anak mereka. Keduanya tersendu-sendu dan sulit untuk ditenangkan.
"Sayang... Kamu kenapa? Ayo cerita sama mama. Apa kamu mimpi aneh lagi?" ucap Lina pada Teresia.
"Kamu kenapa, Ra, Te, Te Apoyo, kamu kenapa?" tanya Dion yang hampir memanggil putranya dengan nama lamanya.
Sepasang mata memandang mereka berempat. Ia tidak kesulitan melihat empat insan tersebut meski pandangannya dihalangi oleh tembok. Seolah tembok rumah dan tembok kamar kedua anak Dion dan Lina tembus pandang.
Bersambung...
__ADS_1